
Karina melajukan sepeda motor matic miliknya pelan-pelan sambil memikirkan dimana Andy berada. Berulang kali ia menepi, berulang kali juga ia menelepon Andy.
“Kemana kamu, Andy?” gumam Karina bertanya sendiri.
Siang itu langit terlihat mendung, kilatan petir terlihat sesekali di langit gelap siang itu. Karina kembali melajukan sepeda motornya menuju sekolah. Namun, entah kenapa Karina teringat dengan satu rumah ruko tempat Andy membawanya kemarin malam. Dengan cepat Karina memutar stang sepeda motornya, melajukan menuju rumah ruko milik Andy.
Terkena hujan, dan macet akibat jam makan siang. 2 jam kemudian sepeda motor matic Karina akhirnya sampai di depan pintu rumah ruko milik Andy.
Karina berdiri dengan sekujur baju di tubuhnya basah. Dingin mulai melanda hingga menusuk ke tulang-tulang, sampai sekujur tubuh menggigil.
Tok tok!
“ANDY!” teriak Karina sembari mengetuk pintu besi rumah ruko.
Karina kembali mengetuk dan memanggil nama Andy. Namun tidak mendapatkan jawaban dari Andy. Ketukan ke 10 barulah pintu terbuka. Andy berdiri dengan wajah pucat, pakaian semalam masih melekat di tubuhnya.
Tanpa pikir panjang, Karina segera masuk.
“Ka-kamu kenapa?” tanya Karina cemas, rasa dingin di sekujur tubuhnya mendadak hilang, kedua tangannya memegang kedua lengan, kemudian wajah Andy terasa sangat panas.
“Sebaiknya ibu pulang saja…Uhuk, uhuk!” usir Andy di sela batuknya.
“Saya tidak akan pulang. Saya harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kamu!” tolak Karina tegas, ia pun membuka sepatu pansus kerjanya.
“Ibu memang keras kepala,” gumam Andy sembari mengunci pintunya. Andy berjalan sambil terbatuk-batuk.
“Apa kamu sudah minum obat?” tanya Karina cemas, kedua kakinya spontan mengikuti langkah Andy.
“Jangan sok peduli padaku. Daripada nanti ibu sakit, lebih baik ibu ikut aku ke kamar. Ibu ganti baju sebelum masuk angin nantinya,” celetuk Andy serak karena batuk.
Tanpa menolak, Karina mengikuti langkah kaki Andy menuju lantai 2.
Terlihat sempoyongan saat berjalan di koridor. Namun, Andy tetap terus bertahan sampai ia bertemu kamar paling ujung.
Andy membuka kunci kamar tersebut, menyuruh Karina untuk masuk ke dalam kamar tersebut. Kini langkah kaki Andy terhenti di depan lemari pakaian kayu jati belanda. Andy membuka lemari 3 pintu tersebut, mengambil baju dress dan set penutup dalam wanita masih baru ke Karina.
“A-Andy, i-ini baju wanita milik siapa?” tanya Karina gugup melihat pakaian wanita sudah ada di kedua telapak tangannya.
“Jangan kuatir. Itu bukan baju pelacu*r yang tinggal di rumahku. Itu adalah baju bekas dari mendiang Mama. Sebelum Papa membuangnya, aku lebih dulu memindahkan barang-barang milik Mama ke rumah Mama,” sahut Andy menjelaskan sembari memegang pelipisnya, pandangannya juga perlahan mengabur, dan akhirnya tubuh Andy ambruk ke lantai.
__ADS_1
“Andy!” teriak Karina cemas.
.
.
Pukul 21:30 malam.
Perlahan kedua kelopak mata Andy terbuka, tangannya meraba handuk hangat di dahinya, menatap handuk tersebut, kemudian menoleh ke arah suara dengkuran halus di sisi kiri tepi ranjangnya.
“Sungguh memuakkan!” gumam Andy melihat Karina tidur di pinggiran ranjang dengan posisi duduk di kursi.
Baru saja kakinya ingin berpijak di atas lantai, dahi Andy kembali mengernyit saat melihat kakinya dipenuhi minyak urut. Meski sudah di urut, kakinya masih terlihat bengkak karena tidak mendapatkan penangan dengan cepat setelah cedera.
“Benar-benar guru yang aneh,” gumam Andy kembali. Ia turun dari ranjang, menyelimuti tubuh Karina, lalu melangkah turun menuju dapur untuk memasak karena perutnya mendadak lapar.
10 menit Andy turun, Karina terbangun.
“Andy, dimana Andy?” gumam Karina terkejut saat terbangun tidak melihat Andy terbaring di hadapannya lagi.
Karina buru-buru menuruni anak tangga, melangkah menuju ke harum aroma masakan berada di dapur.
Andy terdiam, ia hanya bisa membiarkan Karina mengambil alih pekerjaannya.
‘Kenapa Ibu Karina terlihat tulus. Semua perbuatannya tidak seperti sedang di buat-buat,’ batin Andy menatap Karina membalik ayam goring.
“Daripada bengong, lebih baik kamu tolong bantu saya membersihkan meja untuk kita makan nanti,” usul Karina lembut.
Tanpa penolakan, Andy bergerak mengikuti arahan Karina. Ia membersihkan meja makan.
“Saya tahu kamu sedang bersembunyi di sini. Jadi, saya menyuruh dukun urut untuk mengurut kaki kamu yang cedera. Saya juga meminta seorang bidan untuk menyuntikkan obat ke tubuh kamu, agar demamnya turun,” jelas Karina tanpa di tanya.
“Kenapa ibu sangat baik padaku? Padahal aku selalu bersikap kasar pada ibu,” tanya Andy sembari mendudukkan dirinya di kursi makan, karena tidak tahan terlalu lama berdiri efek kaki masih terasa sakit.
“Karena kamu adalah murid saya,” sahut Karina sembari menaruh makanan ke dalam piring dan menyajikannya di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Andy pelan karena malu.
Seumur hidup, baru kali ini Andy mengucapkan terima kasih kepada seseorang. Dan orang pertama mendapatkan ucapan terima kasih dari Andy adalah Karina.
__ADS_1
“Sama-sama,” sahut Karina sembari mendudukkan dirinya. Tangannya mengambil piring, mengisinya dengan nasi, ayam goreng, dan sayuran bening. “Ini buat kamu,” tambah Karina memberikan piring sudah terisi nasi dan lauk-pauk ke Andy.
Perbuatan Karina sontak saja membuat Andy tercengang. Andy terus menatap tanpa berkedip wajah tulus Karina masih mengulurkan piring berisi lauk-pauk untuknya.
“Ayo, cepat ambil. Kamu dari tadi saya perhatikan terus melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?” desak Karina di sela candaan.
Andy menghentikan lamunannya, tangannya mengambil piring di sodorkan Karina padanya. Wajah ia tundukkan saat hendak tetesan air mata ingin keluar di ujung matanya. Buru-buru ia menyeka air mata itu, kemudian kembali menatap makanan di hadapannya.
“Aku seperti mimpi bisa makan dilayani dan di temani oleh seseorang,” gumam Andy sedikit curhat.
Sejenak Karina terkejut mendengar gumaman Andy. Namun ia tak ingin terlalu mendalami gumaman Andy. Ia berusaha untuk tidak ikut campur sampai Andy membuka dirinya sendiri untuk bercerita kepada Karina.
“Sebaiknya kamu makan dulu. Ayo!” ucap Karina menyuruh Andy untuk segera memakan makanannya.
“Ibu juga harus makan, jangan aku saja!” sahut Andy dengan suaranya mulai lembut. Andy juga mengambil piring, mengisi piring tersebut dengan nasi, lauk-pauk.
“Ini buat ibu!” tambah Andy mengulurkan piring berisi nasi dan lauk-pauk untuk Karina.
Segaris senyum tercetak di wajah Karina sambil mengambil piring dari tangan Andy.
“Mari makan!” celetuk Andy ingin memasukkan nasi di dalam sendok ke dalam mulutnya.
Karina langsung menahan tangan Andy, dan sendok tersebut menggantung di antara bibir Andy.
“Baca doa dulu, Andy!” tegur Karina memberitahu.
“Oh, iya! Habisnya aku sudah lama nggak makan makanan seenak ini,” ucap Andy cengengesan.
Andy dan Karina membaca doa makan, setelah itu mereka menyantap makan malam tersebut.
1 jam berlalu, Karina dan Andy selesai makan dan membersihkan meja dapur. Kini Andy dan Karina masih duduk di dapur menikmati secangkir teh hangat dan kopi hangat.
“Karena ibu telah banyak menolongku, gimana kalau bayarannya itu adalah tubuhku. Aku siap melayani ibu memakai jasa tubuhku!”
.
.
Bersambung
__ADS_1