
Keesokan paginya.
Sesuai permintaan Andy kepada Haniffah untuk melakukan kunjungan. Andy menelepon, menyuruh Haniffah untuk datang lebih awal untuk membahas masalah kunjungan mereka.
Sesampainya di kantor, Andy menyuruh Haniffah untuk ke ruangannya. Melakukan rapat singkat, lalu mereka pergi bersama ke jadwal kunjungan pertama, yaitu pabrik pengolahan makanan cepat saji.
15 menit berkendara. Mobil di tumpangi Andy bersama Haniffah telah sampai di parkiran pabrik.
Andy turun, begitu juga dengan Haniffah. Kedua kaki mereka melangkah besar masuk ke dalam pabrik. Begitu sampai di dalam pabrik, semua karyawan tercengang melihat kedatangan mendadak Andy bersama dengan Haniffah.
“Bos. Bos Andy datang!” bisik para karyawan.
Dengan wajah tegas dan kedua mata tajam Andy memperhatikan seluruh ruangan pabrik miliknya.
‘Lumayan. Tidak ada perubahan dan debu di dalam pabrik ini,’ batin Andy. Namun, Haniffah membuyarkan nya.
“Kita mau kemana dulu Bos?” tanya Haniffah hati-hati.
Andy tidak menjawab, ia hanya menatap tajam, lalu melangkah pergi menuju ruang pengolahan.
“Bos, tunggu bos!” teriak Haniffah mengejar Andy.
“Berapa kali aku bilang. Jika masih ingin menjadi sekretaris ku, maka kau harus tampil apa adanya. Kau tahu, kan hari ini kita ada kunjungan, kenapa kau malah berdandan norak dengan memakai hak tinggi seperti itu? Apa kau kira pabrik milikku ajang pencarian jodoh!” omel Andy dengan sekali tarikan nafas sambil terus berjalan cepat.
“Ma-maaf bos. Lagian hak tinggi yang saya pakai tidak terlalu tinggi, rok span milik saya juga—” ucapan Haniffah terhenti saat langkah Andy spontan terhenti.
“Mau ku cincang?” tanya Andy menekan nada suaranya, pandangan masih fokus ke depan.
“Maaf, maaf, maaf Bos!” maaf Haniffah sampai 3 kali membungkuk.
Andy kembali melangkah.
Setelah melihat dengan kedua mata mereka sendiri, semua karyawan menjadi sangat yakin dengan isu beredar mengenai sikap kejam dan dingin Andy kepada para karyawannya di Perusahaan. Para karyawan pada bagian pengiriman hanya menatap dan saling berbisik, membicarakan Andy.
“Untung kita selalu merawat pabrik ini dengan benar. Kalau tidak, mungkin kita juga akan di masukkan ke dalam mesin penggiling daging.”
__ADS_1
“Tuh, kan. Dari awal aku menandatangani kontrak, aku sudah ketar-ketir melihat isi perjanjian tak biasa di dalamnya. Aku pikir iblis mana yang memiliki ide seburuk ini di dalam kontrak kerja. Ternyata semua itu adalah ide dari bos.”
“Bagiku tidak masalah sih. Seberat apa pun pekerjaannya, kalau bos nya setampan ini, mati di tangannya pun aku tidak masalah.”
“Huuu!” sorak karyawan lainnya serentak.
Sebelum masuk ke ruang pengolahan, Andy dan Haniffah memakai baju pelindung. Merasa cukup aman dan steril, barulah Andy dan Haniffah masuk ke dalam.
“Bos!”
Semua para karyawan pengolahan terkejut, tubuhnya spontan tegak begitu melihat Andy masuk.
“Biasa aja. Aku ke sini hanya ingin cuci mata,” cetus Andy sambil melangkah mendekati para karyawan sedang menyortir makanan.
Salah seorang pria, atau sebut saja pengawas di sana mendekati Andy.
“Apakah Bos ingin saya temani berkeliling?” tanya pengawas tersebut.
“Nggak perlu, aku bisa sendiri,” sahut Andy menolak.
“Kau lihat kamera di ruangan ini?” tanya Andy dingin.
“Li-lihat bos,” sahut pengawas gugup.
“Nah, jadi aku jelaskan. Aku percaya pada kalian semua di sini melalui pantauan kamera yang telah aku pasang. Bukan hanya kamera yang terlihat. Bahkan di antara karyawan di sini, aku juga memiliki beberapa pengintai,” cetus Andy, lalu kembali berkata dengan lantang. “Maka dari itu. Jika di antara kalian semua ada yang macam-macam. Bersiaplah menjumpai kematian kalian.”
Mendengar ucapan Andy. Semua karyawan pabrik di sana menelan kasar air ludahnya, bahkan mereka melirik ke teman sebangkunya, seolah penuh waspada.
Andy kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruang pengolahan, ia pergi ke bagian packing. Seperti biasa, Andy hanya berdiri di belakang semua karyawannya, memastikan jika pabrik miliknya masih aman untuk memperkerjakan orang-orang atau apakah ada alat berat yang harus di beli.
Melihat Andy datang, pengawas packing berlari kecil menghampiri Andy.
“Bos,” sapa pengawas tersebut terengah-engah.
“Apakah semua alat-alat di sini masih aman?” tanya Andy penasaran.
__ADS_1
“Aman. Pasti aman bos!” sahut pengawas itu penuh keyakinan.
“Bagus kalau begitu,” angguk Andy, lalu ia menatap lekat wajah penuh keringat pengawas tersebut. “Karena kamu sudah sangat yakin seperti itu. Maka aku sangat berharap tidak ada korban yang jatuh di pabrik milikku karena kendaraan atau bagian mesin lain rusak. Rajin-rajin lah mengecek, lalu melaporkan kepadaku apa yang rusak. Kalau…sampai ada korban jiwa di sini. Aku pastikan, kau dan pengawas lainnya akan aku jadikan opak,” tambah Andy mengancam.
Setelah membuat ketakutan di sana. Andy pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan pengawas dan karyawan lainnya terlihat pucat seputih kapas.
Haniffah bersamanya hanya bisa terdiam dengan wajah pucat karena ikut ketakutan.
Kunjungan singkat di pabrik, karena Andy harus mengunjungi beberapa tempat lainnya.
Mobil di naiki Andy dan Haniffah menuju lab yang juga tak jauh dari Perusahaan mereka.
Haniffah duduk di kursi penumpang belakang terus melirik ke Andy mengemudikan mobil dengan serius.
“Ma-maaf, bos. Kenapa tadi Bos tidak ingin mendengar penjelasan dari mereka semua. Bahkan kedatangan kita hanya seperti angin lalu saja,” ucap Haniffah takut-takut.
“Aku yakin mereka semua sudah melihat jelas aturan dan sebuah janji tertulis yang aku cantumkan di kontrak kerja. Aku yakin mereka pasti tidak akan berani macam-macam. Jika memang suatu hari terjadi kejadian buruk pada Pabrik ku, maka mereka semua akan menjadi daging panggang,” sahut Andy tanpa rasa takut, sorot mata fokus ke jalan.
Haniffah kembali menelan ludah dengan susah payah, dan membatin. ‘Keren, keren. Sumpah, bos satu ini sungguh keren. Sudah tampan, tegas, berwajah dingin namun mematikan. Uuh! Tipe pria idamanku banget.’
Sebenarnya, Andy bersikap seperti itu karena masa lalu yang pernah ia alami. Andy pernah berharap pada manusia. Namun, manusia tersebut malah menghancurkannya.
Pernah mencoba mempercayai orang lain dengan memberikan semua kebaikannya kepada orang tersebut. Tapi dirinya malah di tusuk dari belakang sampai membuatnya sesak nafas.
Pernah berpikir positif kepada orang lain. Tapi apa? Ia malah di olok-olok hingga mendapatkan sebuah luka baru pada luka lamanya.
Berharap mendapatkan sebuah pujian setelah bersusah payah mendapatkan nilai bagus saat ujian. Ia malah mendapatkan sebuah balasan dari pengharapan tersebut hanya sebuah kalimat “sedang tak memiliki waktu untuk melihat kertas busuk itu”.
Hati dulunya selembut tisu. Kini telah mengeras dan menggumpal menjadi batu. Itulah yang dirasakan saat ini.
.
.
bersambung
__ADS_1