Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
39. Pertandingan


__ADS_3

Lelah telah berkeliling lapangan sekolah sebanyak 20 kali putaran. Andy dan Andreas merebahkan tubuh mereka di pinggiran lapangan basket, terhalang oleh sinar matahari.


“Huh! Lumayan juga,” gumam Andy dengan nafas terengah-engah.


“Lumayan matamu, ku rasa guru-guru di sini pada sensi sama kita. Baru berbicara sedikit aja, kita sudah dapat hukuman. Coba kalau orang itu berbicara. Kalimat yang keluar dari muncung orang itu paling tidak, ‘maafkan ibu/bapak terlambat masuk karena ada rapat mendadak’,” omel Andreas sambil mendudukkan dirinya.


“Andy, Andreas,” panggil Nelson telah berdiri di belakang mereka.


Andy langsung terduduk, sedangkan Andreas langsung berdiri.


“Ada apa?” tanya Andy terlihat tak suka.


“Ikut bermain basket bersama dengan teman lainnya,” ajak Nelson.


“Baiklah,” sahut Andy dan Andreas tidak bersemangat.


Andy dan Andreas melangkah mengikuti arah langkah kaki Nelson. Kini langkah kaki mereka terhenti di lapangan basket.


“Anak-anak, mari bentuk 2 pemain. Putra dengan putra, putri dengan putri. Ini bukan hanya sekedar permainan biasa, permainan ini adalah untuk menambah nilai ujian saat kelulusan nanti,” ucap Nelson memberitahu.


“Serius, Pak?” tanya salah satu murid wanita.


“Iya. Untuk permainan pertama akan dilakukan oleh tim wanita. Sedangkan tim pria menunggu di sana!” sahut Nelson memberitahu, mengarahkan tangannya ke pinggiran lapangan basket.


Andy, Andreas dan sekumpulan murid lelaki lainnya duduk di pinggiran lapangan basket, sesuai dengan permintaan Nelson.


Kini murid perempuan telah berkumpul dan sudah di pecah menjadi 2 tim di lapangan dengan membentuk formasi.


Friiitt!


Nelson membunyikan peluitnya.


Murid perempuan langsung dribble bola, tak lupa suara kemeriahan terdengar di lapangan tersebut.


Kesempatan dalam kesempitan bagi tim pria. Semua murid lelaki duduk dengan tegak, kedua mata mereka mendadak liar menatap ke bagian dada. Sehingga sekumpulan murid lelaki tadinya tenang menjadi berisik.


“Buset, kalian lihat semangkanya sih, Timun. Besar kali rupanya lek.”


“Nggak sia-sia Pak Nelson menggantikan guru baru wanita yang cerewet itu. Kalau sering-sering seperti ini, maka kedua mataku tidak perlu lagi memakai tetes mata saat sakit. Cukup rutin saat jam olah raga saja ku rasa sudah cukup.”


“Kalian fokus dengan sih Timun. Kalau aku fokus dengan sih, Ruli. Dada mungilnya malah membuatku tertarik untuk memompanya.”

__ADS_1


Lain dengan pikiran Andy dan Andreas. Mereka berdua memang duduk di sana bersama dengan murid lainnya. Tapi, pandangan Andy tertuju ke ruangan Karina, sedangkan Andreas tertuju pada seorang wanita memakai hijab sedang berjalan di koridor menuju ruang guru dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dingin.


“Bidadariku sedang lewat,” gumam Andreas menatap anak dari ibu kantin dengan penuh cinta.


“Bu Karina, ketika aku melihatmu memakai seragam seperti ini, otakku jadi kosong. Rasanya aku ingin mengikatmu, mencambu*kmu, menggi*gitmu, mencium, menji*lat, mera—” khayalan Andy terhenti saat wajah Nelson tiba-tiba sangat dekat dengan wajahnya.


“Mera…mera, apa yang ingin kau ucapkan tadi ?” tanya Nelson membuat Andy spontan mundur ke belakang.


“Bapak ini, macam setan aja ku rasa!” cetus Andy terkejut.


Ctak!


Nelson memukulkan buku nilai ke puncak kepala Andy.


“Jangan main pukul lah, Pak!” protes Andy sambil mengelus puncak kepalanya.


“Kau lihat, kau lihat semua temanmu telah berdiri di tengah lapangan. Dan kau, kau malah enak-enakkan melamun sambil memanggil dan berpikir mesum di sini. ANDY! CEPAT KE SANA! Awas kalau sampai latihan kau buruk, saya akan memberikan nilai 0 untukmu!”


“Ja-jangan lah, Pak. Aku sudah punya janji untuk nilai bagus dengan seorang wanita,” protes Andy sambil melangkah menuju lapangan bola basket.


Nelson tidak menjawab, ia membagi murid lelaki menjadi 2 bagian dan langsung membunyikan peluit miliknya.


Tanding bola basket pun di mulai, tim Andy dan Andreas sudah melangkah sejauh 10 poin, sedangkan tim musuh berada di 5 poin. Sorakan dari tim wanita untuk Andy dan Andreas terus terlontar, membuat Andy dan Andreas memberikan ciuman terbang kepada murid wanita.


Karena tim Andy dan Andreas selalu menang, tim musuh membuat sebuah rencana untuk menciderai Andy. Karena di tim itu hanya Andy yang ahli dalam menggiring bola dan memasukkan bola ke dalam ring.


Saat Andy menggiring bola menuju ring, salah satu dari mereka menyelinap, mendekat sambil menyikut bagian rusuk samping Andy sehingga bola di tangannya tidak masuk ke dalam ring.


“Akh!” keluh Andy spontan membungkukkan tubuhnya, memegang bagian rusuknya.


Nelson membunyikan peluit, dan mengakhiri pertandingan ini.


“Apa yang terluka?” tanya Nelson setelah berdiri di samping Andy.


“Bagian rusukku seperti ada yang menyikutnya, dan itu rasanya sakit sekali, Pak,” sahut Andy menahan rasa sakitnya.


“Kalau gitu, saya akan membantu kamu pergi ke UKS,” Nelson menawarkan diri dengan cara mengulurkan tangannya. Namun, uluran tangan Nelson langsung di tepis oleh Andreas.


“Biarkan aku yang membawanya. Bapak lebih baik urus saja murid bapak yang curang!” ucap Andreas serius.


“Baiklah, saya serahkan Andy kepada kamu,” sahut Nelson. Ia pun melangkah mendekati kumpulan murid lelaki lainnya.

__ADS_1


Andreas segera membopong tubuh Andy menuju ruang UKS, dan merebahkannya di ranjang perawatan.


“Kalau nggak ingat ini dilingkungan sekolah. Mungkin uda ku singkat anak kima*k itu,” gerutu Andreas serius.


“Jangan, kan kau. Aku pun kalau tidak memiliki janji kepada Bu Karina, mungkin udah habislah mereka ku buat!” ucap Andy tak mau kalah dengan wajah masih nyengir kesakitan.


“Cak kau duduk, aku mau melihat tubuh mana yang terkena serangan,” perintah Andreas setelah ia membantuk Andy duduk.


Karena bagian rusuk terasa sakit, Andy tidak bisa mengangkat tinggi kedua tangannya. Dengan di bantu Andreas barulah Andy bisa membuka baju Andy. Namun, Karina telah berdiri di depan pintu, membuatnya jadi salah paham.


“Astaghfirullah hal adzim, kenapa harus buka baju segala sih?” omel Karina kembali menurunkan baju Andy.


“Mau lihat dimana letak sakitnya, bu,” sahut Andreas santai.


“Iya tahu. Tapi tidak perlu sampai membuka seluruh baju juga, Andreas,” ucap Karina meletakkan kotak P3K di atas ranjang perawatan.


Melihat Karina datang dan mengomel, rasa sakit pada bagian rusuk Andy seolah menghilang. Andy terus menatap wajah cantik Karina masih terus berbicara.


“Cantiknya,” gumam Andy.


Andreas langsung menyadarkan Andy dengan cara menepuk punggungnya. “Sadar wouy!”


“Lukanya tidak parah, saya sudah memberikan pereda nyeri di bagian tubuh memar,” ucap Karina setelah selesai menempelkan koyo cabe ke bagian memar Andy.


“Terima kasih, bu Karina,” terima kasih Andy sambil melamun.


“Kenapa ini bisa terjadi?” tanya Karina penasaran. Ia pun berdiri di samping ranjang Andy.


“Biasalah bu, ada yang iri karena kami selalu menang,” sahut Andreas, Andy sendiri masih terpikat oleh wajah berseri Karina.


“Kalau gitu kalian tidak boleh melakukan perbuatan yang sama,” pesan Karina memberitahu.


“Tentu,” sahut Andreas, Andy hanya mengangguk.


“Sebaiknya saya kembali ke ruangan, kalau sudah enakkan silahkan masuk ke kelas dan kembali belajar,” pesan Karina sebelum pergi.


Andy dan Andreas mengangguk.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2