Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
80


__ADS_3

Setelah memastikan apakah tidur Andy nyaman, Karina pergi dari kamarnya, kembali ke meja makan karena semuanya telah menunggu di sana.


“Andy mana?” tanya Khandar tak melihat putranya bersama dengan Karina.


“Sepertinya Andy sangat kelelahan. Jadi, saya memutuskan untuk tidak membangunkannya,” sahut Karina, tangannya menarik kursi dan duduk di sana.


“Wajar saja kalau dirinya kelelahan, habisnya dari tadi malam Andy itu tidak bisa tidur,” Khandar menggeleng. “Anak itu memang ada-ada saja tingkahnya. Di luar nalar,” tambah Khandar mengingat dirinya tadi malam sempat mengintip Andy di dalam kamar.


Tak hanya itu, Khandar juga banyak menceritakan tentang Andy kepada Junaidi dan Tina. Karina mendengar ucapan Khandar hanya bisa tersenyum serta mengangguk, benar-benar tak percaya jika sikap dingin dan kasar Khandar ternyata menyimpan semua kenangan Andy.


1 jam kemudian. Andy bangun, melangkah menuju ruang tamu dimana terdengar suara tawa dan canda Khandar dan Junaidi di sana.


“Kok masakannya belum matang juga?” tanya Andy melihat Karina santai duduk di sebelah Tina.


“Lihat jam,” cetus Khandar menunjuk tangannya ke jam dinding, menunjukkan pukul 20:30 malam.


Seoalah tak menyangka jika dirinya tidur terlalu lama. Andy berulang kali mengucek kedua matanya, menatap jarum panjang terus bergerak.


“Sudah jam segitu, kenapa tidak ada yang membangunkan aku?” tanya Andy menatap secara bergantian wajah mereka.


“Melihat wajah kamu begitu lelah, saya tidak tega untuk membangunkannya,” sahut Karina, ia pun beranjak dari duduknya. “Apa kamu lapar?” lanjut Karina bertanya.


“Tentu saja lapar,” sahut Andy manja, tangannya memegang perutnya.


“Mari, saya temani kamu makan di belakang,” ajak Karina.


Karina melangkah menuju dapur bersama dengan Andy melangkah di belakangnya. Sesampainya di dapur, Karina memanaskan semua masakan yang telah dingin, lalu menyajikannya di atas meja. Makanan sudah tersaji di hadapan Andy, Karina pun duduk tepat di sebelah Andy.


“Sebelum makan jangan lupa baca doa,” ucap Karina memberitahu.


Andy mengangguk, membaca doa makan, lepas itu ia menatap wajah tenang Karina sedang menatapnya.


“Kamu sudah makan?” tanya Andy sebelum memasukkan nasi berisi lauk-pauk ke dalam mulutnya.


“Sudah, saya sudah makan tadi,” sahut Karina.


“Jadi, aku makan sendiri nih?” tanya Andy selera makannya langsung hilang.


“Iya, saya akan menemani kamu makan di sini,” sahut Karina.


“Baiklah, aku akan makan.”


Dengan berat hati Andy makan sendiri. Pelan tapi pasti, semua makanan di atas meja habis di lahap oleh Andy.


“Alhamdulillah, kalau kamu suka,” gumam Karina, ia pun beranjak dari duduknya, memungut piring kotor dan meletakkannya ke wastafel.


Bosan hanya duduk diam saja di kursi, Andy beranjak dari duduknya, berniat membantu Karina untuk mencuci piring.


“Kamu mau ngapain?” tanya Karina menoleh ke sisi kiri, tepat Andy berdiri.


“Mau membantu kamu,” sahut Andy membantu Karina membilas mangkuk.

__ADS_1


“Tidak perlu, lebih baik kamu pergi ke depan, gabung sama mereka,” tolak Karina, tangannya mengambil mangkuk dari tangan Andy.


“Baiklah,” sahut Andy patuh.


Andy berbalik badan, saat kedua kakinya hendak melangkah, kedua matanya dikejutkan oleh 2 orang pria memandang ke arahnya dengan suram.


“Wih! Bikin kaget aja,” celetuk Andy kaget melihat Junaidi dan Khandar berdiri di depan ruang makan.


“Mau ngapain kau?” tanya Junaidi sinis.


“Bantu Karina, Om,” sahut Andy santai.


“Jangan macam-macam kau di belakang ini, ya!” omel Khandar.


“Tidak, aku tidak akan melakukan hal kejam di dapur ini,” sahut Andy, kaki kanannya mulai melangkah.


Kasihan melihat Andy di tuduh, Karina sudah selesai mencuci piring mendekati Juanidi dan Khandar. Langkah kakinya terhenti di depan Khandar dan Junaidi.


“Jangan berfikir buruk tentang Andy. Andy benar-benar tidak melakukan apa pun pada saya,” ucap Karina membela.


“Tuh, dengarkan,” sambar Andy.


Khandar dan Junaidi hanya mendengus.


“Apakah Ayah dan Om ingin di buatkan kopi?” tanya Karina.


“Tidak usah, sudah malam sebaiknya kami pulang saja,” sahut Khandar.


“Saya tidak enak pada tetangga. Kalau kita sudah resmi menjadi besan, barulah saya akan betah lama-lama di sini,” jelas Khandar.


“Baiklah, kalau gitu mari ku antar,” ucap Junaidi.


Tina, Junaidi dan Karina mengantar kepergian Andy dan Khandar sampai ke teras rumah.


Mobil dinaiki Andy dan Khandar perlahan pergi meninggalkan halaman rumah.


Setelah kepergian Andy dan Khandar. Tina, Junaidi dan Karina masuk. Tina dan Junaidi mengajak Karina duduk di ruang tamu, sambil membahas sisa masalah mereka.


“Pak Khandar ternyata adalah orang yang baik, ya,” ucap Tina.


“Pak Khandar juga orang yang tegas. Karina pernah melihat Andy di marahi habis-habisan, bahkan Andy juga pernah di hajar oleh Pak Khandar saat di sekolah dulu,” jelas Karina menambahkan.


“Bagus kalau seperti itu,” gumam Junaidi.


Melihat wajah Karina terlihat begitu lelah, Tina menyuruh Karina untuk beristirahat.


“Karena sudah malam, dan besok kamu harus bekerja. Sebaiknya kamu tidur, beristirahatlah yang nyaman di dalam,” ucap Tina.


“Baik ibu,” sahut Karina, ia beranjak dari duduknya, kedua kakinya melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Setelah Karina masuk ke dalam kamar, Tina dan Junaidi mengorbol sejenak tentang pernikahan Karina dan Andy yang akan dilangsungkan secepatnya.

__ADS_1


“Pak, besok malam kita tanya wak tukang teratak, ya,” ucap Tina mengingatkan.


“Bu, sebaiknya kita buat pesta pernikahan ini tidak perlu terlalu besar dan mewah. Gimana kalau pestanya di buat sederhana saja,” usul Junaidi.


“Loh, kenapa seperti itu, Pak?” tanya Tina bingung.


“Agar lebih uang selesai pesta untuk Karina saja. Pegangannya setelah menikah,” sahut Junaidi.


“Baiklah, Pak,” angguk Tina.


“Karena sudah malam, dan ibu juga besok harus bangun subuh untuk masak. Lebih baik, kita juga tidur,” ajak Junaidi.


“Iya,” angguk Tina.


Junaidi pun mengunci pintu, lalu mereka berdua melangkah bersama menuju kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam mobil


Mobil berjalan perlahan menuju rumah mewah Khandar, sesekali wajah Andy tersirat senyuman manis memikirkan dirinya akns egera menikah dengan Karina. Khandar juga ikut tersenyum melihatnya.


“Jangan cuman tersenyum. Pastikan besok kau harus mendaftarkan nama kalian berdua di kantor,” celetuk Khandar memberitahu.


“Iya, aku tahu Pa,” sahut Andy wajahnya berubah bete.


“Mahar apa yang akan kau berikan kepada Karina nanti?” tanya Andy.


“Rumah saja dulu,” sahut Andy santai.


“Rumah. Jadi, kamu berniat ingin meninggalkan Papa sendiri di rumah yang begitu besar itu?” tanya Khandar lirih.


“Tentu saja. Anak yang sudah menikah harus menjauh dari orang tuanya,” sahut Andy, sorot matanya mengarah ke jendela.


“Kenapa tidak yang lain saja. Seperti warung, restaurant atau hal lainnya,” usul Khandar.


“Itupun ia. Tapi bukan pemberian sebagai mahar,” sahut Andy.


“Apa kamu tidak kasihan melihat Papa tinggal sendirian di rumah?”


“Kan ada bibi,” sahut Andy.


“Kalau Papa minta kamu menetap di rumah, gimana?”


“Entahlah, akan aku pikirkan itu nanti,” sahut Andy sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Khandar hanya tersenyum, berdoa dalam hati agar putranya tetap tinggal bersamanya di rumah mewah mereka.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2