Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
42. KITA LULUS


__ADS_3

Keesokan paginya.


Seperti biasa, suara kemeriahan sambutan hangat dari murid-murid wanita memeriahkan halaman sekolah, menyambut kedatangan Andy dan Andreas.


Tak seperti biasa, kali ini Andy tidak membalas sorakan dari murid-murid wanita tersebut. Wajah datarnya begitu lempeng dengan tatapan lurus ke depan.


“Tumben nggak kau balas?” tanya Andreas setelah mereka memarkirkan sepeda motornya di bawah pohon mangga.


“Entahlah, rasa seleraku akan mengganggu wanita telah hilang bersama dengan kepergian bu Karina,” sahut Andy sambil meletakkan helm Kyt miliknya di atas tangki minyak.


Andreas menepuk sebelah bahu Andy. “Sabar, kemungkinan ini ujian akan cinta dan kesetiaan mu!” cetus Andreas.


“Sudah capek aku di uji terus,” ucap Andy, tangannya mengacak-acak poni depan masih basah. “Ha, aku harap semua cobaan ini berbuah manis,” lanjut Andy menghela nafas panjang.


“Kalau gitu, mari kita masuk ke kelas. Soalnya malas kali aku lama-lama berdiri di sini. Dilihatin orang,” ajak Andreas sedikit bergurau.


“Sok ganteng kau!” cetus Andy, kaki kanannya melangkah di susul kaki kiri.


Andy dan Andreas berjalan santai menuju kelas mereka. Seperti biasa, pesona Andy masih terus melekat di pandangan kaum hawa, meski saat itu Andy tidak memberikan senyuman apa pun kepada murid-murid wanita sedang menatapnya.


Sesampainya di dalam kelas, Andy dan Andreas duduk di kursi mereka masing-masing. Salah satu murid wanita terus menatapnya, perlahan berdiri, melangkah dengan membawa kotak makanan mini transparan berisi satu potongan kue ulang tahun.


“Maaf…” ucap wanita itu menggantung karena Andreas langsung menarik kotak makanan mini transparan berisi satu potongan kue ulang tahun.


“Wiiih! Ada kue,” sela Andreas memutar-mutar kotak makanan mini transparan.


Andy merebut kotak makanan dari tangan Andreas dan mengembalikannya pada murid itu.


“Lain kali jangan seperti anak kecil!” omel Andy tegas kepada Andreas.


“Cerewet!”


“Mau ngapain kau ke sini?” tanya Andy penasaran.


“Anu…a-aku…”


“Apa kau ulang tahun?” tanya Andy tak sabar menunggu jawaban dari murid itu.


Murid tersebut mengangguk.


“Terus, kenapa kau bawa potongan kue ulang tahun itu ke sekolah?” tanya Andy kembali.


“Aku ingin memberikannya padamu,” sahut murid itu sembari mengulurkan tangannya. “Terima lah potongan kue ini. Aku sengaja menyisakannya untukmu,” tambah murid itu memberitahu.


“Kalau gitu selamat ulang tahun, dan terima kasih,” ucap Andy sambil mengambil kotak tersebut dan meletakkannya di laci meja.

__ADS_1


Murid itu tidak berbicara apa pun lagi. Dengan wajah malu murid itu kembali ke kursinya.


“Kau benar-benar baik,” celetuk Andreas sembari merubah posisi duduknya menjadi miring dan menyandarkan punggungnya di tembok.


“Aku tahu gimana rasanya tidak di hargai oleh orang lain. Makanya aku tidak ingin membuat hal yang sama dengan orang lain,” sahut Andy memberitahu.


“Bagus, bagus!” angguk Andreas.


Lonceng sekolah berbunyi nyaring, membuat semua murid masuk ke dalam kelas mereka masing-masing begitu juga dengan guru pengajar.


Sesuai dengan janji Andy kepada Karina. Ia belajar dengan tekun demi bisa memberitahu jika dia adalah seorang pria mampu untuk menjadi kekasih Karina.


Hari, minggu, dan bulan telah berlalu dengan begitu cepat. Bahkan nila ujian harian dan ujian latihan di lapangan Andy saat ini mulai membaik.


2 bulan telah berlalu, setelah kepergian Karina.


Hari ini, tepat hari ini adalah ujian pertama UAN di adakan.


Tidak ingin terlambat dan mendapatkan nilai buruk, Andy bersama dengan Andreas datang lebih dulu. Suasana hari ini tidak seperti sebelumnya, dimana kemeriahan sorakan dan gombalan dari para kaum wanita untuk Andy terus terdengar. Kali ini, hampiri semua murid terlihat tegang dan pucat. Hanya seutas senyum dan lambaian untuk Andy saja terlihat di sana. Sehingga lingkungan sekolah mereka terasa sunyi dan sepi.


15 menit sebelum ujian di mulai, Andy dan Andreas duduk di kursi mereka masing-masing. Namun, kali ini mereka di pisahkan begitu jauh agar tidak melakukan kecurangan saat ujian.


Andy duduk di meja paling depan dekat dengan meja guru, sedangkan Andreas duduk di kursi paling tengah.


Karena tingkat kecerdasan Andy, ia dengan begitu mudahnya menjawab semua soal ujian. Begitu juga dengan Andreas. Meski mereka berdua adalah anak-anak nakal dan suka melawan kepada guru. Tapi mereka berdua sebenarnya adalah anak pintar, dan cerdas.


Seterusnya begitu. Hari-hari mereka di hiasi dengan raut wajah tegang karena ujian UAN, kemudian UAS berlangsung secara berturut.


Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan SMA. Semua murid terlihat tegang menunggu hasil kelulusan.


Mendengar suara lonceng berbunyi nyaring, semua murid masuk ke dalam kelas, menunggu wali kelas mereka masuk dan memberikan hasil kelulusan.


.


.


“Buset, udah sampai di titik pengharapan menggantung aja kita,” celetuk Andreas merubah posisi duduknya ke samping, menyandarkan tubuhnya di dinding kelas.


“Jantung kau apa nggak berdebar-debar?” tanya Andy, wajahnya terlihat gugup.


“Nggaklah, santai aja,” sahut Andreas santai.


“Aku jadi ingin kebelet berak sama kencing kalau kayak gini ceritanya,” cetus Andy bertambah gugup.


“Santai aja. Ingat aja kalau setelah ini kau akan menyusul bu Karina,” ucap Andres mencoba menenangkan Andy.

__ADS_1


“Aku putuskan tidak akan menemui bu Karina dulu. Biarkan dia serius dengan pelajarannya, dan aku ingin serius ke bisnis pemberian Papa. Siapa tahu, setelah bu Karina pulang aku bisa melamarnya,” sahut Andy tenang.


“Bagus, bagus!”


Wali kelas mereka datang dengan tangan memegang setumpuk amplop berwarna putih. Wali kelas itu pun mendudukkan dirinya di kursinya.


“Pagi semuanya,” sapa wali kelas itu, segaris senyum tersirat di wajahnya.


“PAGI BU!” sahut para murid serentak.


Sambil menghentakkan susunan amplop putih, wali itu menatap lurus ke Andy dan Andreas, sambil berkata. “Hari ini adalah hari kelulusan kalian semua. Dan hari ini ibu ingin mengatakan jika ada 2 murid yang benar-benar telah berubah sampai-sampai saya dan guru-guru lainnya tidak menyangka. Bu Karina memang hebat!”


Semua murid saling pandang dan bertanya-tanya, siapakah murid tersebut.


Tak menunggu waktu lama, wali kelas itu memanggil satu persatu nama anak didiknya, memberikan amplop putih, dan menyuruh mereka untuk membukanya di rumah.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya nama Andy dan Andreas di panggil.


“Andy, Andreas!”


Andy dan Andreas langsung beranjak dari kursi mereka, berjalan mendekati meja wali kelas.


“Bukanya di rumah saja, ya! Setelah ini kalian berdua boleh pulang,” tambah wali kelas tersebut meletakkan amplop putih di atas telapak tangan Andy dan Andreas terulur.


“Terima kasih, bu,” sahut Andy dan Andreas serentak.


“Sama-sama!”


Andy dan Andreas melangkah pergi keluar dari ruang kelas mereka. Sepanjang kaki melangkah menuju parkiran sepeda motor mereka, Andreas menjujung tinggi amplop putih berisi surat kelulusannya. Berharap bisa mengintip apa hasilnya melalui sinar matahari pagi menjelang siang.


Lain halnya dengan Andy, tak sabar melihat hasilnya, Andy membuka amplop, dan mengambil kertas berisi kelulusan.


“OH!” cetus Andy setelah melihat surat kelulusan miliknya.


Penasaran dengan hasilnya, Andreas merampas surat milik Andy dan ikutan melihatnya.


“OOO!” angguk Andreas.


Andreas dan Andy serentak menghentikan langkah mereka, berdiri saling berhadapan sambil bersorak “KITA LULUS”.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2