
Andy dan Andreas mendapatkan hukuman lari keliling lapangan sekolah sebanyak 20 kali. Saat di putaran ke 19 mencapai 20, Andy tidak sengaja melihat Guan menuju ruang BK. Lari Andy perlahan melemah, sorot matanya terus tertuju ke Guan sudah berada di depan pintu ruangan Karina.
“Bajinga*n!” umpat Andy, ia spontan berlari ke tengah lapangan, menendang bola voli ke arah Guan tanpa memikirkan akibat akan ia dapatkan nanti.
Buq!
“AWAS PAK!” teriak para murid serentak kepada Guan.
Bola voli tersebut akhirnya berhasil di tangkap oleh Guan.
“Anjin*g!” umpat Andy kesal.
Karina menyadari hal itu hanya bisa melihat dari kejauhan, dan langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa memperdulikan kelakuan Andy.
“Gila kau. Gimana kalau Pak Guan geger otak gara-gara tendangan mautmu?” tanya Andreas setelah ia berdiri di samping Andy.
“Nggak peduli aku!” sahut Andy tenang.
Andy hendak pergi, namun guru olah raga mendekatinya.
“Andy!” panggil guru olah raga tersebut.
“Apa sih, bu? Doyan kali panggil-panggil nama aku,” sahut Andy sewot.
“Ikut saya ke ruangan guru!” perintah guru olah raga tersebut tegas.
“Hem!” dengus Andy kesal.
Dengan terpaksa Andy mengikuti langkah guru olah raga menuju ruang guru bersebelahan dengan ruang BK.
Sesampainya di dalam ruangan guru, semua guru memandang Andy, dan mengumpat dengan tatapan sinis dan merendahkan.
“Lihat-lihat! Luka di tangan saja belum sembuh, sudah membuat onar di sekolah ini.”
“Iya, kalau aku jadi guru BK. Sudah pasti aku keluarkan anak murid yang brandal seperti dia.”
“Bu Karina itu terlalu baik dan memanjakan murid yang nakal. Jadi, seperti inilah. Ngelunjak!”
Gumaman dari para guru membuat Andy sangat kesal dan spontan menggebrak meja guru dengan sebelah tangannya.
“BANYAK BACOT KALIAN SEMUA!” maki Andy sambil menggebrak meja.
__ADS_1
Guru-guru jadi diam sejenak, ketakutan melihat Andy mengamuk seperti itu.
Pak Guan langsung menekan sebelah bahu Andy, dan berdiri di sisi kirinya.
“Ini adalah lingkungan sekolah, bukan pusat pasar. Berani sekali kamu melantangkan suaramu dihadapan semua guru-guru di sini. Apa hak mu berani berkata seperti itu? Dan…kenapa kamu tadi menendang bola voli ke arah saya?”
Guru olah raga wanita hanya diam dan duduk di kursi kerjanya, membiarkan Guan ambil ahli pembicaraan.
“Alasan aku menendang bola ke arah bapak karena…karena aku tidak menyukai bapak mendekati bu Karina,” sahut Andy dengan wajah menantang.
“Oh! Kenapa? Apa kamu menyukai bu Karina?”
“Itu bukan urusan bapak!”
“Berarti, apa yang saya lakukan juga bukan urusan kamu. Kamu juga tidak ada hak untuk mengarahkan bola itu ke wajah saya. Gimana kalau saya terluka?” cetus Guan dengan tatapan menyepelekan.
“Uang adalah hal kecil bagi keluarga ku. Aku bisa merubah seluruh tubuh bapak, aku juga bisa membeli harga diri bapak. Bahkan, aku juga bisa membeli sekolah ini jika aku mau!” jelas Andy tanpa beban.
Bukannya takut, para guru, Guan, dan guru olah raga wanita malah tertawa kuat di ruangan tersebut.
“Hahaha! Membeli katanya? Setiap amplop yang diberikan dari sekolah untuk memperbaiki sekolah saja, Pak Khandar hanya memberikan uang sebesar 200 ribu rupiah. Hahaha!” celetuk salah satu guru sambil tertawa.
“Gaya dan ucapan sok orang memiliki banyak uang. Tapi hasilnya tidak pernah terlihat. Hahaha!” tambah guru lainnya menghina Andy.
“Iya-ia. Yang kalian katakan semuanya itu memang benar. Tapi, semua itu ada alasannya. Nggak percaya datang saja ke Perusahaan Papa yang ada di sini!” sahut Andy sembari melemparkan kartu nama Perusahaan milik Khandar.
Guan, dan beberapa guru langsung mengambil kartu tersebut. Sejenak mereka terkejut saat melihat siapa sebenarnya orang tua Andy. Kemudian mereka kembali tertawa dan berpikir jika Andy tidaklah mungkin anak dari Presdir terkenal di Sumatera ini. Mengingat Khandar tidak pernah menyumbangkan uang dengan jumlah banyak di Yayasan.
Muak mendengar tawa dari guru-guru, Andy melompat turun dari meja. Kedua kakinya hendak melangkah pergi. Namun, Guan segera menarik baju olah raga Andy hingga Andy terjatuh dengan posisi terduduk, dan tangannya tersenggol kaki meja.
“Ck, sakit tahu Pak!” keluh Andy masih bersikap sopan, ia pun hendak berdiri namun Guan menginjak kedua ujung sepatu Andy.
“Kamu harus melakukan sit-ups sebanyak 20 kali sebagai hukuman akibat berani mengarahkan bola ke wajah saya!” perintah Guan datar.
“Baiklah, aku mengaku salah dan menerima hukuman dari bapak,” sahut Andy masih tenang.
Andy memulai sit-ups nya, dan baginya melakukan hal itu kecil karena dia sering melakukan olah raga ringan di rumahnya.
Selesai sudah Andy melakukan hukumannya. Andy duduk dengan nafas terengah, seluruh baju dan tubuhnya di lumuri keringat. Begitu juga degan perban di lengannya.
“Selesaikan, Pak? Kalau gitu aku mau ke kelas dulu,” ucap Andy, hendak pamit pergi. Namun, lagi-lagi Guan menahannya.
__ADS_1
“Enak saja kamu ingin pergi begitu saja. Saya minta kamu melakukan push-up sebanyak 30 kali untuk membuat kamu jerah menjadi anak yang berandalan tak tahu diri seperti kamu!” cetus Guan memberikan hukuman kembali untuk Andy.
Malas berdebat, Andy menurutinya.
Tanpa Andy, Guan, dan beberapa guru lain sadari. Andreas ternyata sudah lama berdiri di depan pintu ruangan guru sambil merekam semua perbuatan Guan kepada Andy. Tidak tahan melihat Andy seperti di siksa, Andreas melangkah masuk dengan tangan tetap menyorot kamera ke arah Andy dan Guan.
“Wah! Kalau video ini viral, aku rasa kalian semua akan di kecam habis-habisan oleh seluruh rakyat di dunia ini!” ucap Andreas mengarahkan kamera ponselnya ke wajah guru olah raga wanita, Guan, dan beberapa guru lainnya sedang duduk di masing-masing kursi kerja mereka.
Lelah karena terus di hukum, Andy merebahkan tubuh dan baju penuh keringat di lantai. Nafasnya juga terlihat memburu.
Ketakutan akan video tersebar, Guan berusaha merampas ponsel dari tangan Andreas.
“Berikan ponsel itu, Andreas!” pinta Guan melompat-lompat, meraih ponsel di junjung tinggi oleh Andreas.
“Apa? Berikan! Enak saja bapak minta aku memberikan ponsel mahalku kepada bapak. Oh! Begini saja. Aku akan menghapus semua video yang telah aku simpan dengan satu syarat,” ucap Andreas mulai menawarkan syarat.
“Dasar berandalan sekolah. Bisa-bisanya kalian menipu guru dan meminta syarat!” umpat Guan kelas.
“Nggak mau nih? Aku tekan tombol hijau ini, ya?” ancam Andreas menunjukkan akun media sosial miliknya.
“Eh, jangan-jangan. Katakan syaratnya itu apa?” sahut Guan diangguki guru lainnya.
“Sebentar lagi kami akan tamat sekolah. Ibu guru dan pak guru yang terhormat tahu sendirikan kalau kami ini adalah berandalan sekolah yang jarang masuk kelas. Gimana, kalau beberapa rekaman video ini di ganti dengan nilai sempurna saat hasil kelulusan sekolah nanti. Gimana?” sahut Andreas menyeringai licik.
Takut tidak bisa mengajar dan bekerja lagi, guru-guru setuju dengan ancaman Andreas. Begitu juga dengan guru olah raga wanita masih baru masuk itu. Lain dengan Guan, ia hanya bisa mendengus kesal.
“Setuju, kan? Kalau gitu ini bukti video aku simpan sampai kami melihat nilai hasil ujian yang memuaskan nantinya. Setelah itu, aku janji akan menghapusnya,” ucap Andreas memberitahu. Kemudian Andreas mengulurkan tangannya untuk membantu Andy berdiri. “Bocah tengik, mari kita pergi!” ajak Andreas,
Andy menerima uluran tangan Andreas, mereka berdua perlahan berjalan keluar dari ruangan guru tersebut.
“Terima kasih,” ucap Andy membuat Andreas merinding.
“Macam setan ku rasa kau. Tolong lah, jangan katakan kalimat itu lagi padaku,” sahut Andreas menoleh ke Andy.
“Bacot!” gumam Andy di sela tawa kecilnya.
Dari kejauhan Karina masih terus memantau, bibirnya tersenyum dan menggeleng.
“Memang kalian berdua ini benar-benar anak yang tidak mengenal rasa takut,” gumam Karina seolah ia mendengar semuanya.
.
__ADS_1
.
Bersambung