
Segan terlalu lama bertamu di rumah Karina. Andy memutuskan berpamitan pulang ke rumah.
Mulai keluar dari rumah Karina, sampai kini sudah sampai di rumah, mobil terparkir di garasi mobil. Wajah Andy terus tersenyum, bibirnya terus tersenyum dan melantunkan siulan halus.
Seperti biasa, Khandar selalu menunggu kedatangan Andy di ruang tamu.
“Darimana kamu?” tanya Khandar menghentikan langkah, siulan, dan senyuman Andy.
“Dari pergi nongkrong, Pa,” sahut Andy datar.
“Oh, kalau gitu istirahatlah di atas,” ucap Khandar sembari beranjak dari duduknya.
“Pa..” panggil Andy menggantung.
“Ada apa?” tanya Khandar menghentikan langkah kakinya.
“Sebenarnya…sebenarnya aku…”
“Mantan guru Bk kamu sudah pulang, dan tadi kamu nongkrong bersamanya. Bahkan kamu juga telah menyatakan cinta kepadanya. Itu, kan yang ingin kamu katakan pada Papa?” celetuk Khandar seolah tahu semuanya tentang Andy.
“Kenapa Papa bisa tahu semuanya?” tanya Andy seolah tak suka.
“Aku ini adalah orang tuamu. Jadi, semua tentang dirimu, Papa tahu!” sahut Khandar.
Khandar kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dasar. Kamar tepat di bawah anak tangga.
Andy masih terdiam seperti patung, memikirkan bagaimana ceritanya Khandar bisa mengetahui semua tentang dirinya. Apakah Khandar diam-diam mengirim seseorang untuk memantau dirinya. Atau, Khandar telah memasang kamera pengawasan di mobil miliknya.
Lelah karena terus berpikir tak berujung, akhirnya Andy memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya di lantai 2. Mengistirahatkan tubuhnya terasa lelah di atas ranjang berukuran king size.
.
.
Keesokan paginya.
Pukul 07:30, Andy sudah bersiap untuk pergi kerja. Kedua kakinya melangkah turun dari kamarnya, berjalan santai menuju ruang makan untuk menikmati santap sarapan pagi bersama dengan Khandar.
“Tumben bangun cepat dan berpakaian rapih,” cetus Khandar melihat Andy memakai stelan jas.
Karena biasanya Andy selalu memakai baju biasa, kalau ada rapat dan bertemu dengan klien penting saja, barulah pakai nya berubah menjadi rapih. Makanya Khandar kepo.
“Mau menjumpai seseorang untuk meluluskan Karina masuk ke bagian psikolog anak,” sahut Andy santai sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
“Papa bilang jangan ikut campur. Biarkan Karina berusaha sendiri. Kalau kamu terlalu ikut campur dengan urusan pribadi miliknya, maka ketika dia di terima dan mengetahui jika semua itu adalah perbuatan kamu. Maka Karina akan sangat marah, dan mungkin kau pasti akan di tinggal olehnya,” cetus Khandar memberi nasehat.
__ADS_1
Andy langsung terkejut. Nafsu makan hilang sudah ketika mengingat jika Karina adalah seorang wanita pejuang pantang menyerah tanpa orang dalam. Tidak ingin membuat Karina kecewa, Andy memutuskan untuk membatalkan pertemuannya, membiarkan Karina berjuang sendiri.
Andy beranjak dari duduknya.
“Kalau gitu aku ganti baju dulu, Pa,” pamit Andy.
“Hem!” angguk Khandar.
Selesai mengganti pakaian menjadi pakai kaos oblong, dan celana biasa untuk jalan-jalan. Andy memutuskan untuk berpamitan pergi ke kantor kepada Khandar, karena hari ini banyak pekerjaan menunggunya di perusahaan miliknya.
Begitu juga dengan Khandar. Khandar pergi menuju perusahaan miliknya, sehingga rumah mewah itu kosong setiap pagi sampai sore hari.
Laju mobil Andy perlahan melambat begitu memasuki halaman Perusahaannya. Seperti biasa, sebelum Venda membuka pintu untuknya, Andy telah turun terlebih dahulu. Kedua kakinya melangkah masuk ke gedung Perusahaan dengan wajah datarnya.
“Selamat pagi bos!” sapa beberapa karyawan.
Andy tidak menjawab sapaan para karyawannya, ia hanya mengangguk, dan tersenyum. Hal itu membuat semua para karyawan bingung, tidak biasanya Andy tersenyum pada mereka. Biasanya ketika para karyawan menyapa, Andy hanya berjalan lurus dengan wajah datarnya.
Perubahan sikap Andy sontak membuat semua karyawan saling berbisik membicarakan keanehan Andy pagi ini.
“Nggak salah liat kita tadi?”
“Sumpah, baru kali ini aku melihat bos Andy tersenyum seperti itu.”
“Berwajah masam setiap pagi saja sudah membuat aku hampir kehilangan jantung. Apalagi saat bos Andy tersenyum seperti ini.”
“Apa yang membuat bos Andy bisa tersenyum di pagi hari,” gumam Haniffah sembari melangkah keluar dari lift.
Dengan beralasan membawa foto copy dokumen, Haniffah masuk ke dalam ruang kerja Andy.
“Permisi, pagi Bos,” sapa Haniffah setelah berdiri di depan meja kerja Andy.
“Pagi,” sahut Andy dingin.
‘Ck, apaan yang tersenyum. Wajahnya masih sama seperti sebelumnya. Aku rasa karyawan ini sengaja mengatakan hal ini di saat aku sedang lewat,’ batin Haniffah sembari meletakkan tumpukan foto copy dokumen ke atas meja kerja Andy.
Selesai meletakkan tumpukan foto copy dokumen ke atas meja, Haniffah melangkah mundur ke belakang sebanyak 2 kali, lalu menatap Andy.
“Kenapa kau terus memandangku?” tanya Andy sinis.
“I-itu foto copy berkas-berkas—"
“Iya, aku tahu. Sekarang silahkan keluar dari ruanganku. Jika aku membutuhkanmu, maka kau akan ku panggil lagi,” sela Andy merasa risih melihat Haniffah terlalu lama di dalam ruangannya.
“Ba-baik bos!”
__ADS_1
Haniffah cepat-cepat pergi sebelum Andy memarahinya. Begitu sampai di luar ruangan Andy. Haniffah melirik sekilas wajah Andy dari balik dinding kaca ruangannya.
“Ck, jangan memperlakukan ku seperti ini, bos. Semakin bos seperti ini, maka aku semakin menyukai bos,” gumam Haniffah penuh siasat. Lalu ia melanjutkan langkahnya kembali ke ruangan miliknya.
.
.
Di dalam ruang kerja Andy.
Ponsel Andy terletak di atas meja terus bergetar. Terlihat nama panggilan Karina. Dengan cepat, jari jempol tangannya menekan tombol hijau, dan memasangkan earphone ke telinga nya.
📲 [“Assalamualaikum.”] ucap Haniffah setelah Andy mengangkat panggilan telepon.
📲[“Wa’alaikumsallam.”] sahut Andy singkat.
📲[“Kamu sudah berangkat kerja?”] tanya Karina.
📲[“Sudah. Kenapa?”]
📲[“Saya sedang berada di ruang loby. Menunggu orang yang akan mewawancarai saya."] terjeda 5 menit kemudian lanjut ["Hem…boleh tidak, saya minta semangat dari kamu agar rasa gugup ini sedikit menghilang?”] ucap Karina memberitahu.
📲 [“Tentu saja boleh. Kalau gitu aku akan menceritakan sesuatu hal yang menarik kepada kamu. Kamu cukup mendengarkan saja, ya!”] sahut Andy lemah lembut.
Karina patuh, ia hanya mendengarkan ucapan Andy tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun di panggilan telepon mereka.
2 jam berlalu, Karina merasa cukup tenang terpaksa mematikan sambungan teleponnya karena namanya telah di panggil untuk masuk ke dalam, melakukan sesi wawancara.
“Semoga berhasil, Karina sayang,” gumam Andy setelah panggilan telepon terputus.
Andy kembali menyibukkan dirinya dengan tumpukan pekerjaan miliknya.
Waktu terus berjalan. Tepat pukul 11:58 siang, Andy terlihat keluar dari ruangannya, berjalan terburu-buru seperti sudah memilik janji.
Haniffah tak sengaja melihat Andy lewat dengan terburu-buru, langsung mengikuti langkah Andy secara diam-diam.
Bukan pergi menaiki mobil miliknya. Andy malah pergi menaiki sepeda motor Perusahaan miliknya sendiri.
Karena rasa tingkat penasaran Haniffah begitu besar, Haniffah sampai ikut melajukan mobilnya, mengikuti Andy dari belakang.
1 jam berjalan akhirnya sepeda motor Andy terhenti di salah satu kafe kekinian. Di depan kafe terlihat seorang wanita berpakaian rapih telah berdiri, tersenyum memandang kedatangan Andy.
“Siapa wanita itu?” geram Haniffah.
.
__ADS_1
.
Bersambung