Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
60. Bertemu di Lapangan Merdeka


__ADS_3

Tidak tahu mau kemana arah tujuan mereka pergi. Andy memutuskan membawa Karina berkeliling ke kota Medan. Lelah berkeliling selama 1 jam, Andy memutuskan untuk menghentikan sepeda motor di Lapangan Merderka, mereka duduk di sana sembari melihat berbagai macam kegiatan di dalamnya.


‘Canggung, kenapa jadi canggung seperti ini?’ batin Karina, bola matanya melirik ke wajah Andy sedang menatap lurus ke depan, memandang beberapa anak kuliah melakukan aktivitas mereka.


“Karina,” panggil Andy merendahkan nada suaranya.


“Iya, ada apa?” sahut Karina cepat.


“Apakah kamu tidak menyesal berpacaran denganku?” tanya Andy lirih, pandangan matanya turun, menatap kedua tangannya saling meremas.


“Tidak. Kenapa saya harus menyesal berpacaran dengan kamu. Justru saya yang ingin bertanya, apakah kamu tidak menyesal berpacaran dengan wanita yang telah berumur seperti saya?” Karina balik bertanya.


Andy menggeleng, mengambil tangan kanan Karina dan meletakkannya di atas pahanya.


“Aku tidak akan pernah menyesal. Malah aku seperti manusi yang beruntung,” sahut Andy tulus.


“Jika suatu saat kamu merasa bosan pada saya, maka katakanlah agar saya bisa merubah diri saya menjadi apa yang kamu inginkan. Tapi, jika suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang pas. Kamu juga harus memberitahu saya agar diri ini tak terlalu banyak berharap padamu,” ucap Karina memberitahu.


“Sampai sekarang aku tidak pernah terpikir untuk menduakan kamu,” sahut Andy serius.


Di tengah-tengah kemesraan mereka berdua. Terdengar suara seorang begitu familiar berteriak memanggil nama Andy.


“ANDY!”


Andy dan Karina langsung menoleh ke asal suara tersebut.


“Sial aku!” gumam Andy sembari meraup kasar wajahnya.


“Andreas,” gumam Karina, lirikan matanya mengarah pada seorang wanita berhijab berjalan bersama dengan Andreas. “Bukannya itu Fitri?” tambah Karina mengenal wanita berhijab itu.


“Bu Karina?!” celetuk Fitri setelah berhenti di hadapan Karina.


“Kamu Fitri anaknya bu Kantin sekolah dulu, kan?” tanya Karina memastikan.


“Iya, saya Fitri anak bu kantin,” sahut Fitri membenarkan.


“Tidak menyangka kita bisa bertemu di sini,” Karina menepuk bangku kosong di sisi kanannya. “Sini, duduk di sebalah saya,” lanjut Karina menyuruh Fitri duduk di sebelahnya.


Fitri duduk di sebelah Karina tanpa segan.


“Kalian mengobrol lah, kami berdua mau membeli makanan dulu,” ucap Andy sembari beranjak dari duduknya.


“Bidadari berhijabku. Jangan nakal di saat kakanda pergi,” cetus Andreas berpamitan.


Karina tertawa pelan, sedangkan Fitri hanya tersenyum.

__ADS_1


Selesai berpamitan, Andy dan Andreas melangkah pergi. Sesekali mereka menoleh ke belakang, memastikan apakah Karina dan Fitri baik-baik saja tanpa di ganggu pengunjung di sana.


“Andy sepertinya anak yang baik, ya?” tanya Fitri masih memandang kepergian Andreas dan Andy.


“Iya. Sebenarnya Andy memang anak yang baik,” sahut Karina masih memandang punggung Andy perlahan menghilang dari gelapnya Lapangan Merdeka.


“Dulu, waktu mereka masih sekolah, saya hanya bisa mendengar kabar kenakalan mereka berdua tanpa mengetahui bagaimana karakter mereka masing-masing. Sering melihat wajah mereka di kantin, tapi tidak pernah saling menyapa. Saya hanya bisa melihat dan mendengar kabar kenakalan mereka berdua dari murid-murid dan guru di sekolah. Saat mendekati ujian sekolah, Andreas sering berkunjung bahkan mengobrol di kantin. Dari sanalah saya mulai mengetahui sifat baik yang tersembunyi pada Andreas,” Fitri sedikit curhat tentang Andreas 2 tahun lalu.


“Intinya, mereka berdua seperti itu karena kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua, maupun dari orang terdekat,” ucap Karina mengambil kesimpulan.


“Iya,” angguk Fitri.


Sementara itu di tempat wawak tukang bakso bakar dan penjual es. Andy dan Andreas berdiri menunggu pesanan mereka masih di buat. Sambil menunggu pesanan, Andy dan Andreas sedikit mengobrol singkat.


“Kok bisa kau pergi bersama dengan Fitri?” tanya Andy penasaran.


“Bisalah. Aku gitu loh!” sahut Andreas sombong.


“Aku mau penjelasan, bukan kalimat kesombongan,” ketus Andy.


“Oh, bilang lah.”


“Baco*t!” gumam Andy mulai malas bercerita pada Andreas.


Percakapan terjeda sejenak karena bakso bakar dan minuman dingin pesanan mereka telah siap. Andy dan Andreas mengambil pesanan mereka. Setelah membayar mereka melangkah pergi dengan santai sambil kembali berbincang.


“Lelah kenapa?” tanya Andy penasaran.


“Kau bayangkan aja. Bangun pagi pergi untuk bekerja, selebihnya di kantor, rapat, bertemu klien cantik dan seksi. Setelah itu aku pulang, makan, rebahan, kalau nggak ke club,” sahut Andreas menjelaskan kehidupannya.


“Jadi kau mau bagaimana?” tanya Andy.


“Aku rasanya ingin segera melamar Kak Fitri. Biar setiap pagi dan pulang bekerja ada seseorang yang menyambut ku,” sahut Andreas serius.


“Kau tak pantas bersanding dengan Fitri,” celetuk Andy mengejutkan Andreas.


“Maksud kau apa?” tanya Andreas menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Andy.


“Fitri itu adalah wanita yang baik. Sedangkan kau adalah pria yang buruk. Kalau kau masih belum bisa melepaskan dunia gelapmu. Maka jangan pernah berharap dan menikahi seorang wanita baik-baik seperti Fitri,” sahut Andy tegas.


“Aku berencana ingin meninggalkan itu semua,” janji Andreas terdengar berat.


“Kalau masih ingin berzina, lebih baik nggak usah menikahi wanita baik-baik. Nikmati saja dulu masa-masa suram mu yang seperti ini,” gumam Andy memberi saran.


“Aku janji akan berubah,” janji Andreas lirih.

__ADS_1


“Iya, berjanjilah pada diri sendiri. kemudian berjanji kepada orang lain,” Andy menepuk pundak Andreas pelan. “Bakso bakarnya sudah hampir dingin, dan es batu di plastik ini juga hampir mencair. Sebaiknya kita segera kembali,” lanjut Andy mengajak Andreas pergi.


Andreas nurut. Mereka berdua pergi, melangkah menuju tempat Fitri dan Karina menunggu mereka. sesampainya di sana, Andy dan Andreas di buat cemas. Karina dan Fitri telah menghilang dari tempatnya.


“Karina, Kak Fitri! Kemana kalian berdua?!” gumam Andy dan Andreas serentak.


“Ini gara-gara kau anjin*g,” Andy menyalahkan Andreas.


“Ya, kau juga. Gara-gara aku harus menceritkan semuanya kepada kau. Kak Fitri langsung menghilang dari peredaran!” Andreas balik menyalahkan Andy.


“Kok aku pula. Kau lah itu. Anak kima*k kau memang!” geram Andy.


“Aaaah! Ayolah kita cari mereka berdua,” saran Andreas mulai melangkah.


Hanya berbekal sorot mata tajam, tanpa berteriak memanggil nama, Andy dan Andreas mulai berpencar mencari Karina dan Fitri. 10 menit mencari, dan tidak ketemu juga. Andy dan Andreas kembali ke tempat Karina dan Fitri duduk tadi. Begitu sampai di sana, mereka melihat Fitri dan Karina telah duduk seperti awal mereka pergi.


Saking cemasnya, kedua kaki Andy spontan berlari, memeluk tubuh mungil Karina. Sedangkan Andreas berjongkok, menatap lekat setiap inchi di bagian wajah dan kedua kaki Fitri.


“Kalian berdua kenapa?” tanya Fitri.


“Benar, kamu kenapa?” tanya Karina ke Andy.


“Diamlah, aku akan marah padamu jika kamu masih terus bertanya,” sahut Andy mengeratkan pelukannya.


“Kalian berdua kemana saja?” tanya Andreas masih dengan raut wajah cemas.


“Ke toilet,” sahut Fitri.


“Kenapa tidak menunggu kami. Bagaimana jika terjadi hal buruk kepada kalian berdua di dalam toilet?” tanya Andreas berusaha meredam amarahnya.


Karina dan Fitri hanya terdiam.


“Sudah pasti pelakunya akan aku bunuh,” cetus Andy penuh amarah.


“Lain kali hal ini tidak akan terjadi lagi,” janji Karina diangguki Fitri.


Kejadian sebenarnya Karina dan Fitri tadi di ganggu oleh lelaki hidung belang. Mereka berdua kabur untuk menyusul Andy dan Andreas. Namun, setelah Fitri dan Karina sampai di tempat Andy dan Andreas membeli makanan dan minuman. Fitri dan Karina tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Mengetahui percakapan itu sangat serius, Karina dan Fitri hanya bisa mengikuti secara diam-diam.


Sempat ada rasa kecewa di hati Fitri kepada Andreas setelah mendengar semuanya. Namun, balik lagi. Mengingat Andreas adalah pria baik dan berjanji akan berubah. Fitri mencoba memberi kesempatan untuk Andreas.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2