
Ketika baru saja mendirikan Perusahaan baru, tidak ada kata untuk beristirahat atau pun bersenang-senang setelah tamat sekolah. Itulah konsep, kunci kesuksesan dari pemikiran Khandar. Tapi, ketika kamu sudah sukses pada titik tertinggi. Maka kamu boleh menikmati semua hasil kerja kerasmu.
Setelah selesai makan siang. Seperti perkataan Khandar, ia membawa Andy menuju Perusahaan baru akan di pimpin oleh Andy.
1 jam berlalu, mobil di tumpangi Khandar dan Andy telah sampai di parkiran Perusahaan milik Andy. Hanya memakai baju stelan baju kaos oblong di dalam dan baju kemeja miliknya, Andy turun dari mobil bersama dengan Khandar. Kedua kaki mereka melangkah bersamaan mendekati 1 orang wanita berdiri di teras menunggu kedatangan Andy dan Khandar.
“Selamat siang menjelang sore, Pak!” sapa wanita itu sedikit membungkuk.
“Selamat siang, Haniffah,” sahut Khandar. Tangannya mengulur ke sisi kanan. “Perkenalkan, ini adalah putra saya, Andy Pratama. Bos muda kalian,” tambah Khandar memperkenalkan Andy. Kemudian Khandar memberitahu Andy tentang Haniffah. “Andy, Haniffah ini adalah sekretaris kamu.”
Haniffah mengangkat sedikit wajahnya, memberikan senyum manis kepada Andy. Namun, Andy membalasnya dengan wajah cuek.
“Sudah basa-basi nya?” tanya Andy ketus.
“Andy!” panggil Khandar menekan nada suaranya.
Seakan tak peduli dengan pelototan Khandar, Andy hanya mendengus, dan mulai melangkahkan kedua kakinya masuk terlebih dahulu ke dalam Perusahaan.
“Haniffah, ikuti Andy dan beritahu apa saja yang akan di kerjakannya di sini,” perintah Khandar.
“Baik Pak,” sahut Haniffah.
Kedua kakinya melangkah cepat mengikuti Andy dari belakang. Setelah langkahnya seirama dengan Andy. Haniffah mulai menjelaskan semua tentang Perusahaan akan di pimpin oleh Andy. Mulai dari letak, pabrik penyortiran bahan, lab, bahkan ruangan karyawan dan ruangan Andy.
Andy tidak menjawab atau pun bertanya. Andy hanya melirik ke semua tempat yang di jelaskan oleh Haniffah.
Sesampainya di lantai 3, tepat depan ruangan bertulisan “PRESDIR TAMA”, kedua kaki Andy terhenti. Dahinya mengernyit melihat nama itu adalah nama favoritnya, dan bahkan tidak semua orang tahu nama tentang itu.
“Siapa menulis nama ini di papan kayu dengan tulisan “PRESDIR TAMA”?” tanya Andy penasaran.
“Pak Khandar yang membuat nama itu di papan kayu, Bos!” sahut Haniffah memberitahu.
“Oh!” ucap Andy seolah tak ingin mengetahui alasan Khandar memberi nama itu di daun pintu ruangannya.
“Apakah ada tempat lain yang ingin bos kunjungi?” tanya Haniffah menawarkan.
“Tidak ada. Aku ingin kembali turun, dan melanjutkannya besok!” sahut Andy tegas.
“Baik, Bos!”
Andy melangkah menuju lift dan masuk, diikuti oleh Haniffah. Begitu pintu lift sampai di lantai dasar, Andy segera menghampiri Khandar sedang duduk santai di loby.
“Apa kamu suka dengan nama yang Papa buat?” tanya Khandar penasaran.
“Aku ingin pulang, dan kembali besok pagi!” ucap Andy tak menjawab pertanyaan Khandar. Seolah ingin balas dendam.
__ADS_1
Tak sakit hati karena pertanyaannya tidak di jawab. Khandar kembali berkata dengan nada sopan, tak seperti biasanya.
Mungkin efek di depan umum kali, ya?
“Papa memberikan nama itu karena pernah mendengar dari Andreas jika nama “TAMA” adalah nama favorit kamu,” ucap Khandar menjelaskan pertanyaannya tadi.
Andy hanya diam dengan wajah datar.
Khandar beranjak dari duduknya, berdiri berhadapan dengan Andy sembari merapihkan baju kemeja milik Andy.
“Andy, sekarang kamu adalah seorang bos sekaligus pemimpin Perusahaan. Mulai besok dan seterusnya, datanglah ke Perusahaan dengan memakai pakaian rapih. Jangan seperti ini, seperti preman pasaran.”
“Aku tidak suka memakai pakaian terlalu formal, Pa. Aku suka dengan gayaku yang tampil apa adanya. Kalau memang mau memakai pakaian formal, mungkin nanti saat aku sedang memimpin rapat dan menikah,” sahut Andy santai.
“Kamu ini memang keras kepala!” hela Khandar sambil melepaskan kedua tangannya dari pinggiran baju kemeja Andy.
“Aku sudah melihat seluruh tempat di sini. Apakah kita bisa pulang, karena aku sangat mengantuk dan ingin istirahat,” ucap Andy memberitahu.
“Tidak bisa. Kamu akan terus di sini sampai jam 4 sore nanti,” sahut Khandar tegas.
Sorot matanya mengarah pada Haniffah. “Haniffah, tolong beritahu pekerjaan apa saja yang akan Andy kerjakan, dan ajari Andy sesuai dengan permintaanku,” tegas Khandar memberitahu.
“Baik, Pa!” sahut Haniffah, sorot matanya mengarah pada Andy.
“Pa…”
Malas berdebat, Andy hanya memandang kepergian Khandar telah menjauh dari pandangannya.
“Bos, bos Tama,” panggil Haniffah melambaikan tangannya saat melihat Andy melamun.
Tak suka orang lain memanggil nama khususnya, Andy langsung menatap tajam dan berkata. “Berhentilah memanggilku dengan sebutan “TAMA”. Panggil aku dengan sebutan “Andy”, ingat itu!” tegas Andy memberitahu.
“Ma-maaf bos,” maaf Haniffah ketakutan.
Andy tidak menjawab, dengan wajah kesal kedua kakinya melangkah menuju pintu lift.
Sebagai Sekretaris, Haniffah ikutan berlari terburu-buru menuju lift.
“Bos, tunggu!” teriak Haniffah saat pintu lift Andy hendak tertutup.
Usaha pengejaran sia-sia, lift dinaiki Andy tertutup dan naik menuju lantai 3.
“Hosh, hosh!” lelah Haniffah membungkuk, tangannya menyeka kasar keringat di keningnya. “Bos Andy sangat dingin. Sedingin kulkas 20 ribu pintu, dan sekejam Raja Singa saat memangsa musuhnya,” lanjut Haniffah bergumam sendiri.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Haniffah segera masuk dan menuju ke lantai 3, ruang kerja milik Andy.
Tak sampai 5 menit, lift telah berhenti di lantai 3. Haniffah segera berlari kecil menuju ruang kerja Andy.
“Maaf, Bos!” ucap Haniffah terengah-engah setelah ia masuk ke dalam ruangan Andy.
“Kalau masih ingin jadi sekretaris ku, kau harus mengganti cara berpakaian dengan rok mini, baju ketat, dan sepatu tumit tinggi mu agar tidak kesusahan saat mengejar ku,” cetus Andy mulai memberi peraturan.
“Baik bos. Mulai besok saya akan mengganti cara berpakaian saya!” sahut Haniffah cepat.
“Tugas apa yang harus aku kerjakan hari ini?” tanya Andy sembari mendudukkan dirinya di kursi besar dan empuk.
“Tugas hari ini adalah saya akan mengajarkan bos untuk melihat data-data melalui komputer. Baik pengeluaran, pemasukan, dan biaya lain-lainnya,” sahut Haniffah telah berdiri di samping meja kerja Andy.
Tidak ingin bersentuhan dengan wanita lain selain Karina. Andy menggeser layar monitor dan keyboard miliknya mendekati Haniffah.
“Coba kamu jelaskan secara detail di sini,” ucap Andy menunjuk layar monitornya.
Haniffah sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu ia menghidupkan tombol power, kemudian membuka file dokumen sudah ia susun rapih di dalamnya.
“Ini bos. Table dan grafik dari Perusahaan kita ada di sini semua,” ucap Haniffah memberitahu sembari membuka satu persatu file dokumen.
Meski bersikap dingin dan cuek. Andy tetap memperhatikan semua penjelasan diberikan oleh Haniffah. Sesekali kepalanya terlihat mengangguk seolah hanya sekali penjelasan ia sudah mengerti semua pekerjaan akan dilakukannya.
Selesai sudah Haniffah menjelaskan dan memberitahu bagaimana cara bekerjanya. Andy mengembalikan tatanan utama letak monitor dan keyboard. Ia pun mulai mencoba melakukan pekerjaan sesuai penjelasan diberikan oleh Haniffah.
Penasaran bagaimana bentuk dan rupa wajah Andy ketika di lihat dari dekat. Perlahan kedua bola mata hitamnya bergerak dan terhenti di ujung ekor mata.
‘Ya ampun! Ternyata wajah bos muda ini sangat tampan. Wajah semulus kain sutra. Kalau seperti ini tampannya, tiap hari di maki dan di marahi aku tidak masalah,’ batin Haniffah.
Menyadari jika Haniffah terus menatapnya, Andy langsung menggebrak meja kerjanya. Membuat Haniffah tersentak hingga mundur 2 langkah kebelakang.
“Astaga! Ada apa Bos?”
“Matamu! Kenapa kau terus menatapku seperti wanita mesum?!”
“Ma-maaf, saya hanya melamun tadi,” celetuk Haniffah berbohong.
“Karena tugasmu sudah selesai, sebaiknya kamu pergi sana!”
“Ba-baik!”
Haniffah keluar dengan langkah terburu-buru.
.
__ADS_1
.
Bersambung