
Hari-hari telah dilalui bersama, semua permintaan Andy telah dipenuhi selama 1 bulan lamanya oleh Karina.
Akibat dari seringnya bersama dan merasakan semua kasih sayang dan perlakuan lembut Karina. Andy benar-benar merasakan jatuh cinta kepada Karina. Berat rasanya untuk melepaskan kepergian Karina.
Perlahan tapi pasti Andy tetap berusaha ikhlas dan melepaskan Karina demi cita-cita.
Pagi itu, bel pelajaran pertama berdering dengan sangat nyaring. Membuat semua murid bergegas masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
Andy telah duduk di kursi miliknya, begitu juga dengan Andreas.
Sebelum guru pembimbing masuk, Andreas menyempatkan diri untuk bertanya kepada Andy.
“Ssst, cemana?” tanya Andreas ambigu.
“Apanya yang cemana?” Andy balik bertanya karena bingung.
“Tentang hubungan kau dengan bu Karina lah. Penasaran aku nih!”
“Baik. Bu Karina menuruti semua keinginanku,” sahut Andy dengan senyum tipis tersirat di wajahnya.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu. Jangan katakan jika kau sedang memanfaatkan momen langkah ini?” tuduh Andreas dengan pikirannya.
“Nggak lah!” Andy membela diri.
Guru pembimbing masuk. Andreas menghentikan pertanyaannya, kembali duduk ke posisi semula.
Pelajaran pertama tentang kesenian di mulai. Sedang asik menarik garis untuk membuat lukisan, Andy tiba-tiba mendapatkan pesan singkat dari Karina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...{Assalamu’alaikum. Maafkan saya kalau masih belum bisa memenuhi semua permintaan kamu. Dengan segala rasa sayang saya kepada muridku yang bandel ini. Saya ingin mengatakan, mulai hari ini saya sudah tidak lagi menjadi guru BK. Karena ada informasi mendadak dari universitas, saya sudah berada di bandara menunggu pesawat. Untuk Andy, SEMANGAT!}...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah membaca pesan singkat dari Karina, kedua tangan Andy gemetar hebat. Wajahnya juga terlihat linglung.
“Bu Karina. A-aku harus menyusulnya!” gumam Andy sambil beranjak dari duduknya, berjalan dengan tatapan kosong.
Guru pembimbing dan teman sekelasnya menatap heran atas tindakan Andy tiba-tiba berjalan dengan tatapan kosong.
“Andy, kamu kenapa?” tanya Andreas sambil mengejar Andy.
Guru pembimbing ikut mengejar Andy, menahan pergelangan tangannya.
“Andy, ada apa dengan kamu?” tanya guru pembimbing cemas.
“Bu Karina, Bu Karina telah pergi,” sahut Andy bergumam dengan tatapan kosong dan sedikit berlinang air mata.
“Iya, saya dan semua guru tahu kalau bu Karina hari ini akan berangkat. Emang kenapa?” tanya guru pembimbing tersebut.
__ADS_1
Wajah Andy semakin terkejut. Kedua kaki menyerong, dan berlari menuju parkiran sepeda motornya.
“Andy! ANDY!” teriak Andreas dan guru pembimbing kesenian.
Tidak perduli dengan teriakan Andreas dan guru pembimbing, serta satpam menghalangi jalannya.
“MENYINGKIRLAH PAK SATPAM, SEBELUM AKU MENABRAKMU!” teriak Andy menggeber sepeda motornya sehingga kumpulan asap memenuhi di pos Satpam.
Mau tidak mau, Pak satpam akhirnya mengalah, membiarkan Andy pergi menuju bandara.
Broom broom!
Sepeda motor Andy semakin melaju dengan kecepatan tinggi. Meski jalan saat itu sedikit padat, Andy meliuk-liukkan sepeda motor miliknya agar bisa sampai di bandara dengan tepat waktu.
Setelah menempuh perjalan kurang lebih 1 jam akhirnya sepeda motor Andy terparkir di parkiran bandara. Kedua kakinya terus berlari dan berlari memasuki ruang tunggu, hingga tubuhnya hampir jatuh.
Setelah sampai di tempat tunggu. Pesawat di tumpangi Karina telah berangkat 10 menit lalu.
“BU KARINA!” teriak Andy meratapi kepergian Karina.
Sudah tidak ada harapan untuk bertemu dan menahan Karina. Andy perlahan menyerong kedua kakinya, melangkah keluar dari dalam bandara dengan wajah lesu dan penuh penyesalan.
.
.
Siang harinya, pukul 14:30.
“Tuan Andreas,” sapa bibi melihat Andreas masuk ke dapur, memindahkan bakso ke dalam 2 mangkuk kaca.
“Andy sudah makan?” tanya Andreas meletakkan 2 mangkuk kaca berisi bakso mercon bersama dengan 2 gelas minuman dingin di atas nampan.
“Be-belum, semua makanan yang telah disajikan malah di buang begitu saja ke tong sampah,” sahut bibi memberitahu.
“Kalau gitu, aku ke atas dulu. Mau mengajak sih berandal itu untuk makan,” pamit Andreas mulai melangkah pergi meninggalkan dapur.
Sebelum masuk ke kamar, Andreas mengetuk pintu kamar Andy. Tidak mendengar ada suara sahutan, Andreas memilih membuka pintu dan masuk. Sesampainya di dalam kamar Andreas melihat Andy menarik bantal, menutup wajahnya.
“Makan, yuk!” ajak Andreas meletakkan nampan berisi 2 mangkuk bakso dan 2 gelas minuman dingin di atas meja bundar di atas hambal bulu.
“Kau makan aja sendiri,” cetus Andy terdengar serak.
Tidak ingin melihat Andy terus bersedih, Andreas mengambil bantal dari wajah Andy.
Andy segera menyilangkan kedua tangannya di wajahnya. Namun, Andreas mengambil salah satu tangan Andy, membuat separuh wajah Andy terlihat.
“Kau menangis?” tanya Andreas saat melihat wajah Andy di penuhi air mata.
“Enggak!” elak Andy dengan suara serak.
__ADS_1
Bukan Andreas namanya kalau dirinya tak jahil kepada Andy. Andreas dengan sengaja membuat Andy terduduk dan menahan kedua tangannya.
“Wah! Nangis beneran kau rupanya. Macam perempuan aja ku tengok kau ini,” ejek Andreas.
“Apaan sih! Ngapain kau ke sini?”
“Di rumah ku nggak ada orang yang mau aku ajak makan bersama. Jadi datang lah aku ke sini, memintamu untuk menemaniku makan bakso,” sahut Andreas sedikit berbohong.
“Cari aja wanita lain yang bisa kau ajak makan bareng samamu!” tolak Andy sembari hendak menjatuhkan tubuhnya. Namun, Andreas dengan cepat menggendongnya, membawanya turun dari ranjang dan mendudukkannya di hambal bulu.
“Gila ku rasa kau!”
“Iya, gila kau memang,” sahut Andreas membenarkan ucapan Andy.
“Aku bilang, kau cari aja sana orang yang mau makan sama kau!” terang Andy dengan wajah kesal.
Andreas tidak peduli dengan kekesalan Andy. Ia menuangkan saos, dan cabai ke dalam mangkuk berisi bakso.
“Buka mulut kau!” paksa Andreas sembari membuka paksa mulut Andy dan memasukkan sendok berisi bakso mercon.
Kalah dengan kekuatan Andreas, akhirnya Andy memakan dengan terpaksa bakso telah masuk ke dalam mulutnya.
“Enak, enak kau rasa, kan?” tanya Andreas sambil menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.
“Berisik kau!”
“Macam cewek aja ku rasa kau ini. Bukannya kau tahu kalau bu Karina pergi ke luar Negeri untuk melanjutkan S2 nya,” cetus Andreas kembali memberitahu.
“Tahu aku,” sahut Andy mulai makan sendiri.
“Jadi, kenapa kau menangis bombay seperti itu?” tanya Andreas dengan mulut penuh bakso.
“Tentu saja aku sedih. Kau bayangkan aja gimana nasibku ke depannya setelah kepergian bu Karina,” sahut Andy menyuruh Andreas ikut membayangkan nasibnya.
“Kau bayangkan ajalah sendiri!”
“Itulah, nggak mau kau, kan ikut membayangkan kesedihanku. Makanya biarkan aku meratapi kekacauan atas kepergian bu Karina.”
“Ingat, 2 bulan lagi kita akan memasuki ujian UAN dan UAS. Kau sudah memiliki janji kepada bu Karina, dan kau harus menepati janji itu,” ucap Andreas memberitahu.
“Apakah di sana bu Karina beneran berkuliah? Atau, bu Karina akan memiliki kekasih?” gumam Andy mulai bertanya-tanya sendiri.
“Hentikan pikiran buruk mu itu. Aku sangat yakin jika bu Karina tidak senakal itu,” tepis Andreas membela Karina.
“Capek kali ku rasa lihat kegalauan kau ini. Makan dulu, makan kita!” tambah Andreas kembali memaksa Andy untuk makan. Dengan terpaksa Andy pun makan.
.
.
__ADS_1
Bersambung