Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
73. Menangis Memeluk Guling


__ADS_3

Menangis sambil peluk guling, dan menyembunyikan wajah penuh air mata itu memang sungguh nyaman. Seperti dilakukan oleh Karina malam ini.


‘Disaat selangkah lagi mendekati hal yang kita inginkan akan terwujud. Kenapa harus ada cobaan seperti ini. Ya, Allah, padahal aku sudah merasa nyaman padanya. Mendapat masalah seperti ini rasanya sungguh sakit,’ batin Karina, bulir air mata terus mengalir, membasahi seprai.


...****************...


Di luar kamar Karina


Tina menemani Junaidi menonton siaran bola, sesekali lirikan matanya mengarah ke pintu kamar Karina, lalu melirik wajah serius sang suami.


“Pak,” panggil Tina menggantung.


“Iya, ada apa bu?” tanya Junaidi sorot mata mengarah pada layar tv.


“Apa tidak sebaiknya bapak jangan terlalu kerasa pada nak Tama dan juga Karina. Lihat, dari tadi Karina mengurung diri di dalam kamarnya. Kasihan loh, Pak,” bujuk Tina lemah lembut.


Junaidi mengalihkan sejenak pandangannya dari siaran bola di tv, menatap wajah cemas Tina.


“Bu, bapak melakukan itu kepada Andy dan Karina karena bapak harus melihat seberapa seriusnya bocah nakal itu kepada putri kita. Bukannya bapak tidak mau memudahkan jalan mereka untuk segera menikah. Tapi, bapak harus mengetahui dulu, seberapa besar keinginan anak nakal itu menginginkan Karina menjadi istrinya. Apalagi banyak sekarang orang yang cuman numpang mengambil status. Dan bapak tidak mau hal itu terjadi pada putri kita,” jelas Junaidi tegas. Sorot matanya kembali ke siaran tv.


Tina hanya diam, sorot matanya kembali melirik ke kamar Karina tak terbuka dari selesai makan malam.


...****************...


Keesokan paginya


Karina telah selesai mandi, dan memakai baju dinas. Dirinya kini berdiri di depan meja rias, kedua mata sembab memandang ke ponsel miliknya tak lagi berdering mulai kemarin sore setelah keputusan Andy.


Rasa sedih kembali menghantui pikiran dan hatinya sehingga bulir air mata kembali jatuh di kedua pipinya.


“Rasa sakit ini lebih sakit daripada putus cinta,” gumam Karina dengan suara bindeng, tangan meremas baju seragam bagian kiri.


Tok tok


Suara ketukan pintu kamar menyudahi kesedihan dan tangisan Karina. Kedua tangannya buru-buru menyeka kasar bulir air mata menetes di kedua pipinya. Berulang kali ia menarik nafas untuk menenangkan hati dan pikirannya. Di ambilnya bedak, dan beberapa riasan wajah untuk menutupi kedua kelopak mata sembab dan hidung merahnya.


Selesai berdandan, Karina keluar.


“Kamu sudah siap?” tanya Tina setelah Karina keluar dari kamar.


Menyadari jika suaranya serak akibat terus menangis, Karina hanya mengangguk.


“Ayah kamu sudah pergi kerja. Ibu belum sarapan pagi, jadi sebelum kamu berangkat temani ibu sarapan, ya?”

__ADS_1


Karina tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil tersenyum.


Karina dan Tina menuju meja makan, sesampainya di sana Tina menyuguhkan makanan untuk putri kesayangannya.


“Ibu tadi masak nasi goreng special kesukaan kamu,” cetus Tina sambil meletakkan piring berisi nasi goreng wortel di hadapan Karina.


“Terima kasih, bu,” sahut Karina mengambil sendok, dan melahap nasi goreng dihadapannya setelah membaca doa makan.


Sambil makan, Tina terus memperhatikan raut wajah putrinya terlihat berbeda. Wajah yang biasanya segar dan selalu tersenyum kini berubah menjadi sembab dan sedikit membengkak. Berulang kali Tina mencuri-curi pandang menatap wajah sedih di balik polesan mack up putrinya itu.


‘Semoga saja hubungan Karina dan nak Tama baik-baik saja,’ batin Tina mendoakan hubungan putrinya berjalan dengan baik.


Penasaran jam segini kenapa Andy belum juga muncul menjemput Karina. Tina mencoba menatap jarum jam di dinding, lalu menatap wajah Karina.


“Tumben nak Tama belum datang,” cetus Tina.


Karina terdiam, hatinya kembali sedih namun harus di tahan dihadapan sang ibu.


“Untuk sementara ini Andy tidak mengantar jemput Karina, bu,” sahut Karina.


“Loh, kenapa tidak menjemput kamu. Apa nak Tama tersinggung dengan ucapan Ayah mu kemarin?” tanya Tina asal ceplos.


“Tidak. Saat ini Andy ada rapat di kantornya, jadi tidak bisa mengantar Karina,” sahut Karina berbohong.


“Tidak ibu,” Karina beranjak dari duduknya, tangannya mengambil tas samping dan kunci mobil. “Ibu, Karina pergi dulu,” lanjut Karina sembari mengambil tangan kanan Tina dan mencium punggung tangan kanannya.


“Hati-hati ya, nak,” ucap Tina dengan wajah sedih.


Karina hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan Tina.


Sesampainya di dalam mobil, Karina kembali menangis. Namun, dia segera menyeka bulir air mata di kedua pipinya agar tidak merusak riasan mack up tebal susah payah ia pakai. Merasa sudah cukup tenang, Karina melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah, menuju gedung tempat ia bekerja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di sisi lain


Karena semalam suntuk memikirkan masalah pertunangan, Andy baru saja pulang dengan wajah kusut dan baju berantakan.


“Pagi, Pa,” sapa Andy setelah ia melewati ruang tamu melihat Khandar duduk di sofa.


“Darimana saja kamu?” tanya Khandar ketus.


Andy menghentikan langkahnya, melirik sedikit ke Khandar.

__ADS_1


“Baru pulang dari apartemen,” sahut Andy kemudian lanjut melangkah menuju kamarnya.


“Apa kamu memiliki masalah?” tanya Khandar cemas.


“Masalah? Tidak ada, aku hanya ingin menghabiskan waktu sendiri, dan aku juga merindukan apartemen milikku,” sahut Andy berbohong.


“Jangan bohong kamu, Andy. Katakan kepada Papa masalah apa yang sedang kamu sembunyikan dari Papa!” desak Khandar.


“Tidak,” kaki kanannya mulai melangkah, bibirnya berkata, “Aku mau ke atas. Mau mandi dan bersiap pergi ke kantor.”


“Andy!” panggil Khandar. Namun, Andy tidak menghiraukan panggilan Khandar.


Sesampainya di kamar. Andy merogoh ponsel miliknya, mengeluarkan dari dalam saku. Saat hendak meletakkannya, sejenak Andy menatap wallpaper di ponselnya. Wallpaper seorang wanita cantik tak lain adalah Karina.


“Apakah kamu sudah berangkat? Apakah kamu sudah makan? Aku rasa kamu sudah melakukan semuanya dengan benar pagi ini. Maafkan aku, untuk saat ini aku belum bisa hadir di hadapanmu dulu. Aku janji secepatnya akan hadir membawa Papa bersamaku untuk datang melamar mu,” gumam Andy.


Selesai bergumam Andy meletakkan ponsel miliknya di atas meja, ia pun segera mandi.


Selesai mandi dan berpakaian, Andy pergi ke perusahaan dengan tenang seolah tak memikirkan apa pun.


Mobil sudah terpakir rapih di parkiran mobil, kedua kakinya pun melangkah cepat memasuki gedung, tak lupa seperti biasa kalimat sambutan “selamat pagi bos” menemani setiap langkah kakinya dan terhenti sampai dirinya masuk ke dalam lift.


Pintu lift terbuka, Andy kembali melangkah menuju ruangannya di lantai 3.


Baru saja duduk di kursi kerjanya, pintu ruangan Andy di ketuk seseorang dari luar. Andy menyuruh orang tersebut masuk.


“Pagi bos,” sapa Fitri sopan saat berada di lingkungan kantor.


“Pagi, masuk saja Fitri,” sahut Andy sambil menghidupkan monitor komputernya.


Fitri berjalan masuk dan berhenti di samping meja kerja Andy.


“Ada apa?” tanya Andy menatap Fitri.


“Maaf jika saya lancang dan seperti ingin ikut campur masalah bos dengan bu Karina. Tapi, di sini saya ingin mengetahui kenapa bos mengatakan hal seperti itu kepada bu Karina sehingga semalam bu Karina menelepon saya sambil terus menangis,” ucap Fitri hati-hati.


Andy terdiam, tangan kanan bersembunyi di samping monitor mengepal erat, hatinya tiba-tiba menjadi sedih. Namun, segaris senyum ia tampilkan untuk Fitri.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2