Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
29. Kau Kira Aku rumput tetangga


__ADS_3

Di ruang tamu Karina.


Karina meletakkan gelas berisi minuman dingin dan tela-tela goreng di atas meja.


“I-ibu tadi mau bilang apa, ya?” tanya Andy gugup.


Karina mendudukkan dirinya di sofa single sebelah kiri Andy, menatap serius wajah gugup Andy.


“Jujur saja sama ibu. Kamu, kan yang membocorkan ban mobil milik ibu?” sahut Karina sekaligus bertanya.


“Hahaha!”


Bukannya menjawab, Andy malah tertawa sembari menggaruk kepala bagian belakang tak gatal. Hal itu membuat Karina mengernyitkan dahinya, memasang raut wajah tidak senang.


Menyadari Karina terlihat tidak senang, Andy segera menghentikan tawanya, dan memandang ke sekeliling ruang tamu, mencari alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Karina.


Dapat bahan pengalihan pertanyaan, Andy mengambil tela-tela dari piring, dan memakannya.


“Hem! Enak, bu,” puji Andy dengan mulut penuh tela-tela ubi.


“Andy! Kamu itu bukan anak kecil lagi, saya tanya sekali lagi. Apakah kamu yang telah membocorkan ban mobil saya?” tegas Karina kembali bertanya.


Dengan terpaksa Andy akhirnya mengangguk.


“Astaghfirullah al-adzim!” hela Karina sambil istighfar.


“Kalau aku boleh jujur, aku tidak suka jika Pak Guan mendekati ibu,” ucap Andy menundukkan kepalanya.


“Kenapa? Apa yang tidak kamu suka dari Pak Guan?” tanya Karina penasaran.


“Aku sadar aku memang bukan pria yang baik. Tapi, Pak Guan lebih buruk daripada aku,” sahut Andy. Andy menaikkan pandangannya, menatap serius wajah Karina. “Aku hanya tidak ingin membuat ibu terluka,” tambah Andy dengan wajah datarnya.


“Saya bisa jaga diri. Saya juga telah dewasa. Tau mana yang baik dan tau mana yang buruk. Jadi—”


“Sedewasa apa pun seorang wanita, dan sekuat apa pun wanita itu. Tetap saja lelaki lah pemenangnya saat dalam melakukan hal buruk!” sela Andy serius. Ia beranjak dari duduknya, menatap sejenak wajah bingung Karina dan kembali berkata. “Sejuta kali ibu menolakku, maka sejuta kali pula aku akan mengatakan kepada ibu, “aku mencintai ibu, dan tidak ada satu laki-laki pun yang akan bisa mendekati ibu kecuali, aku.” Mungkin saat ini aku masih berusia 16 tahun dan masih sekolah. Tapi, setelah aku lulus dan memimpin Perusahaan. Wanita pertama yang akan aku jumpai dan aku nikahi itu adalah Ibu!”


Deqser!


Aliran jantung Karina mengalir begitu cepat ke seluruh tubuhnya.


Tina ternyata diam-diam menguping dari balik dinding terkejut, hingga menutup mulutnya agar tidak bersuara dan ketahuan oleh Karina.


Tidak ingin memberikan harapan kepada Andy. Karina beranjak dari duduknya, mengambil amplop putih dari dalam lemari hias, memberikannya kepada Andy.


“Apa ini, bu?” tanya Andy menatap amplop putih di tangan kanannya.


“Bacalah, setelah itu saya akan menjelaskannya,” sahut Karina memberitahu.


Andy membuka amplop putih tersebut, membaca surat berada di dalamnya. 5 menit membaca surat tersebut. Raut wajah Andy mendadak berubah menjadi suram dan tegang. Wajah itu menatap lurus ke Karina terlihat tenang.


“A-apa maksudnya ini, bu?” tanya Andy bingung.


“Saya tidak bisa membalas perasaan siapa pun karena saat ini saya sedang fokus belajar dan mengejar cita-cita. Saya ingin menjadi seorang wanita yang memiliki wawasan luas di bidang pendidikan dan penasehat anak-anak,” jelas Karina akan tujuannya.


Wajah penuh rasa bersalah itu menatap lekat wajah bingung dan panik Andy.


“Andy. Bisa tidak kamu berjanji kepada saya?” tambah Karina sedikit bertanya.

__ADS_1


“Janji?”


“Iya. Saya hanya ingin minta 3 hal ini harus kamu penuhi selama saya tidak ada di sini,” ucap Karina masih tenang. Sedangkan Andy mulai merasa tidak betah duduk berlama-lama dengan Karina.


“Katakanlah!”


“Pertama, saya ingin kamu tetap fokus dalam belajar sampai ujian kelulusan itu tiba. Berikan saya sebuah video nilai ujian yang bagus nantinya.


Kedua, saya ingin kamu tetap menjadi anak yang baik. Berhentilah mengikuti geng motor seperti itu, agar saya tidak mencemaskan kamu di sana nanti.


Ketiga, Jadilah seorang pemimpin yang baik dan bijak suatu hari nanti,” ucap Karina memberikan tiga permintaannya.


Wajah Andy terlihat kecewa saat ia mendengar sampai habis permintaan Karina, tidak ada satu pun syarat dan sebuah janji ia inginkan terlontar dari bibir Karina. Andy menunduk, wajahnya terlihat begitu suram.


“Jika ketiga permintaan ibu harus aku turuti ketika ibu telah pergi. Maka, ibu juga harus menuruti semua keinginanku,” sahut Andy datar.


“Baiklah, aku akan menuruti semua permintaan kamu. Di mulai besok,” sahut Karina tetap tenang.


“Aku tidak suka menunda hal yang sudah aku impikan. Aku ingin semua permintaanku ibu turuti di mulai malam ini. Nanti malam pukul 20:30 aku akan menjemput ibu di rumah salah satu murid les private ibu, dan malamnya aku ingin ibu menemani nongkrong di salah satu kafe. Untuk permintaan lainnya, maka akan menyusul. Mau tidak mau. Ibu harus menurutinya, jika aku ingin menuruti permintaan ibu!” jelas Andy tegas.


Sejenak Karina terdiam. Menarik nafas panjang untuk menenangkan pikiran dan hatinya setelah itu Karina mengangguk.


“Baiklah, saya akan turuti semua keinginan kamu,” sahut Karina tenang.


Andy mengambil tas ransel dan memakainya.


“Aku pamit pulang,” pamit Andy cepat.


Boom broom!


Setelah Andy pergi, Tina keluar dari tempat persembunyiannya, dan duduk berhadapan dengan Karina.


“Dugaan ibu ternyata benar, Tama itu menyukai kamu!” celetuk Tina.


“Menyukai orang lain itu adalah hal yang wajar bu,” sahut Karina sambil meletakkan kembali gelas dan piring ke atas nampan kecil.


“Sepertinya Tama bukan hanya menyukai kamu. Tapi, Tama lebih dari itu,” cetus Tina serius.


“Kalau soal itu Karina tidak tahu, bu. Semua masalah itu Karina serahkan di sepertiga malam. Karina yakin jika Allah akan memberikan jodoh dan semua hal baik kepada umatnya yang selalu berdoa di dalam sujud terakhirnya di sepertiga malamnya,” sahut Karina tenang.


“Iya juga. Sebenarnya Ibu kasihan melihatnya. Bagaimana nasib anak itu jika kamu nanti pergi,” gumam Tina, tangannya memijit pelipisnya terasa tegang akibat mendengar percakapan Andy dan Karina tadi. “Kalau Tama adalah jodoh kamu, ibu tidak masalah,” tambah Tina bergumam sendiri dan di dengar oleh Karina.


“Husst!”


“Kenapa? Apa salahnya jika anak perawan ibu dapat anak pengusaha dan calon Pimpinan perusahaan. Lagian kamu juga nggak tua-tua kali. Kamu dan Tama paling selisih umur 4 tahun atau 5 tahun,” celetuk Tina tidak ingin kalah.


“Sudah, ah! Karina mau masuk dulu, mau sholat dzuhur,” pamit Karina menghentikan percakapan sang ibu.


“Dasar anak perawan. Baru di bilang seperti itu sudah malu-malu,” gumam Tina menatap punggung Karina telah masuk ke koridor kamar.


.


.


Sementara itu di rumah Andreas.


Ding dong ding dong ding dong!

__ADS_1


Bel rumah terus berbunyi tanpa jeda.


Andreas sedang bercumbu dengan seorang gadis SMA di dalam kamarnya segera turun dari ranjang. Memakai celana pendek miliknya, dan berlari cepat menuju pintu rumah.


“Si-a-pa?”


Pertanyaan Andreas terhenti saat melihat tamu tersebut adalah Andy.


“Lama kali kau buka pintu!” omel Andy menerobos masuk ke dalam rumah.


“Eh, eh. Ka-kau mau ngapain?” tanya Andreas sedikit gugup. Kedua kakinya mengikuti langkah Andy menuju ruang tamu.


“Nggak boleh aku rupanya datang ke rumahmu?" tanya Andy sewot, sambil merebahkan tubuhnya di sofa panjang. "Aku mau di sini sampai malam tiba. Aku malas di rumah. Aku benci rumah besar yang hampa itu!” tambah Andy memandang wajah panik Andreas.


Sorot mata Andy mengarah ke lantai 2, terlihatlah seorang wanita tanpa memakai busana berdiri di sana, memandang ke arah mereka.


“Anjin*g! A-ada setan wanita bugil di atas sana cok!” teriak Andy menunjuk ke lantai 2.


Andreas meraup wajahnya, tangannya melambai kepada wanita itu seolah memberi isyarat untuk masuk dan memakai baju.


Andy mengucek kelopak matanya saat melihat wanita itu pergi. Kemudian Andy menatap Andreas.


“I-itu bukan setan?” tanya Andy menatap wajah panik Andreas.


“Bukan, itu hanya temanku aja,” sahut Andreas sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa single.


“Gila, gila! Ternyata kau belum tobat juga,” gumam Andy sambil memejamkan kedua matanya.


“Aku hanya bosan saja di rumah, jadi aku iseng-iseng mengajak seorang wanita untuk datang dan bermain game sejenak,” sahut Andreas tanpa bersalah.


“Mata kau game!” celetuk Andy.


“Hehe!” kekeh Andreas.


“Makanya, kau harus mencari seorang wanita yang bisa membuat hidupmu berwarna,” usul Andy dewasa.


“Alah, bacot kau nomor satu. Kau sendiri, apa kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuat hidupmu berwarna?”


“Sudah, meski saat ini aku sedang galau,” angguk Andy masih dalam memejamkan kedua matanya.


“Sebenarnya ada seorang wanita yang sudah aku incar,” ucap Andreas mengejutkan Andy.


“Siapa? Cepat katakan padaku!”


“Besok di sekolah aku akan menunjukkannya,” sahut Andreas santai.


“Jangan bilang bu Karina. Kalau sempat kau merebut incaran ku, maka bunuh-bunuhan kita hari ini!”


“Kau kira aku rumput tetangga. Besok kau tengok, ya!”


“IYA!”


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2