Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
75. Aku Ingin Melamar Karina Pa


__ADS_3

Dengan langkah ragu Karina terus berjalan ke ruang tamu, dan duduk di sofa single.


“Sebentar ya, bu. Saya akan bilang ke bibi untuk membuatkan minuman sekaligus makan malam,” ucap Khandar kepada Karina.


“Iya,” sahut Karina.


Khandar pergi meninggalkan Karina untuk memberi perintah kepada pelayan rumah. Selesai memberi perintah kepada pelayan rumah. Khandar kembali ke ruang tamu, duduk di sana menemani Karina.


“Sudah lama kita tidak bertemu ya, bu,” cetus Khandar basa-basi.


“Maaf, boleh tidak panggil saya dengan sebutan Karina saja,” pinta Karina tidak enak jika calon mertua memanggilnya dengan sebutan “bu Karina”.


“Loh, kenapa?” tanya Khandar bingung.


“Saya, kan sudah tidak mengajar lagi. Jadi, agar lebih enak panggil Karina saja ya, Pak,” jelas Karina.


“Baiklah,” angguk Khandar.


Pintu rumah terbuka, masuk Andy dengan terburu-buru.


“Karina,” panggil Andy terengah-engah sambil mendudukkan dirinya di sofa sebelah Karina, lalu melirik tajam ke Khandar.


“Papa tidak melakukan apa pun," cetus Khandar mengetahui maksud tatapan dari putra semata wayangnya.


Tak lama bibi datang membawa minuman dan makanan ringan untuk Karina.


“Silahkan di minum,” ucap bibi setelah meletakkan minuman dan makanan di atas meja.


“Terima kasih bi,” sahut Karina.


Sambil tersenyum bibi kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan malam untuk mereka.


“Silahkan di minum,” ucap Khandar menyuruh Karina minum.


Kuatir akan diberi obat dalam minuman Karina, Andy mengambil terlebih dahulu minuman tersebut, menenggaknya hampir setengah, lalu mengulurkan minuman itu ke Karina.


“Minuman ini sudah aman,” celetuk Andy tanpa rasa malu.


Khandar hanya tersenyum, mengambil gelas bekas minuman Andy, dan dengan polosnya dirinya meminum bekas minuman yang sudah di minum Andy.


“Amankan?” tanya Andy setelah melihat Karina minum.


Karina hanya mengangguk, menyeka sisa minuman di sudut bibirnya.


“Kamu sungguh keterlaluan Andy. Masa iya bekas gelas kamu, kamu berikan ke Karina,” celetuk Khandar.


“Walaupun Papa sudah berubah. Tapi, aku masih belum percaya dengan kebaikan yang Papa tunjukkan kepadaku!” tegas Andy dengan tatapan sinis.


“Sungguh sulit bagi Papa untuk mendapatkan sebuah kepercayaan kamu lagi,” gumam Khandar tak marah karena ia tahu kalau dirinya yang dulu adalah seorang pria yang buruk.


Andy memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu mandi sana,” ucap Khandar saat melihat keringat membasahi baju kemeja Andy.


“Nanti aja tunggu Karina sudah pulang. Kalau aku tinggalkan Karina di sini, takutnya Papa berbuat hal jahat padanya,” tolak Andy.


Bukannya marah, Khandar hanya tertawa terbahak-bahak.


“Andy, kenapa kamu bicara seperti itu?” tegur Karina pelan.


Andy tidak menjawab, ia hanya diam membuang wajah kesalnya.


“Kalau kamu tidak percaya, ajak Karina ke kamarmu,” usul Khandar sengaja.


Tanpa penolakan Andy berdiri, tangannya menggenggam pergelangan tangan Karina.


“Ayolah, kebetulan sekali tubuhku sangat gerah hari ini,” ajak Andy tanpa rasa segan.


“Andy,” gumam Karina dengan kedua bola mata membesar.


“Kenapa, sebentar lagi kita kan akan menikah. Jadi boleh-boleh aja kalau kamu masuk ke kamarku,” cetus Andy spontan.


Khandar terkejut mendengarnya.


“Me-menikah, kenapa Papa tidak pernah dengar kamu membasah hal ini kepada Papa?” tanya Khandar penasaran kenapa Andy tidak pernah membicarakan perihal hubungan seriusnya.


“Aku takut Papa tidak merestui hubungan kami berdua,” sahut Andy memberitahu.


“Ya, ampun Andy. Siapa bilang Papa tidak merestui hubungan kalian berdua. Justru Papa sangat senang mendengar hal ini,” ucap Khandar senang.


“Serius. Kapan rencananya kamu akan melamar Karina?” Khandar balik bertanya saking senangnya.


Karina menunduk malu.


“Aku pinginnya lamaran hari ini, sekaligus menikah,” sahut Andy asal ceplos.


“Mana bisa seperti itu,” protes Karina.


“Kok nggak bisa?” tanya Andy.


“Ya, enggak bisa secepat yang kamu inginkan Andy. Kamu harus melamar Karina, selesai lamaran, kalian berdua harus mendaftarkan diri di kantor KUA agar pernikahan kalian terdaftar di Negara, lalu menikah,” jelas Khandar diangguki Karina.


“Masalah itu kecil. Sekarang yang jadi pertanyaanku adalah ini Papa serius merestui hubungan kami berdua?” tanya Andy memastikan.


“Tentu saja serius. Malam ini juga selesai makan malam kita akan ke rumah Karina,” sahut Khandar semangat. Sorot matanya mengarah pada Karina. “Karina, katakan kepada kedua orang tuamu jika besan kamu yang paling keren ini akan datang ke rumah, membahas masalah pertunangan kalian berdua!” tambah Khandar memberi perintah.


“Ba-baik, kalau gitu saya permisi menelepon Ayah dan ibu,” sahut Karina.


“Iya, silahkan,” ucap Khandar memberi Karina kesempatan untuk menelepon kedua orang tuanya.


Karina beranjak dari duduknya, berjalan sedikit menjauh dari tempat Andy dan Khandar duduk.


Khandar beranjak dari duduknya, mendekati sofa Andy dan berdiri di samping sofa.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak bilang kalau akan melamar Karina?” tanya Khandar berbisik di saat Karina sedang menelepon.


“Saat itu Papa sedang sakit, dan aku pun bingung harus memulai ceritanya darimana,” sahut Andy.


“Kenapa harus bingung. Tinggal kamu bilang saja, aturan Papa sudah bisa melamarkan Karina untukmu. Kemudian kalian menikah, dan memberikan Papa banyak cucu,” celetuk Khandar saking semangatnya.


“Belum apa-apa sudah mikirin cucu. Aneh sekali orang tua satu ini,” gumam Andy kesal. Padahal sebenarnya Andy sangat malu mendengar ucapan Khandar.


Di tengah-tengah kabar bahagia, bibi datang.


“Pak, makanan sudah siap,” ucap bibi memberitahu.


“Oh, iya makasih bi,” sahut Khandar cepat. “Papa tunggu kalian di meja makan. Selesai Karina menelepon kedua orang tuanya, maka datanglah ke sana,” lanjut Khandar memberitahu.


Andy hanya mengangguk.


“Saya sudah menelepon Ayah dan ibu,” ucap Karina setelah ia selesai menelepon.


“Baguslah, mari kita makan malam bersama, sebab Papa sudah menunggu di sana,” ajak Andy sembari beranjak dari duduknya.


Andy dan Karina melangkah bersama ke ruang makan.


“Silahkan, silahkan,” sambut Khandar mengulurkan tangan kanannya ke sisi kiri.


Andy menarik kursi untuk Karina. “Santai dan nikmati saja,” bisik Andy, lalu ia duduk di samping Karina.


Saking bahagianya Khandar mendengar kabar baik dari Andy. Khandar sampai menyediakan makanan di piring untuk Karina, dan hal itu membuat Karina dan Andy sedikit bingung.


“Pa, apa-apaan sih. ‘Kan ada aku di sini. Biar aku saja yang melayani Karina,” protes Andy kesal.


Khandar tidak menjawab, ia hanya tersenyum sembari mengangguk.


“Jangan kasar-kasar sama orang tua. Ingat, kita mau menikah loh!” bisik Karina sengaja.


Andy langsung berubah kalem, tangannya menciduk nasi dan memasukkannya ke dalam mulut.


“Makan, ayo silahkan makan!” ucap Khandar mempersilahkan Karina makan.


Selesai membaca doa makan, Karina menyuapkan mulutnya dengan nasi berisi lauk-pauk.


“Gimana, enak tidak?” tanya Khandar penuh harap.


“Hem, masakan ini sungguh enak Pak,” sahut Karina sambil mengunyah.


“Iya, semua masakan di atas meja ini adalah masakan kesukaan Andy,” jelas Khandar ada nada lirih di kalimat terakhirnya. Sorot matanya pun mengarah pada semangkuk tumis cumi, kacang panjang di campur kacang merah.


‘Dan sebenarnya masakan yang kamu makan dan kamu cicipi itu adalah masakan kesukaan almarhum istri saya,’ batin Khandar merahasiakan nya dari Andy.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2