
Andy dan Haniffah telah kembali dari kunjungan mendadak mereka. Sambil melangkah masuk ke dalam Perusahaan, Andy memberi perintah kepada Haniffah.
“Jangan lupa kau kirimkan semua hasil dari kunjungan kita tadi,” ucap Andy memberi perintah.
“Siap Bos!” sahut Haniffah cepat.
Langkah kaki Haniffah dan Andy terhenti di depan pintu lift. Pintu lift terbuka, Andy melangkah masuk duluan diikuti Haniffah hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Namun, Andy langsung menahan keningnya dengan ujung jari telunjuknya.
“Mau ngapain kau?” tanya Andy sembari mendorong tubuh Haniffah keluar dari lift.
“Masuk, Bos,” sahut Haniffah.
“Jangan, jangan. Lebih baik kau keluar dari dalam lift ini!” cetus Andy sembari mengusir Haniffah, lalu ia menekan tombol angka 3.
Haniffah pasrah, menatap kedua pintu lift tertutup dan menuju ke lantai 3.
“Awas saja. Jangan bilang kalau namaku Haniffah, jika tidak bocah sepertimu tidak bisa ku buat bertekuk lutut nantinya di hadapanku!” gumam Haniffah. Namun, seorang pria menjawabnya.
“Aku akan memberikan kau uang sebesar 100 juta jika kau bisa menyingkirkan seorang wanita bernama Karina dari hati dan pikiran Andy,” cetus pria itu, tak lain adalah Andreas.
“Kamu siapa?” tanya Haniffah belum mengenal Andreas.
Andreas mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, nama aku Bejo. Aku ke sini karena ingin mengantarkan sebuah pesanan kepada Bos Andy,” ucap Andreas mengerjai Haniffah.
Pintu lift sudah terbuka kembali.
Haniffah menolak perkenalan Andreas dengan cara masuk ke dalam lift.
Bukan Andreas namanya kalau keusilan dan kejahilannya tidak membuat orang ingin percaya padanya.
Andreas ikut masuk dan menekan tombol angka 3.
“Kenapa kamu mengikuti saya?” tanya Haniffah sok imut dan jaim.
“Aku penasaran siapa sih, gadis cantik yang bersamaku di dalam lift ini?” tanya Andreas memulai serangannya, dan Haniffah mulai tergoda.
“Haniffah. Saya bekerja menjadi sekretaris bos kejam yang bernama Andy,” sahut Haniffah mulai tergoda dan ingin menjatuhkan nama Andy.
Andreas mendekati Haniffah, memegang dagu Haniffah sehingga mereka saling menatap.
“Wah! gadis cantik, seksi dan bohay seperti kamu diperlakukan kejam sama Bos?” Andreas menggeleng sambil berdecak. “Ck, ck, ck!” Andreas mendekatkan bibirnya ke daun telinga Haniffah. “Gimana kalau kerja samaku aja. Kerjanya enak kok. Tinggal berbaring di ranjang, menerima kenikmatan dan lembutnya belaian dari lidahku yang akan menyongsong masuk ke dalam gua len—”
Ting!
Pintu lift terbuka.
__ADS_1
Menyadari ada sosok pria telah berdiri menatapnya tajam dari luar pintu lift. Andreas menoleh perlahan. Tubuhnya langsung berdiri tegak, kedua kakinya juga langsung keluar dari dalam lift menghampiri sosok tersebut, tak lain adalah Andy.
“SAYANGKU! Bagaimana dengan keadaan pinggangmu? Apakah alat tempur milikku terlalu mengacak-acak ususmu?” tanya Andreas membuat Haniffah spontan melebarkan mulutnya.
“Bagus cakap kau!” omel Andy sembari memukul puncak kepala Andreas. Lalu, kedua kakinya melangkah menuju ruangannya.
Melihat wajah syok Haniffah keluar dari lift. Andreas kembali berkata dengan lantang sehingga langkah kaki Haniffah tadinya hendak masuk ke dalam ruangannya terhenti.
“Kau ini memang kekasih yang sempurna untukku. Gimana, kalau detik ini kita bermain sejenak di dalam ruangan mu. Kebetulan saat ini aku membawakan sebuah paket berisi alat pengaman,” celetuk Andreas dengan lantang sambil menarik tubuh Andy masuk ke dalam ruangan kerja milik Andy.
“Kemarin tante-tante, ini batang muda. Sebenarnya, siapa bos Andy? Dan jenis kelamin manusia mana yang ia sukai?” gumam Haniffah bertanya-tanya sendiri.
Tak kuat melihat dan mendengar semua hal aneh tentang Andy. Dengan tangan gemetar Haniffah membuka pintu ruangannya, dan masuk ke dalam.
.
.
Di ruang kerja Andy.
“HAHAHAHA!” tawa Andreas terpingkal-pingkal.
“Gila,” cetus Andy.
“Lucu, kalau kau lihat tadi wajahnya. Pasti cacing dalam perutmu akan ikutan tertawa,” ucap Andreas masih dengan sisa tawanya sembari memukul meja tamu.
Andreas segera menghabiskan semua sisa tawanya, dan kembali ke tujuan awal ia datang ke sini.
“Aku ke sini karena penasaran dengan cerita Mama,” ucap Andreas mengingat cerita Mimi saat membantu Andy untuk mengerjai Haniffah sewaktu di restoran.
“Dasar,” dengus Andy.
“Ternyata orangnya memang seperti itu, ya? Aku sangat yakin jika sekretaris kau itu adalah wanita yang paling buruk,” ucap Andreas tanpa di saring.
“Lalu, sekretaris kau sudah baik gitu?”
“Tidak juga. Sekretaris ku malah lebih terang-terangan merayuku,” sahut Andreas sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
“Bukannya itu yang kau mau. Kalau aku jujur saja. Aku nggak tertarik dengan tipu muslihat wanita seperti mereka. Entah mengapa. Bagiku wanita-wanita penggoda seperti itu baunya seperti bunga bangkai,” ucap Andy berwajah datar.
“Alah, baco*t. Bukannya dulu waktu SMA kau sangat menikmati momen itu?” tanya Andreas mengingatkan Andy.
“Nggak. Kemarin itu aku hanya tersesat,” sahut Andy santai.
“Banyak gaya kau. Mentang-mentang sudah bertemu dengan bu Karina,” ejek Andreas. Namun, tubuhnya mendekat sehingga wajah mereka saling bertemu. Saat nanar kedua mata saling bertemu, Andreas kembali berkata, “Jangan bilang kalau kau sudah, makjleb-makjleb sama bu Karina.”
__ADS_1
“Nggak ngotak kalau ngomong,” celetuk Andy, tangannya pun mendorong kuat tubuh Andreas sampai terduduk di sofa.
“Justru adanya otakku, makanya ku tanya. Jadi, kalau nggak gitu. Pacaran kalian ngapain aja?”
“Kau sudah merasakan bibir wanita baik-baik yang belum ternodai?” tanya Andy membuat Andreas berpikir.
“Belum,” sahut Andreas menggeleng.
“Lah, katanya mau menikah dengan Kak Fitri. Masa icip-icip dikit aja nggak bisa,” Andy memukul pelan bidang dadanya. “Kayak aku dong. Baru 5 menit jadian. Sudah merasakan rasa strawberry itu manis dari bibir Karina,” tambah Andy membalas ejekan Andreas.
“Serius? Sudah kau rasain bibir bu Karina?” tanya Andreas tak percaya.
Andy mengangguk dengan bangganya.
“Hal lain. Apa kau tidak tertarik mencoba hal lain dengan bu Karina?” tanya Andreas.
“Belum lah. Gila aja kau. Aset berharga yang setumpuk yang dipenuhi jerami beraroma beracun itu,” sahut Andy.
“Lah, kalau nggak kayak gitu duluan. Entar kau nggak tahu gimana hasil adonan perpaduan antara wajah kau dan wajah bu Karina,” cetus Andy malah memberi saran.
“Aku rasa anakku nanti ganteng dan cantik,” gumam Andy mulai terpancing.
“Nah, itu hanya perasaan kau aja. Gimana kalau kau mencobanya,” usul Andreas mulai aneh.
“Kau ajalah. Bukannya kau mau menikah,” ucap Andy mengingatkan ucapan Andreas waktu itu.
Andreas tidak menjawab. Ia hanya bisa melebarkan bibirnya, menunjukkan gigi putih tersusun rapih.
“Wah! Kayaknya aku di bohongi,” ucap Andy baru menyadari.
“Itu hanya khayalanku saja. Sebenarnya waktu itu aku tak sengaja bertemu dengan kak Fitri di sana. Aku melihat Kak Fitri seperti tersudut saat melihat pacarnya ketahuan selingkuh. Jadi, mau tidak mau aku menolongnya,” jelas Andreas langsung di sambung Andy.
“Menolong dalam hal apa?”
“Aku berpura-pura menjadi calon suami Kak Fitri. Agar sih, pria brengse*k yang tahunya hanya menduakan wanita bisa tahu diri, jika wanita cantik, penuh lemah lembut dan sholeh seperti Kak Fitri tidak cocok bersanding dengan lelaki seperti dia,” tambah Andreas menjelaskan.
“Oh! Kamu benar juga. Makanya, setelah aku bertemu dengan Karina, aku merasa semua wanita yang mendekatiku itu hanya seonggok sampah. Karena bagiku, wanita yang mahal tidak akan pernah merayu dan menjual tubuhnya hanya untuk mendapatkan lelaki yang hebat. Seperti aku ini,” ucap Andy penuh percaya diri.
Tanpa Andy dan Andreas sadari, ada sepasang mata di balik pintu sedang melihat dan menguping pembicaraan mereka.
.
.
.
__ADS_1
bersambung