
Di rumah sakit ruangan VIP.
Di dalam ruangan tersebut telah berdiri Khandar, Karina, dan Andreas menatap Andy belum sadarkan diri tergeletak di atas ranjang rawat inap dengan bagian tangan kanan di balut perban tebal.
Karina duduk di samping ranjang Andy, terus menatap wajah lebam dan selang oksigen terpasang pada hidungnya.
Khandar mendekati Andreas, mengajaknya sedikit menjauh dari Karina.
“Kenapa kamu menyuruh aku untuk datang ke rumah sakit ini?” tanya Khandar sinis.
“Karena Om adalah satu-satunya orang tua yang di miliki Andy,” sahut Andreas.
“Oh! Berarti sudah tidak ada hal lagi yang harus aku lihat di sini, kan?” tanya Khandar kembali.
“Ada, aku ingin Om menunggu Andy sampai sadar,” pinta Andreas serius.
“Aku sudah melihatnya, dan aku tidak peduli dengan kondisinya,” sahut Khandar membuat Andreas terkejut.
“Nggak nyangka aku. Tega Om berkata seperti itu!” cetus Andreas merendahkan nada suaranya, tak ingin Karina mendengarkan perdebatan mereka berdua.
“Jika di dunia ini semuanya bisa di urus, dikendalikan, dan di obati oleh uang. Buat apa aku turun tangan untuk melihatnya. Tugasku hanya membayar biaya pengobatan, ku rasa itu lebih dari cukup. Kalau kalian mau menunggu sampai Andy sadar, maka tunggulah. Tapi, jangan suruh aku untuk menunggunya!” tegas Khandar.
Andreas terdiam, benar-benar tidak habis pikir melihat sikap Khandar tak pernah berubah dari dulu.
Khandar mendekati Karina, berpamitan dengan sejuta senyum palsunya kepada Karina. Kemudian Khandar melangkah pergi meninggalkan ruang rawat inap Andy.
Andreas hanya menatap kepergian Khandar terlihat begitu angkuh. Hal itu benar-benar membuat Andreas ingin menghajar semua orang saat ini juga.
Melihat pintu ruangan telah tertutup dan Khandar telah hilang dari balik pintu ruangan. Karina mendekati Andreas, menepuk bahu gemetar seperti menahan emosi memuncak di dalam dirinya.
“Saya harap kamu bisa terus menjadi sahabat sekaligus keluarga untuk Andy,” pesan Karina seolah tadi ia mendengar percakapan mereka.
“Maaf, aku tidak pantas di anggap sebagai keluarga untuk Andy. Karena aku bukanlah manusia yang suci. Sebaiknya, Ibu saja yang menjadi keluarganya,” sahut Andreas sekaligus memberi mengusulkan.
“Sebaiknya kamu pulanglah, biar saya yang menjaga Andy di sini.”
__ADS_1
“Tidak usah, sebaiknya ibu saja yang pulang. Biar aku yang menemani Andy di rumah sakit ini,” tolak Andreas.
“Besok kamu harus sekolah, kamu sudah kelas tiga dan sebentar lagi akan mendekati ujian kelulusan. Sebaiknya kamu saja yang pulang, beristirahat yang cukup. Jangan lupa catat semua pelajaran dari guru agar bisa kamu bagi ke Andy jika Andy telah sadar dan bisa kembali bersekolah,” ucap Karina sedikit memaksa.
“Baiklah. Aku titip Andy. Jaga Andy dengan baik ya, bu? Sampai jumpa besok siang setelah pulang sekolah,” pamit Andreas akhirnya menuruti ucapan Karina.
“Iya, kamu hati-hati di jalan. Ingat! Bawa kereta jangan kencang-kencang, entar Andy belum sembuh. Eh, sudah masuk kamu. Saya jadi repot nantinya,” pesan Karina di sela candaan.
“Tenang saja, aku tidak akan membuat ibu kuatir,” sahut Andreas serius.
Setelah pamit sekali lagi kepada Karina dan Andy belum sadarkan diri. Andreas pulang dengan wajah lusuh pergi meninggalkan ruangan rawat inap Andy.
Menyadari ini sudah sangat larut, dan Karina tidak akan pulang ke rumah untuk malam ini karena harus menjaga Andy. Karina memutuskan untuk keluar ruangan, menelepon kedua orang tuanya, memberitahu kalau malam ini tidak pulang karena harus menunggu Andy sampai sadar.
Selesai sudah memberitahu kedua orang tuanya untuk tidak pulang malam ini. Karina kini kembali ke ruangan Andy. Begitu sampai di ruangan rawat inap Karina dikejutkan oleh Andy telah berdiri di samping ranjang rawat inap sembari melepaskan selang infus dan alat bantu oksigen.
“Kamu kenapa melepaskan ini semua?” tanya Karina cemas sembari melangkah cepat mendekati Andy.
“Aku tidak suka di rawat di rumah sakit. Lebih baik aku pulang, dan beristirahat di apartemen milikku!” sahut Andy lirih.
“Jika di rumah sakit bisa menyembuhkan orang yang sakit. Kenapa saat itu Mama tidak bisa di selamatkan? Kenapa Mama harus meninggal dunia?!” tanya Andy membuat Karina tidak bisa menjawab.
Dengan langkah tertarih dan pandangan masih sedikit buram, Andy memaksakan dirinya untuk berjalan. Namun, Karina segera menahan pergelangan tangannya.
“Apa kamu serius tidak ingin di rawat di rumah sakit?” tanya Karina memastikan.
“Iya!”
“Baiklah, saya harus menelepon Pak Khandar untuk meminta izin terlebih dahulu,” ucap Karina.
“Percuma saja ibu menelepon Papa,” cetus Andy.
Karina tidak memperdulikan ucapan Andy. Ia mengambil ponsel miliknya, menelepon nomor Kandar.
📲 [“Assalamualaikum, Pak Khandar.”] sapa salam Karina setelah Khandar mengangkat panggilan teleponnya.
__ADS_1
📲 [“Wa’alaikumsallam. Ada apa bu Karina. Apakah Andy sudah bangun?”] tanya Khandar berbasa-basi.
📲 [“Sudah. Tapi…Andy ingin meminta pulang. Dia tidak ingin di rawat di sini, Pak.”] sahut Karina memberitahu.
📲 [“Biarkan saja. Jika Andy mau pulang biar aku telepon pihak rumah sakit dan membayar semua perwatan dan kamar Andy. Aku juga akan mentrasfer uang buat Andy melakukan perawatan sendiri saat tidak di rumah sakit.”] ucap Khandar tenang.
Karina terkejut bukan main, ia melirik ke wajah pucat Andy. Kemudian bibirnya tidak lagi bisa berkata apa pun kecuali hanya ‘Baiklah Pak’. Setelah itu Karina mematikan sambungan teleponnya.
Sudah selesai membayar biaya ini dan itu, Karina memutuskan untuk mengantarkan Andy ke apartemen milik Andy.
1 jam berkendara Karina sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, begitu pula dengan Andy. Andy lebih memilih untuk beristirahat karena seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.
Sampailah sudah mobil Karina di parkiran apartemen. Karina membantu Andy berjalan menuju lift, dan menuju kamar miliknya.
Sesampainya di kamar apartemen milik Andy.
“Apa kamu yakin dengan pilihan kamu untuk tidak di rawat di rumah sakit?” tanya Karina memastikan kembali.
“Yakin. Yang aku butuhkan saat ini adalah..” ucapan Andy menganggantung, tangannya menepuk ranjang kosong di sisi kirinya. “Maaf jika aku lancang. Tapi, izinkan aku meminta ibu untuk tidur di sebelahku agar aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasakan denyut di seluruh tubuhku,” lanjut Andy menyebutkan permintaanya.
“Sebaiknya saya tidur di sofa panjang ini saja,” tolak Karina menunjuk ke sofa panjang.
“Apakah karena aku bau makannya ibu tidak ingin tidur di sebelahku? Padahal aku hanya ingin di temani saja,” gumam Andy lirih. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut membelakangi Karina.
“Bukan. Saya hanya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak kamu malam ini. Sebaiknya kamu tidurlah, karena saya juga akan segera tidur,” sahut Karina.
“Aku tidak akan tidur jika Ibu tidak tidur di sebelahku!” tegas Andy mengancam.
Tidak ingin melihat Andy terus bergerak dan memberontak dengan kondisi tubuh lemah. Karina memutuskan untuk berjalan mendekati ranjang, dan merebahkan perlahan tubuhnya di sana.
.
.
Bersambung
__ADS_1