Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
50. Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

1 Bulan telah berlalu.


1 bulan telah berlalu. Dari kejadian pertemuan tanpa di sengaja dengan Karina di Bandara. Sekian lama akhirnya Andy kembali bertemu dengan Karina di salah satu tempat nongkrong di jalan Halat.


Pertemuan pertama untuk 2 tahun 1 bulan lamanya, benar-benar membuat mereka berdua saling canggung.


Meski saat ini cintanya belum terbalaskan, dan berpikir jika lelaki di Bandara tersebut adalah calon suami Karina, Andy tetap bertahan di tempat itu.


Masih dalam posisi berdiri, dan wajah tercengang di depan meja Karina. Begitu juga Karina, dalam posisi sedang memasukkan pipit ke dalam mulut, sorot mata seakan tak percaya masih memandangi wajah bingung Andy.


“A-Andy!” ucap Karina gugup.


“Hai,” Andy melambaikan tangannya ragu-ragu, dan Karina membalas lambaian tangan Andy.


“Apakah aku boleh duduk di sini?” lanjut Andy bertanya. Tangannya mengarah ke kursi kosong sebelah kiri.


“Bo-boleh, du-duduk aja,” sahut Karina mempersilahkan Andy duduk.


Andy duduk tepat di samping Karina, sesekali mereka saling lirik. Merasa tidak nyaman terus bersikap kaku seperti ini. Karina mencoba mencairkan suasana.


“Kamu sudah memesan minuman?” tanya Karina.


“Sudah, itu TST milikku menuju ke sini,” sahut Andy menunjuk pelayan berjalan ke meja mereka.


Setelah pelayan itu meletakkan minuman dan makanan milik Andy di atas meja. Karina kembali melanjutkan ucapannya.


“Andy,” panggil Karina lagi.


Andy segera menoleh sembari memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya.


“Bagaimana keadaan kamu sekarang? Saya dengar kamu telah memiliki bisnis sendiri,” tanya Karina tersenyum manis.


Andy tidak menjawab, ia hanya tersenyum paksa sembari mengumpat dalam hatinya.


‘Dia tanya bagaimana kabarku. Dasar wanita tak memiliki hati. Bisa-bisanya dia berbasa-basi dengan wajah setenang itu. Awas saja kamu. Setelah kita pulang, aku akan memberikanmu sebuah pelajaran karena telah membuat aku menunggu selama ini,’ batin Andy.


“Dari senyummu, sepertinya semua berjalan lancar sesuai dengan keinginan kamu,” ucap Karina menyimpulkan ketika melihat senyuman dari Andy.


“Ya, begitulah. Ngomong-ngomong, gimana tentang kamu. Aku sempat mendengar kalau kamu pulang ke tanah air bersama calon suami,” Andy mengulurkan tangannya. “Wah, selamat ya!” tambah Andy terpaksa.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Karina malah tertawa seperti biasanya.


“Apaan sih. Gosip darimana itu. Kalau pria yang pulang bersamaku itu hanya teman. Dia seorang wartawan ekslusif. Kebetulan saat saya pulang, Han ingin ke tanah air karena mendapatkan tugas khusus. Jadi saya menawarkan diri untuk menumpang di rumah saya,” tepis Karina dengan sisa tawanya.


Andy hanya tersenyum paksa, tangan kanan diletakkan di samping paha mengepal erat.


‘Kawan katanya. Dari kawan bisa menjadi suami. Dan…berani sekali pria bernama Han itu menumpang di rumah Karina. Aku, aku saja yang sudah menunggu cukup lama tidak pernah mendapatkan apa pun. Tidak bisa. Ini tidak bisa di biarkan lagi. Karina harus menjadi milikku!’ batin Andy menggeram dalam sebuah rencananya.


“Syukurlah, berarti aku masih memiliki kesempatan untuk memiliki kamu,” gumam Andy di luar batin.


“Saya belum memikirkan hal seperti itu sampai sekarang. Karena saya masih ingin fokus melamar pekerjaan di salah satu gedung psikolog khusus anak-anak,” sahut Karina membuat Andy bertambah geram.


‘Beribu alasan yang saat ini kamu lontarkan. Maka niatku hanya satu, bagaimana caranya aku bisa memiliki kamu seutuhnya, agar tidak bisa berpaling ke pria lain,’ batin Andy penuh siasat buruk.


“Aku akan terus menunggumu!” cetus Andy sembari melahap makanan miliknya.


Karina terkejut. Sudah 2 tahun 1 bulan ia sengaja tak bertemu dan menghubungi Andy. Tapi kenapa Andy masih kekeh dengan keinginannya. Hal itu membuat Karina benar-benar hilang fokus dan harus segera meninggalkan tempat itu.


“Karena sudah malam, saya pamit pulang duluan, ya!” pamit Karina beranjak dari duduknya. Namun, Andy segera menahan tangan Karina. Membuat Karina spontan menatap genggaman erat tangan Andy.


“Aku yang akan mengantarkan kamu pulang ke rumah,” ucap Andy, lalu menenggak habis minuman TST miliknya.


“Percayalah, aku tidak akan berbuat mesum kepada kamu,” bisik Andy.


Karina terdiam, kedua kakinya mengikuti langkah kaki Andy menuju mobil. Andy membuka pintu mobil penumpang depan untuk Karina. Setelah masuk ke dalam mobil, Karina terus memandang sepeda motor matic miliknya.


“Bagaimana dengan sepeda motor saya?” tanya Karina sesudah masuk ke dalam mobil.


“Tenang saja, seperti biasa. Aku sudah menyuruh seseorang untuk menjemput sepeda motor kamu,” sahut Andy tenang, sembari memutar arah laju mobilnya.


Sejenak dalam perjalan penuh kebimbangan, Andy terus berfikir dan berfikir hingga seluruh kepalanya berdenyut hebat. Sebuah pertanyaan dan keinginan aneh terus saja menggeliat di otak dan dadanya.


‘Bawa ke apartemen, lalu aku sikat habis tanpa ampun. Atau aku tetap berpura-pura santai dan tenang sambil mengantarkan pulang Karina. Gimana ini, kenapa aku jadi bimbang dengan olah pikir mesum dan sholeha milikku,’ batin Andy, tanpa sadar ia memukul-mukul kepalanya.


Merasa pukulan Andy terlalu kuat, Karina segera menahan tangan Andy.


“Kamu kenapa?” tanya Karina cemas.


Dengan wajah suntuk Andy menolehkan wajahnya, memandang wajah cemas Karina.

__ADS_1


“Ini semua gara-gara kamu. Kenapa kamu terus menyiksa aku seperti ini. Apakah salah mantan anak berandalan menyukai mantan guru BK seperti kamu?” cetus Andy meluapkan semua isi hatinya.


“Ma-maksdunya ini apa? Saya jadi bingung,” tanya Karina lirih, tetesan air mata perlahan jatuh ke kedua pipinya.


Melihat Karina menangis, Andy segera menepi, melonggarkan seatbelt miliknya demi bisa melihat secara dekat wajah Karina.


“Ja-jangan menangis,” ucap Andy menghapus air mata di kedua pipi Karina.


“Bagaimana saya tidak menangis. Sudah susah payah menjauh dari kamu, tapi kenapa kita harus bertemu di sini,” sahut Karina terisak.


“Maksudnya. Apakah kamu juga menyukai aku?” tanya Andy mengambil kesimpulan.


“Awalnya saya juga bingung dengan perasaan ini. Semakin kita sering menelepon, semakin saya menyadari jika saya telah menyukai kamu. Demi bisa fokus untuk menggapai cita masing-masing, saya sampai berbohong kalau ponsel saya rusak. Dan itu hal yang paling menyulitkan bagi saya untuk tidak bisa mendengar suara kamu,” jelas Karina semakin terisak.


Senang mendengar kejujuran Karina. Andy spontan memeluk tubuh mungilnya, membenamkan wajah Karina di bidang dadanya.


“Terima kasih. Terima kasih telah memikirkan ku. Sekarang lihatlah, aku sudah menjadi lelaki yang sukses. Seorang pria yang bisa menafkahi kamu,” ucap Andy membanggakan dirinya.


Karina mendorong pelan bidang dada Andy, menyeka sisa bulir air mata di kedua pipinya sembari berkata, “Saya tahu. Tapi saya tetap ingin menggapai cita-cita dengan menjadi psikolog anak-anak.”


“Tentu saja. Semua keinginan dan cita-cita kamu tidak akan pernah aku larang. Aku akan membebaskan kamu, asal. Asal kamu tidak dekat-dekat dengan pria manapun kecuali, aku,” sahut Andy tak lupa mengancam.


“Iya,” angguk Karina.


“Jadi, kita sudah jadian ini?” tanya Andy penuh ambisi.


“Nggak,” sahut Karina membuat wajah Andy berubah.


“Loh, kenapa tidak? Apa salahnya sih, menjalin hubungan pacaran dulu. Toh, aku tidak akan membuat hal mesum kepadamu!” hela Andy sedikit frustasi.


“Saya hanya bercanda,” ucap Karina.


“Benar, benarkah kita jadian?”


Karina mengangguk. Andy spontan memeluk, bahkan mencium bibir ranum Karina dengan rakus. Membuat Karina terkejut, kedua bola matanya membulat sempurna, tubuhnya menjadi patung.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2