Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
9. Memilih Untuk Pergi


__ADS_3

Gugup karena ketahuan oleh Andy. Karina segera mencari alasan.


“A-Andy, ta-tadi saya—”


Andy tidak menjawab, ia mendekati Karina, mengambil bingkai gambar seorang wanita bersama bayi lelaki dalam gendongan. Andy mengelus foto wanita tersebut sembari berkata.


“Ini adalah mendiang Mama. Foto terakhir sebelum Mama benar-benar pergi meninggalkan aku,” ucap Andy tanpa di tanya.


“Maafkan, saya lancang melihat-lihat isi rumah ruko kamu,” maaf Karina merasa bersalah.


Andy meletakkan bingkai foto itu kembali ke cantolannya. Kemudian ia mengambil bingkai foto berisi gambar dirinya, Andreas, 8 anak anggotanya, dan ada satu wanita terkena potret di belakang mereka.


“Sepertinya aku tidak perlu memberitahu maksud dari foto ini, karena aku yakin Kakak sudah mengetahuinya,” ucap Andy, lalu menggantung bingkai foto itu lagi.


“Andy, apa saya boleh bertanya lebih dalam lagi tentang apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana?” tanya Karina hati-hati.


Andy mengernyitkan dahinya, menatap tajam wajah penasaran Karina. Andy segera menyerong kedua kakinya, berdiri berhadapan dengan Karina.


“Kalau malam aku adalah ketua geng motor. Aku juga seorang pria brengsek yang pernah melakukan hal dewasa layaknya orang dewasa,” ucap Andy memberitahu tentang dirinya.


Karina terkejut bukan main. Benar-benar tidak menduga jika Andy ternyata melakukan hal seperti itu di luar sekolah.


“A-apa Pak Khandar tahu tentang kehidupan malam kamu di luar?” tanya Karina penasaran.


“Hahaha! Kakak ini aneh ya? Buat apa aku beritahu tentang siapa diriku kepada Papa. Aku hanya memberitahu tentang siapa aku hanya kepada ibu. Eh, maksudku Kakak. Dan, bukannya Kakak selalu mendekati aku karena penasaran? Nah, sudah aku beritahu jadi jangan banyak bertanya lagi,” sahut Andy di selah tawanya.


“Andy, tapi kamu ini masih seorang pelajar. Umur kamu juga masih 16 tahun. Apa kamu tidak sayang dengan masa depanmu? Kamu ini adalah seorang pria loh! Kamu juga bakalan menjadi orang tua dan imam bagi istri kamu!” ucap Karina mencoba menasehati.


“DIAM!” bentak Andy. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan tersebut.


Karina terdiam, benar-benar tak menyangka jika dirinya akan di bentak seperti ini oleh anak muridnya sendiri. Oleh seorang pemuda beda 5 tahun dengannya.


“Baiklah, saya tidak akan lagi mengganggu kamu, mencaritahu apa yang kamu lakukan di luar sana. Terima kasih atas informasinya. Besok, saat kita bertemu di lingkungan sekolah saya harap kamu bisa bersikap lebih sopan lagi kepada saya. Satu lagi, jangan panggil saya dengan sebutan “Kakak”, sebab saya sedikit membenci sebutan itu yang keluar dari mulut kotor kamu!” tegas Karina memberitahu.


Padahal dalam hatinya tidak masalah Andy memanggilnya dengan sebutan apa, terpenting sebutan itu sopan dan sesuai dengan umur Karina.


Andy terdiam dengan tatapannya masih berapi-api menatap wajah tenang Karina.

__ADS_1


“Sepertinya percakapan kita berakhir sampai di sini. Berikan kuncinya pintu ruko ini, sebab saya ingin pulang,” tambah Karina mencoba menahan amarah dan tangisnya karena telah di bentak oleh Andy.


Andy mengeluarkan kunci pintu rumah ruko dari dalam sakunya, lalu mencampakkan kunci tersebut ke lantai.


“Ambil sendiri!” ucap Andy kemudian melangkah pergi menuju anak tangga ke lantai 2.


Karina melangkah mendekati kunci tersebut, membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kunci pintu rumah ruko. Tetesan air mata kesedihan sempat terjatuh di samping kunci tergeletak di lantai. Namun, Karina dengan cepat menyeka air mata itu.


Karina mengeluarkan sepeda motornya dari rumah ruko Andy, kemudian melemparkan kunci rumah ruko ke dalam lubang kotak kecil di paling bawah sudut pintu ruko. Karina menghidupkan sepeda motor maticnya, menjalankannya menuju rumahnya dengan perasaan sedih.


Hati Karina benar-benar sedih mendapat perlakuan kasar dari Andy. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Sebenarnya Karina tidak ingin ikut campur mengenai masalah pribadi Andy di luar jam dan lingkungan sekolah. Namun, entah kenapa kehidupan tersembunyi Andy membuat Karina penasaran sehingga ia ingin sekali ikut andil dalam perjalanan hidup Andy.


30 menit berjalan.


Sepeda motor Karina terhenti di halaman luas dengan rumah sederhana berukuran 10x20 meter. Suasana keliling rumah terlihat rindang karena pepohonan hijau di sekitar rumah.


“Assalamualaikum,” ucap salam Karina setelah ia membuka sepatu pansus miliknya, kemudian meletakkannya di atas rak sepatu.


“Wa’alaikumsalam,” sambut seorang wanita berumur 45 tahun, memakai hijab.


“Sudah bu. Ayah mana?” sahut Karina lalu bertanya kemana sosok sang Ayah karena tidak terlihat di ruang tamu.


“Kalau gitu Karina ke kamar dulu ya, bu,” pamit Karina.


“Eh, cuci muka, cuci kaki dulu nak. Baru kamu masuk kamar!” tegur ibu memberitahu.


“Iya, Karina ke kamar mandi dulu ya, bu,” pamit Karina kembali, melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Tidak lama Karina pergi ke kamar mandi, sang Ayah pulang.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam sang Ayah masuk ke dalam rumah, kemudian mendudukkan tubuhnya sembari menyandar di sofa sambil membuka peci.


“Wa’alaikumsalam. Kenapa wajah nya terlihat lusuh begitu Pak?” tanya Ibu membalas salam sang suami sembari ikut duduk di sebelahnya.


“Bapak hanya lelah karena malam ini adalah malam Jum’at, dan ibu sedang datang bulan,” sahut sang suami kuat, tidak menyadari jika sang anak, Karina sudah pulang.


“Hus! Bapak ini, Karina sudah pulang loh, Pak. Kalau membahas malam pertempuran bisik-bisik aja, atau kita lanjut setelah Karina tidur,” tegur ibu.

__ADS_1


Sang suami, Junaidi melirik ke koridor menuju kamar Karina, kemudian melirik Tina.


“Ih, ibu kok nggak bilang kalau Karina sudah pulang. Kalau gitu bapak, kan jadi malu,” ucap Junaidi sedikit berbisik.


Tina tidak membalas ucapan sang suami. Ia hanya tertawa sambil menutup bibirnya.


.


.


Di persimpangan stasiun kereta Api di kota Medan dan menuju lapangan Merdeka.


Andy, Andreas, dan 8 anggotanya duduk di masing-masing sepeda motor mereka parkiran di pinggiran jalan itu. Saat semua anggotanya sedang asik bercanda. Andy malah bengong, kepalan tangannya terus memukul-mukul tangki minyak miliknya.


Menyadari sikap aneh Andy, Andreas mendekatinya, berdiri di samping KLX Andy.


“Deer! Kenapa sih, ketua? Dari tadi aku lihat ketua ini melamun saja,” tanya Andreas setelah memukul bahu Andy.


“Macam anak kecil kau. Main kejut-kejut aku segala. Aku lagi suntuk ini,” protes Andy sambil menjawab.


“Suntuk kenapa ini. Coba kasih tahu sama pakarnya,” ucap Andreas menyakinkan.


“Tadi aku bertemu dengan dugong di jalan…”


“Tunggu, bertemu apa ketua yang sengaja menemuinya?” gurau Andreas namun terkena pukulan ringan di puncak kepalanya.


“Aku belum selesai bicara goblok!”


“Iya deh! Terus kenapa dengan ibu guru BK kita yang cantik itu?” tanya Andreas nyengir sembari mengelus puncak kepalanya.


“Hem, tidak jadi. Lupakan saja. Kegiatan kita sekarang apa?” Andy tidak jadi menjelaskan, ia mengalihkan topik ke pembahasan lain.


“Ada salah satu ketua geng motor yang telah menantang kita. Ku rasa ketua tahu siapa ketua geng motor itu,” sahut Andreas memberitahu.


“Apakah dia adalah Lin?”


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2