
Saat Andy berlari, Andreas baru saja siap memarkirkan sepeda motornya. Penasaran kenapa Andy berlari, Andreas mempercepat langkah menuju kelas mereka.
Langkah kaki Andy terhenti di depan pintu kelas.
“Hosh! Hosh! Hosh! Gila, keren kali tadi aku, ah!” gumam Andy di sela nafas lelahnya dengan pedenya.
“Keren? keren kenapa kau?” tanya Andreas setelah sampai.
Andy terkejut hingga ia naik ke atas meja.
“Dajjal, kau memang!” umpat Andy saking kagetnya.
“Oh! Terkejut kau, ya? Ayo! Jujur kau sedang memikirkan apa?” goda Andreas, menatap sangat dekat wajah malu-malu Andy.
Andy tidak menjawab, ia melompat turun dari meja, berjalan menuju kursinya paling belakang dan sudut, diikuti Andreas masih terus menggodanya dengan cara mengajukan pertanyaan.
Andy tetap tidak menjawab. Ia lebih memilih berdiri di depan jendela kelas, menatap lurus dari kejauhan ruang BK. Dimana Karina masih berdiri di depan ruangan, dengan seorang guru olah raga berdiri berhadapan dengan Karina.
“Kau pasti ingin bertanya ‘siapa guru yang ada dihadapan bu Karina?’. Nah, aku akan menjawabnya. Guru lelaki yang bertubuh kekar, dan rupawan itu adalah guru olah raga baru, namanya Pak Guan, mengajar khusus anak kelas 2 di sekolah kita ini. Guru itu menggantikan Pak Jenggot yang sudah pensiun karena ingin menjadi petani cabe-cabean,” celetuk Andreas menjelaskan tanpa di tanya.
Andreas mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan meja Andy. Ia memiringkan posisi duduknya demi bisa berbicara ke Andy.
Bukannya mendengarkan penjelasan Andreas. Andy malah mengumpat dalam hati saat Guan memegang punggung tangan Karina diberi hansaplast.
‘Anjin*g! Berani sekali ia menyentuh tangan bu Karina. Aku saja, aku saja tidak pernah menyentuh tangan bu Karina seperti itu. Dia, dia orang baru sudah berani menyentuh. Dan…kenapa mereka tertawa sampai selucu itu? A-apa, apa yang sedang mereka bicarakan sehingga terus melebarkan mulutnya?’ umpat Andy dalam hati.
Ctak!
Karena ucapannya tidak di dengar oleh Andy. Andreas dengan ringannya memukulkan buku tulis ke lengan Andy. Pukulan itu berhasil membuat Andy mengeluarkan semua umpatannya tersimpan dalam hatinya.
“Anjin*ng! Awas saja kau pria lebih tua dariku?!”
“Oooh! Ternyata kau sedang menyumpahi Pak Guan?” Andreas melirik penuh maksud ke Andy. “Astaga! Jangan-jangan kau menyukai bu Karina?” celetuk Andreas kuat, membuat semua teman sekelas baru saja tiba menoleh ke Andy dan Andreas.
“Bangsa*t, bisa diam dikit nggak muncung kau itu. Apa perlu aku plaster pakai semen tiga roda muncungmu itu?” ancam Andy sambil mencubit lengan Andreas sekuat-kuatnya hingga Andreas menjerit kesakitan.
__ADS_1
“Lepas, lepas, Andy!” teriak Andreas terus memukuli tangan Andy masih mencubit kulitnya.
Di tengah-tengah perdebatan Andy dan Andreas, masuk 2 murid sembari membahas Karina dan Guan. Perlahan cubitan Andy terlepas dari kulit Andreas, memilih untuk mempertajam pendengarannya daripada memikirkan rintihan dan balasan cubitan Andreas di lengannya.
“Eh, kamu tadi lihat gimana Pak Guan berbicara lembut kepada bu Karina?” tanya salah satu murid wanita memakai bando pink.
“Lihat dong. Ibu Karina itu adalah guru BK favorit saya. Melihat bu Karina dan Pak Guan yang tampan dan sangat lemah lembut itu mendekati bu Karina. Aku terus memancarkan doa restu agar bu Karina dan Pak Guan bisa pacaran—”
Entah kapan Andy berpindah tempat. Jelas kini Andy telah berdiri di samping meja kedua murid itu sambil menggebrak meja sekuat-kuatnya.
BRAAAK!!
“TIDAK BOLEH!” teriak Andy sambil menggebrak meja, wajahnya bergetar seperti menahan amarah.
Kedua murid tersebut spontan ketakutan. Mereka sedikit menjauhkan tubuhnya dari Andy. Sementara Andreas tercengang, tidak ingin membuat harga diri Andy jatuh karena sikap gegabah. Dengan langkah seribu Andreas mendekati Andy, tak lupa meminta maaf atas ulah Andy.
“Maaf, maafkan Andy. Mungkin ini efek obat karena semalam ia sakit dan hari ini baru bisa masuk. Sekali lagi aku mewakili Andy hanya bisa meminta maaf!”
“Hehe, tidak masalah,” sahut wanita memakai bando pink.
Andy tidak berkata apa pun, ia lebih memilih berbalik badan dan kembali ke kursinya. Diikuti Andreas masih penasaran dengan sikap tak biasa Andy hari ini.
“Kenapa kau mendadak aneh pagi ini?” tanya Andreas merendahkan nada suaranya.
“Tidak ada yang aneh. Aku biasa saja. Mungkin aku aneh karena sedang memikirkan ujian akhir sekolah kita,” sahut Andy berbohong.
Kedua murid tadi menguping sambil mengangguk.
“Jujur saja, apa kau menyukai bu Karina?” tanya Andreas berbisik di telinga Andy.
“Entahlah. Aku juga bingung dengan perasaanku,” sahut Andy tenang.
“Gila, gila! Jangan gila kau. Bu Karina dan kau itu jauh berbeda,” jelas Andreas.
“Diamlah, aku mau tidur sebentar sebelum jam pelajaran pertama di mulai!” putus Andy sambil menidurkan wajahnya di atas tas miliknya di atas meja.
__ADS_1
Andreas tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia lebih memilih membiarkan Andy untuk tidur daripada harus mengulik sebuah kenyataan cukup sulit untuk diketahui.
Mata pelajaran pertama dan kedua akhirnya selesai, di ganti suara bel jam istirahat terdengar begitu nyaring memenuhi sekolah. Semua murid pada berhamburan keluar kelas menuju kantin.
Melihat Andreas telah pergi ke kantin dan kelas sunyi, Andy diam-diam menyelinap di balik ratusan murid berhamburan di koridor kelas mereka. Andy terus berjalan dan akhirnya langkah kakinya terhenti di depan ruang BK.
Penasaran bagaimana reaksi Karina saat mencicipi makanan pemberiannya. Andy malah dikejutkan dengan penampakan Guan di dalam ruangan Karina. Bukan itu saja, Andy juga melihat jika Guan ada menyentuh makanan dari kotak bekal diberikannya kepada Karina. Hal itu sukses membuat Andy harus pergi meninggalkan ruangan Karina demi menghindari perdebatannya dengan Guan.
“Hai, tampan!”
“Wah, Andy makin hari makin tampan saja!”
Puluhan pujian di sepenjang koridor masing-masing kelas terdengar di kedua telinga Andy. Namun sayang, Andy sama sekali tidak tertarik untuk membalas pujian tersebut. Andy lebih memilih untuk diam, terus berjalan meski hatinya kini menahan amarah cukup besar. Kedua tangannya terus dikepal erat sehingga urat di kedua lengannya terlihat jelas.
Sesampainya di kelas, Andy menghempaskan tubuhnya di kursinya dengan helaan nafas panjang berulang kali keluar dari mulutnya.
Andreas melihat sikap aneh Andy, lagi-lagi di buat ingin bertanya. Dan akhirnya Andreas memutar arah duduknya menjadi berhadapan dengan Andy.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andreas serius.
“Aku membenci Pak Guan selalu saja mendekati bu Karina,” sahut Andy dengan bola mata berapi-api.
Ucapan Andy sukses membuat Andreas terkejut.
“A-apa kau beneran menyukai bu Karina?” tanya Andreas semakin penasaran.
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas hati ini sangat ingin menghajar siapa saja yang ingin merebut bu Karina dariku,” sahut Andy dengan wajah datar.
“Sepertinya kau sangat terobsesi dengan bu Karina,” gumam Andreas tercengang.
Andy hanya diam, tangan kanan di atas meja ia kepal erat dengan bola mata berapi-api.
.
.
__ADS_1
Bersambung