
Dengan terpaksa, mau tidak mau, Andy akhirnya mengajak Han ikut bersama mereka pergi nonton bioskop.
Film telah di putar. Namun, ada hal aneh di sana. Wajah Han dan Andy terlihat suram memandang ke sisi kanan. Ternyata kursi mereka berdua terpisah oleh Karina. Dan terpisahnya kursi mereka karena seorang anak SMA meminta Karina menjadi teman duduknya sepanjang film di putar.
“Bedeba*h kecil,” gerutu Andy bergumam.
“Apa lu tidak cemburu wanita lu di ambil alih dengan bocah seperti dia?” tanya Han semakin membuat Andy panas.
“Bacot! Nggak kau tengok tadi Karina langsung mengiyakan dengan wajah penuh perasaan dan kasih sayang? Masa ia aku harus mematahkan hati kekasihku yang sudah berusaha tulus ingin menemani orang lain daripada pacarnya sendiri!” tegas Andy nyolot.
“Panas?” tanya Han singkat namun penuh maksud.
“Baco*t kau!” Andy menggertak Han, dan ingin memakinya. Namun, bibir Andy langsung terkunci saat Karina melambaikan tangan dan menoleh kepadanya.
Han melihatnya tertawa puas, sampai-sampai ia dipelototi oleh pengunjung kursi di depannya.
.
.
2 jam kemudian.
Pemutar film telah selesai, semua penonton keluar secara bergantian.
Mulai keluar dari gedung bioskop sampai langkah kaki terhenti di parkiran, Han dan Andy terlihat suram, sedangkan Karina asik menceritakan alur cerita mulai dari awal pemutaran sampai ending.
“Sedih ya, sedih banget ceritanya?” tanya Karina setelah selesai menceritakan, dan langka mereka terhenti di samping mobil.
‘Sedihan nasibku malam ini,’ batin Andy. Tangannya membuka pintu penumpang bagian depan untuk Karina.
“Andy, wajah kamu kenapa?” tanya Karina setelah menyadari raut wajah Andy terlihat begitu murung.
Tak ingin membuat Karina kecewa, Andy langsung memasang raut wajah ceria.
“Ti-tidak ada. Ta-tadi aku hanya mengantuk,” sahut Andy berbohong.
“Yakin?” tanya Karina polos.
“Sudah malam, sebaiknya kamu masuk biar aku antar pulang,” ucap Andy mengalihkan pertanyaan Karina.
Tanpa bertanya lagi, Karina masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Han. Andy pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran bioskop, menuju rumah Karina.
20 menit berlalu, mereka bertiga hanya diam di dalam mobil.
‘Perasaan ada yang ganjel malam ini? apakah itu karena saya tadi menerima permintaan dari anak perempuan SMA tadi. Masa iya Andy cemburu sama anak perempuan,’ batin Karina sambil melirik Andy fokus mengemudi.
“Kamu kenapa lihatin aku terus?” tanya Andy menyadari jika dirinya terus di lirik Karina.
__ADS_1
“Tidak ada. Saya masih tidak menyangka jika kita bisa bertemu kembali seperti saat ini,” sahut Karina berkilah.
“Itulah yang dinamakan jodoh,” ucap Andy, sebelah tangannya memegang punggung tangan Karina dan membelainya lembut.
Kemesraan mereka berdua berlanjut tanpa menyadari Han ada di di belakang mereka.
‘Gila nih orang berdua. Bisa-bisa bermesraan seperti itu di hadapan gue. Yang di pikir merekanya gue udah mati,’ geram Han dalam hati.
Pandangannya mengarah pada genggaman tangan Andy membawa tangan Karina ke atas pahanya. Han kembali membatin. ‘Sepertinya Karin memang telah menemukan sosok pria yang pas untuknya. Walaupun bocah brengse*k ini masih terlalu dini. Melihat dari gesture tubuh dan pola pikirnya, gue yakin Karin bisa bahagia bersamanya. Dan gue harus benar-benar merelakan Karin.’
Panas dingin melihat kemesraan Andy dan Karina. Han terbatuk-batuk seperti orang bengek.
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
Karina dan Andy spontan menoleh ke belakang.
“Minum dulu Han,” ucap Karina memberikan botol air mineral ke Han.
Han mengambil dan meminumnya.
“Padahal air itu sudah aku suntik dengan racun,” celetuk Andy mengerjai Han.
Han spontan menyemburkan air yang sudah ia minum ke bawah. Ia juga memasukkan tangan ke dalam mulut, dan memuntahkan sisa air telah masuk ke dalam perutnya.
Niat mengerjain Han karena cemburu dan juga dendam. Eh, Andy malah terjebak dalam perbuatannya sendiri. Mobilnya kotor terkena muntahan Han.
“MOBILKU! Berani sekali kau muntah di dalam mobilku!”
“Siapa suruh lu berkata seperti itu,” cetus Han santai dengan wajah pucat nya.
“Seharusnya kau mikirlah. Masa ia minuman masih bersegel bisa di beri racun.”
“Entahlah, gue lagi malas mikir,” ucap Han santai.
“KAU…” Andy menahan kegeramannya.
Karina memegang paha Andy, dan mencoba menenangkannya.
“Sudah, lagian kalian berdua sama-sama salah,” ucap Karina tak membela siapa pun.
“Sabar banget sih lu Karin pacaran sama anak nakal seperti ini?” tanya Han.
“Namanya juga cinta, mau bilang apa,” sahut Karina santai.
“Terserah pola pikir lu aja.”
“Intinya, Andy tidak seburuk yang kamu pikirkan,” tambah Karina menegaskan.
__ADS_1
“Iya-ia. Oh ya, besok pagi aku akan pulang,” ucap Han memberitahu secara tiba-tiba.
“Pulang?” tanya Karina terkejut.
‘Yes, cepat pulang sana kau orang aneh,’ batin Andy kesenangan.
“Iya. Gue pulang karena pekerjaan masih banyak,” sahut Han, lirikan mata mengarah pada wajah bagian samping Andy terlihat senyum-senyum. "Tapi, setelah pekerjaan selesai, gue akan balik lagi ke sini,” lanjut Han, membuat mimik wajah Andy langsung berubah suram.
“Yang terpenting kamu jangan pantang menyerah dalam berkarir,” ucap Karina memberi semangat untuk Han.
“Iya,” angguk Han.
Suasana di dalam mobil kembali sepi sampai mobil itu terparkir di halaman rumah Karina.
Andy segera turun membuka pintu mobil milik Karina, dan Han turun sendiri tanpa dibukakan pintu. Andy, Karina, dan Han berdiri di samping mobil. Karena sudah sangat larut dan kedua orang tua Karina sudah pasti tidur duluan, Andy memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
“Kamu hati-hati di jalan,” ucap Karina memberi pesan.
“Iya,” sahut bibir Andy, tapi tidak dengan jari tengahnya terus mengarah ke pipinya.
“Apa itu maksudnya?” tanya Karina bingung dengan kode diberi oleh Andy.
“Berikan aku ciuman selamat malam,” sahut Andy tanpa rasa malu.
“Kamu ini, ya! Semakin lama kok semakin mesum. Sudahlah, saya mau masuk aja!” omel Karina, kedua kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.
Melihat wajah cemberut dan kesal Karina sambil perlahan menghilang dari pandangannya, membuat Andy hanya bisa tertawa.
“Beruntungnya lu yang bisa memikat hati Karina,” cetus Han tiba-tiba berdiri di samping Andy.
Andy berhenti tertawa dan tersenyum, sorot matanya berpaling pada Han berdiri di sisi kirinya.
“Apa maksud kau?” tanya Andy penasaran.
“Waktu di kampus, banyak lelaki tajir yang mencoba mendekati Karin. Bahkan setelah lulus Kuliah, sebenarnya Karin sudah di terima di salah satu Perusahaan terkenal di sana. Namun, Karina menolak semuanya dengan alasan tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya di sini sendirian. Tapi, saat itu Karin pernah bercerita ada satu pemuda, dan itu adalah lu yang telah mengusik hati dan pikirannya. Setiap detik, menit, dia selalu memikirkan lu di sini. Bahkan setiap kami bertemu, hanya nama lu yang sering di sebut Karin,” jelas Han, tangannya menepuk sebelah bahu Andy. “Gue harap lu bisa menjadikannya wanita satu-satunya. Seperti Karin menjadikan lu pria satu-satunya di hati dan pikirannya.”
Andy mengangguk.
“Besok gue akan pulang karena gue memutuskan untuk menyerah,” tambah Han, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
“Aku janji akan menjaga Karin dan selalu setia,” gumam Andy masih berdiri di samping mobil sambil menatap pintu rumah karina perlahan tertutup.
.
.
Bersambung
__ADS_1