
Kring kring!
Jam pelajaran telah berakhir. Semua murid berhamburan keluar, memenuhi parkiran dan halaman sekolah. Sementara itu, Andy dan Andreas masih bersantai di depan ruang kelas mereka. Menyandarkan tubuh ke dinding kelas.
“Malas kali aku pulang ke rumah,” keluh Andy dengan sorot mata memandang lurus ke ruang BK.
“Mumpung hari ini adalah hari sabtu. Gimana kalau kita ajak anak lainnya berkeliling ke Berastagi,” usul Andreas.
“Nggak di cariin mamak mu kau? Entar kau di telepon-telepon suruh pulang,” ejek Andy.
“Bangsa*t! Nasib kita, kan sama begok. Bedanya kau tidak memiliki ibu, sedangkan aku tidak memiliki bapak!" Andreas memandang wajah datar Andy. "Gimana kalau orang tua kita, kita jodohkan saja!” tambah Andreas sedikit bergurau.
“Gila kau! Nggak sudi aku bersaudara sama kau. Aku rasa ini, ya. Kalau kedua orang tua kita menikah, mungkin rumah ku yang dulunya sepi seperti kuburan, maka akan ramai seperti pajak ikan. Adaaa…aja itu perdebatan. Kau tau, kan. Kalau seseorang yang sama-sama super sibuk, kemudian mereka menikah, itu kerjaannya pasti berantem terus di rumah. Mana nanti ujung-ujungnya, ***** sama orang lain juga. Ahh! Nggak bisa aku bayangkanlah!” protes Andy panjang lebar.
“Aku cuman bercanda anjin*g. Lagian Mama ku juga sama seperti Om Khandar, suka berbuat seperti itu di rumah. Mana pria bayaran itu umurnya kadang-kadang sebaya samaku. Untung aja 1 tahun sebelum Papaku meninggal, aku meminta warisan darinya. Satu Perusahaan baru atas namaku, kalau tidak. Mungkin suatu hari nanti aku akan menjadi pengemis, atau bekerja menjadi pria bayaran untuk pemuas tante-tante kali. Agar kehidupan poyah-poyah ku tidak berkurang,” curhat Andreas.
“Haih! Kenapa nasib kita berdua bisa sama, ya? Aku jadi sempat berpikir. Apakah jika aku menjadi seorang suami suatu hari nanti, aku bisa menjadi suami yang baik. Apakah aku bisa setia kepada istriku. Entah kenapa, tiba-tiba aku takut karma anjin*g!” hela Andy cemas.
“Aku juga. Tapi, ya sudahlah! Terpenting saat ini aku hanya ingin memuaskan masa lajang dan mudaku. Yeah!” teriak Andreas kuat sehingga beberapa murid di sana menoleh ke arahnya.
Ctak!
“Diam bangsa*t!” tegur Andy sambil menempeleng kepala Andreas.
“Duh! Sakit boda*t!” keluh Andreas sambil mengelus kepalanya.
“Eh, eh. Cak kau diam dulu. Lihat, lihat di sana! Kenapa—”
“Wah! Sih, king kong memang nggak berhenti menyerah untuk mendekati bu Karina,” Andreas menyambar ucapan Andy.
“Awas saja kalau Guan macam-macam sama bu Karina,” gumam Andy.
Guan terlihat berhenti di depan ruangan Karina. Karina terlihat keluar ruangan, mengunci ruangan tersebut dan berjalan bersama dengan Guan menuju parkiran.
“Eh, ikuti. Cepat!” ajak Andy sambil menarik pergelangan tangan Andreas.
Andreas dan Andy berlari di koridor, menuju parkiran sepeda motor mereka. Tak ingin membuat Karina pulang bareng bersama Guan.
__ADS_1
Dengan langkah seribu dan seperti seorang pesulap Andy telah berdiri di tengah-tengah Karina dan Guan.
“Ya, ampun Andy! Kamu buat ibu kaget saja!” ucap Karina sembari mengelus dadanya karena terkejut.
“Aku hanya ingin menyapa ibu saja,” cetus Andy di sela tawanya.
“Kenapa belum pulang?” tanya Guan sinis.
Sekilas Andy tersenyum pada Guan, lalu ia memegang tangan Karina.
“Bu, mau tidak kalau ibu ikut pulang bareng naik sepeda motor ku,” pinta Andy membuat Guan, dan Karina mendengarnya terkejut.
“Ka-kamu! Sopan sedikit kenapa. Bu Karina ini adalah guru BK di sini, loh!” tegur Guan.
Andy melepaskan tangannya dari Karina, kemudian memutar bola mata jengah nya ke lain arah.
“Nggak apa-apa Pak Guan. Maksud Andy sebenarnya baik kok,” Karina melihat Andy sedang tersenyum ke arahnya. “Bukan begitu, Andy?” lanjut Karina bertanya pada Andy.
“I-iya!” sahut Andy dengan lirikan mengejek ke Guan.
“Kalau saya boleh tahu, kenapa kamu ingin menawarkan tumpangan kepada saya. Padahal kamu tahu kalau saya sedang membawa mobil,” tanya Karina penasaran.
“Ya, ampun! Kenapa bisa kempes. Perasaan tadi pagi semuanya sudah di cek dengan benar,” gumam Karina bingung.
Karina sedikit membungkukkan tubuhnya melihat ban mobil bagian belakang, terlihat sedikit robek.
Andy tersenyum pada Andreas berdiri di bawah pohon mangga dengan kedua tangan memegang pisau cutter.
Bukan Andy namanya kalau tidak memiliki rencana nakal seperti itu. 5 menit sebelum mendekati Karina, Andy sempat berpesan kepada Andreas untuk membocorkan ban mobil bagian belakang Karina saat dirinya berusaha mengalihkan suasana dengan membawa Karina dan Guan berbicara. Dan rencananya pun akhirnya berhasil.
Guan menyadari jika semua itu adalah rencana Andy.
“Kamu pasti yang sudah merencanakan ini semua. Jujur saja kamu, Andy!” tuduh Guan mendekatkan dirinya kepada Andy.
“Bapak menuduh, aku? Jadi, mentang-mentang aku ini adalah anak berandalan. Jadi, bapak menuduh aku?” celetuk Andy berpura-pura tidak senang.
“Jadi, siapa lagi kalau bukan kamu dan teman kamu itu, Andreas!” sahut Guan mengarahkan jari telunjuknya ke bawah pohon mangga, dimana Andreas telah merebahkan tubuhnya di atas sepeda motor miliknya.
__ADS_1
Bukannya takut, Andreas malah melambaikan tangannya ke Guan dengan senyuman liciknya.
Tidak ingin mendengar perdebatan terlalu lama, Karina memutuskan untuk menghentikan pertikaian Guan dengan Andy. Karina berdiri di tengah-tengah Andy dan Guan.
“Sudah, jangan berkelahi di lingkungan sekolah,” ucap Karina mengingatkan.
“Tapi bu—”
“Begini saja. Daripada ribut-ribut di lingkungan sekolah, lebih baik saya menerima tawaran Andy,” sela Karina memberi keputusan.
“Sebaiknya ibu pulang bersama dengan saya saja. Ibu tahu, kan jika Andy itu adalah anak yang berandalan dan suka ngebut di jalanan. Gimana kalau saat di jalan ibu terkena bahaya?” ucap Guan mengkuatirkan Karina.
Andy diam dalam geram.
“Tenang saja, saya yakin Andy tidak berani melakukan hal seperti itu kepada saya,” sahut Karina membela Andy.
“Baiklah, kalau memang ibu bersikeras ingin pulang bersama dengan anak—” Guan menjeda ucapannya, melirik sinis ke Andy, lalu melanjutkan ucapannya. “Dengan anak berandalan dan ugal-ugalan ini!”
“Iya! Pak Guan hati-hati di jalan, ya!” ucap Karina lembut
“Hem!” dengus Guan, lalu melangkah menuju ke parkiran sepeda motornya.
Karina menolehkan pandangannya ke Andy. “Antar saya pulang ke rumah, karena ada hal yang ingin saya pertanyakan,” perintah Karina lembut namun tegas.
“Siap! Soal mobil ibu, biar orang bengkel langganan aku yang membawanya ke rumah ibu nanti,” sahut Andy sekaligus memberitahu.
Andy berlari kecil menuju sepeda motor miliknya. Sedangkan Karina mengambil beberapa benda berharga miliknya dari dalam mobil, memasukkannya ke dalam tas miliknya.
“Joss! Kau memang sahabatku yang baik!” puji Andy memberikan kedua jempol tangannya ke Andreas.
“Ya, ialah. Bukan hanya baik untukmu di dunia. Di akhirat juga, kalau aku nanti masuk neraka. Kau juga harus aku seret ke Neraka. Buat party kita di sana sama penghuni neraka lainnya,” celetuk Andreas.
“Suka ati kau lah. Kalau gitu aku pergi dulu, kau hati-hati di jalan,” pamit Andy.
Andy melajukan sepeda motor miliknya mendekati Karina. Kemudian Andreas juga menyusul. Setelah Karina naik, Andy dan Andreas melajukan sepeda motor miliknya secara bersamaan keluar dari gerbang sekolah.
.
__ADS_1
.
Bersambung