
Malam harinya setelah kejadian buruk menimpa Andy di Perusahaan.
Di tengah-tengah kesibukan Andy di dalam ruang kerja pribadinya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar, tanpa bertanya Andy menyuruh orang tersebut masuk ke dalam ruangannya.
Pintu terbuka, terlihatlah orang pengetuk pintu tersebut adalah Khandar.
“Apa Papa boleh masuk ke dalam?” tanya Khandar basa-basi.
“Tentu saja,” sahut Andy menghentikan aktivitas pekerjaannya, tangganya mengarah ke sofa tamu. “Mari kita duduk di sana, Pa,” tambah Andy mengajak Khandar duduk.
Khandar masuk, dan duduk ke sofa di tunjuk oleh Andy.
“Ada hal apa yang ingin Papa bicarakan kepadaku?” tanya Andy penasaran.
“Papa tadi melihat siaran berita tentang kamu,” ucap Khandar menggantung.
“Pasti Papa percaya dengan ucapan wanita bermuka dua itu,” celetuk Andy dengan pikirannya.
“Tidak. Papa hanya bangga saja kepada kamu,” sahut Khandar sembari tersenyum.
“Bangga kenapa?” tanya Andy bingung.
“Kamu bisa menghadapi semua masalah tanpa meminta bantuan Papa,” sahut Khandar memberitahu.
“Tidak, kebetulan tadi banyak orang terdekat berada di sampingku. Jadi semua masalah bisa teratasi dengan cepat,” tepis Andy memberitahu.
“Papa juga sudah melihatnya. Tentang wanita bersama Karina, apakah itu ibunya?” tanya Khandar penasaran.
“Iya, kenapa?”
“Masih muda, ya. Ibu dan anak ternyata sama, wanita tangguh!” puji Khandar. Namun di salah artikan oleh Andy.
“Jangan mikir macam-macam Papa!”
Melihat wajah serius Andy, Khandar langsung tertawa.
“Kenapa tertawa?” tanya Andy bingung.
“Kamu takut saingan sama Papa?” cetus Khandar bercanda.
“Tidak. Buat apa Andy takut saingan sama Papa. Toh, tante Tina sudah memiliki suami yang tampan, tegas dan juga garang,” sahut Andy memberitahu.
“Keren dong kalau seperti itu, memiliki calon mertua laki-laki yang garang dan tegas adalah sebuah tantangan yang begitu menyenangkan. Jadi teringat saat memperjuangkan almarhum Mama mu dulu,” ungkap Khandar sedikit mengenang almarhum sang istri.
“Dikit-dikit ingat almarhum Mama. Kalau masih belum taubat juga sebaiknya jangan pernah mengenang apa pun tentang kebaikan almarhum Mama,” celetuk Andy tak suka.
Bibir Khandar hanya mengulas senyum tipis, sedangkan hatinya bergumam. ‘Papa sudah berhenti melakukan kemaksiatan hanya demi ingin melihat tumbuh kembang kamu. Maaf jika Papa terlambat menyadari kesalahan diri sendiri. mulai sekarang Papa akan lebih fokus kepada kamu.’
__ADS_1
...****************...
3 bulan berlalu.
3 bulan sudah berlalu dari kejadian buruk menimpa Andy. 3 bulan juga sudah berlalu dari Haniffah di jebloskan ke dalam sel tahanan.
Di dalam bui khusus wanita, Haniffah hanya duduk menyudut. Kulitnya dulu mulus kini berubah menjadi kusam. Rambutnya juga terlihat kering tak terawat.
“Awas saja, awas saja kamu, Andy dan Karina!” gumam Haniffah masih menaruh dendam.
“Hei, pelakor. Ngapain kau terus duduk seperti itu. sebaiknya sini pijitin tubuhku!” teriak salah satu wanita bertampang seram.
“Ba-baik,” sahut Haniffah bergegas pergi. Cari aman agar tidak terkena hukuman dari tahanan senior lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di loby tunggu gedung psikolog anak.
Andy setia menunggu Karina akan pulang bekerja. Kesendirian Andy menunggu di sana membuat para pekerja wanita berbisik-bisik, bahkan beberapa karyawan ada yang mencoba mendekati Andy.
“Hem, permisi,” sapa salah satu wanita memakai baju batik.
Andy melirik sejenak, kemudian kembali fokus pada ponsel miliknya.
“Permisi,” panggil wanita itu kembali dengan malu-malu.
“Saya sudah lama memperhatikan Anda sering duduk sendirian di sini,” wanita itu mengulurkan ponsel miliknya. “Saya, sebenarnya saya sudah cukup naksir lama kepada Anda. Bisa tidak berikan nomor ponsel Anda ke saya?” lanjut wanita ragu-ragu.
Tak banyak bicara, Andy mengambil ponsel wanita itu dan menulis nomornya di sana.
“Terima kasih, terima kasih,” sahut wanita itu senang, kedu kakinya pun langsung pergi meninggalkan Andy.
Tanpa Andy sadari, Karina ternyata telah lama berdiri di belakangnya.
“Andy,” panggil Karina mengejutkan Andy.
“Sudah pulang?” tanya Andy setelah rasa terkejutnya hilang.
“Sudah,” sahut Karina, melangkah mendekati kursi Andy dan berdiri dihadapan Andy. “Kamu sudah lama menunggu?” tambah Karina.
“Aku baru saja datang kok,” sahut Andy berbohong.
‘Kenapa Andy menutupinya. Apakah Andy mulai berubah?’ batin Karina.
Andy beranjak dari duduknya, “Aku antar kamu pulang, ya!” ajak Andy.
“Iya,” sahut Karina.
__ADS_1
Andy dan Karina melangkah pergi meninggalkan loby. Namun, setelah melewati loby terdapat lorong, Karina melihat wanita tadi meminta nomor ponsel Andy terlihat sibuk memegang ponselnya. Karina juga melihat Andy sedang sibuk bermain ponsel miliknya.
‘Apakah mereka saling kirim pesan?’ bati Karina mulai curiga.
Langkah kaki Karina dan Andy terhenti di samping mobil.
Andy membuka pintu mobil untuk Karina. “Silahkan masuk sayang,” ucap Andy menyuruh Karina masuk ke dalam.
Karina pun masuk.
“Sebelum pulang kita makan dulu yuk,” ajak Andy sembari menghidupkan mesin mobilnya.
“Sebaiknya kita langsung pulang saja,” tolak Karina sembari memalingkan wajahnya ke jendela.
“Jangan dulu, aku masih ingin berduaan dengan kamu. sekali ini saja, ya!” pinta Andy memohon.
“Terserah!” cetus Karina bete.
“Baiklah, aku akan jalan,” ucap Andy.
Andy melajukan mobil, meninggalkan parkiran gedung. Karina terus diam, mulai dari keluar gedung dan mereka telah sampai di salah satu restaurant terletak di dalam Citraland. Bahkan wajahnya benar-benar sangat tidak nyaman di pandang, dan sampai detik itu juga Andy benar-benar tidak menyadari sikap perubahan drastis Karina.
Makanan dan minuman sudah di pesan. Sambil menunggu pesanan datang. Andy mencoba mencairkan suasana terlihat begitu dingin dan canggung.
“Akhirnya kamu keterima bekerja di tempat yang kamu inginkan,” ucap Andy memulai percakapan.
“Iya, alhamdulillah,” sahut Karina singkat.
“Kalau gitu, aku bisa langsung melamar kamu dong!” celetuk Andy sudah tak sabar ingin menikahi Karina.
“Kalau belum mampu setia, sebaiknya jangan lamar saya,” tolak Karina sekaligus menyindir Andy.
“Tidak perlu kamu ragukan kesetianku. Sudah pasti aku ini orangnya yang paling setia. Buktinya sampai saat ini aku masih menunggu jawaban dari kamu!” ucap Andy jujur dengan kepedeannya tingkat dewa.
Tak tahan melihat sikap tak peka oleh Andy. Karina sudah terlanjur terbakar api cemburu mengeluarkan semua uneg-unegnya.
“Jangan berbohong kamu. Tadi saya melihat langsung dengan kedua mata saya, jika kamu memberikan nomor kamu ke karyawan di sana. Saat kita berjalan di koridor, saya juga melihat wanita itu seperti mengirim pesan, dan kamu juga memegang ponsel. Apa kalian berdua saling membalas pesan,” celetuk Karina mengeluarkan semua uneg-uneg di dalam hatinya.
Bukannya merasa bersalah, Andy malah tertawa terbahak-bahak. Membuat Karina merasa di permainkan. Kesal melihat sikap Andy, Karina beranjak pergi dari duduknya sambil menangis.
“Karina, Karina!” panggil Andy mengejar Karina.
“Saya mau kita putus!”
.
.
__ADS_1
Bersambung