Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
36. Makan malam


__ADS_3

Sejenak Karina terkejut mendengar permintaan Andy. Detik selanjutnya, Karina mengambil buku tulis tebal dan memukulkannya ke kepala Andy, sehingga Andy mengelus puncak kepalanya.


“Sakit bu,” keluh Andy.


“Lain kali, saat saya membantu kamu serius dalam belajar. Maka kamu juga harus serius,” jelas Karina, setelah itu pindah duduk ke sofa atas.


Andy tidak menjawab apa pun, kedua matanya hanya memandang secara lekat dan penuh cinta raut wajah serius Karina membaca catatan di buku tulis miliknya.


‘Hatiku kini benar-benar telah terpikat oleh mu, Bu Karina,’ batin.


.


.


30 menit berlalu.


Tugas latihan pemberian Karina telah selesai di kerjakan oleh Andy. Dengan penuh semangat, Andy beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan Karina sembari mengulurkan buku tugas miliknya.


“Sudah selesai, bu,” ucap Andy.


“Kok cepat?” tanya Karina sambil mengambil buku latihan dari tangan Andy.


“Kamu duduk di sana. Biar saya periksa jawabannya,” tambah Karina memberi perintah kepada Andy.


Andy dengan patuh duduk di sofa berhadapan dengan Karina.


10 menit memeriksa jawaban milik Andy. Karina mengernyitkan dahinya menatap wajah santai Andy masih menatap dirinya. Karina menutup buku latihan Andy, dan berdiri.


“Benar semuanya. Tapi, kenapa kamu malas sekali masuk sekolah dan belajar?” tanya Karina penasaran.


“Orang yang pintar itu tidak perlu mengumbar kepintarannya di hadapan semua orang, bu. Lagian, siapa juga yang percaya dengan apa yang aku lakukan,” sahut Andy santai, lalu ia menambahkan ucapannya. “Sekali berandalan, tetaplah seorang berandalan yang di anggap buruk oleh orang lain.”


“Saya, saya masih percaya sama kamu. Mulai sekarang, saya ingin kamu lebih giat belajar lagi dan kamu harus ingat untuk tidak terpancing dengan semua ucapan terlontar dari murid-murid lain yang menghina dirimu,” cetus Karina memberi masukan.


“Baiklah, semua keinginan ibu akan aku penuhi,” hela Andy sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa single.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Andy di ketuk dari luar.


“SIAPA?” tanya Andy sedikit berteriak, pandangan menoleh ke pintu.


“Bibi, tuan muda!” sahut bibi dari luar pintu kamar.


“ADA APA?” tanya Andy.


“Makan malam sudah selesai, tuan besar menunggu bu Karina dan tuan muda di ruang makan,” sahut Bibi memberitahu.


“Katakan pada Papa jika aku tidak ingin makan bareng bersamanya. Begitu juga dengan bu Karina!” perintah Andy memberitahu.

__ADS_1


“Tapi, tuan muda—”


“Jangan membantahku!” sela Andy meninggikan nada suaranya.


“Ba-baik, tuan muda. Bibi permisi,” sahut Bibi terdengar takut.


Setelah bibi pergi, Karina mendekati Andy, berdiri di sampingnya.


“Tidak baik menolak ajakan baik dari orang tua. Bibi telah susah payah memasak untuk kamu dan juga saya. Apa salahnya menerima ajakan Papa kamu!” cetus Karina memberitahu.


“Tapi, aku sungguh malas makan malam bersama dengan Papa. Pasti Papa hanya ingin memandangi ibu saja. Malas, ah!” ucap Andy sembari menyusun buku-buku tulisnya.


“Jangan berprasangka buruk, siapa tahu niat Pak Khandar itu memang baik. Andy, kali ini terima ajakan dari Papa kamu, ya? Hargai usaha orang lain yang sudah bersusah payah untuk menyajikan makanan enak untukmu,” nasehat Karina lemah lembut.


“Iiisss, ibu ini lah! Ia deh, ia!” dengus Andy sembari menumpukkan buku tulisnya di atas meja belajar miliknya. “Ayok lah kita turun!” lanjut Andy mengajak Karina turun.


Setelah terbujuk mendengar tutur kata lembut dari Karina. Andy akhirnya turun, menemui Khandar di ruang makan.


Begitu sampai di ruang makan, terlihat Khandar hendak melangkah pergi dan kedua bibi membawa satu persatu piring dan mangkuk kaca berisi makanan masih hangat ke lemari makan.


“Mau kemana Pa?” tanya Andy menghentikan langkah kaki Khandar.


“Ada urusan,” sahut Khandar singkat.


“Apa tidak jadi makan malam bersama?” tanya Andy datar.


“Sudah Papa bilang. Papa ada urusan!” sahut Khandar tegas.


Kedua bibi kembali mengeluarkan makanan dari dalam lemari, menyajikannya dia atas meja.


“Sebaiknya kita makan bersama dulu, baru lanjut bekerja,” usul Karina lembut.


“Apa ibu tidak keberatan jika saya duduk bersama dengan kalian makan di sini?” tanya Khandar terdengar ragu.


“Tidak, saya tidak keberatan. Bahkan saya lebih senang makan bareng keluarga seperti ini. Jadi lebih hangat,” sahut Karina lembut.


Khandar melirik ke Andy.


“Hanya kali ini, hanya kali ini aku mau makan bareng sama Papa!” cetus Andy saat tak sengaja menangkap basah lirikan Khandar.


“Bi, keluarkan semua yang ada. Jangan lupa sajikan minuman yang enak buat tamu kita hari ini!” perintah Khandar tiba-tiba menjadi semangat.


Khandar pun melangkah mendekati kursi miliknya, dan duduk di sana. Sedangkan kedua bibi dengan penuh semangat melaksanakan semua perintah diberikan oleh Khandar.


‘Syukurlah kalau mereka berdua akrab,’ batin Karina, ia melangkah dan duduk di sisi kiri Khandar.


Setelah semua makanan kembali tersaji. Khandar dengan semangat mengulurkan secara bergantian mangkuk berisi makanan kepada Karina dan Andy.


“Makan, makan yang banyak!” ucap Khandar sambil menaruh kembali lauk-pauk telah habis di atas nasi Andy dan Karina.

__ADS_1


“Jangan di tambah lagi, Pa!” protes Andy tak suka.


“Kamu itu harus makan yang banyak agar bisa tumbuh menjadi pria dewasa dengan tubuh besar!” ucap Khandar kembali menaruh lauk-pauk ke atas nasi putih Andy.


“Pa! Aku tahu, gimana caranya untuk membuat besar tubuhku!” protes Andy kembali meletakkan lauk-pauk pemberian Khandar.


“Kalau kamu tahu bagaimana cara membuat tubuh kamu besar. Sudah pasti, seluruh tubuh kamu tidak akan dipenuhi luka seperti itu!” celetuk Khandar sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


Andy terdiam, melahap lauk-pauk pemberian Khandar.


‘Walaupun ada sedikit perdebatan. Tapi terlihat jika Pak Khandar sebenarnya sangat memperhatikan Andy,’ gumam Karina dalam hati.


Kedua bibi pelayan mengintip dari pintu dapur, sesekali bibir mereka tersenyum melihat perdebatan Khandar dan Andy.


“Momen ini adalah momen langkah yang kita lihat,” bisik bibi berambut cepol.


“Bu guru itu memang top deh! Mudah-mudahan tuan muda berjodoh dengan bu guru,” doa bibi memakai daster.


“Amin, amin!” ucap bibi berambut cepol mengaminkan.


.


30 menit setelah selesai makan malam.


Karina membantu kedua bibi menumpukkan piring kotor di atas meja makan, di bantu oleh Andy. Sementara Khandar telah beranjak pergi meninggalkan kursinya 20 menit lalu karena ada pekerjaan harus ia kerjakan.


Melihat kedua tangan Karina dipenuhi minyak bekas makanan mereka, Andy langsung menghentikan aktivitas Karina, membawanya menuju wastafel cuci tangan.


“Kedua tangan ini tidak pantas menyentuh benda kotor seperti itu,” celetuk Andy sembari memberikan sabun ke tangan Karina, dan membasuhnya.


Karina terdiam, membiarkan Andy membawanya mencuci tangan. Sedangkan kedua bibinya tercengang melihat sikap aneh Andy.


“Saya sudah terbiasa terkena noda makanan seperti ini,” ucap Karina memberitahu.


“Kalau gitu aku akan mengungkapkan sebuah janji kepada ibu!”


“Janji apa itu?” tanya Karina sambil mengeringkan tangannya di serbet.


“Nanti setelah menikah denganku, maka ibu tidak boleh mengerjakan urusan dapur dan hal seperti ini. Biar pelayan membersihkan semua pekerjaan rumah,” sahut Andy memberitahu.


“Hem, begitu ya!” angguk Karina tanpa protes.


“Iya, aku serius!” ucap Andy serius.


Karina hanya tersenyum dan membatin. ‘Anak ini. Apa dia berpikir jika saya adalah jodohnya. Andy, Andy. Saya berharap suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi dari saya. Amiiin.”


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2