
Perlahan tapi pasti, hanya dalam waktu 1 jam, Andy telah berhasil menguasai semua jenis pekerjaan diberikan oleh Haniffah. Lelah duduk terus di kursi besar miliknya, Andy memutuskan untuk meninggalkan kursi tersebut dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang sambil bermain games di ponsel miliknya.
Sedang asik bermain games, ponselnya tiba-tiba berdering, membuat Andy terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya.
“Huuuh! Hampir saja,” gumam Andy sambil mengelus dadanya berdebar sangat kuat.
Andy duduk, melihat siapa berani menelepon dirinya di saat sedang bersantai. Karena tak memiliki nama dan berpikir jika penelepon itu adalah ulah Andreas, dengan wajah kesal Andy menekan tombol warna hijau.
📲 [“ADA APA? BISA TIDAK KAU MEMBIARKAN AKU SEDIKIT SAJA LEBIH TENANG UNTUK SAAT INI!”] teriak Andy setelah mengangkat panggilan teleponnya.
📲 [“Assalamu’alaikum. Ini saya, Karina. Apakah saya…menganggu kamu?”]
Mendengar suara wanita begitu lembut benar-benar Karina, raut wajah kesal Andy berubah menjadi malu dan bingung.
📲 [“Maaf, maafkan aku. A-aku pikir tadi Andreas. Maafkan aku, Karina!”] maaf Andy berulang kali karena takut jika Karina tidak akan menghubunginya lagi setelah mendapat bentakan darinya.
📲 [“Hahaha!”] bukannya marah, Karina malah tertawa terbahak-bahak.
📲 [“Kenapa ketawa?”] tanya Andy bingung. Namun, segaris senyum terlintas di pipinya.
📲 [“Kamu lucu.”] sahut Karina dengan sisa tawanya.
📲 [“Kenapa ibu mengganti nomor telepon?”] tanya Andy penasaran, tawa Karina pun terhenti.
📲 [“Oh ia. Saya lupa mengatakannya kepada kamu. Ponsel saya kemarin itu rusak, dan lagi masa perbaikan. Saya menelepon kamu, meminjam ponsel milik konter.”] sahut Karina memberitahu.
📲 [“Jadi, bagaimana cara ku menghubungi nanti?”] tanya Andy, wajahnya mulai berubah menjadi sendu.
📲 [“Saya yang akan menghubungi kamu.”]
📲 [“Baiklah!”] gumam Andy lirih.
📲 [“Andy, saya tutup panggilan teleponnya, ya. Selamat pagi, buat kamu di sana....semangat! Assalamualaikum.”] ucap Karina memberikan salam penutup, lalu mematikan panggilan teleponnya.
“Wa’alaikumsalam,” gumam Andy lesu.
Tidak bisa berbuat apa pun lagi, Andy hanya bisa merebahkan kembali tubuhnya. Tangannya memijat pelipisnya terasa tegang karena memikirkan keadaan Karina tak memiliki ponsel di sana.
Di tengah-tengah pikiran kusut Andy, pintu ruangannya di ketuk. Andy menoleh ke pintu dan menyuruh orang tersebut masuk.
“Bos, supir yang telah di kirimkan oleh Pak Khandar sudah menunggu di bawah,” ucap Haniffah setelah ia masuk dan berdiri di samping sofa tempat Andy merebahkan tubuhnya.
Andy berbalik badan, membelakangi Haniffah dan berkata. “Bilang padanya aku masih ingin di sini. Jemput aku 30 menit atau paling lama 1 jam dari sekarang.”
“Baik, bos!” sahut Haniffah, lalu ia melangkah pergi.
Setelah kepergian Haniffah, Andy kembali menyibukkan dirinya dengan bermain games di ponselnya.
__ADS_1
“Apaan sih, Papa. Emang dia pikir aku ini masih bocah apa. Main ngatur-ngatur hidupku segala,” gumam Andy kesal.
Waktu terus berjalan, jarum jam panjang terus berputar dan terhenti di pukul 17:30. Andy yang ketiduran terpaksa keluar dari mimpi panjangnya, karena Haniffah terus memanggil namanya.
“Bos, bos Andy. Bos, ini sudah sore,” panggil Haniffah berdiri di samping Andy.
“Ha!” Andy tersentak, spontan terduduk.
Antara masih mengantuk dan masih berada di alam mimpi, kedua mata Andy memandang ke sekeliling ruangannya.
“Dimana aku ini?” tanya Andy separuh sadar dari mimpinya.
“Bos masih di kantor,” sahut Haniffah memberitahu.
Karena masih mengantuk, Andy memijat pelipisnya dan meraup wajahnya sampai ke rambut bagian belakang.
Merasa nyawa telah terkumpul, Andy berdiri, dan melangkah keluar dari ruangannya tanpa mengucapkan terima kasih atau berbasa-basi kepada Haniffah.
Karena terlanjur menyukai Andy. Haniffah tidak merasa kesal ataupun mengeluh karena sikap dingin Andy kepadanya. Haniffah hanya tersenyum dan melangkah meninggalkan ruang kerja Andy.
Sesampainya di bawah, dahi Andy mengernyit, sorot matanya juga terlihat tak suka memandang sebuah mobil terlihat seperti baru dengan seorang supir muda membuka pintu mobil penumpang bagian belakang.
Tanpa memberikan protes kepada supir muda itu. Andy masuk, duduk dan memasang seatbelt miliknya.
Supir muda bergegas masuk, dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman Perusahaan milik Andy.
“Pa, PAPA!” teriak Andy sambil masuk ke dalam rumah.
Langkahnya terhenti di ruang tamu, melihat Khandar duduk santai membaca Koran di temani secangkir kopi hangat.
“Apa Papa membeli mobil baru untukku?” tanya Andy dengan kening mengerut.
Khandar melipat koran, meletakkannya di atas meja, dan melihat Andy.
“Iya. Mobil baru itu untuk memudahkan kamu beraktifitas. Baik hujan badai, ataupun hujan petir,” sahut Khandar datar.
Andy mengambil ponsel lainnya dari saku celananya, sembari berkata. “Katakan berapa nilai nominal mobil baru itu?” tanya Andy setelah membuka m-banking miliknya.
“Hahaha!” Khandar tertawa lepas.
“Aku serius, Pa. Aku bukanlah anak manja, aku ingin mengembalikan uang Papa agar aku tidak merasa terbebani,” ucap Andy serius.
“Baiklah. Kalau kamu ingin mengembalikan uang Papa. Maka kamu harus membuktikan jika kamu mampu memegang Perusahaan dengan nilai pendapatan dan keuntungan di atas 10 Miliyar selama 2 tahun,” sahut Khandar memberitahu syarat untuk mengembalikan uang miliknya.
“Baik. Aku akan terima permintaan Papa!”
“Papa akan menunggu keberhasilan kamu!” angguk Khandar penuh keyakinan.
__ADS_1
“Aku ke atas, Pa,” pamit Andy.
“Pergilah!”
Andy melangkah menuju kamar miliknya berada di lantai 2.
Lelah, suntuk, dan merasa jenuh selama satu harian. Andy memutuskan untuk merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam bathub.
.
.
Waktu begitu cepat berlalu. Pukul 20:30 malam.
Bosan dan tak tahu kemana tujuannya ingin pergi. Andy memutuskan untuk mengunjungi rumah Karina, walau ia tahu Karina tidak ada di sana. Tak lupa membawa oleh-oleh satu kotak Martabak Terang Bulan untuk kedua orang tua Karina.
Tok tok tok!
“Assalamualaikum, bu!” ucap salam Andy setelah mengetuk daun pintu rumah Karina.
“Wa’alaikumsallam,” sahut Tina, keluar dari ruang tv menuju ruang tamu. “Eh, ada nak Tama!” celetuk Tina setelah melihat siapa tamunya malam itu.
Andy mengambil tangan kanan Tina dan mencium punggung tangan dengan sopan.
“Apa kabar, bu?” tanya Andy berbasa-basi.
“Alhamdulillah baik,” sahut Tina, sorot matanya mengarah pada kotak Martabak Terang Bulan. “Wah, Martabak yang kamu beli itu adalah Martabak kesukaan ibu.” Lanjut Tina tanpa rasa malu.
Andy mengulurkan kotak Martabak Terang Bulan. “Syukurlah jika ibu menyukainya. Kebetulan Martabak ini aku beli untuk ibu,” ucap Andy memberitahu.
“Ibu ambil, ya?” tanya Tina setelah kotak Martabak berada di tangannya. Tangan lainnya mengulur ke kursi. “Masuk, mari masuk dulu,” ajak Tina dengan senang hati.
“Tidak usah, aku ke sini hanya ingin melihat ibu saja. Apakah ibu baik-baik saja setelah Kak Karina pergi,” tolak Andy dengan terang-terangan mengubah panggilan depan tadinya ‘Bu’ menjadi ‘Kakak’.
“Baik, ibu sangat baik di sini kok!” ucap Tina berbohong. Padahal sebenarnya ia sangat sedih harus melepaskan kepergian anak perawannya ke Luar Negeri. Tanpa sanak saudara mengenalnya di negeri orang.
“Karena sudah malam, dan sepertinya mau hujan. Aku permisi pulang,” pamit Andy. Ia mengambil punggung tangan Tina dan menciumnya. “Assalamu'alaikum,” tambah Andy mengucapkan salam sebelum pergi meninggalkan rumah Tina.
“Wa’alaikumsallam,” sahut Tina menatap Andy memutar sepeda motor miliknya.
“Mudah-mudahan nak Andy adalah jodoh Karina,” lanjut Tina bergumam sendiri.
.
.
Hanya Tina, Andreas, dan Karina lah yang bebas mengucap nama Andy dengan "Tama". Hanya kepada keluarga Karina, Andy bisa bersikap sopan dan lembut.
__ADS_1
Jangan lama-lama ya, Karina. Aku sedang menunggumu. 🫢🫣