Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
26. Wawak Tukang Kusuk


__ADS_3

Siang harinya.


Setelah mengantarkan Andy pulang, Andreas berniat untuk menemani Andy. Membantu Andy mengobati cedera di lengannya membiru akibat terbentur kaki meja karena ulah Guan.


“Dasar guru nggak ada akhlak. Bisa-bisa dia bersikap bengis seperti itu kepada kau!” celetuk Andreas sambil mengoleskan minyak karo di tangan Andy.


“Setelah hari ini, aku jadi menyadari jika yang terlihat baik belum tentu baik. Seseorang yang memiliki ucapan manis, belum tentu hatinya baik. Rasanya aku jadi ingin menghabisi Pak Guan,” gumam Andy, ia mengambil tangannya dan menggerakkannya perlahan. “Boda*t memang guru satu itu, aturan tangan ini sudah bisa naik motor. Eh! Malah di buatnya tambah parah!” gerutu Andy kesal karena tangannya semakin membengkak.


“Aku harap bu Karina tidak jatuh hati padanya,” gumam Andreas menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa.


“Kalau bu Karina sampai jatuh hati pada lelaki seperti itu. Maka bu Karina akan aku sekap, perkosa, dan—” ucapan Andy terhenti saat Andreas mengarahkan pandangan Andy ke sisi kiri, dimana Karina telah berdiri seperti patung dengan kedua tangan memegang bungkusan plastik berisi buah.


“Assalamu'alaikum!” ucap salam Karina pelan saking terkejutnya mendengar percakapan Andy dan Andreas.


“HAAA! Ke-kenapa kau nggak bilang kalau bu Karina datang!” celetuk Andy sembari mencekik pelan leher Andreas.


“Aku juga baru lihat,” sahut Andreas pasrah.


Tidak ingin mengambil pusing dan memasukkan dalam hati ucapan Andy. Karina mencoba melupakannya, perlahan kedua kakinya melangkah mendekati Andy dan Andreas.


“Maaf, apakah kedatangan saya mengganggu kalian berdua?” tanya Karina setelah meletakkan plastik buah di atas meja.


“Ti-tidak, i-ibu silahkan duduk saja di sana!” sahut Andy sekaligus mempersilahkan Karina duduk di sofa single.


“A-apakah ibu sudah lama berdiri di sana?” tanya Andreas penasaran.


“Nggak lama, paling ada sekitar 10 menit,” sahut Karina sembari mendudukkan dirinya di sofa single di tunjuk Andy tadi.


Andy dan Andreas saling menatap histeris satu sama lain. Tidak ingin membuat Karina berfikir buruk tentang mereka berdua. Andreas bangkit dari duduknya, mencari alasan untuk membuat Karina merasa nyaman.


“Bu, tunggu sebentar ya. A-aku akan membuatkan minuman, dan aku juga akan membawa pisau buah serta piring untuk mengupas buah yang baru saja ibu bawa. Ja-jangan pulang, ya!” pesan Andreas.


Andreas segera berlari menuju dapur berjarak 20 meter dari ruang tamu.


Di ruang tamu tinggal Andy dan Karina. Sejenak mereka saling diam karena masih mengingat ucapan Andy tadi.


‘Sebenarnya takut banget untuk duduk di sini. Tapi, saya yakin Andy tidak akan mungkin berbuat jahat seperti itu kepada saya. Andy itu anak yang baik. Iya, Andy itu adalah anak yang baik,’ batin Karina berusaha menyakinkan dirinya.


Merasa tak enak hati dengan ucapannya tadi, Andy menundukkan kepalanya dan meminta maaf.


“Bu, maafkan ucapan aku tadi, ya? A-aku hanya geram saja karena pak Guan seperti itu kepadaku,” maaf Andy menjelas dengan nada rendah.

__ADS_1


“Tenang saja, saya tidak mengambil hati ucapan kamu tadi, kok,” sahut Karina.


Tangannya mengulur ke depan, sorot matanya tertuju pada tangan Andy terlihat membengkak dan membiru.


“Tangan kamu kenapa membiru seperti itu? Apa kamu melakukan balap liar lagi setelah pulang sekolah?” celetuk Karina terkejut melihat memar baru di tangan Andy.


Andy mengambil jaket dan menutupi tangannya. “Ti-tidak, aku tidak melakukan balap liar atau taruhan lagi seperti yang ibu minta. I-ini hanya cedera baru karena aku tadi terjatuh,” sahut Andy berbohong.


Andreas tak sengaja mendengar kebohongan Andy, merasa geram dan berpikir jika Andy ingin menutupi kesalahan Guan. Dengan langkah cepat ia mendekat dan angkat bicara.


“Kenapa kau bohong? Katakan saja jika itu adalah ulah Pak Guan. Nggak perlu kau tutupi di depan bu Karina!” cetus Andreas sambil meletakkan nampan berisi minuman, piring dan pisau buah di atas meja.


Karina melirik Andreas, sedangkan Andy membulatkan kedua matanya, memberikan kode untuk berhenti berbicara.


Andreas mendengus kesal saat dirinya harus bungkam demi menutupi kebenaran. Ia duduk di samping Andy sambil mengupas buah pemberian Karina.


‘Kenapa Pak Guan bisa sejahat ini kepada Andy? Pantas saja ruangan guru tadi pagi terdengar cukup ramai. Ternyata mereka semua sedang menghukum dengan cara menyakiti Andy,’ batin Karina.


Kasihan melihat Andy diperlakukan seperti itu, Karina sedikit beranjak dari duduknya, ia mengambil jaket menutup tangan Andy, dan melihat tangan itu dengan jelas.


Sikap Karina membuat Andy dan Andreas spontan terkejut, dan tidak bisa berkata apa pun.


“Kita akan pergi ke tukang kusuk. Kamu harus segera di kusuk sebelum masuk angin dan bertambah parah!” tegas Karina.


“Benar, itu sakit sekali bu,” tambah Andreas dengan mulut penuh buah.


“Mau ikut saya, atau kalian akan saya kirim kan SP 2!” ancam Karina dengan raut wajah suramnya.


Andreas menelan kasar buah ia kunyah. Andy memegang tangannya cedera, menatap wajah suram Karina dengan ketakutan.


“Ba-baiklah!” sahut Andy dan Andreas patuh.


Dengan naik mobilnya, Karina membawa Andy dan Andreas menuju tukang kusuk ahli syaraf. 1 jam berjalan akhirnya mereka sampai di tempat tukang kusuk tersebut.


“Matilah aku!” gumam Andy dengan wajah dipenuhi keringat jagung.


“Iya, kau yang mati aku nggak!” sahut Andreas bergumam ikutan takut.


“Bodoh!” umpat Andy.


“Ayo masuk!” ajak Karina menggenggam pergelangan tangan Andy, membawanya masuk secara paksa.

__ADS_1


.


10 menit di dalam ruangan.


Andy duduk dengan pakaian atas telah di buka. Di hadapannya telah duduk seorang pria berwajah seram. Pria tersebut terus melihat tangan Andy, kemudian melihat Karina dan Andreas.


“Sepertinya cederanya sudah lama, dan ada cedera baru lagi ini!” ucap tukang kusuk tersebut.


“Iya, Wak. Katanya ia jatuh lagi di tempat yang sama,” sahut Karina santai.


Tukang kusuk melihat Andy, dan berkata. “Sedikit sakit, tapi aku yakin besok akan sembuh.”


Andy melirik ke Karina dan ke Andreas dengan wajah memelas.


Tukang kusuk mulai beraksi, memijat lembut tangan Andy.


“AAA! SAKIT, SAKIT!” teriak Andy sambil menggeliat dan menangis.


Andreas mendengarnya merasa seluruh tulangnya ngilu, sebelah tangannya spontan memegang sebelah tangan satunya.


“Diam! Baru sakit kayak gini sudah ngeluh kau. Kayak mana sakitnya seorang wanita yang melahirkan itu. Dasar pria lema*h!” umpat tukang kusuk tersebut membuat Andy menutup mulutnya dengan cara menggigit baju miliknya.


30 menit berlalu.


Karina, Andy dan Andreas telah keluar dari tempat tukang kusuk. Wajah Andy terlihat pucat, air mata terus mengalir di kedua pipinya, bibirnya terus bergumam.


“Sakit, sakit, bodoh kali wawak itu. Masa ia aku di samakan sama wanita. Benga*k!” gerutu Andy di sela tangisnya.


Bukannya kasihan melihat Andy menderita dan menangis. Andreas malah mengambil ponsel miliknya dan memotret wajah lucu Andy.


“Kalau ku lihat-lihat, cantik juga kau saat sedang menangis,” ejek Andreas menunjukkan gambar foto milik Andy.


“Bangsa*t! Hapus fotoku. Hapus!”


Kejar-kejaran terjadi. Sehingga Karina harus turun tangan, menarik kerah baju bagian belakang milik Andreas, dan menarik singlet Andy sampai jahitannya lepas.


“Anak-anak, mari kita pulang,” ajak Karina seperti seorang ibu sedang mengajak anak-anaknya bermain, dan membujuk anaknya untuk pulang.


Dengan patuh Andy dan Andreas masuk ke dalam mobil.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2