
Terkejut mendengar ucapan Andy. Andreas kembali meminta Andy mengulang kalimatnya tadi.
“Apa, coba kamu katakan tadi kamu bilang apa?” tanya Andreas kembali.
“A-aku…” tangan kanannya menggenggam celananya, seolah sedang berusaha menutupi rasa malunya. “Aku bilang, kalau kau pergi, aku ikut. Bodoh kali kau ini, masa harus berulang kali aku ucapkan kalimat yang sama,” tambah Andy menutupi rasa malunya.
Sejenak Andreas melihat wajah tenang Andy. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk.
“Aku tahu,” gumam Andreas sambil mengangguk.
“Tahu kenapa kau?” tanya Andy bingung.
“Apa kau ingin melamar Karina?” tanya Andreas mengejutkan Andy.
“Rencananya. Tapi aku tidak tahu ukuran lingkar jari manisnya. Jadi aku ingin membelikan sebuah kalung atau anting saja,” sahut Andy tanpa menutupi apa pun kepada Andreas.
Tahu gimana hubungan Andy dan Khandar, Andreas mencoba bertanya.
“Apakah Om Khandar sudah kamu beritahu?” tanya Andreas penasaran.
“Belum,” sahut Andy menggeleng.
“Kenapa belum? Jika kau ingin melamar Karina, seharusnya kau beritahu Om Khandar,” ucap Andreas memberitahu.
“Kemarin Papa demam tinggi. Aku nggak enak memberitahunya,” sahut Andy memberitahu.
“Iya juga, ya. Setelah sembuh sebaiknya beritahu agar bu Karina tidak terlalu lama menunggu,” usul Andreas memberitahu.
“Iya loh!” ketus Andy.
Andreas beranjak dari duduknya, tangannya memukul pelan bahu Andy. “Karena pekerjaanku masih menumpuk di kantor, maka aku akan pergi,” pamit Andreas.
“Kau nggak jadi pergi ke toko perhiasan?” tanya Andy, tangannya menggenggam tangan kiri Andreas.
“Siang atau lusa aku akan pergi. Kenapa?” sahut Andreas kembali bertanya.
“Ya sudahlah. Kau pergi saja,” ucap Andy melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Andy.
“Iya, aku pergi dulu!” pamit Andreas sekali lagi, lalu melangkah pergi meninggalkan Andy.
Setelah Andreas pergi. Andy kembali menyibukkan dirinya di depan layar monitor.
Waktu terus berjalan, jarum jam panjang kini telah menunjukkan pukul 16:30 sore. Mengingat sudah berjanji akan menjemput Karina, Andy bergegas pergi meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Mobil di kendarai Andy sudah melaju meninggalkan parkiran perusahaannya menuju gedung Karina. Tak sampai 30 menit, mobil Andy terhenti di tempat parkir, ia pun menunggu Karina di loby seperti biasanya.
Baru 5 menit menunggu, Karina keluar dari dalam ruangannya. Senyum merekah di bibir merah muda Andy terlihat jelas saat melihat sosok sang pujaan hati berjalan ke arahnya.
“Sudah lama menunggu?” tanya Karina setelah langkah kakinya terhenti di kursi tempat Andy duduki.
“Tidak,” sahut Andy menggeleng, ia pun beranjak dari duduknya, tangannya menggenggam tangan Karina. “Mau pulang atau jalan-jalan dulu?” tambah Andy menawarkan.
“Sebaiknya pulang saja,” sahut Karina, tak lupa segaris senyum tercetak di wajah teduhnya.
“Yuk!”
Andy menggenggam tangan Karina, mereka pun melangkah bersama dengan tangan masih saling berpegangan.
Mobil kini melaju perlahan meninggalkan gedung parkiran. Kurang lebih hampir 1 jam berkendara. Akhirnya mobil Andy terhenti di depan teras rumah Karina. Andy segera turun, membuka pintu mobil milik Karina.
Agar Andy tidak ditanyai masalah pertunangan, dan mengingat Khandar dalam kondisi pemulihan. Karina memutuskan untuk menyuruh Andy pulang.
“Andy, sebaiknya kamu langsung pulang saja,” ucap Karina dengan berat hati. Padahal ia masih ingin melihat wajah Andy lebih lama lagi.
“Kenapa. Apa kamu ingin pergi? Padahal aku masih sangat merindukan kamu.”
“Tidak, saya hanya tidak ingin kamu Magrib di jalan,” sahut Karina memberi alasan.
“Bukannya sebentar lagi juga akan magrib.”
Belum lagi Karina selesai berbicara, Tina keluar dari dalam rumah, dan berdiri di depan teras rumah.
“Nak Tama,” tangannya melambai. “Sini masuk, kebetulan sekali ibu baru siap masak kolak ubi di campur kolang kaling,” tambah Tina semangat.
Tanpa penolakan Andy melangkah masuk, melewati Karina masih berdiri di samping mobil.
“Iiis, gimana ini kalau Ayah ngotot meminta Andy untuk melamarku secepatnya,” gumam Karina cemas, sorot mata memandang punggung Andy dan Tina sudah menghilang masuk ke dalam rumah.
Tidak ingin terjadi hal buruk kepada Andy di dalam. Karina memutuskan masuk ke dalam rumah.
“Kamu mau mencicipinya?” tanya Andy mengulurkan mangkuk berisi kolak ubi dan kolang kaling ke Karina.
Karina menggeleng sambil tersenyum pada Andy, kemudian lirikan matanya mengarah pada Junaidi duduk di sofa single, menikmati ubi goreng dan kopi hangat.
“Sudah mau magrib, anak perawan tidak boleh mandi malam-malam,” celetuk Junaidi menakut-nakuti Karina.
“Kenapa Om?” tanya Andy penasaran.
__ADS_1
“Entar di culik buto ijo,” sahut Junaidi asal-asalan.
Andy yang takut spontan memalingkan sorot matanya pada Karina. “Sudah sana, cepat mandi!” ucap Andy menyuruh Karina mandi.
Tanpa membantah Karina pergi menuju dapur, meninggalkan Andy bersama dengan Tina dan Junaidi.
Sambil melepaskan pakaiannya satu persatu di kamar mandi, Karina terus memikirkan Andy yang akan dihujani banyak pertanyaan oleh Junaidi. Tak ingin hal itu terjadi, Karina memutuskan untuk mandi secepat kilat tanpa menggosok daki di tubuhnya.
...----------------...
Sementara itu di ruang tamu.
Melihat Andy selesai makan, Junaidi mulai menyerang Andy dengan pertanyaan-pertanyaan sudah ia rancang di dalam pikirannya.
“Aku hanya ingin bilang kepada kamu. Batas melamar Karina hanya aku berikan 7 hari di mulai dari sekarang. Lewat dari waktu itu, maka kamu dan Karina harus segera putus agar Karina bisa mencari lelaki lain selain kamu!” celetuk Junaidi memberitahu dengan tegas.
Raut wajah Andy spontan berubah menjadi datar, senyum sedari tadi terpancar di raut wajahnya perlahan meredup. Tina duduk di sana terkejut, dan Karina sudah selesai mandi dengan rambut setengah basahnya langsung berlari ke ruang tamu.
“Ayah!” panggil Karina setelah sampai di depan pintu ruang tamu.
Andy melirik ke Karina, memberikan senyuman manis pada sang kekasih. Setelah itu ia menatap serius wajah serius Junaidi.
“Aku tidak bisa memastikan apakah aku mampu memenuhi persyaratan yang Om berikan kepadaku. Tapi, aku akan berusaha untuk memberitahu Papa akan hal ini. Jika suatu saat aku tidak bisa menepati janjiku untuk segera melamar Karina. Maka aku akan memberikan doa yang terbaik untuknya, dan aku juga tidak akan marah kepada Om,” sahut Andy serius.
Andy pun berdiri, “Karena sudah mau magrib, sebaiknya aku pulang,” lanjut Andy berpamitan dengan tubuh sedikit membungkuk.
“Andy,” gumam Tina cemas. Junaidi hanya menatap lurus ke depan sambil menikmati kopi hangat di gelasnya.
Setelah melepaskan senyuman manis untuk Karina, kedua kaki Andy perlahan melangkah keluar rumah, di susul Karina terus berlari memanggil nama Andy.
“Andy, tunggu sebentar Andy,” panggil Karina.
Andy menghentikan langkah kakinya tepat di samping pintu mobil kemudi.
“Karina. Aku sudah putuskan untuk tidak menjumpai kamu dulu sebelum aku bisa memberitahu Papa,” Andy membuka pintu mobil dan masuk tanpa memberikan kecupan perpisahan seperti biasanya.
Mendengar hal itu kedua kaki Karina melemas, air mata mulai memenuhi pelupuk kedua matanya.
“Andy,” gumam Karina menatap bagian mobil belakang Andy telah pergi meninggalkan halaman rumahnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung