
Bola mata Haniffah membulat sempurna, wajahnya berubah menjadi pucat seputih kertas saat melihat wajah suram Andy.
“Gawat!” gumam Haniffah.
Tidak ingin terkena masalah lebih dalam lagi dengan Andy. Haniffah berlari cepat meninggalkan Perusahaan milik Andy. Untuk semua karyawan kembali menyibukkan diri mereka di depan layar monitor.
Andy menyerong kedua kakinya, berdiri tepat di depan meja para karyawan.
“Aku peringatkan kepada kalian semua. Kalau kalian masih ingin bekerja di Perusahaan ini. Maka kalian semua harus menuruti semua peraturan seperti yang sudah tertulis di kontrak kerja. Jika kalian melakukan kesalahan seperti yang Haniffah lakukan. Bermuka dua dan memfitnahku. Maka, bersiaplah untuk AKU PECAT TANPA ADANYA PESANGON!” tegas Andy memberitahu.
“SIAP BOS!” sahut serentak para karyawan sembari berdiri di samping kursi mereka masing-masing.
Selesai memberi peringatan kepada para karyawannya. Andy melangkah pergi menuju ruang kerjanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di ruang kerja. Andy menghempaskan tubuhnya di kursi besar miliknya. Memijat perlahan kepalanya berdenyut hebat memikirkan perbuatan Haniffah.
“Haih, entah apa-apa aja lah Papa ini. Masa ia mencari sekretaris bermuka dua seperti itu,” gumam Andy frustasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 19:00 malam.
Andy dan Khandar tengah menyantap makan malam bersama. Sejenak mereka saling diam, menikmati menu makanan tersaji di meja. 5 detik selanjutnya Khandar mencoba bertanya dengan menyinggung Haniffah.
“Andy,” panggil Khandar.
“Iya, Pa,” sahut Andy sambil menikmati makan malamnya.
“Papa ingin mendengar penjelasan dari mulutmu sendiri, kenapa kamu memecat Haniffah?” tanya Khandar.
Memang Perusahaan Andy dan Khandar tidak sama. Tapi, yang nama berita penting sudah pasti cepat tersebar.
Andy meletakkan sendok dan garpu miliknya di samping piring. Menenggak minuman hangat, kemudian menjawab pertanyaan Khandar.
“Wanita itu tadi malam telah membisikan kalimat aneh kepada Karina. Wanita bermuka dua itu mengatakan jika aku berpacaran dengan Andreas. Karina terlihat sempat percaya akan ucapan wanita itu. Namun, aku berusaha menyakinkan Karina agar tidak percaya dengan ucapan Haniffah. Bukan itu saja. Banyak perbuatan buruk yang sudah ia lakukan kepadaku. Aku merasa muak dan jenuh. Jadi, aku memutuskan untuk memecatnya,” sahut Andy menjelaskan.
“Jadi, sekretaris mana yang akan kau cari sebagai gantinya?” tanya Khandar.
“Entahlah, aku masih bingung mencari sekretaris yang pas untukku,” sahut Andy bingung.
“Gimana dengan Karina. Kenapa tidak kamu tawarkan pekerjaan menjadi sekretaris kepadanya,” usul Khandar semangat.
“Tidak. Aku tidak ingin menghancurkan impiannya menjadi seorang psikolog,” tolak Andy masih memikirkan impian Karina.
__ADS_1
“Baiklah, terserah kamu saja,” hela Khandar terdengar pasrah.
Andy beranjak dari duduknya. “Pa, aku mau pergi ke rumah Andreas,” pamit Andy.
“Hem,” angguk Khandar sembari menyeruput minumannya.
Andy mengambil jaket, kunci sepeda motor dan helm miliknya. Ia pun bergegas pergi menuju rumah Andreas.
1 jam perjalanan sampailah Andy di depan teras rumah Andreas. Melihat pintu rumah terbuka separuh, Andy langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam.
“Andreas!” teriak Andy saat kedua kakinya terhenti di ruang tamu.
“Weuy! Ada anak dajjal datang!” sambut Andreas sembari turun menuju ruang tamu.
Andy mendudukkan dirinya di sofa.
“Ada apa ini?” tanya Andreas setelah sampai di ruang tamu, dan mendudukkan dirinya di sofa.
“Stress aku,” sahut Andy menatap langit-langit ruang tamu.
“Stres kenapa? Apakah kau menyesal telah memecat sekretaris bermuka dua kau itu?” tanya Andreas telah mengetahui kabar berita mengenai pemecatan Haniffah.
“Ngeri kali gossip ini, ya! Padahal aku memecatnya tanpa menyiarkan langsung di tv,” cetus Andy heran.
“Baru tahu kau?”
“Hem, sekretaris baru,” Andreas mengelus dagu kasarnya. “Aha!” tiba-tiba sebuah rencana muncul di pikirannya.
“Aha! Kenapa?” tanya Andy.
“Kebetulan sekali. Kak Fitri itu mantan lulusan universitas jurusan Sekretaris dengan nilai tinggi di universitasnya!” celetuk Andreas semangat.
“Lalu?”
“Karena Kak Fitri memakai hijab, dan ia pun sulit keterima kerja. Bagaimana jika kamu mempekerjakan Kak Fitri saja di sana!” usul Andreas penuh percaya diri.
“Aku sih tidak masalah. Tapi yang jadi masalahnya, mau apa enggak kak Fitri bekerja di tempatku?” tanya Andy.
“Hem!” Andreas berpura-pura berfikir.
“Aku tahu!” celetuk Andy mengejutkan Andreas.
“Tahu kenapa?” tanya Andreas penasaran.
“Gimana kalau kau memberikan alamat perusahaan ku kepadanya. Katakan kepadanya jika di Perusahaan ku sedang menerima karyawan yang memperbolehkan karyawan memakai hijab di sana,” usul Andy.
__ADS_1
“Benar juga kau. Kalau gitu aku akan mengirimkan alamat Perusahaan milikmu kepadanya sekarang juga,” ucap Andreas langsung mengambil ponsel miliknya, mengirim wa kepada Fitri.
“Sudah aku kirim,” tambah Andreas memberitahu sambil meletakkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya.
“Kalau gitu aku pergi dulu!” pamit Andy beranjak dari duduknya.
“Eh, mau kemana kau?” tanya Andreas menghentikan langkah Andy.
“Tentu saja aku mau ke rumah Karina. Memastikan apakah calon istri masa depanku sudah makan malam atau belum,” sahut Andy santai.
“Pergilah! Kalau gitu aku pun akan pergi ke rumah Kak Fitri untuk menjelaskannya,” ucap Andreas beranjak dari duduknya.
Sepeda motor mereka serentak keluar dari gerbang rumah Andreas. Setelah beriringan menempuh jarak 1 KM, akhirnya Andy dan Andreas berpisah di persimpangan menuju ke rumah wanita sang pujaan hati mereka masing-masing.
Sebelum ke rumah Karina, Andy menyempatkan diri untuk membelikan Martabak Terang Bulan, dan Martabak telor buatan Abang India, untuk calon mertua. Tak lupa minuman kekinian lagi viral untuk Karina.
1 jam kemudian sepeda motor Andy telah sampai di halaman rumah Karina. Ia turun dari sepeda motor, berjalan dengan membawa bungkusan plastik berisi makanan.
“Assalamu’alaikum, Karina!” ucap salam Andy dari depan pintu rumah.
“Wa’alaikumsallam,” sahut Tina keluar dari ruang tv menuju ruang tamu.
“Tante,” sapa Andy tersenyum manis.
“Eh, ada nak Tama!” tangannya mengulur ke sofa single. “Silahkan duduk dulu,” ucap Tina mempersilahkan Andy duduk.
Andy melepaskan sepatunya di luar, baru masuk dan duduk di sofa single.
“Tante, ini ada makanan untuk Tante dan juga bapak. Tapi untuk minuman, milik Karina, ya!” ucap Andy mengulurkan bungkusan makanan kepada Tina.
“Wah, kesukaan ibu sama Bapak ini,” sahut Tina mengambil bungkusan plastik makanan dari tangan Andy. Untuk minuman Tina hanya meletakkannya di atas meja.
Andy mengulurkan kepalanya menuju ruang tv. Mencoba melihat apakah Karina ada di dalam. Dan hal itu terlihat oleh Tina.
“Kamu mencari Karina?” tanya Tina, masih berdiri di samping sofa tempat Andy duduk.
“I-iya, ketara ya, tante?” sahut Andy sedikit malu.
“Enggak, ibu hanya menebak-nebak,” Tina mengarahkan tangannya ke pintu. “Kebetulan Karina sedang mengajar les malam di gang sebelah. Dan saat ini bapak sedang menjemput Karina. Kamu tunggu di sini saja, ya. Ibu mau menyiapkan makanan ini di piring,” tambah Tina memberitahu.
“Iya,” sahut Andy mengangguk.
Tina pun melangkah pergi menuju dapur, memindahkan semua makanan di bawa Andy ke dalam piring.
.
__ADS_1
.
Bersambung