
Sejenak Karina terdiam dalam pertanyaan ibunya. Tina juga tidak ingin bertanya lebih detail lagi, kini ia fokus mengobati luka di punggung tangan Karina. Selesai sudah mengobati punggung tangan Karina, Tina ingin pergi. Namun, tertahan karena Karina ingin memberitahu ibunya.
“Bu, apakah salah bagi seorang guru BK mempertahankan seorang murid di sekolahnya, karena menurut guru tersebut anak ini adalah anak yang baik dan pintar. Hanya lingkungan sekeliling membuatnya terjebak di tempat yang salah dan membuatnya menjadi anak yang nakal. Apakah salah, bu?” tanya Karina.
“Tidak, semua keputusan itu ada di tangan kamu. Baik buruknya seorang murid itu hanya kamu yang dapat menilainya, karena itu memang tugas kamu. Tugas seorang guru BK yang harus membawa muridnya kembali ke jalan yang lurus. Jika memang murid tersebut tidak mau mengikuti arahan kamu setelah perjuangan kamu untuk membuatnya kembali ke jalan yang benar, berarti tugas kamu telah selesai, dan selebihnya serahkan kepada kedua orang tuanya,” sahut Tina.
“Sebisanya Karina akan membawa Andy kembali menuju jalan yang benar sampai ia lulus sekolah,” ucap Karina.
“Ibu yakin kamu bisa. Sudah larut malam, sekarang kamu harus beristirahat demi menjaga kesehatan agar tetap vit,” ucap Tina merasa kasihan melihat raut wajah Karina terlihat lelah.
“Iya, bu!” sahut Karina.
Karina beranjak dari duduknya untuk pergi tidur, Tina masih menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum tidur.
.
.
Di rumah Andy.
Andy berjalan lurus seolah tak melihat sang Papa dan wanitanya tengah duduk di sofa tempat mereka tadi sedang bermain gila. Merasa tidak sopan atas perlakuan Andy masuk tanpa mengucapkan salam, Khandar menegurnya.
“Mana ucapan salam kamu ketika masuk ke dalam rumah? Dan darimana saja kamu jam segini baru saja pulang?” Khandar menghujani Andy dengan pertanyaan itu-itu saja.
Andy menghentikan langkahnya, ia menoleh ke sang Papa, lalu ke wanita sedang bergelayut manja dengan jenjang leher dan bagian depan dada dipenuhi jejak merah, begitu juga dengan jenjang leher Khandar.
“Assalamualaikum, Pa! Dan…tante,” salam Andy, lanjut melangkah.
“Wa’alaikumsallam, sayang!” sahut wanita tersebut.
“Tumben kamu bisa bersikap sopan seperti itu? Apa otak kamu tadi mengalami cedera sehingga bisa bersikap sopan malam ini?” celetuk Khandar.
“Jika orang tua tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada anaknya, maka anaklah yang harus memberikan contoh baik kepada orang tuanya. Aku lelah, aku ingin beristirahat,” sahut Andy sekaligus berpamitan.
__ADS_1
Baru satu kali melangkah, Andy tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, menoleh ke sang wanita.
“Oh ya, aku hanya ingin memperingatkan tante. Hati-hati dengan penyakit HIV. Aku pamit tante, selamat bersenang-senang dengan Papa,” tambah Andy mengejutkan Khandar dan wanita tersebut.
Sang wanita bergidik ngeri mendengarnya. Ia spontan duduk menjauh dari Khandar, lalu menatap sinis ke wajah panik Khandar.
“A-apa Om sedang sakit?” tuduh wanita tersebut ambigu.
Khandar mengerti maksud dari pertanyaan wanita tadi langsung melirik tajam. Pandangannya juga tertuju pada bagian inti sang wanita.
“Kurang ajar kamu! Jangan-jangan kamu yang membawa penyakit menular itu. Benar juga kata Andy, kalau seperti ini ceritanya besok aku akan mengecek kesahatanku sebelum penyakit kalian menular kepadaku!” cetus Khandar tak ingin di tuduh.
Tersinggung dengan ucapan Khandar, wanita tersebut pergi meninggalkan Khandar, tak lupa meminta bayarannya karena tugasnya telah selesai.
Malam panjang dan lelah telah berganti pagi. Pagi cerah tak seperti biasanya.
Pagi ini di ruang makan telah tersaji beberapa menu sarapan, di kursi utama telah duduk Khandar sembari menunggu Andy turun dari kamarnya. 5 menit menunggu akhirnya Andy turun dari kamarnya.
“Du..du…du..du..!” gumam Andy melantunkan melodi sembari terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun ke seluruh ruangan dilewatinya.
“ANDY!” panggil Khandar berteriak kuat sehingga suaranya menggema di dalam rumah.
Andy menghentikan langkahnya, menoleh ke asal suara berada di ruang makan. Mengingat ucapan Karina untuk bersikap sopan dan patuh kepada orang tua, Andy memutuskan untuk mengunjungi Khandar.
“Iya, ada apa Pa?” tanya Andy berdiri di samping Khandar.
“Papa dari tadi sudah menunggumu. Cepat duduk dan makanlah bersama,” sahut Khandar tangannya mengulur ke kursi di sisi kanannya.
Andy mengernyitkan dahinya. Selama 16 tahun hidup bersama, baru kali ini ia melihat sang Papa bersikap baik kepadanya. Seolah memiliki maksud tertentu, Andy mulai mengajukan pertanyaan.
“Tidak perlu berbasa-basi. Katakan saja apa tujuan Papa pagi ini?” tanya Andy tepat sasaran.
“Hahaha, ternyata kamu sudah hafal maksud tujuan Papa. Begini, Papa ingin menikah sirih dengan seorang wanita berasal dari negeri Jiran. Wanita ini adalah seorang gadis cantik yang membutuhkan uang karena kedua orang tuanya terlilit hutang. Gimana menurut kamu. Apa kamu menyetujuinya, jika Papa menikah sirih dengan wanita itu?” sahut Khandar menjelaskan tujuannya.
__ADS_1
“Terserah Papa, aku tidak perduli apa yang Papa lakukan di luar sana. Tapi, satu syarat dariku. Berikan aku satu Perusahaan baru dan satu rumah mewah beserta asetnya atas namaku. Tak lupa, Papa juga harus menambah uang bulananku. Setelah itu Papa bebas melakukan hal apa pun di luar sana,” sahut Andy memberikan syarat.
“Jadi kamu merestui Papa untuk menikah sirih?” tanya Khandar senang.
“Papa penuhi dulu keinginanku, baru Papa bebas melakukan hal apa pun. Mau menikah lagi, atau mau kumpul kebo tidak masalah bagiku,” sahut Andy serius.
“Ba-baik, Papa akan melihat-lihat Perusahaan mana yang cocok untuk kamu. Lagian, sebentar lagi kamu juga akan tamat sekolah dan sudah pasti akan memimpin Perusahaan sendiri,” ucap Khandar terdengar senang.
Andy melirik ke menu makanan terlihat begitu menggoda tersaji di atas meja. Ia segera memanggil bibi untuk membungkus rapih makanan tersebut dan membawanya ke sekolah untuk diberikan ke Karina.
Pagi ini Andy datang lebih cepat dari sebelumnya. Ia terus menunggu dan menunggu Karina di depan ruang BK. Walau beberapa guru memandang rendah Andy, Andy tetap menyapa guru-guru lewat di hadapannya.
20 menit menunggu, akhirnya Karina terlihat memasuki halaman sekolah dan memarkirkan sepeda motor maticnya di parkiran sekolah.
“Pagi bu Karina,” sapa Andy membungkukkan sedikit tubuhnya, kedua tangan memegang kotak bekal ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
“Pagi, ka-kamu tumben datang cepat?” tanya Karina menghentikan langkah di samping kiri Andy.
Andy melirik ke punggung tangan Karina di tutup hansaplast. Agar tidak terlalu kikuk untuk memberikan kotak bekal berisi sarapan kepada Karina. Rencana kecil muncul dengan alasan meminta maaf atas kejadian tadi malam.
“Be-begini bu. A-aku ingin minta maaf atas kejadian tadi malam,” sahut Andy gugup, kedua tangannya mengulurkan kotak makanan kehadapan Karina. “A-aku mohon terima kotak bekal ini sebagai permintaan maafku,” lanjut Andy.
Senyum singkat terukir di wajah Karina, tanpa penolakan, Karina mengambil kotak bekal pemberian Andy.
“Terima kasih. Karena saya juga membawa kotak bekal sarapan. Gimana makanan pemberian kamu, saya makan saat jam istirahat saja. Kamu tidak marah, kan?”
“Ti-tidak! A-aku pergi du-dulu!”
Saking gugupnya Andy berlari lurus melewati halaman sekolah mereka. Untuk segera sampai ke kelasnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung