
30 menit berlalu, Karina dan Andy selesai makan dan membayar makanan mereka. Kini kedua kaki mereka perlahan melangkah menuju parkiran sepeda motor berjarak 20 meter dari lobi restaurant.
“Andy,” panggil Karina memecah keheningan.
“Hem!” sahut Andy singkat, kedua kaki terus melangkah dengan sorot mata masih memandang lurus ke jalan menuju parkiran.
“Apakah kamu benar-benar menyukai saya?” tanya Karina membuat langkah kaki Andy terhenti.
Dengan pandangan masih lurus ke depan, Andy menjawab. “Bukan hanya menyukai ibu—” Andy menggantung ucapannya dan membatin. “Aku juga sangat terobsesi dengan ibu. Andai aku bisa melakukan hal kejam, mungkin saat ini aku akan membuat ibu menjadi patung lilin manusia agar ibu tidak bisa kemana-mana dan hanya bisa berada di dekatku setiap detik dan menit.”
“Andy,” panggil Karina membuyarkan pikiran Andy.
“Oh! Lupakan saja, terpenting sekarang selama sisa waktu ibu berada di tanah air. Ibu adalah milikku, termasuk waktu yang ibu lalui!” lanjut Andy tegas.
Andy mempercepat langkah kakinya menuju parkiran sepeda motor. Karina terdiam dalam bingung, ia menatap punggung Andy telah begitu jauh dari redupnya jalan menuju parkiran sepeda motor.
Broom brromm!
Kasihan melihat Karina terus berjalan, Andy memutuskan menjemput Karina di tempatnya.
“Naiklah, bu!” pinta Andy, tangan kirinya memegang helm untuk Karina.
“Helm nya?” ucap Karina mengulurkan tangannya.
Andy menarik Karina mendekat padanya, kemudian memasangkan lembut helm bogo di kepala Karina.
Perbuatan lembut Andy benar-benar membuat Karina sejenak melupakan status dan umur di antara mereka berdua.
Tidak ingin terlarut dalam pikirannya, Karina memutuskan untuk naik, dan duduk di belakang dengan wajah tertunduk.
“Ibu mengantuk?” tanya Andy saat melihat Karina menunduk dari kaca spionnya.
“Tidak, saya hanya lelah saja,” sahut Karina berbohong, padahal saat ini ia sedang berusaha mengatur debaran di jantungnya.
Andy mengambil kedua tangan Karina, meletakkannya di perutnya. Perbuatan Andy sukses membuat ritme debaran jantung Karina 10 kali lebih cepat.
“Ke-kenapa kamu meletakkan kedua tangan saya di perut kamu?” tanya Karina spontan melepaskan kedua tangannya dari perut Andy.
“Karena aku tidak ingin ibu jatuh,” sahut Andy tenang, kedua tangannya kembali mengambil kedua tangan Karina dan meletakkannya di perut sixpack nya. “Jangan keras kepala kenapa sih, bu. Tinggal peluk aku aja susah kali!” lanjut Andy sedikit menekan nada suaranya.
“Tapi saya tidak terbiasa memeluk seorang pria saat berboncengan,” sahut Karina dengan nada pelan.
__ADS_1
“Kalau gitu, mulai hari ini ibu harus terbiasa memelukku. Ibu, kan calon pacarku. Jadi, ibu harus terbiasa dengan semua yang aku inginkan!” tegas Andy membuat Karina terkejut.
“Ca-calon pacar?”
“Iya, ibu adalah calon pacarku. Nggak suka? Kalau nggak suka mulai besok aku tidak akan mau lagi masuk sekolah. Aku akan kembali ke kehidupan malamku!” ancam Andy sengaja.
“I-iya, sa-saya calon pacar kamu!” sahut Karina takut dengan ancaman Andy.
“Nah, gitu dong. Kan jadi lebih mesra,” gumam Andy senang.
Karina mengangguk, menuruti keinginan Andy selagi itu tidak merugikan dirinya.
Andy perlahan melajukan sepeda motornya. Sepanjang perjalanan keluar dari Citraland, pikiran Andy terus terusik dengan kedua gunung kembar milik Karina terus menabrak punggungnya.
‘Gila! Kalau di ukur-ukur ternyata besar juga. Eh…pikiran apa ini? Anjin*g kau memang Andy. Bisa-bisanya kau berpikir mesum saat sedang berjalan berduaan dengan seorang wanita yang kau sukai. Sadar, sadar, kau harus sadar jika kedua gunung miliknya itu memang besar dan ke—. Akh! Kima*k lah pikiran ini. Lebih baik aku fokus mengemudi saja,’ perdebatan di dalam hati Andy.
Tanpa Andy sadari, Karina merasa lelah perlahan meletakkan wajahnya di punggung Andy, pegangan tangan Karina juga semakin erat, membuat Andy melirik ke belakang dari helm sport miliknya.
“Bu!” panggil Andy tapi Karina tidak menjawab, pegangan tangannya malah semakin erat.
Menyadari jika Karina telah tertidur, Andy memperlambat laju kendaraannya, sebelah tangannya memegang punggung Karina agar tidak terjatuh.
‘Ibu benar-benar telah mengusik kehidupanku. Dan bodohnya aku menerima dan melaksanakan semua yang ibu inginkan. Bu, saat ini perasaanku benar-benar bulat. Aku benar-bena menyukai ibu. Apa pun yang terjadi suatu hari nanti, jodoh atau tidaknya kita di tangan Allah. Maka, aku akan tetap membuat ibu menjadi jodohku. Ibu hanya milikku!’ batin Andy berjanji.
“Bu, bu Karina. Kita sudah sampai bu,” panggil Andy membangunkan Karina dengan lembut.
Karina terbangun, bola matanya membulat sempurna saat melihat baju milik Andy basah.
“Ma-maafkan saya, Andy. Gara-gara lelah saya sampai ketiduran dan meninggalkan iler di baju kamu!” maaf Karina setengah panik, kedua tangannya mengusap-usap baju Andy basah karena terkena iler.
Melihat wajah baru bangun tidur Karina panik, Andy hanya tertawa geli.
“Kamu tidak marah?” tanya Karina masih posisi duduk di belakang.
“Karena ibu adalah orang yang aku sukai, maka aku tidak akan membunuh ibu karena kesalahan kecil,” sahut Andy santai. Namun, Karina mendengarnya menjadi takut.
“Maaf, maaf Andy!” maaf Karina sekali lagi sambil menghembuskan baju basah Andy agar cepat kering.
Tidak ingin membuat Karina dilema dalam perbuatannya, Andy menggenggam tangan Karina untuk menghentikan perbuatannya.
“Gimana kalau maaf ibu diganti dengan sebuah ciuman. Aku ingin meminta ciuman dari ibu,” cetus Andy bercanda, jari telunjuknya memukul pelan bibirnya.
__ADS_1
Karina segera menarik tangannya dari genggaman tangan Andy.
“Enak aja!” protes Karina sembari turun dari sepeda motor.
“Kalau gitu, aku ingin meminta ganti rugi kepada ibu,” ucap Andy dengan seringai liciknya.
“Be-berapa duit yang harus saya keluarkan untuk mengganti baju kamu?” tanya Karina gugup.
“Oh, baju kaos ini aku beli di Paris waktu liburan semester tahun lalu. Baju ini juga hanya ada 10 di kota tersebut, dan harganya lebih besar dari gaji perbulan ibu,” sahut Andy menjelaskan dengan sombongnya.
“Apa? Ke-kenapa bisa kamu membeli baju semahal itu?” tanya Karina histeris.
“Uang bukanlah masalah besar bagi keluargaku,” sahut Andy santai.
Karina membuka helm bogo miliknya, perlahan berdiri lebih dekat dengan Andy, nanar kedua bola mata penuh curiga menatap wajah santai Andy.
“Jangan bilang kalau kamu saat ini menjadi simpanan tante-tante?” tuduh Karina dengan pikirannya.
“Memang benar, saat ini aku menjadi simpanan tante-tante yang tidak memiliki uang,” sahut Andy membenarkan.
“Astaghfirullah al-aldzim. Kenapa kamu belum berubah juga Andy. Saya jadi merasa gagal telah mendidik kamu!” gumam Karina dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Ibu tidak gagal kok. Karena tante-tante itu adalah ibu sendiri,” jelas Andy agar Karina merasa tenang.
Karina tercengang, bibirnya tidak bisa berkata apa pun lagi setelah berulang kali mendengar rayuan Andy.
Kesempatan emas melihat wajah tercengang Karina. Andy mengambil helm bogo dari tangan Karina, kemudian melayangkan ciuman di pipi Karina, lalu pamit pergi sekaligus melajukan sepeda motornya.
“Aku pulang, Assallamu’alaikum, bu!” teriak Andy sambil terus melajukan sepeda motornya.
Seperti biasa, Tina ternyata telah lama menguping dari balik pintu rumah. Melihat Karina masih terdiam seperti patung, Tina mendekat, menepuk bahu Karina.
“Benar dugaan ibu, Tama benar-benar menyukai kamu!” Tina memutar posisi berdiri Karina, membuat mereka saling berhadapan. “Sepertinya ciuman di pipi itu adalah ciuman pertama anak perawan ibu,” lanjut Tina menggoda putrinya.
“Ibu, apaan sih! Malu tahu.”
Merasa malu kepergok Tina, Karina segera melangkah cepat masuk ke dalam rumahnya, sambil memegang sebelah pipi bekas ciuman Andy.
.
.
__ADS_1
Bersambung