
Tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Andy sempat-sempatnya mengajukan pertanyaan mesum kepada Karina. Dengan tatapan serius memandang wajah teduh Karina.
“Jawab dong bu! Gimana caranya aku membayar jasa kebaikan ibu? Kebetulan aku tidak memiliki uang karena kabur dari rumah. Aku bayar ibu dengan menggunakan jasa di ranjang saja, ya? Walaupun aku masih di bawah umur, aku bisa kok—”
Karina segera menghentikan ocehan tidak bermutu Andy dengan cara beranjak dari duduknya.
“Sepertinya kamu sudah sembuh. Sebaiknya saya permisi pulang dulu, karena saya masih ingin ke sekolah lagi,” ucap Karina hendak melangkah pergi. Namun, Andy segera menahan tangan Karina.
“Bu…”
“Iya, ada apa Andy?” tanya Karina lembut.
“Tolong jaga dengan baik baju almarhum Mama yang sedang ibu pakai,” sahut Andy berpesan, lalu melepaskan tangan Karina.
“Saya akan memulangkannya setelah di cuci nanti. Andy, saya minta kamu segera pulang ke rumah. Saya yakin jika saat ini Pak Khandar sangat mencemaskan kamu. Sejahat-jahatnya dan sebencinya orang tua kepada anaknya, pasti rasa rindu dan kasih sayangnya lebih besar untuk anaknya. Jadi, saya mohon pulanglah. Coba berdamai dengan Papa kamu, Pak Khandar,” ucap Karina memberi saran.
Tidak seperti biasanya, kali ini Andy mengangguk dan menerima saran dari Karina. Hal itu membuat Karina tersenyum puas.
“Karena kamu sudah mengangguk, berarti saya pamit pulang dulu. Besok kalau sudah baikkan, masuk sekolah, ya? Soalnya 5 bulan lagi kamu akan menuju finish kelulusan,” pesan Karina kembali.
“Iya,” sahut Andy berwajah malas.
“Saya pulang dulu. Assallamualaikum,” pamit Karina mulai melangkah keluar dari dapur, diikuti Andy.
Andy membuka pintu rumah ruko, mengantarkan Karina sampai ke depan pintu. Setelah Karina pergi, Andy mengunci pintu rumah ruko nya, dan duduk santai di depan tv.
Baru saja hendak bersantai, ponsel milik Andy di atas meja berdering. Andy melirik ke layar ponselnya, melihat nama sang pemanggil. Dahi Andy mengernyit melihat nama pemanggil tersebut adalah Papanya.
“Ck, tumben sekali menelepon. Pasti Papa menelepon hanya untuk memarahiku,” gumam Andy seolah paham tujuan Khandar meneleponnya.
Karena panggilan telepon di abaikan. Khandar mengirim pesan singkat ke Andy.
📨 {Pulang Andy. Ada seseorang yang ingin Papa pertemukan dengan kamu!}
__ADS_1
Setelah membaca isi pesan dari Khandar, Andy kembali mengernyitkan dahinya.
“Pasti Papa ingin menunjukkan kekasih barunya lagi. Ck, malas banget!” gerutu Andy mematikan ponsel miliknya agar tidak terus-menerus di hubungi oleh sang Papa.
Masih merasa lelah dan mengantuk efek dari obat suntik. Andy memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa panjang, membiarkan siaran tv terus menyala dengan volume suara besar.
.
.
Di ruang Kepala Sekolah.
Karina duduk berhadapan dengan seorang pria bertubuh pendek, perut buncit, dan rambut bagian tengah botak. Pria itu adalah Kepala Sekolah sekaligus pemilik Yayasan.
“Kamu darimana saja?” tanya Kepala Sekolah.
“Saya tadi mengunjungi Andy, Pak,” sahut Karina sopan.
“Saya sudah pernah mengirim surat SP1 kepada Andy. Tapi hasilnya tetap sama. Jadi, saya memutuskan untuk terjun langsung menangani kasus Andy,” sahut Karina santai.
“Ini, ini yang kamu bilang memutuskan untuk terjun langsung menyelesaikan masalah Andy. Ibu Karina, apa kamu memiliki hubungan spesial kepada Andy?” tanya Kepala Sekolah sembari menunjukkan foto Karina sedang memeluk Andy sangat erat dari belakang.
“Saya bisa jelasin, Pak. Foto yang itu saat saya sedang membujuk Andy untuk masuk sekolah. Bukan ada hubungan spesial apapun,” jelas Karina mengingat foto itu adalah waktu Karina mengancam Andy untuk segera masuk sekolah.
Kepala Sekolah menghapus bukti foto, kemudian menatap lekat nanar mata teduh Karina.
“Saya baru tahu kalau ada seorang guru BK rela merendahkan harga dirinya sendiri demi menyelamatkan satu murid. Apa ibu Karina berharap kami akan membayar lebih atas kerja keras yang kamu lakukan? Oh, apa kamu berharap orang tua Andy yang terkenal kaya itu membayar dan menghormati semua perbuatan kamu?”
Karina mengepal kedua tangannya, dahinya mengernyit mendengar penghinaan dari kepala Sekolah.
“Maaf, Andy adalah anak yang pintar, dan patut untuk di arahkan. Sekali lagi saya minta maaf. Saya melakukan semua ini bukan karena menginginkan uang. Yang saya inginkan adalah saya berhasil membawa seorang anak manusia kembali ke jalan yang baik, meski saya tahu sifat itu tidak permanent. Tapi setidaknya ada perubahan,” jelas Karina tenang.
“Kamu hanya buang-buang waktu. Kalau memang Andy masih sering bolos. Maka beri dia hukuman dengan cara menskor selama 2 bulan tidak masuk sekolah!” tegas Kepala sekolah memberi perintah.
__ADS_1
“Pak, sebentar lagi akan ada ujian UAN dan UAS. Beri Andy kesempatan untuk masuk, saya yakin dia akan berubah setelah ini,” ucap Karina sedikit memohon untuk Andy.
“Sekolah ini milik kamu atau milik saya?! Lagian, buat apa anak orang kaya yang tidak pernah menyumbangkan apa pun di yayasan ini terlalu dipertahankan. Sudah! Saya tidak ingin mendengar ocehan kamu lagi, sebaiknya kamu pergi dari ruangan saya. Turuti apa yang saya katakan sebelum kamu saya berhentikan sebagai guru BK!” tegas Kepala sekolah.
Dengan berat hati Karina mengikuti perintah Kepala Sekolah. Karina keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah lusuh. Saat di depan ruangan, Karina tiba-tiba terkejut melihat Andreas berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok.
“Andreas!” panggil Karina.
“Ibu Karina!” sahut Andreas ikut memanggil sembari memberikan senyuman manisnya untuk Karina.
“A-apakah kamu sudah lama di sini?” tanya Karina cemas jika Andreas mendengar percakapan mereka.
“Oh, tidak. Aku baru saja sampai di sini,” sahut Andreas berbohong.
“Kamu kenapa belum pulang?” tanya Karina penasaran kenapa Andreas tidak pulang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02:30.
“Aku menunggu ibu, sekalian mau bertanya gimana kabar Andy. Dan kenapa tadi dia tidak ada di apartemen miliknya,” sahut Andreas sekaligus bertanya.
“Apartemen?” tanya Karina bingung, setahu Karina Andy hanya memiliki rumah ruko itu pun bekas peninggalan almarhum Mamanya sewaktu muda dulu.
“Iya, tadi sepulang sekolah aku menyempatkan diri ke Apartemen Andy karena aku pikir ibu masih di sana. Ternyata apartemen Andy kosong. Saat menuju jalan pulang dari Apartemen Andy. Aku tak sengaja melihat ibu lewat. Jadi aku ikuti saja ibu sampai di sini,” sahut Andreas menjelaskan.
“Hem, begini. Apa kamu bisa menunjukkan saya apartemen milik Andy?” tanya Karina hati-hati.
“Ya, sudah! Mari ikut aku,” sahut Andreas tanpa penolakan.
Andreas dan Karina mulai melangkah menuju parkiran sepeda motor mereka. Karina mengikuti laju sepeda motor Andreas menuju apartemen Andy.
.
.
Bersambung...
__ADS_1