
Selesai menikmati santap makan malam, Khandar bersama dengan Andy mengantarkan Karina sembari ingin membahas masalah lamaran. Setibanya di rumah Karina. Tina dan Junaidi terlihat berdiri di teras rumah, seolah menyambut kedatangan mereka.
“Apakah itu kedua orang tuamu?” tanya Khandar pada Karina sembari membuka seatbelt, sorot matanya memandang lurus ke sepasang suami-isteri di teras rumah.
“Iya, Pak,” sahut Karina menunduk malu.
“Ya sudah, mari kita turun,” ajak Khandar tak sabar ingin ketemu calon besan.
Andy dan Karina juga ikutan turun, berjalan bersama naik ke teras.
“Selamat malam bapak dan ibu,” sapa Khandar setelah dirinya berdiri di hadapan Tina dan Junaidi.
“Malam,” sahut Tina dan Junaidi serentak.
Tina melihat Khandar dari ujung kaki sampai ujung rambut, dan berkata, “Apakah ini Papanya nak Tama?”
“Iya, saya adalah Papanya Andy,” sahut Khandar.
“Biar enak mengobrol, silahkan masuk saja Pak,” ajak Tina mengarahkan tangannya ke dalam.
Tina berjalan lebih dulu di susul Andy, Junaidi, Karina, dan Khandar. Namun, belum lagi Andy mendudukkan dirinya di sofa, Junaidi menahan lengan Andy, membawanya sedikit menjauh dari Khandar, Karina, dan Tina.
“Ada apa Om?” tanya Andy setelah langkah mereka terhenti.
“Yakin itu Papamu, bukan laki-laki yang kau bayar, kan?” Junaidi balik bertanya seolah tidak yakin jika lelaki tampan dan berkarisma itu adalah Papanya Andy.
“Ih, apanya Om ini. Aku memang banyak uang, tapi kalau soal melamar wanita yang aku sukai. Nggak mungkinlah aku bawa orang tua palsu. Walau pun Papa ku terlihat genit seperti itu. Tapi dia tetaplah Papaku, bukan Papa bayaran seperti di film-film,” sahut Andy sedikit meninggikan nada suaranya membuat Khandar spontan menoleh ke arah mereka.
“Ya, sudahlah. Kalau gitu aku percaya dengan ucapanmu,” Junaidi menepuk punggung Andy pelan. “Mari kita ke sana membahas soal lamaran agar lebih cepat,” lanjut Junaidi mengajak Andy duduk di sofa.
“Nah, gitu dong!”
Andy dan Junaidi melangkah bersama dan duduk serentak di sofa kosong. Begitu duduk, Khandar tadi sempat mendengar percakapan mereka sedikit menyinggung agar Junaidi benar-benar yakin jika dia adalah Papanya Andy.
“Sebagai orang tua tunggal Andy, saya merasa senang bisa bertemu langsung dengan kedua orang tua Karina,” celetuk Khandar tanpa di tanya.
“Kami juga senang bisa bertemu dengan Papanya Andy,” sahut Tina tak lupa menyikut lengan suaminya agar menyambut perkataannya.
“I-iya, aku pun sebagai seorang Ayah merasa terhormat bisa bertemu langsung dengan bapak,” Junaidi menambahkan.
“Kalau seperti ini saya jadi lega,” gumam Khandar menganggukkan kepalanya.
5 menit saling tertawa sampai akhirnya mereka masuk ke tahap inti pembicaraan.
“Begini, kedatangan saya kemari untuk membahas masalah tentang anak kita,” ucap Khandar memulai pembahasan.
Karina dan Andy menunduk malu, sesekali mereka saling pandang sambil tersenyum.
__ADS_1
“Kebetulan sekali, aku juga sudah menyuruh putra bapak untuk melamar putriku. Soalnya, sebagai seorang Ayah aku rada cemas kalau mereka terus bersama. Tahu sendiri lah ya, pikiran lelaki itu gimana kalau uda sering berduaan,” ucap Junaidi tanpa rasa malu.
“Benar, benar. Saya juga dulu pernah hampir khilaf saat berduaan dengan almarhum istri saya,” gumam Khandar sambil tertawa.
Andy hanya meraup kasar wajahnya.
“Begini saja, kapan kita akan membahas masalah pernikahan kedua anak kita?” tanya Tina tak sabar.
“Ibu, belum juga tunangan kok sudah langsung menikah,” protes Karina berbisik karena malu.
“Ssst! Kamu sudah tua, jadi nggak usah ada acara pertunangan segala,” ucap Tina di dengar Khandar dan Junaidi.
“Benar-benar. Saya juga sudah tidak sabar untuk memiliki cucu, penerus Perusahaan,” celetuk Khandar di sela tawanya.
“Kalau gitu segera ajalah kita urus mereka berdua. Kalau bisa menikah minggu ini, maka kita langsung nikahkan saja,” usul Junaidi semangat.
Karina dan Andy mendengarnya jadi malu.
“Iya, benar juga yang bapak katakan. Kalau gitu kita akan buat pesta meriah. Tentang uang pesta dan lain segalanya, biar saya yang berikan, bapak dan ibu tinggal terima beres,” ucap Khandar semangat.
“Alhamdulillah, terima kasih sudah mau membantu biaya pernikahan,” syukur Tina.
“Biaya pernikahan sebenarnya yang nanggung itu adalah pihak lakik, bukan pihak perempuan. Jadi, kapan saya bisa memberikan uang muka untuk biaya semuanya?” tanya Khandar terlalu bersemangat.
Mendengar Khandar akan membayar pernikahan dirinya. Andy segera menggenggam tangan Khandar.
“Pa, ini, kan pernikahan aku dan Karina. Sebaiknya biar aku saja yang membayar semua pengeluarkan uang pernikahan dan lain sebagainya,” protes Andy memberitahu.
“Kamu itu masih tanggung jawab Papa. Jadi, biarkan Papa membiayai kamu sampai menikah. Dan uang milikmu untuk membiayai Karina dan anak-anakmu kelak,” jelas Khandar.
“Aku tahu niat Papa baik. Tapi, biarkan aku belajar mandiri. Sebaiknya uang Papa itu di simpan untuk hari tua Papa,” protes Andy lembut.
“Yah, sepertinya Papa akan sedikit kecewa kalau seperti ini,” gumam Khandar lesu.
Tidak ingin menyakiti hati Khandar, Andy memberi masukan.
“Gimana kalau uang itu Papa hadiahkan untuk tiket kami bulan madu saja,” usul Andy.
“Benar juga kamu,” angguk Khandar.
“Kalau gitu Ayah akan memberikan uang saku untuk Karina,” tambah Junaidi tak mau kalah.
“Ayah,” gumam Karina terharu.
“Berati besok bapak akan mengurus semua surat-surat pernikahan anak kita?” tanya Khandar kembali ke topik utama.
“Tidak, biar aku saja yang mengurusnya, Pa,” sambar Andy cepat.
__ADS_1
“Emang kamu bisa?” tanya Khandar meremehkan.
“Sepele, kalau masalah itu kecil,” Andy melirik ke Karina. “Bukan begitu cintaku,” lanjut Andy menggoda.
Karina spontan memberika pelototan pada Andy. Junaidi, Tina dan Khandar tertawa terbahak-bahak.
“Malu-malu,” gumam Andy kembali menggoda Karina.
Seolah tak takut akan adanya Khandar di sana, Junaidi menegur Andy.
“Dasar bocah nakal. Jangan mentang-mentang kamu ingin menikah dengan putriku, kamu bisa terus menggodanya seperti itu,” omel Junaidi pada Andy. Lalu sorot matanya mengarah pada wajah merona Karina, “Lihat, wajah Karina menjadi merona seperti itu karena ulah kamu!” lanjut Junaidi.
Tak sakit hati atas ucapan Junaidi. Khandar hanya tertawa mendengar omelan Junaidi pada Andy.
“Pak, ada Pak Khandar di sini loh,” tegur Tina mengingatkan.
“Nggak takut. Kalau anaknya nakal ya, harus di tegur, bukan di biarkan,” sahut Junaidi tegas.
“Benar, kebetulan Andy ini memang anak yang nakal. Jadi, kalau dia berulah marahi atau pukul saja, saya tidak keberatan,” tambah Khandar.
“Ialah, mentang-mentang aku nakal,” gumam Andy sewot.
Junaidi, Tina dan Khandar hanya tertawa gemas.
“Oh ya, apakah besok kamu ada waktu?” tanya Khandar kepada Karina.
“Kalau ada urusan penting saya bisa cuti,” sahut Karina.
Khandar mengalihkan pandangannya pada Tina, Junaidi dan Andy.
“Begini, karena pernikahannya akan dilangsungkan secepatnya. Saya berniat untuk mengajak bapak, ibu, dan Karina untuk pergi ke butik, melihat baju seragam pernikahan untuk kedua anak kita,” usul Khandar.
“Aku hanya buruh pabrik. Jadi tidak bisa cuti sesuka hati. Gimana kalau masalah urusan itu aku serahkan pada Tina, istriku,” sahut Junaidi.
“Kalau gitu besok malam saya datang kemari, membawa ahli tukang ukur badan untuk bapak. Agar baju yang di pesan bisa pas saat di pakai,” ucap Khandar.
“Ya sudah,” angguk Junaidi.
“Berarti kita sudah sepakat ini, kan?” tanya Khandar memastikan.
“Iya,” angguk Junaidi.
Selesai membahas topik utama, Junaidi dan Khandar berbasa-basi tentang banyak hal. Sedangkan Karina dan Andy memilih untuk duduk di teras rumah, membahas masa depan setelah menikah.
.
.
__ADS_1
Bersambung