
Di ruang BK tinggal Karina, Andy dan Andreas.
“Andreas, cepat kamu pergi ke ruang UKS untuk mengambil kotak P3K. Kemudian minta air hangat ke kantin,” perintah Karina terburu-buru, mengambil alih rangkulan Andreas, membawa Andy duduk ke bangku tamu.
Andreas melepaskan rangkulan tangannya, berlari menuju ruang UKS kemudian ke kantin.
“Ibu jangan cemas, aku baik-baik saja,” ucap Andy lirih, memikirkan perasaan Karina.
Karina tidak menjawab, ia memandang wajah lirih Andy tersembunyi di balik senyuman palsunya. Perlahan cairan bening menggenang di kedua matanya, dan mengalir begitu saja. Membuat Andy segera menghapus air mata di kedua pipi Karina.
“Sudah aku katakan, aku baik-baik saja. Kenapa ibu masih mengeluarkan air mata seperti ini hanya untuk anak berandalan seperti aku?”
Karina tidak menjawab, ia lebih memilih memeluk Andy dengan erat daripada menjawab pertanyaan Andy.
‘Saya semakin yakin jika kamu memang lebih pantas mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari saya. Kamu adalah anak baik, Andy. Orang-orang saja yang tidak bisa menilai kebaikanmu tersimpan di dalam dirimu. Kamu harus dan pantas untuk mendapatkan kebahagian,’ batin Karina semakin mengeratkan pelukannya.
Andreas baru saja tiba mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Lebih memilih untuk memberikan waktu berduaan untuk Karina dan Andy. Agar Andy bisa merasakan damai dan tenang saat mendapatkan pelukan hangat dari Karina.
10 menit menunggu di luar. Melihat Karina dan Andy saling melepaskan pelukannya, Andreas masuk membawa kotak P3K dan air hangat.
“Ini bu,” ucap Andreas setelah ia berdiri di samping bangku Karina.
“Terima kasih ya, Andreas,” ucap Karina sambil mengambil kotak P3K dan gelas berisi air hangat dari tangan Andreas.
Andreas duduk di bangku single sisi kiri Andy, dan terus menatap wajah kesakitan Andy.
'Kasihannya aku nengok kau ini,' batin Andreas.
Karina mengambil sapu tangan dari saku seragamnya, menatap wajah kesakitan Andy.
“Kamu minum dulu air hangat ini, lalu sisanya akan saya buat untuk mengompres kedua pipi kamu. Dan untuk perut, kamu bisa melakukannya sendiri di rumah nanti,” ucap Karina mengulurkan gelas berisi air hangat.
Andy mengambil gelas berisi air hangat dan meminumnya sampai habis, lalu meletakkan gelasnya ke meja.
“Loh, kenapa kamu tenggak habis semua airnya?” tanya Karina bingung.
“Terima kasih atas kebaikan ibu. Tapi, ibu tidak perlu merepotkan diri sendiri untuk mengobati sakit yang aku dapat dari orang lain,” sahut Andy tak lupa mengucapkan terima kasih. “Nanti malam aku akan menjemput ibu di rumah pria tua itu. Dan ibu harus terus menepati janji selama masih belum berangkat untuk menggapai cita-cita ibu,” tambah Andy mengingatkan Karina akan janji mereka.
“Saya sudah tidak mengajar guru les private lagi,” ucap Karina memberitahu Andy.
“Kenapa?” tanya Andy penasaran.
“Karena saya ingin fokus belajar untuk bekal masuk kuliah nantinya,” sahut Karina sedikit berbohong.
Padahal setelah itu Karina di kasih pilihan dari orang tua murid itu. Masih mau mengajar sebagai guru les private dengan cara menjauh dari Andy, atau memilih Andy dan berhenti menjadi guru les private untuk anaknya.
Mendapat 2 pilihan seperti itu, tentu saja Karina lebih memilih untuk bersama dengan Andy. Karena bagi Karina, Andy lebih memerlukan dirinya daripada orang lain.
“Syukurlah, kalau gitu aku bisa tenang tanpa memikirkan ibu harus mengajar di rumah pria tua itu,” Andy membungkukkan sedikit tubuhnya. “Aku permisi, terima kasih atas kebaikan ibu,” lanjut Andy mengucapkan terima kasih sekali lagi. Kemudian beranjak pergi bersama dengan Andreas.
Karina hanya diam, meremas sapu tangan miliknya sambil menatap kepergian Andy dan Andreas.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, baru 30 menit masuk ke dalam kelas lonceng tanda pelajaran telah usai berdering begitu nyaring membuat semua murid berhamburan keluar, memenuhi parkiran dan halaman sekolah.
Seperti biasa, Andy dan Andreas selalu pulang belakangan karena mereka malas berdesak-desakan keluar dari gerbang sekolah.
Andy dan Andreas menyandarkan tubuh mereka di tembok kelas.
“Ya, gara-gara kejadian buruk hari ini aku jadi tidak bisa melihat wanita yang kau sukai,” celetuk Andy merasa tidak enak.
“Tidak masalah. Lagian hari ini kakak itu sedang sakit, dan beristirahat di rumah,” sahut Andreas lirih.
“Kenapa tidak kita jenguk saja ke rumahnya!” usul Andy tiba-tiba mengejutkan Andreas.
“Gila ku rasa kau ya! Mana mungkin aku tiba-tiba menjenguknya tanpa ada pendekatan lebih dalam,” tolak Andreas.
“Siapa bilang. Justru ada kesempatan seperti ini lah harus di manfaatkan. Wajah dan tubuh aja yang kekar. Tapi otak kau bodoh juga!” umpat Andy sambil menoyor kepala Andreas.
“Bising kali muncung kau itu. Lebih baik kita pulang, obati seluruh tubuh kau itu!” omel Andreas sembari menggenggam pergelangan tangan Andy, menariknya menuju parkiran sepeda motor mereka.
“Lepaskan aku boda*t! Kau tarek-tarek pula aku di depan umum. Macam anak perawan aja kau buat aku,” protes Andy menghempaskan genggaman tangan Andreas setelah sampai di samping sepeda motor mereka.
“Lah, kan kau memang anak perawan,” cetus Andreas dengan segaris senyum di wajahnya.
“Diam napa muncung kau itu. Di pikiran orang pula nanti kita ini homdok,” bisik Andy, sorot matanya menatap sekeliling murid di parkiran sedang menatap mereka.
“Apa itu homdok?” tanya Andreas sambil memakai helem sport miliknya.
“Hom*o bodoh! Gitu aja pun kau nggak tahu!” sahut Andy berbisik sembari naik ke atas sepeda motor miliknya.
“Kok ketawa kau?” protes Andy.
“Banyak tanya kau. Cepat naik, kau harus segera pulang karena aku mau mengobati bekas pukulan di bagian perutmu itu sebelum darahnya membeku!” ucap Andreas menakut-nakuti Andy.
“Jangan bercanda kau. Kalau darahku beku, entar aku nggak bisa jalan sama bu Karina!”
“Makanya, mulutmu jangan banyak bicara lagi. Ayo pulang!” desak Andreas sambil menggeber sepeda motornya, mengarahkan asap knalpotnya ke wajah Andy sehingga Andy dengan cepat menutup kaca helmnya dan terbatuk-batuk.
“Nggak ada ota*k kau bangsa*t!” umpat Andy mengibas asap memenuhi sekitar helmnya.
Bukannya berhenti setelah puas mengerjai Andy, Andreas malah sengaja memukul helm sport Andy, kemudian melajukan sepeda motornya menuju gerbang sekolah. Andy kesal segera mengejar Andreas.
Sementara itu, Karina melihat perdebatan kecil mereka tersenyum. Merasa sedikit lega karena Andreas selalu menghibur dan ada untuk Andy.
.
.
Sesampainya di depan gerbang rumah Andy.
“Kenapa nggak masuk?” tanya Andreas ikut menghentikan sepeda motornya di samping Andy.
“Kau lihat mobil siapa di depan teras rumahku,” sahut Andy, pandangan mengarah ke mobil fortune terparkir tepat di depan teras rumahnya.
__ADS_1
“Bukannya itu mobil Om Khandar, Papa kau!”
“Iya, justru karena dia ada di rumah yang membuat aku tidak ingin masuk.”
“Jadi kau mau kemana nih?” tanya Andreas penasaran.
“Ke rumah kau ajalah. Aku mau menenangkan pikiran dan hatiku dulu di sana sampai sore,” sahut Andy menghidupkan sepeda motor miliknya, dan perlahan membelokkan stang sepeda motornya.
“Yakin kau? Nggak lebih bagus masuk aja. Entar kalau kau nggak pulang kau kenak pukulan lagi,” tanya Andreas menyakinkan.
“Yakin aku. Sudah, cepatlah!” sahut Andy sedikit mendesak.
Dengan terpaksa Andreas menuruti permintaan Andy, pergi menuju rumahnya.
1 jam kemudian.
Sepeda motor Andreas dan Andy telah terparkir di halaman rumah Andreas. Dengan ragu-ragu Andreas turun dari sepeda motor miliknya, kedua kakinya berlari kecil mendekati garasi mobil. Kemudian berlari kembali mendekati Andy.
“Kenapa kau ke sana?” tanya Andy setelah berdiri di samping sepeda motor miliknya.
“Mama ku ternyata ada di rumah juga,” sahut Andreas sedikit menghela nafas.
“Mama kau, kan baik. Jadi, masuk ajalah kita,” cetus Andy tangannya menggenggam pergelangan tangan Andreas, menariknya masuk ke dalam rumah.
Langkah kaki Andy dan Andreas terhenti di ruang tamu. Andreas dan Andy serentak menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang tamu, kedua bola mata mereka membulat sempurna secara serentak saat melihat benda pelipur lara berbentuk segitiga tipis menggantung di lampu hias ruang tamu.
“Aku baru tau kalau kain bisa terbang setinggi itu,” gumam Andy dengan sorot mata masih memandang pelipur lara dari bahan kain renda.
“Baru tahu kau, kan. Nah, di sana ada lagi!” tunjuk Andreas ke kacamata tergantung di guci hias setinggi 5 meter.
“Oooh! Pasti hot banget!” gumam Andy mengangguk.
Tak lama keluarlah Mimi dari kamar bertulisan "tempat Yoga".
“Andreas, Andy!” sapa Mimi dengan memakai baju handuk dan wajah berselimut masker alpukat.
“Siang tante,” sahut Andy menyapa. Tangannya mengarah ke wajahnya sendiri. “Tante maskeran, ya?” tambah Andy berbasa-basi.
“Oh, iya! Biar tetap cantik dan awet muda,” sahut Mimi.
“Kami ke atas dulu, Ma,” pamit Andreas malas melihat Mimi.
“Kalian berdua belum makan, kan sayang? Kalau gitu Mama akan menyuruh bibi memasak untuk makan siang kita,” tanya Mimi menatap punggung Andy dan Andreas sudah mendekati anak tangga menuju kamarnya.
“Masak yang enak ya, tante!” teriak Andy sambil menolehkan wajahnya ke belakang. Namun, Andreas langsung membuat wajah Andy kembali menatap ke depan.
“SIAP SAYANG!” sahut Mimi.
.
.
__ADS_1
Bersambung