
Langkah kaki Andy dan Andreas terhenti di depan ruang BK. Sejenak Andy melirik sinis ke sekumpulan murid lelaki sedang meliriknya penuh dengan kebencian.
“Apa kau?” hardik Andy sambil menghentakkan kaki kanannya. Jari telunjuknya mengarah ke perban di hidungnya. “Kalian harus membayar uang tabungan yang aku keluarkan senilai 100 juta untuk bagian hidungku ini, semua sudah termasuk obat-obatannya!” tambah Andy memberitahu.
“Cih, kau juga harus membayar biaya pengobatan kami!” sahut salah satu murid.
Tidak ingin membuat Andy terlibat perkelahian baru. Andreas menarik tangan Andy, membawanya masuk ke ruangan Karina.
Sesampainya di dalam ruangan, semua wali murid memandang rendah dan penuh kebencian ke Andy. Kecuali, satu orang wanita berpenampilan seksi, rambut panjang terurai sepinggang berwarna merah. Wanita itu tak lain adalah Mama Andreas, Meli Najwa atau Meli.
Andreas membuang wajahnya ke sisi kanan. “Ck, kenapa harus ada wanita ini di sini,” gumam Andreas tidak senang melihat sang Mama.
“Beruntung kau. Daripada aku! Cak lah kau pikir. Dari sekiannya banyak orang tua di sini, aku harus menghadapi semuanya sendiri. Dan aku sangat yakin kalau aku akan kalah dengan orang tua di sini,” bisik Andy.
Sejenak dalam diam, salah satu wali murid mulai melontarkan ucapannya.
“Oh! Jadi ini dia anak berandalan yang suka membuat masalah di sekolah ini,” cetus wanita memakai gaun berwarna merah dengan kaca mata hitam.
Andy hanya diam, menatap tak suka.
Seolah tak terima di tatap oleh Andy seperti itu, wanita tersebut mendekat, berdiri di hadapan Andy.
“Heh, kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya wanita itu sinis.
“Mungkin perasaan tante saja,” sahut Andy datar.
“Jelas-jelas sorot matamu seperti sedang merendahkan ku. Apa maksudmu?” tanya wanita itu kembali terdengar tak suka.
“Oh, begitu ya!” cetus Andy sambil melihat wanita tersebut dari atas sampai bawah. “Dasar wanita aneh. Gila ku rasa kau, ya?” lanjut Andy membuat wanita kesal sampai menampar pipi Andy.
“Dasar BERANDALAN!” hina wanita itu lalu duduk kembali ke kursinya.
Andy terdiam, sebelah tangannya memegang pipi memerah bekas tapak tangan wanita itu, dadanya naik turun seolah ingin memaki dan meluapkan semua kebenciannya. Namun, saat melihat Karina sedang menatapnya dalam diam. Andy perlahan menurunkan amarahnya.
“Pasti sakit?” tanya Andreas berbisik.
“Sakitlah bodoh!” sahut Andy ketus.
Tidak sampai di situ saja, wali lainnya juga ikut berbicara, menghina Andy habis-habisan. Sedangkan Mimi hanya diam, terus memandang Andreas, putranya.
“Bu, lebih baik anak ini dikeluarkan saja dari sekolah ini!” usul salah satu wali murid.
“Benar, lihat apa yang sudah diperbuatnya kepada putraku. Wajah putraku menjadi lebam seperti itu,” tambah wali lainnya.
Tidak ingin membuat Andy terus tersudut, Karina angkat bicara.
“Saya rasa tidak semua itu salah Andy. Mungkin saja yang mencari masalah itu adalah anak-anak dari ibu dan bapak di sini,” ucap Karina membela Andy, karena Karina sangat tahu jika Andy bukanlah tipe anak suka melakukan kekerasan terlebih dahulu kepada orang lain kalau dirinya tidak di ganggu.
__ADS_1
Tak terima mendengar pembelaan Karina. Wali murid lain mulai melayangkan protes mereka.
“Kenapa ibu membelanya? Oh, apakah ibu telah di suap oleh orang tua anak itu?”
“Tidak,” sahut Karina menggeleng, sorot matanya masih memandang lurus ke Andy saat ini sedang membalas pandangannya.
“Begini bu Karina. Apakah ibu tahu kedua orang tua dari anak-anak ini?” tanya salah satu wali murid lainnya.
“Tidak,” sahut Karina masih dengan sorot mata memandang Andy.
“Baiklah, akan saya jelaskan jika anak yang bernama Andy itu adalah anak dari seorang duda yang suka memboking wanita malam. Pokoknya kedua anak itu adalah anak dari orang tua yang memiliki kepribadian buruk!” jelas wali murid tersebut tanpa menyadari jika di antara mereka ada orang tuan Andreas.
Mimi melirik wanita tersebut dengan lirikan sinis. Sedangkan Andreas hanya bisa mendengus kesal.
“Kelakuan wanita itu benar-benar membuatku ingin mencabik mulutnya,” gumam Andreas kesal.
Di tengah-tengah perdebatan wali murid untuk mengusir Andy, terdengar suara tamparan beruntun dari depan ruang BK.
Andy, dan Andreas spontan menolehkan pandangannya ke pintu ruangan.
Karina dan wali murid lainnya hanya saling pandang, bertanya-tanya suara apa itu di luar. Tak lama kemudian sekelompok murid tersebut berlari masuk ke dalam ruang BK, bersujud di hadapan Andy. Hal itu mengejutkan masing-masing orang tua mereka.
“Hei, kenapa kalian bersujud di hadapan anak berandalan itu?” tanya salah satu wali murid.
Teman sekelas Andy tidak menjawab, mereka hanya melontarkan kalimat, “MAAFKAN KAMI, ANDY!”.
“Aku mendapat notifikasi pengeluaran dari kartu kredit milik putraku senilai 150 juta rupiah. Aku bertanya-tanya kenapa anak muda seperti Andy mengeluarkan uang sebanyak itu hanya dalam setengah hari, di saat dia sedang di sekolah, bukan sedang pergi berlibur ke Luar Negeri. Kemudian pertanyaanku terjawab setelah bu Karina yang cantik meneleponku, memberikan sebuah kabar jika Andy telah memukul dan dipukuli oleh anak-anak dari pebisnis rendahan seperti kalian semua!” celetuk Khandar menatap rendah semua wali murid dihadapannya.
Tak senang di bilang pebisnis rendahan, ketiga wali murid beranjak dari duduknya, melayangkan protes kepada Khandar.
“Sombong sekali kamu. Emang kamu pikir, kamu itu siapa. Dasar duda mesum!”
“Lihat, anak sama Papa sama saja. Bisa-bisanya bermesraan di lingkungan sekolah seperti itu.”
“Sebelum kau menghina kami, maka urus dulu urusan kau dan anakmu itu!”
Tidak sakit hati di hujat seperti itu, Khandar menatap satu persatu wali murid menghinanya tadi.
“Yang bilang aku, duda mesum. Bukannya kamu tukang perangkai bunga yang memiliki hutang keliling pinggang itu, ya? Untuk yang bilang urus dulu urusanku dan anakku. Bukannya anak kamu itu yang memakai obat-obatan terlarang itu, ya. Hem, dan kamu! kamu yang menyebut aku tak tahu malu bermesraan di lingkungan sekolah. Bukannya kamu itu adalah lelaki yang memiliki video syur selama 1 jam itu ya?” celetuk Khandar membongkar separuh aib dari ketiga wali murid tersebut.
Mendengar ucapan Khandar, 12 wali murid lain menundukkan kepalanya, ikut ketakutan akan di bongkar habis oleh Khandar.
Karina menghela nafas panjang, tidak ingin memperkeruh suasana, Karina mengulurkan tangannya ke sofa kosong.
“Silahkan duduk dulu Pak Khandar,” ucap Karina mempersilahkan duduk dengan sopan.
“Baiklah, ibu Karina yang cantik,” sahut Khandar mendudukkan dirinya di sofa single. Kemudian menepuk tangannya ke sebelah paha miliknya, menyuruh wanitanya untuk duduk di atas pangkuannya tanpa memperdulikan perkataan orang lain.
__ADS_1
“Karena semuanya sudah tenang. Saya ingin memberitahu jika anak-anak ibu dan bapak telah melakukan perkelahian di sekolah. Bahkan sampai membuat hidung Andy patah,” jelas Karina singkat.
“Bagus dong!” gerutu salah satu wali murid.
Tidak puas begitu saja, dengan sombongnya Khandar kembali berkata.
“Tanpa basa-basi, aku ingin semua orang tua murid di sini mengganti rugi atas pengeluaran yang baru saja Andy keluarkan. Memang bagiku uang bukanlah masalah besar. Tapi, kalau urusan seperti ini aku tidak ingin tinggal diam. Aku ingin kalian bertanggung jawab atas pengeluaran tersebut!”
Semua wali murid terkejut.
“Apa?!”
“Jangan bilang apa. Bukannya kalian merasa paling kaya di sini? Maka aku akan meminta pertanggung jawaban. Baiklah, aku tidak akan meminta uang tersebut saat ini. Tapi, aku akan mengirimkan seseorang untuk menagihnya ke rumah kalian,” sahut Khandar menjelaskan sekali lagi.
Semua wali murid tidak bisa berkutik apa pun lagi. Mereka hanya bisa mendengus kesal.
30 menit berlalu, selesai sudah bernegosiasi dan sedikit berdamai karena masing-masing anak mereka bersalah. Akhirnya masing-masing orang tua beserta anak-anak mereka pergi meninggalkan ruang BK. Tinggal di sana Khandar, Mimi, Andy dan Andreas.
Khandar mendekati Andy masih berdiam di depan ruangan.
PLAAAK!
Buug!
Khandar menampar dan memukul perut Andy berulang kali hingga Andy berlutut, memegang perutnya.
Karina spontan bangkit dari duduknya, menatap Andy dengan wajah tercengang. Sementara Mimi masih duduk santai di kursinya dengan mulut menguyah permen karet.
“Om, kenapa Om melakukan hal seperti ini?” tanya Andreas sambil membantu Andy berdiri.
Khandar tidak membalas pertanyaan Andreas, ia lebih memilih memaki Andy.
“Anak tak tahu diri kau! Bisa-bisanya kau menyuruh Papa datang kembali ke sekolah ini hanya untuk mendengar masalah yang kau buat!” Khandar mencengkram kerah baju sekolah Andy, menatap nanar penuh kebencian di bola mata Andy terlihat jelas saat menatapnya. “Kau sudah membuat Papa malu. Yang harus kau ingat! Kau pikir Papa menagih uang pengeluaran biaya operasi mu tadi untuk dirimu? Tidak. Semua itu untukku sendiri, karena setiap waktu yang aku keluarkan adalah UANG!” lanjut Khandar sembari melepaskan cengkraman tangannya sambil mendorong kasar tubuh Andy sehingga Andy mundur 2 langkah ke dinding.
“Aku tahu. Semua yang Papa lakukan tadi hanya untuk menunjukkan siapa Papa sebenarnya. Orang hebat, terpandang, dan penuh dengan kekuasaan yang perlu di takuti,” sahut Andy perlahan menegakkan tubuhnya terasa begitu amat sakit, berdiri menatap nanar kedua bola mata Khandar. “Satu hal yang perlu Papa ketahui. Apa pun yang Papa kerjakan, aku tidak peduli. Dan, KENAPA TIDAK PAPA SAJA YANG MENINGGAL DUNIA? KENAPA HARUS MAMA?!” tambah Andy sedikit berteriak di kalimat terakhirnya.
Khandar tidak bisa menjawab, ia hanya bisa menahan amarahnya sambil melangkah pergi bersama dengan wanitanya.
Setelah itu Mimi mendekati Andreas dan berkata. “Kamu adalah anakku yang terhebat. Kalau gitu Mama pergi dulu. Obati seluruh lukamu, uangnya akan Mama transfer nanti.”
Andreas tidak menjawab, ia hanya membuang wajahnya. Membiarkan Mimi pergi meninggalkan ruangan BK.
.
.
Bersambung
__ADS_1