
Keesokan paginya.
Kring kring!
Suara lonceng tanda pelajaran pertama akan segera di mulai. Karina terus berdiri di depan ruang bk, menunggu Andy tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
“Kemana Andy. Apakah dia jatuh sakit setelah kejadian kemarin?” gumam Karina bertanya sendiri.
Lelah menunggu Karina berinisiatif untuk masuk ke dalam ruangannya. Namun, suara gahar sepeda motor sport Andy berhenti di luar gerbang sekolah mengharuskan Karina memutar arah tubuhnya. Karina melangkahkan kedua kakinya mendekati gerbang sekolah, berdiri tepat di samping pak satpam.
“Kenapa terlambat Andy?” tanya Karina dari dalam gerbang.
Andy tidak menjawab, ia mengeluarkan sebungkus rokok bermerk dari dalam saku celana sekolahnya, mengulurkan bungkusan rokok tersebut melewati celah gerbang sekolah.
“Aku tahu mulut bapak pasti asam. Sekarang aku ingin berbagi rokok ini dengan bapak,” ucap Andy berusaha merayu agar pak satpam membuka pintu gerbang untuknya dan Andreas.
“Maaf, saya tidak bisa di sogok,” tolak pak satpam malu-malu karena ada Karina di sebelahnya.
“Alah, biasanya juga bapak terima pemberian ku!” cetus Andy kembali mengulurkan bungkus rokok bermerk lebih dalam lagi hingga tubuhnya menempel ke gerbang.
“Bu guru bk yang cantik, baik hati, dan penyayang. Tolong bujuk pak satpam untuk membuka pintu gerbang sekolah ini untuk kami. Kalau seperti ini ceritanya, mana mungkin kami berdua bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Entar kalau nilai ujian akhir kami buruk, ibu memarahi kami. Padahal ibu lihat sendiri siapa yang tidak mengizinkan kami masuk!” celetuk Andreas memohon dengan wajah memelas nya.
Karina melirik ke pak satpam, memberi kode setelah menjanjikan akan menghukum Andreas dan Andy setelah mereka masuk ke dalam.
Pak satpam membuka pintu gerbangnya karena Karina telah berjanji akan menghukum Andy dan Andreas setelah masuk.
Karina menyuruh Andy dan Andreas mendorong sepeda motor sport mereka masuk ke dalam gerbang. Meletakkannya di parkiran sepeda motor, lalu segera memenuhi hukuman dari Karina.
Hukuman kecil mengelilingi lapangan sekolah sebanyak 20 kali dengan jalan berjongkok, kedua tangan diletakkan di belakang kepala.
“Gara-gara kau ini, aku jadinya terlambat bangun!” tuduh Andy kepada Andreas.
“Jangan gitulah ketua. Eh, maksudnya bro! bukannya wanita tadi malam sangat memuaskan? Meski tama kecil tidak masuk ke dalam gua, tapi kau bertahan sampai jam 3 pagi di dalam kamar dengan wanita itu. Sampai-sampai wanita itu berjalan dengan susah payah. Cobalah, kau apakan wanita itu?” elak Andreas tidak mau di salahkan.
“Wajib itu. Aku sudah mengeluarkan uang jajanku demi membayar wanita pelacur itu. Ah! Sialnya aku yang masih menyandang status anak sekolah SMA sudah mengetahui bentuk, dan nikmatnya!" celetuk Andy menggelengkan kepalanya.
"Tentang gaya jalan gadis itu terlihat susah. Tentu saja aku bermain dengan alat, sebab ku lihat miliknya juga basah!” tambah Andy lagi.
“Gila loh bro! Hem, itulah enaknya jadi anak orang kaya. Minta ini dan itu tidak selalu di tanya, karena kedua orang tua kita sok sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing!”
“Bacot! Diamlah kau mulut tidak berbobot,” maki Andy sembari masih terus berjalan jongkok mengelilingi lapangan sekolah.
__ADS_1
Karina terus memantau Andy dan Andreas dari depan ruang bk. Melihat pelipis Andy tertutup perban, dan beberapa bagian lengan di tempel hansaplast, Karina mulai merasa kasihan, berpikir jika bekas luka akibat menolongnya tadi malam pasti masih terasa sakit. Ia pun menghentikan hukuman tersebut.
“ANDY! ANDREAS! KALIAN BOLEH BERHENTI, DATANGLAH SEGERA KE RUANGAN SAYA!” teriak Karina menyudahi hukumannya.
Karina masuk ke dalam ruangannya, duduk di kursi kerjanya menunggu kedatangan Andy dan Andreas.
Tok tok!
“Ada apa, bu?” tanya Andreas setelah sampai di depan pintu ruang bk.
“Silahkan duduk, saya ingin berbicara sebentar,” sahut Karina mengarahkan tangannya ke bangku tamu.
Andy dan Andreas sikut-sikutan, menyuruh satu sama lain untuk masuk duluan ke dalam. Hingga akhirnya Karina menggebrak meja, lalu memerintahkan Andy dan Andreas untuk masuk dengan nada suara lembutnya.
Ingin duduk saja pun Andy dan Andreas masih bisa dorong-dorongan, membuat Karina kembali melakukan hal ekstrem, sebuah penghapus kayu terbang melewati kepala Andy dan Andreas.
“Buset! Hampir aja cok!” gumam Andreas mengelus dadanya.
Andy hanya melirik tajam ke Karina.
“Apa kalian berdua sudah bisa tenang?” tanya Karina.
“Langsung saja ke intinya. Katakan apa yang ingin ibu inginkan dari kami?” Andy balik bertanya dengan wajah datarnya.
“Oh, tentu saja tadi malam kami melakukan hal mesum dengan para wanita!” sahut Andreas dengan mulut embernya.
Plak!
Andy memukul puncak kepala Andreas, lalu memarahinya.
“Eh, bebek! Bisa nggak mulut kau itu nggak usah terlalu berkicau!” bisik Andy menekan nada suaranya.
“Maaf! Habisnya aku masih merasa senang karena perkumpulan geng motor kita tadi malam,” sahut Andreas penuh penyesalan.
Dari kursi Karina masih diam, menajamkan kedua telinganya berharap bisa mendengar percakapan Andy dan Andreas.
‘Apa yang sedang mereka bicarakan. Jangan bilang Andy dan Andreas ini telah menempuh jalan remajanya yang salah?’ gumam Karina dalam hatinya, mendengar samar-samar Andreas mengatakan wanita pelacur tadi malam.
Tidak ingin tenggelam dalam pikirannya, Karina kembali menatap Andy dan Andreas masih saling berbisik satu sama lain.
“Andy, Andreas!” panggilan Karina kembali.
__ADS_1
“Iya bu! Iya bu guru dugong!” sahut Andreas dan Andy bersamaan mengarahkan pandangannya ke Karina.
“Sudahlah, kalian boleh masuk ke kelas sekarang!” ucap Karina memutuskan untuk berhenti bertanya dan membiarkan Andy dan Andreas masuk ke kelas mereka.
“Gitu dong!” celetuk Andy sembari berdiri dari tempat duduknya diikuti Andreas.
Baru saja melangkah ingin keluar ruangan, Karina menahan tangan Andy, membiarkan Andreas berjalan terlebih dahulu.
“Ada apa lagi sih, bu?” tanya Andy mencoba sabar.
“Saat jam istirahat nanti, kamu harus kembali ke sini, ada yang ingin saya tanyakan,” sahut Karina menjelaskan.
“Hem, sudah boleh masuk nggak nih?” tanya Andy.
“Iya, masuklah!” sahut Karina melepaskan tangannya.
Andy pun melangkah pergi menyusul Andreas sudah lebih dulu masuk ke kelas. Karina menyibukkan dirinya dengan beberapa pekerjaannya. Namun, ada satu hal terus mengganjal pikirannya. Tentang percakapan aneh Andy dan Andreas. Karina juga tadi sempat melihat sekilas ke jenjang leher bagian Andreas terdapat banyak bekas jejak memerah.
“Kalau memang Andy dan Andreas sudah melakukan hal dewasa seperti itu. Saya menjadi takut kalau mereka akan tertular hiv, dan itu sudah pasti merusak masa depan mereka berdua. Bagaimana caranya ya, agar Andy mau jujur dengan keseharian mereka lakukan pada malam hari?” gumam Karina memikirkan bagaimana caranya membuat Andy dan Andreas berhenti menjadi pemuda berandalan.
.
.
Sementara itu di dalam ruang kelas Andy dan Andreas.
“Andy, kenapa pelipis kamu terluka?” tanya salah satu murid wanita.
“Apa kamu berkelahi lagi?” tanya murid lainnya.
“Kasihan banget wajah tampan itu rusak karena ulah orang lain,” sambung murid lainnya.
“Iya, memang brengse*k sekumpulan pemuda itu!” tanpa rasa segan Andy menyandarkan kepalanya di lengan salah satu murid berdiri di samping kursinya. “Karena aku sedang sakit seperti ini. Apakah kalian semua akan mentraktirku untuk makan siang? Soalnya uang jajanku sudah hampir habis untuk melakukan perawatan,” tambah Andy berpura-pura manja.
Andreas sendiri menepuk dahinya sembari menggeleng.
‘Dasar pemuda berandalan yang licik dan nakal. Untung tampan, kalau buluk seperti kera di hutan. Aku rasa ketua akan di lempari jeruk asam,’ gumam Andreas dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
Bersambung