Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
11. CEMAS


__ADS_3

2 jam berlalu.


Sepeda motor sport milik Andreas telah terparkir di depan teras rumah Andy.


“Kamu hati-hati di jalan,” ucap Andy sembari perlahan turun dari sepeda motor Andreas.


“Aku akan bantu ketua untuk jalan sampai ke rumah,” ucap Andreas cepat, ia segera turun, menaruh sebelah tangan Andy ke atas bahunya.


Ctak!


Andy memukul puncak kepala Andreas.


“Aduh, kenapa ketua memukul puncak kepalaku?” tanya Andreas sembari mengelus puncak kepalanya.


“Bodoh! Berapa kali aku katakan untuk tidak memanggilku ketua saat di luar aktivitas geng motor milik kita,” jelas Andy, ia menarik tangannya dari atas bahu Andreas. “Sebaiknya kau pulang saja. Aku bisa sendiri,” tambah Andy menyuruh Andreas pulang.


“Tapi—” Ucapan Andreas terhenti saat pintu rumah terbuka.


Andy dan Andreas segera menoleh ke arah pintu. Terlihat Khandar berjalan ke arah mereka.


“Sial! Andreas, cepat. Cepat kau pulang sana!” perintah Andy mendorong-dorong tubuh Andreas.


“Tapi, aku juga ingin menjelaskan kepada Om Khandar kalau—”


“Degil otak kau ini. Aku bilang pulang, pulang!” tegas Andy membesarkan bola matanya menatap Andreas.


“Ba-baik!” sahut Andreas patuh.


Andreas naik ke atas sepeda motornya. Tak lupa berpamitan kepada Khandar sembari menjalankan sepeda motor miliknya.


“OM KHANDAR. AKU MOHON JANGAN MARAHI ANDY! AKU PAMIT PULANG DULU!” teriak Andreas sembari melaju kencang keluar dari pagar rumah Andy.


Seolah tak takut mendapat omelan dari sang Papa, Andy berjalan dengan terpincang menaiki anak tangga teras.


“Kenapa kaki kamu? dan dimana motor KLX kamu?” tanya Khandar setelah Andy naik ke teras.


“Kalah taruhan. Kalau kaki ini cidera karena ikutan balap motor,” sahut Andy jujur sembari terus berjalan terpincang masuk ke dalam rumah.


“Enteng sekali jawaban kamu!” Khandar menahan bahu Andy, membuat Andy berdiri berhadapan dengannya hingga wajah saling menatap satu sama lain. “Kamu kira cari duit itu enak? Papa harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Ini kamu malah enak-enakkan menghabisi uang Papa dan membiarkan kereta itu di rebut oleh orang lain. Dimana pikiran kamu, Andy!” lanjut Khandar memarahi Andy.

__ADS_1


“Apakah aku beban bagi Papa? Jika sama anak saja Papa perhitungan, maka aku akan mencari uang untuk diriku sendiri. Oh, Papa tanya dimana pikiranku? Aku akan menjawabnya “aku sudah tidak punya pikiran dan aku rasa otakku juga sedang tidak bekerja sesuai dengan perintah Papa”. Apa jawaban itu sudah mewakili semua pertanyaan Papa?” sahut Andy dengan wajah datarnya.


Plaaak!


“Mulai besok, kamu tidak boleh keluar malam. Dan, semua fasilitas sepeda motor milik mu yang ada di garasi mobil akan Papa sita. Mulai besok kamu akan di antar jemput oleh supir!” tegas Khandar setelah memberi tamparan di wajah Andy.


“Semua sepeda motor yang ada di garasi itu aku yang beli dengan uang yang aku kumpulkan. Bukan uang Papa! Jadi, jangan berani ikut campur dengan barang-barang—” protes Andy terhenti karena Khandar memilih untuk pergi daripada mendengarkan Andy.


“PA! PAPA!” teriak Andy menatap punggung Khandar menuju ruang kerja. “AAAA!” teriak Andy karena tidak di dengarkan.


Tidak ingin kehilangan sepeda motor miliknya. Dengan langkah terpincang Andy mendekati laci lemari di ruang tamu. Sebuah laci rahasia untuk menyimpan kunci-kunci sepeda motornya. Andy mengambil acak salah satu kunci sepeda motor miliknya, kemudian ia keluar rumah sambil terpincang-pincang menuju garasi mobil.


Andy menaiki sepeda motor CBR-150 miliknya, kemudian melajukan keluar dari garasi.


Broom brromm!


Mendengar suara sepeda motor keluar dari garasi. Khandar segera keluar dari ruang kerja miliknya, berlari keluar rumah dan berhenti di teras.


“ANDY! KEMBALI KE RUMAH KAMU, ANDY!” teriak Khandar. Namun Andy mempercepat laju sepeda motornya keluar dari gerbang rumahnya.


Andy terus melaju dan melajukan sepeda motornya menuju rumah ruko di kota Medan. 1 jam berkendara akhirnya sepeda motor Andy sampai di rumah ruko. Andy cepat-cepat memasukkan sepeda motornya, kemudian mengunci pintu ruko tersebut.


Wajah Andy juga terlihat pucat, mungkin efek menahan cedera di bagian kakinya. Seakan tidak bisa bergerak, tubuh terasa dingin, kaki juga berdenyut hebat. Andy perlahan merebahkan tubuhnya di samping sepeda motornya, meringkuk menahan dingin menyerang bagian tubuhnya.


“Ma-Mama..” gumam Andy perlahan menutup kedua matanya.


.


.


Keesokan paginya.


Sudah pukul 10:30 pagi, Andy tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Andreas terus menghubungi Andy. Namun, nomor ponsel Andy tidak bisa di hubungi.


“Haih! Buat aku sesak nafas aja lah anak berandalan satu ini. Perasaanku tadi malam dia sudah aku antar sampai ke rumah. Ada apa ini. Perasaanku mendadak tidak enak, bukan berarti aku sesak berak. Aku rasa ini perasaan Andy yang sudah menyatu dengan system syaraf ku,” gumam Andreas sembari mondar-mandir di depan pintu kelas.


“Dugong! Eh, maksudku ibu guru Karina!” ucap Andreas terkejut mendapati Karina telah berdiri di belakangnya.


“Kenapa Andy tidak datang?” tanya Karina dengan wajah datarnya.

__ADS_1


“Itulah yang masih aku pertanyakan. Tadi malam setelah kalah taruhan dan Andy cedera, aku masih sempat mengantarkan Andy ke rumahnya. Tapi, entah kenapa hari ini dia tidak datang. Bahkan nomornya saja tidak aktif. Aku takut sekali kalau dia terkena hukuman berat oleh Om Khandar,” sahut Andreas panjang lebar.


Sejenak Karina merasa kuatir akan keadaan Andy. Namun, mengingat sikap Andy tadi malam telah membuatnya sakit hati. Karina menepis rasa kuatir nya untuk Andy.


“Lebih baik antarkan saya ke rumahnya. Saya ingin mengecek keadaannya langsung,” perintah Karina tegas.


“Sebentar lagi masuk mata pelajaran selanjutnya. A-aku tidak bisa, bu. Lebih baik ibu saja yang pergi ke sana. Aku akan berikan alamat rumahnya,” tolak Andreas sedikit takut.


“Baiklah, cepat berikan alamat rumah dan nomor ponselnya,” tegas Karina memaklumi penolakan Andreas.


Andreas menulis alamat rumah Andy di selembar kertas buku, memberikan nomor Andy juga.


“Terimakasih,” ucap Karina lalu melangkah pergi.


1 jam kemudian.


Sepeda motor matik Karina telah berhenti di gerbang rumah menjulang tinggi ke atas. Karina melihat ke dalam melalui celah gerbang. Namun, pintu gerbang tiba-tiba terbuka.


“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak satpam menghampiri Karina.


“Maaf, kalau saya boleh bertanya, apakah benar ini rumah Andy. Soalnya hari ini Andy terlihat tidak masuk,” sahut Karina sekaligus bertanya.


“Maaf bu guru, nak Andy dari tadi malam tidak pulang, Pak Khandar juga baru saja terbang ke KL. Jadi rumah ini kosong,” sahut Pak satpam dengan wajah cemas.


Menyadari sikap cemas Pak satpam, Karina kembali bertanya.


“Saya dengar kalau tadi malam teman sekolahnya mengantar sampai ke rumah. Tapi, setelah itu tidak ada kabar lagi. Saya sebagai guru BK dari sekolah Andy ingin lebih tahu apa yang terjadi. Kalau bapak tidak keberatan, boleh tidak kasih tahu saya yang tidak diketahui teman yang mengantar Andy tadi malam?” bujuk Karina sopan.


“Sebenarnya… tadi malam ada perdebatan antar Pak Khandar dan nak Andy. Saya kurang jelas kenapa, tapi tadi malam saya melihat nak Andy menaiki sepeda motornya dengan wajah pucat, dan baju, celananya juga terlihat kacau,” sahut Pak satpam menjelaskan.


“Terima kasih, kalau gitu saya permisi pamit dulu,” ucap Karina.


“Saya minta tolong bujuk nak Andy untuk pulang ke rumah, ya bu! Soalnya saya mencemaskannya seperti anak saya sendiri,” pinta Pak satpam setelah Karina naik ke atas sepeda motornya.


Karina tidak menjawab, ia hanya memberikan senyum lalu kembali melajukan sepeda motornya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2