Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
74. Jangan Menangis Lagi


__ADS_3

Mendengar ucapan Fitri, Andy hanya terdiam, menyadari kesalahan dirinya. Namun, apa mau dikata semua sudah terlanjur.


“Bos Andy, kalau saya boleh tahu apa penyebab bos mengatakan hal itu kepada bu Karina?” tanya Fitri ingin mengetahui.


“Terima kasih sudah menyampaikan pesan itu kepadaku. Tapi maaf, aku tidak bisa memberitahu semuanya kepada kamu. Fitri, tolong sampaikan kepada Karina kalau aku akan segera datang menemuinya. Bilang juga kepadanya agar untuk tidak lagi menangisi keputusanku. Karena menurutku itu adalah hal terbaik,” sahut Andy sekaligus berpesan.


“Baiklah,” kedua kaki Fitri melangkah mundur ke belakang, tubuhnya juga sedikit membungkuk. “Kalau gitu saya permisi,” lanjut Fitri berpamitan.


Andy hanya mengangguk. Ia kembali menyibukkan dirinya di depan layar monitor. Andy memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan begitu menumpuk karena mendekati awal bulan dan semua pekerjaan harus segera selesai tepat waktu.


...----------------...


Sementara itu di ruangan Karina


Karena belum ada pasien, Karina hanya duduk di kursinya, kedua matanya terus berlinang air mata seolah masih terus memikirkan ucapan Andy begitu sangat menyakitkan hatinya.


“Saya tidak boleh terus menerus seperti ini,” tangannya mengambil ponsel, di lihatnya nomor kontak wa Andy terlihat online. “Andy online, tapi kenapa tidak ada pesan wa untukku. Apakah Andy hanya main-main mengenai hubungan kami ini?” gumam Karina penuh tanda tanya.


Tidak ingin gegabah, Karina meletakkan ponsel miliknya, berharap Andy akan segera menghubunginya. Namun, selama hampir 30 menit menunggu ternyata Andy tidak menghubungi Karina, dan hal itu sukses membuat hati Karina kembali gundah dan gelisah.


“Apa salahku?” rengek Karina lirih.


“Kamu tidak salah apa pun,” sahut seorang pria dari depan pintu.


Karina perlahan menolehkan pandangannya ke asal suara pria tersebut. Kedua bola matanya membulat sempurna begitu melihat suara pria tersebut adalah Andy.


“Andy,” gumam Karina, kedua kakinya spontan berlari menghampiri Andy dan memeluknya.


“Maaf sudah membuat kamu menangis,” maaf Andy sambil memeluk Karina.


“Kamu jahat, jahat, jahat!” Karina memukuli punggung Andy sambil menangis.


“Iya, aku adalah pria yang jahat,” ucap Andy membenarkan ucapan Karina.


Karina tidak menjawab ataupun mengeluarkan kalimat lainnya. Karina hanya memeluk erat tubuh Andy seolah tak ingin kehilangan Andy.


30 menit lalu Andy memang ingin menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Namun, entah kenapa Andy terus memikirkan ucapan Fitri yang membuat Andy tak tenang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Andy menelepon nomor kantor Karina, menanyakan apakah Karina bekerja. Setelah mendapat jawaban, secepat kilat Andy melajukan mobilnya untuk bertemu Karina.


Keputusan Andy untuk menjumpai Karina ternyata tepat, Karina kini terlihat tidak bersedih karena telah puas meluapkan semua isi hatinya kepada Andy.

__ADS_1


Puas sudah meluapkan isi hatinya, Karina melepaskan pelukannya pada Andy. Kedua tangan itu menyeka kasar bulir air mata di kedua pipinya.


“Kamu kenapa bisa datang ke sini?” tanya Karina dengan suara serak akibat terus menangis.


“Hanya ingin memastikan, apakah wanitaku baik-baik saja,” sahut Andy, tangannya menghapus bulir air mata di ujung mata Karina.


“Apakah kedatanganmu hanya untuk mengatakan hal yang akan membuat saya bertambah sakit?” tanya Karina lirih.


“Tidak,” tangan kanan mengulur, dan berkata. “Berikan kunci mobil kamu, biar aku menyuruh Venda membawa pulang mobil kamu.”


“Kenapa ingin di bawa pulang. Nanti saya pulang naik apa?” tanya Karina bingung.


“Nanti aku akan menjemput kamu. Aku akan membawa kamu kehadapan Papa untuk membahas masalah pertunangan kita berdua,” jelas Andy membuat Karina sedikit terkejut.


“Ka-kamu serius?” tanya Karina dengan kedua bola mata melotot.


“Iya, cepat berikan kunci mobilnya padaku,” sahut Andy sambil menggoyangkan jari-jemarinya.


Karina merogoh kantung seragamnya, mengambil kunci mobil dan memberikannya pada Andy.


“Kalau gitu aku pergi dulu,” Andy mengecup kening Karina, setelah itu menatap wajah sembab Karina. “Jangan menangis lagi, ya. Aku janji akan datang sore nanti menjemput kamu,” tambah Andy berjanji.


Setelah mengecek keadaan Karina, Andy melangkah pergi meninggalkan ruangan Karina.


Menghapus air mata dari wajah orang yang kita sayang sebenarnya cukup sederhana. Cukup datangi, peluk, dan katakan “maaf”.


Waktu terus berjalan, jarum jam panjang kini menunjukkan pukul 17:20 sore. Karena ada kunjungan mendadak dari pihak BPOM, Andy terpaksa menyuruh Venda untuk menjemput Karina, dan mengantarkannya ke rumah.


Venda pun bergegas menjemput Karina, karena jam penjemputan Karina bersamaan dengan jam pulangnya orang-orang bekerja. Jalan raya dipenuhi dengan kemacetan orang-orang pekerja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karina masih terus menunggu dan menuggu di depan gedung utama.


“Sudah mau dekat magrib, kenapa Andy belum datang juga?” gumam Karina sorot mata memandang ke gerbang pintu masuk.


Karina tak diam begitu saja, dirinya juga berulang kali menghubungi nomor Andy. Namun tak pernah mendapatkan sebuah jawaban. Lelah menunggu masuklah mobil Andy ke gerbang utama, Karina menarik nafas panjang, segaris senyum juga tercetak di raut wajah cantiknya.


Senyuman Karina perlahan meredup saat pria yang diharapkan datang menjemputnya bukanlah Andy melainkan Venda, supir pribadi Andy.

__ADS_1


“Maaf telah membuat Anda menunggu lama,” maaf Venda sembari membuka pintu penumpang bagian belakang untuk Karina.


Karina masuk dan duduk di kursi penumpang belakang.


“Andy mana?” tanya Karina tak melihat Andy berada di dalam mobil.


“Bos Andy sedang mendapatkan kunjungan mendadak dari BPOM. Jadi bos harus ke pabrik pengolahan makanan, dan menyuruh saya untuk menjemput Anda, mengantarkan terlebih dulu ke rumah bos,” sahut Venda memberitahu.


“Oh,” angguk Karina.


Venda menutup pintu mobil, berlari kecil, masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil meninggalkan gedung tempat Karina bekerja menuju rumah Andy.


Tak sampai 1 jam, mobil telah terpakir di depan teras rumah. Venda keluar, berlari kecil, membuka pintu Karina.


“Silahkan turun, dan menunggu bos kembali di dalam,” ucap Venda sambil membuka pintu.


“Terima kasih,” sahut Karina sedikit mengangguk.


“Kalau gitu saya permisi, mau jemput bos dulu,” pamit Venda.


Venda masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya meninggalkan Karina masih bengong di depan teras rumah.


“Kenapa rasanya seperti film horror, ya,” gumam Karina merasakan seluruh tubuhnya gemetar karena akan berhadapan dengan Khandar seorang diri.


Baru saja tangannya hendak memegang handel pintu. Pintu rumah tiba-tiba terbuka, terlihatlah Khandar berdiri di sana.


“So-sore Pak Khandar,” sapa Karina gugup.


“Loh, ada Bu Karina,” pandangan mata mendadak liar seperti sedang mencari seseorang. “Sendiri aja, bu?” tambah Khandar basa-basi.


“Ta-tadi di jemput Venda,” sahut Karina gugup setengah mati.


“Oh!” Khandar mengulurkan tangannya ke dalam. “Masuk, masuk dulu bu,” ajak Khandar sopan.


“I-iya, pak,” sahut Karina takut-takut.


Kedua kaki Karina melangkah masuk, sedangkan Khandar masih terus memandang sekeliling halaman rumahnya, mencaritahu kemana Andy dan kenapa hanya Karina di rumah mereka.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2