
Setelah pulang ke rumah, Andy memutuskan untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Lalu ia pergi ke rumah Karina. Begitu sampai di rumah Karina. Andy bertemu dengan Han di ruang tamu.
“Assalamua’alaikum,” ucap salam Andy berdiri di depan pintu.
“Siapa, ya?” tanya Han tidak menjawab salam karena dirinya beragama Hindu.
“Karina nya ada? Andy balik bertanya.
“Oh, sebentar. Akan gue panggilkan.”
Han beranjak dari duduknya, melangkah menuju ke belakang. 5 menit kemudian Han kembali bersama dengan Karina.
“Andy,” gumam Karina, tangannya mengarah ke sofa, menyuruh Andy duduk di sana bersama dengan Han. “Silahkan duduk.”
Andy masuk dan duduk tepat dihadapan Han.
“Kamu tunggu di sini, saya mau membuatkan minuman dulu,” ucap Karina. Ia pun melangkah menuju dapur.
Tinggal lah di sana Andy dan Han. Sorot mata mulai terlihat berbeda satu sama lain. Dari sorot mata biasa aja sampai menjadi sorot mata saling membunuh satu sama lain.
“Lu siapanya Karina?” tanya Han sinis.
“Pacar. Kenapa?!”
“Hanya pacar? Sudah pernah menikmati tinggal satu atap bersama dengan Karina seperti yang gue buat tidak?” tanya Han mengejek.
“Belum!” sahut Andy singkat.
“Ah, nggak keren. Pura-pura numpang dong, biar lu bisa merasakan hal yang seperti gue rasain saat ini. Bisa melihat Karina bangun tidur, makan, bahkan keluar dari kamar mandi dengan memakai baju daster,” celetuk Han membuat Andy memanas.
‘Anjin*g, memang laki-laki satu ini. Bisa-bisanya dia berkata dengan santainya seperti itu. Bangk*e, niat awalnya memang sudah busuk ternyata. Kalau ku adukan pada Karina, pasti Karina tidak akan percaya. Kalau gitu pria satu ini harus kupantau,’ batin Andy, sorot mata tajam mengarah ke wajah Han.
Mencoba tenang agar tidak membuat onar di rumah Karina. Andy berulang kali menarik nafas untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Setelah tenang, Andy mencoba berbasa-basi kepada Han.
Andy mengulurkan tangan kanannya. “Kita belum perkenalan, kan?” tanya Andy ingin memperkenalkan dirinya.
“Gue tidak tertarik berkenalan dengan mantan murid berandalan seperti kamu!” sahut Han menatap tajam.
Tidak dengan Andy, mendengar sahutan Han. Andy mendadak senang, dan mulai bertanya tentang apa saja yang dibicarakan Karina tentang dirinya.
“Katakan, apa saja yang dibicarakan Karina tentangku kepada kau?” tanya Andy semangat.
Han hanya melirik sinis, kemudian melanjutkan pekerjaannya di laptop.
Tidak suka pertanyaannya di abaikan, Andy menutup latpon Han, mendekatkan wajahnya ke wajah Han, sehingga wajah mereka sangat dekat.
“Aku peringatkan sama kau. Segera tinggalkan rumah Karina, jika kau masih ingin selamat pulang ke rumahmu!” tegas Andy menekan nada bicaranya sembari menatap seluruh inchi wajah Han dari dekat.
Tak mau kalah dengan Andy, Han ikut mendekatkan wajahnya sehingga dahi mereka saling bertemu seperti kucing jantan mau berkelahi.
__ADS_1
“Gue peringatkan pada lu, bocah ingusan yang baru mateng dari oven. Putusin Karina, karena wanita sebaik dan selembut Karina tidak pantas menjalin hubungan dengan mantan anak SMA berandalan seperti lu!” cetus Han balik mengancam.
Braaak!
Andy dan Han serentak menggebark meja, membuat Karina baru saja tiba di ruang tamu terkejut.
“Astaqfirullahaladzim!” cetus Karina sampai istighfar.
Tidak ingin membuat Karina marah padanya, Andy segera merangkul Han, begitu juga Han, sehingga mereka berdiri saling merangkul, tak lupa senyuman paksa di tunjukkan kepada Karina.
“Karina,” ucap Andy memanggil nama Karina.
“Eh, Karin. Gue dan kekasih lu tadi hanya bercanda,” Han menyikut kuat bidang dada Andy kuat, membuat Andy harus menahan sakit dan berpura-pura tersenyum di depan Karina.
Karina meletakan nampan berisi minuman, dan makanan di atas meja, lalu ia duduk di kursi single, menatap Andy dan Han penuh tanda tanya.
“Benarkah itu?” tanya Karina ingin memastikan.
“Te-tentu saja benar,” sahut Andy cepat, tangannya diam-diam mencubit paha Han untuk membuatnya mengangguk.
“Bedeba*h lu,” gerak bibir Han memaki Andy, tapi tidak dengan bibirnya, Han tersenyum lebar dan tertawa paksa di depan Karina.
“Syukurlah, saya kira kalian berdua berkelahi di sini. Karena tadi saya mendengar ada suara gebrakan meja,” hela Karina lega.
Menyadari jika mereka terlalu lama saling merangkul. Han dan Andy bersamaan saling melepaskan tangannya, tak lupa dorongan kecil ke masing-masing tubuh.
“Sepertinya es sirup merah dinginnya enak. Aku minum, ya!” cetus Andy berbasa-basi.
Andy duduk, mengambil gelas berisi sirup merah dingin dan menyeruputnya. Tak mau kalah dengan Andy, Han juga melakukan hal sama. Han duduk, tanpa basa-basi langsung menyeruput minuman dingin.
“Karin, minuman buatan lu sangat enak dan manis,” puji Han sembari meletakkan gelas miliknya di meja.
“Masa manis. Padahal itu sirup hanya tinggal sedikit,” ucap Karina bingung, karena ia ingat jika sirup merah di dalam botol sisa 10 sendok makan.
Melihat Han salah dalam memuji, Andy tertawa dalam diam. Dan itu membuat Han melihatnya menjadi geram.
‘Beraninya bocah ingusan ini menertawai gue,’ batin Han.
Melihat ada ubi goreng, Andy mengambil dan memakannya.
“Enak?” tanya Karina seolah ubi tersebut tidak enak.
“Enak,” angguk Andy, lalu kembali berkata. “Rasa ubi ini terlihat gurih. Namun, ada rasa yang aneh di dalamnya.”
“Kalau ubi gonyeh mana mungkin rasanya itu gurih. Apa kamu sebelumnya tidak pernah makan ubi?” tanya Karina menjelaskan
Kalah malu, Andy melahap semua ubi goreng di dalam mangkuk.
“Enak kok, enak!” ucap Andy dengan mulut penuh ubi, bahkan serpihan ubi berhamburan ke wajah Han.
__ADS_1
Han menjadi kesal, wajah tampan bak artis K-pop harus dilumuri masker serpihan ubi goreng dari mulut Andy. Sedangkan Karina tertawa anggun.
Tadinya sangat kesal, sekarang menjadi tertawa bersama karena Karina tertawa.
“Sudah, sudah. Capek tahu ketawa mulu,” putus Karina mengakhiri candaan mereka.
Seret karena ubi nyangkut di tenggorokan, Andy mengambil gelas sirup dan menenggaknya habis.
“Kalau saya boleh tahu, kenapa kamu datang ke sini?” tanya Karina kembali ke topik pembicaraan.
“Aku ingin mengajak kamu nonton bioskop,” sahut Andy.
“Pekerjaan kamu?”
“Semua sudah selesai aku kerjakan. Jadi, aku memilih untuk pulang lebih cepat,” sahut Andy menjelaskan.
Tidak senang mendengar dan melihat Karina akan berduaan bersama Andy. Han berinisiatif ingin ikut pergi nonton bioskop bersama.
“Mau nonton? Kebetulan sekali ada film yang akan tayang hari ini di bioskop. Geu ikut bareng kalian berdua, ya?!”
“Pekerjaanmu gimana. Bukannya kamu bilang besok pagi terakhir mengirimkan teks ke penerbit,” tanya Karina mengingat Han banyak ketikan dan harus segera di kirimkan.
“Tenang aja. Entar malam gue bisa kejar semuanya,” sahut Han penuh percaya diri.
“Jangan sepele. Kau kira mengetik itu sebentar. Sebaiknya kau kerjakan saja dulu pekerjaan kau, barulah besok-besok ikut pergi nonton bioskop dengan kami,” saran Andy sengaja agar Han tidak ikut bersama mereka.
“Kalau gue kebut malam ini, dan besok pagi di kirim. Berarti besok sore, Karin harus temani gue pergi nonton?” tanya Han membuat Andy spontan menoleh ke Karina.
“Tentu saja…tidak!”
“Kenapa?” tanya Han lirih.
“Karena besok saya harus mengajar les private kembali,” sahut Karina memberitahu.
“Loh, tentang interview kemarin. Gimana?” tanya Andy penasaran.
“Masih menunggu hasil. Jadi, daripada saya menganggur di rumah, lebih baik saya meluangkan waktu untuk kembali mengajar,” sahut Karina memberitahu.
“Apa pun yang kamu buat, aku pasti akan mendukungmu,” ucap Andy memberi semangat.
“Terima kasih.”
Han melihat kemesraan saat Andy dan Karina saling menyahut, membuat Han memutar bola mata jijiknya.
“Hot!”
.
.
__ADS_1
bersambung