Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
62. KAU, AKU PECAT!


__ADS_3

30 menit berlalu, sepeda motor milik Andy telah terhenti di depan teras rumah Karina. Karina turun, berdiri di samping sepeda motor di duduki Andy.


“Enggak singgah?” tanya Karina menawarkan.


“Tidak usah. Sebaiknya aku langsung pulang saja,” sahut Andy menolak secara halus.


“Kalau gitu kamu hati-hati, ya.”


“Karina,” panggil Andy.


“Iya, ada apa?” sahut Karina sembari bertanya.


“Aku harap kamu jangan mudah tertipu dengan fitnah orang lain tentang diriku,” ucap Andy serius.


“Hem!” angguk Karina.


“Aku berani bersumpah jika aku dan Andreas tidak memiliki hubungan apa pun,” jelas Andy kembali.


“Saya percaya kok,” ucap Karina.


Saking senangnya mendengar ucapan Karina, Andy spontan menarik tangan Karina, dan memberi ciuman lembut di bibirnya.


Karina terkejut, spontan mendorong tubuh Andy, kedua kakinya juga melangkah mundur ke belakang.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Karina menutup bibirnya.


“Kamu tidur sendiri, kan?” Andy balik bertanya.


“I-iya,” sahut Karina gugup.


“Nah, bekas bibirku yang masih menempel di bibir kamu itu adalah tanda bahwa malam ini aku akan menemani kamu tidur,” jelas Andy menggombal.


“Kamu!” gumam Karina menahan malu.


“Hahaha!” tawa Andy. Ia pun memutar stang sepeda motornya, melajukan nya pergi meninggalkan halaman rumah Karina


Melihat Andy tersenyum sambil melajukan sepeda motor, Karina juga ikut tersenyum dengan kepala menggeleng sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya.


Mengingat ucapan dan sebuah tuduhan palsu Haniffah kepada dirinya dan Andreas. Pagi itu setelah Andy datang ke kantor, ia memanggil Haniffah, menyuruhnya masuk ke ruangannya.


Haniffah memenuhi panggilan Andy, kini ia berdiri di depan meja kerja Andy.


“Pagi bos,” sapa Haniffah tanpa rasa berdosa.


Andy tidak menjawab. Ia hanya melihat Haniffah dari atas sampai bawah. Kemudian pandangannya terhenti pada wajah senang Haniffah.


“Sepertinya hari ini kamu sangat senang? Kalau aku boleh tahu, hal apa yang sangat membuatmu senang pagi ini?” tanya Andy memulai serangannya.


“Karena hari ini pria yang saya sukai telah putus dengan wanitanya,” sahut Haniffah kepalanya tertunduk karena malu.

__ADS_1


“Oh!” angguk Andy.


Haniffah tersenyum.


Andy beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Haniffah, dan mengelilinginya.


“Kalau aku lihat-lihat, ternyata kamu ini sangat cantik daripada Karina,” puji Andy sengaja.


Haniffah merasa senang, kepalanya semakin tertunduk menahan malu.


“Saya hanya wanita biasa. Soal kecantikan, kecantikan saya masih di bawah rata-rata Karina. Pacar bos,” ucap Haniffah merendah.


“Nggak, aku serius. Kamu memang sangat cantik di banding Karina,” Andy memegang dagu Haniffah dengan sangat kuat.


“Sa-sakit Bos,” ucap Haniffah mencoba melepaskan genggaman tangan Andy pada dagunya. Senyuman pun berubah menjadi ketakutan.


“Sakit, ya?” tanya Andy semakin mengeratkan genggaman tangannya.


“I-iya!” angguk Haniffah mulai cemas saat melihat pandangan mata Andy sedikit berbeda.


“KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU DENGAN TUDUHAN PALSU YANG KAU LONTARKAN KEPADA KARINA?” teriak Andy dihadapan Haniffah sembari melepaskan kasar genggaman tangannya dari dagu Haniffah.


“Tuduhan apa? Sa-saya tidak tahu bos,” elak Haniffah berusaha membela diri.


“Bukannya kau bilang jika aku dan sahabatku memiliki hubungan spesial kepada Karina. Jelaskan kepada ku, kenapa kau mengatakan hal buruk kepada Karina?!”


Haniffah tercengang, ia tak percaya jika Karina memberitahu ucapannya kepada Andy. Tidak ingin tersudut atas kebodohannya sendiri. Haniffah berlutut, memegang kedua paha Andy. Namun, Andy segera melepaskan genggaman tangan Haniffah dan kembali ke kursinya.


“Kenapa kau menangis?” tanya Andy.


“Maafkan saya, Bos. Saya mengaku kalau saya kesal tadi malam,” sahut Haniffah meminta maaf.


“Kamu ingin saya maafkan?” tanya Andy sembari duduk santai di kursi kerjanya.


“Iya!” angguk Haniffah.


“Aku ingin bertanya kepada kamu. Kenapa kamu masih ingin bekerja di tempat seorang pria yang tidak normal seperti saya?” tanya Andy kembali.


Tangisan Haniffah spontan terhenti, kedua bola matanya membulat sempurna menatap wajah tenang Andy.


‘Sial. Wanita itu benar-benar membuat aku sangat kesal. Awas saja kamu!’ batin Haniffah.


Tidak ingin membuat rencananya berakhir sia-sia. Haniffah mencoba rencana baru.


“Siapa yang bilang bos itu pria yang tidak normal?” Haniffah balik bertanya.


“Jawab saja pertanyaanku!” tegas Andy sembari menggebrak sekuat-kuatnya meja kerja miliknya.


“Ma-maafkan saya. Saya mengaku khilaf mengatakan hal itu karena saya ingin membuat bos berpisah dengan Karina,” sahut Haniffah mulai jujur.


“Oh, berpisah, ya?” tanya Andy sembari mengangguk.


“Iya. Sa-saya menyukai bos,” sahut Haniffah jujur.

__ADS_1


“Mulai hari ini kamu, aku pecat!” Andy mengulurkan tangannya ke pintu. “Bereskan barang-barang kamu, dan segera keluar dari Perusahaan ku!” lanjut Andy mengusir Haniffah.


Haniffah berlari mendekati kursi kerja Andy, memegang tangan Andy sembari memohon.


“Bos, sa-saya mohon jangan pecat saya. Sa-saya masih ada tanggungan yang harus saya penuhi,” ucap Haniffah memohon belas kasih dari Andy.


Andy mengangkat tangannya, membuat pegangan tangan Haniffah terlontar jauh ke atas sehingga kedua kakinya spontan mundur 2 langkah ke belakang.


“Persetan dengan ucapanmu. Sekarang aku mau kau keluar dari Perusahaan ini!” usir Andy tegas.


“Ja-jangan bos! Saya mohon berikan saya kesempatan kedua untuk berubah. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk biaya kehidupan saya,” ucap Haniffah kembali memohon.


Brak!


“SEKARANG KELUAR DARI RUANGAN KERJAKU!” teriak Andy setelah menggebrak meja kerjanya.


Haniffah tercengang. Bibirnya terasa keluh, otaknya kehabisan akal untuk melontarkan sebuah permintaan. Dengan berat hati, Haniffah melangkah keluar dari ruangan Andy.


Seolah tak punya rasa takut. Haniffah masih bisa memiliki rencana buruk.


“Huft!” hela Haniffah setelah dirinya keluar dari ruangan Andy. Pandangannya menoleh kebelakang, melihat pintu ruangan Andy. “Baiklah, kalau kamu memecatku berarti kau sudah mengambil resiko yang harus kau nikmati nantinya, bos…Andy!” lanjut Haniffah bergumam.


Haniffah melangkah menuju ruangannya, menyusun barang-barang miliknya, lalu keluar dari ruangan kerja sambil menangis tersedu-sedu agar semua karyawan prihatin padanya.


Begitu sampai di lantai bawah. Beberapa karyawan langsung mendekati Haniffah, mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kau kenapa bawa-bawa box begini?”


“Kamu juga menangis. Apa bos memecat mu?”


“Iya, bos Andy itu aneh,” sahut Haniffah sembari menangis.


“Apa alasan bos Andy memecat kamu?”


“Katanya kinerjaku kurang bagus. Padahal selama ini saya sudah berusaha menjadi sekretaris yang baik dan memenuhi semua permintaan bos Andy,” sahut Haniffah berbohong.


“Kejam sekali,” gumam semua karyawan di sana.


Tanpa mereka sadari, Andy telah berdiri di belakang mereka. Tatapan tajam mengarah pada Haniffah masih mempertahankan air mata buatannya.


Karyawan menyadari kedatangan Andy spontan berjalan mundur, bergegas kembali ke meja mereka masing-masing. Dan untuk karyawan tak menyadari kode diberikan karyawan lain, mereka masih asik membicarakan Andy.


“Ekhem!” dehem Andy.


Beberapa karyawan berdiri bersama dengan Haniffah spontan menoleh, kedua bola mata mereka membulat sempurna melihat Andy berdiri tepat di belakang mereka dengan tatapan tajam.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2