
Kring kring kring!
Tanda pelajaran telah usai dan berganti jam istirahat.
“Yeah! Akhirnya istirahat juga!” teriak semua murid di dalam kelas.
Masing-masing murid di dalam kelas berhambur keluar, membuat lingkungan sekolah tadinya hening kini sangat ramai.
“Ketua nggak ke kantin?” tanya Andreas.
“Eh, bacot! Berapa kali aku katakan jangan panggil aku ketua jika di lingkungan sekolah. Bagaimana jika guru dugong itu mengetahui jika aku ini ketua geng motor? Bisa-bisa aku di laporkan ke Papa dan semua fasilitas ku di tarik!” sahut Andy cepat.
“Terkadang mulut ini lupa untuk mengikuti aturan darimu!” Andreas menyikut lengan Andy, “Ternyata pemuda yang terkenal berandalan di luar bisa takut juga dengan sang Papa,” tambah Andreas menyindir.
“Oh, ya jelas! Selagi Papa banyak uang dan perusahaannya maju, aku masih tetap ingin menjadi anak yang baik. Meski aku sering melawan. Masa iya aku kalah dengan wanita-wanita penghibur Papa yang tahunya cuman ngasih itu nya, kemudian mendapatkan uang,” sahut Andy cengengesan.
Di tengah-tengah perbincangan Andy dan Andreas. Beberapa teman sekelasnya mendekati meja Andy, membawa beberapa bungkus makanan untuk di beri kepada Andy sesuai dengan janji mereka.
“Andy, ini makanan untuk kamu!” ucap teman memakai hijab.
“Wis, serius ini?” tanya Andy sembari mengambil bungkusan plastik berisi makanan ringan.
“Benar, aku tidak mau kamu sakit nantinya,” sahutnya malu-malu.
“Bukan hanya cantik dan bertutur kata lembut. Kau memang wanita yang soleha. Ciri-ciri calon istri soleha yang baik ini!” celetuk Andy memuji berlebihan sehingga membuat temannya itu tersipu malu.
Tak mau kalah, beberapa teman sekelasnya juga ikut memberikan bungkusan berisi makanan ringan dan minuman dingin di jajakan di dalam kantin sekolah. Mendapati Andy dikerubungi murid wanita dan seperti tidak bisa di ajak bicara lagi, Andreas memutuskan untuk keluar kelas, membiarkan sahabat sekaligus ketua geng motornya menikmati perhatian dari beberapa murid di dalam kelas.
“Aku tahu kamu itu adalah anak yang baik. Hanya saja kamu memilih cara yang salah untuk mendapatkan perhatian dari sekelilingmu,” gumam Andreas sembari melangkah di koridor menuju kantin.
Langkah kaki Andreas terhenti saat Karina menyapanya.
“Andreas, Andy kemana?” tanya Karina tidak melihat Andy bersamanya.
“Biasalah bu! Masih di dalam kelas, menggoda para murid wanita,” sahut Andreas mengarahkan jari telunjuknya ke kelas.
__ADS_1
“Terima kasih, ya!” ucap Karina melanjutkan langkahnya menuju kelas Andy.
Andreas menatap punggung Karina.
“Penasaran aku, kenapa bu guru Karina terlihat peduli dengan Andy. Bahkan, aku sering mendengar dari mulut Andy sendiri hampir setiap malam saat Andy jalan-jalan sendirian, ia sering bertemu dengan bu Karina. Hem! Ini guru ikut jatuh cinta sama Andy, ngefans, atau mau mencalonkan diri sebagai ibu sambung, ya?” gumam Andreas bertanya sendiri.
“Ah! Biarlah, bukan urusanku juga,” putus Andreas menyudahi pikirannya.
Andreas kembali melanjutkan langkahnya menuju kantin, sementara Karina telah berada di dalam kelas Andy.
“Kenapa ramai sekali di meja Andy?” gumam Karina setelah menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan, sorot matanya mengarah pada meja Andy begitu ramai murid wanita sehingga tidak bisa melihat wujud Andy.
“Kenapa ibu di sini?” tanya salah satu murid.
“Oh, saya ada urusan dengan Andy. Boleh saya minta tolong kepada kamu untuk memanggilkan Andy?” sahut Karina meminta tolong kepada murid itu.
“Iya, tunggu sebentar ya, bu,” sahut murid itu.
Murid itu melangkah mendekati meja Andy. Setelah menghampiri Andy dan mengatakan jika Karina menunggunya di depan pintu kelas, Andy menoleh, menyudahi percakapannya kepada teman-teman sekelasnya, dan mulai melangkah mendekati Karina masih menunggu di depan pintu kelas.
“Bukannya tadi saya sudah berpesan untuk segera keruangan saya saat jam istirahat. Saya sudah menunggu kamu dari tadi loh,” sahut Karina dengan suara lembutnya.
“Itulah masalahnya. Entah kenapa malas kali aku jumpa sama ibu. Kalau jumpa sama ibu tuh, ada aja yang ibu bilang. Cerewet ibu, malas aku jadinya,” ucap Andy tanpa rasa segan.
Ingin sakit hati di bilang cerewet, namun Karina harus bisa lebih sabar lagi demi bisa tetap dekat dan merubah Andy.
“Hem, begini saja. Kalau menurut kamu saya cerewet, bagaimana nanti malam kita nongkrong di luar. Kebetulan ibu kepingin minum TST yang ada di jalan Halat, ingin merasakan gimana rasanya nongkrong di luar bersama dengan seseorang,” sahut Karina memberikan saran baru.
“Apa?! Yang benar aja ibu meminta aku menemani ibu nongkrong di luar sana. Sadar diri bu, usia kita jauh berbeda. Apa kata orang kalau aku temani ibu. Malas ah! Pergi aja sana sama cowok ibu!” tolak Andy kasar.
“Sayangnya, saya tidak memiliki seorang pria yang bisa di ajak nongkrong di luar. Kalau kamu tidak mau, ya sudah! Saya akan pergi sendiri, siapa tahu di sana saya nanti bisa ketemu dengan seseorang yang bisa saya ajak curhat,” sahut Karina lirih.
“Hem!” dengus Andy merasa bersalah. Namun, tubuhnya bersikeras untuk tidak patuh.
“Berarti kamu tidak ingin menemui ibu di dalam ruang BK?” tanya Karina kembali.
__ADS_1
“Nggak! Lebih baik ibu pergi sana!” sahut Andy sembari mengusir Karina.
Lagi dan lagi, Karina harus bersabar demi bisa dekat dengan Andy. Karina memilih untuk pergi, tidak memaksakan kehendaknya.
Karina berjalan dengan wajah sendunya. Sesekali bibir seperti menahan tangis itu melemparkan senyumannya kepada murid-murid yang ia lalui.
Andy masih berdiri di depan pintu, menatap punggung Karina terlihat semakin menghilang di balik ramainya perkumpulan murid di koridor masing-masing kelas mereka.
“Jahat banget sih!” celetuk Andreas tiba-tiba sembari menepuk pundak Andy dari belakang.
Tanpa Andy sadari, Andreas sudah berdiri cukup lama di belakang Andy dan Karina. Mencoba bertahan dengan posisinya agar bisa mendengar percakapan Andy dan Karina.
Seolah tidak peduli dengan perasaan Karina, dan teguran Andreas. Andy memilih untuk meninggalkan Andreas tanpa berbicara.
‘Akh! Kenapa aku jadi merasa bersalah gara-gara bersikap kasar seperti itu. Lagian kenapa sih, dugong itu selalu ngejar-ngejar aku terus. Apa maunya sih! Buat mood ku hilang saja,’ gerutu Andy dalam hati.
Andy duduk di kursinya, sorot matanya memandang bungkusan plastik makanan memenuhi meja dan lacinya.
“Apa sebaiknya aku buka kedai makanan aja?” gumam Andy di sambung Andreas.
“Nggak mau? Kasih sama aku aja. Kebetulan sekali adek cewekku suka makanan ringan seperti ini!”
“Ambillah. Tapi jangan semuanya, karena aku ingin membaginya kepada seseorang nanti malam,” sahut Andy.
“Ouw! Siapakah wanita yang beruntung itu?” ejek Andreas.
“Bacot! Bising kali mulut kau!” celetuk Andy sembari melempari Andreas dengan buku tulis tebalnya.
“Nggak kenak, nggak kenak! Week!” ejek Andreas.
.
.
Bersambung
__ADS_1