Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
15. Dia Adalah Ayahku


__ADS_3

Karena kesalahpahaman Karina, Andreas lebih memilih kabur meninggalkan Andy bersama dengan Karina daripada ikut menjelaskan.


Menurut Andreas, menjelaskan suatu kejadian tidak benar kepada orang itu adalah hal membosankan. Lebih baik kabur, cari aman.


Seperti anak kecil, Andy duduk di sofa dengan kepala tertunduk.


“Saya tidak memaksa kamu untuk mengakui semuanya. Tapi, saya ingin mendengar semua alasan sebenarnya tentang apa yang sebenarnya kalian lakukan berdua di apartemen ini?” tanya Karina lembut.


‘Dasar boda*t. Bisa-bisanya dia selalu lari saat aku mengalami hal seperti ini. Awas saja kau, Andreas!’ umpat Andy dalam hati.


“Andy!” panggil Karina kembali, sorot matanya turun ke kaki Andy. “Apa kaki kamu sudah sembuh?” tambah Karina penasaran.


“Sudah, itu semua berkat ibu,” sahut Andy kepala masih tertunduk.


“Alhamdulillah. Kalau gitu besok kamu bisa masuk sekolah, kan?” tanya Karina, ia mengalihkan pembicaraan ke hal lebih penting.


“Sepertinya aku ingin berhenti sekolah dan memilih untuk mencari pekerjaan,” sahut Andy mengejutkan Karina.


“Kamu! kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Apa yang menyebabkan kamu ingin berhenti sekolah?” tanya Karina cemas.


“Bu, ciri-ciri pria seperti apa yang ibu sukai?” Andy mengalihkan pertanyaan.


“Kamu belum menjawab pertanyaan saya.”


“Maka jawab dulu pertanyaan aku, bu!” desak Andy.


“Saya tidak pernah memiliki kriteria seorang pria. Tapi, saya hanya mengidamkan sosok pendamping hidup yang rajin bekerja, baik, setia, dan bisa membimbing saya dan anak-anak. Hem! Itu angan-angan saya. Sekarang saya tanya, kenapa kamu memilih untuk berhenti sekolah?” sahut Karina tak lupa kembali bertanya.


“Hanya bercanda. A-aku akan giat datang ke sekolah mulai besok,” sahut Andy gugup.


“Baguslah. Saya tunggu besok kamu di sekolah,” ucap Karina sedikit lega.


Karina melihat jam arloji di pergelangan tangannya, menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 17:30. Karina segera beranjak dari duduknya.


“Andy, saya permisi pulang. Sebab jam 7 nanti saya akan ada les private,” tambah Karina berpamitan.


“Hem, ibu hati-hati, ya!” sahut Andy sembari mengantarkan Karina sampai di depan pintu apartemen.


Sebelum pergi, Karina memukul pundak Andy, dan mulai memberi nasehat kembali.

__ADS_1


“Saya harap kamu bisa segera berdamai dengan Papa kamu,” ucap Karina kemudian melangkah pergi meninggalkan Andy.


Andy mengangguk.


Andy menatap punggung Karina berada jauh di depan matanya.


“Cerewet kali ibu Karina. Ya, sudahlah. Sebaiknya aku pulang saja,” gumam Andy, ia ikut melangkah pergi meninggalkan kamar apartemen miliknya.


.


.


Malam harinya.


Setelah pulang ke rumah, Andy malah memergoki Khandar sedang bermain gila di ruang tamu bersama dengan wanita baru. Bosan dengan kelakuan sang Papa, Andy memilih untuk menghabiskan waktunya di luar.


Mulai habis magrib sama pukul 21:30 malam, Andy masih bertahan duduk di kursi duduk Lapangan Merdeka. Ia terus memandang lurus ke depan, melihat jalan raya dipenuhi kendaraan.


Ponsel dalam saku celana Andy bergetar. Namun, Andy tak menghiraukannya karena ia berpikir jika panggilan itu pasti dari sang Papa. Andy lebih memilih untuk mengabaikannya dengan cara memandang terus pengendara di jalan raya.


Namun, di saat Andy lebih memilih menikmati pemandangan di jalan raya. Sorot mata Andy malah menangkap basah Karina berboncengan dengan seorang pria. Berboncengan duduk miring ke samping, dan tangan memegang pinggul pria tersebut.


Penasaran siapa pria berboncengan dengan Karina. Andy mengikuti Karina dari belakang.


“Ganteng juga itu cowok. Sudah ganteng, terlihat baik, dan…ciri-ciri lelaki idaman Bu Karina sepertinya. Jangan-jangan lelaki itu…tidak! Jangan sampai lelaki itu adalah calon suami bu Karina. Entah kenapa rasanya aku tidak sudi melihat bu Karina menikah dengan lelaki seperti tadi,” gerutu Andy sembari terus melajukan sepeda motornya.


Setelah menempuh 1 jam perjalanan karena terkena macet di jalan. Akhirnya sepeda motor Andy terhenti di depan halaman luas dengan rumah sederhana dan banyak pepohonan di depan rumahnya.


“Apa ini rumah bu, Karina?” gumam Andy menatap liar ke sekeliling rumah, dan mendapati ada mobil bu Karina di garasi mini. “Oh, benar itu mobil milik bu Karina,” gumam Andy kembali.


Andy melihat Karina turun dari sepeda motor, masuk ke dalam rumah bersama dengan pria berboncengan tadi. Hal itu membuat tingkat penasaran Andy bertambah. Tidak ingin ketahuan oleh Karina, Andy turun dari sepeda motornya, mendorong memasuki halaman rumah Karina.


Setelah mencagak sepeda motornya, Andy berjalan mendekati pintu rumah Karina. Berdiri seperti maling sembari sesekali melirik ke dalam rumah.


“Loh, perasaan tadi ibu Karina masuk bersama dengan pria tadi. Jangan-jangan! Tidak mungkin, apa pria itu mengambil kesempatan. Aku harus masuk ke dalam, memastikan apakah bu Karina tidak diperkosa oleh pria tadi!” celetuk Andy histeris sendiri.


Kaki kanan baru saja hendak menapakkan di lantai rumah, tiba-tiba ada suara seorang wanita berteriak.


“MALING! ADA MALING MASUK KE RUMAH PAK!” teriak seorang ibu, yaitu ibunya Karina, sebut saja Tina.

__ADS_1


Karina dan Junaidi keluar dari dalam. Karina mengernyitkan dahinya, sementara Junaidi mencengkram kerah jaket Andy.


“Berani sekali anak muda seperti kamu ingin mencuri di rumah saya. Apa kau ingin saya buat seperti bola tahu?!” gertak Junaidi dengan kedua mata membulat sempurna.


‘Gawat! Kenapa bu Karina memiliki Papa seseram ini? Mana bola matanya hendak lepas menatapku. Tapi, tunggu-tunggu, bukannya pria ini adalah pria yang berboncengan dengan bu Karina tadi? Oh! Ternyata dia ingin cari gara-gara, ya?’ celetuk Andy menyadari jika wajah Junaidi adalah wajah pria berboncengan dengan Karina, pria memakai helm bogo.


Seolah tak ingin kalah, Andy menurunkan paksa kedua tangan Junaidi dari jaketnya. Ia ikut membesarkan kedua matanya.


“Oh! Ternyata kau pria yang tidak ada rasa sopan santunnya, bertamu ke rumah orang malah main masuk-masuk ke dalam rumah. Jujur saja—”


“A-Andy, lelaki ini adalah—” Karina hendak menjelaskan. Namun, Andy langsung menyerobotnya.


“Tenang bu! Aku akan menyelamatkan ibu dari pria mesum ini!” sela Andy serius, tangannya menarik lengan Karina sampai ke belakang tubuhnya.


Junaidi dan Tina menaikkan sebelah alis mereka, tercengang sejenak melihat tarikan Andy mampu membawa Karina berdiri di belakang tubuhnya.


Tidak terima Karina berdiri di belakang Andy. Junaidi ikut menarik Karina. Terjadilah tarik-menarik.


“Lepaskan tangan bu Karina! Lepaskan tangan Karina!” ucap Junaidi dan Andy secara bersamaan sambil terus menarik tangan Karina.


Kasihan melihat kedua tangan putrinya di tarik seperti itu. Tanpa pikir panjang Tina langsung memukul pelan puncak kepala Andy dan Junaidi.


Ctak ctak!


“Aduh! Sakit bu,” keluh Junaidi melepaskan tangan Karina dan mengelus puncak kepalanya.


“Siapa sih, ibu ini datang-datang teriaki aku maling, kemudian memukulku. Kepalaku ini di fitrah setiap tahunnya loh!” omel Andy sambil mengelus puncak kepalanya.


“Saya adalah ibu dari Karina. Kamu! siapa kamu datang mengendap-endap habis itu menuduh suami saya pria mesum. Siapa kamu? ha!” tanya Tina meninggikan nada suaranya.


Andy terkejut bukan main, sampai ia menoleh kaku ke Karina. Karina hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.


Takut terkena masalah lebih besar lagi karena kesalahpahaman nya. Andy hendak melangkah pergi, namun kerah jaket bagian belakangnya di tahan oleh Junaidi sehingga Andy tidak bisa bergerak sama sekali.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2