Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
23. Rasa Penasaran dan Adab


__ADS_3

Malam harinya, pukul 20:30 malam.


Penasaran dengan berita beredar di lingkungan sekolah tadi pagi. Andreas memutuskan untuk mengunjungi rumah Karina langsung, tanpa sepengetahuan Andy.


Kini Andreas dan Karina telah duduk di kursi teras rumah.


“Kalau saya boleh tahu, ada apa kamu datang berkunjung ke rumah saya? Apakah terjadi hal buruk kepada Andy?” tanya Karina memulai percakapan.


“Ibu harus jujur kepadaku!”


“Ju-jujur soal apa. Sa-saya tidak mengerti maksud dari ucapan kamu.”


“Tadi aku sempat menguping pembicaraan para guru-guru di ruang guru soal ibu yang katanya akan berhenti bekerja demi melanjutkan S2 ke Luar Negeri. Apakah itu benar?” tanya Andreas langsung ke intinya.


Karina terkejut bukan main mengetahui Andreas tahu tentang keberangkatannya.


“A-apakah Andy tahu soal ini?” tanya Karina mencemaskan Andy.


“Tentu saja tidak. Aku menutupnya rapat-rapat dari Andy,” sahut Andreas.


“Syukurlah. Aku kira Andy mengetahuinya,” lega Karina.


“Aku tidak tahu hal apa yang akan terjadi kepada Andy jika ia mengetahui ibu akan pergi. Sangat malang nasib anak itu, baru saja mendapatkan perhatian tulus dari seseorang. Eh, orang tersebut malah akan meninggalkannya. Aku berharap Andy tidak kembali ke dirinya yang dulu,” lanjut Andreas dengan raut wajah sendu.


“Maaf ya. Saya mengambil S2 karena saya ingin memiliki jenjang karir dan wawasan sebagai seorang pendidik lebih luas lagi. Ta-tapi saya pergi setelah kalian selesai ujian akhir sekolah kok. Jadi, saya masih bisa terus menemani Andy sampai di akhir ujian sekolahnya nanti,” jelas Karina.


“Syukurlah!” hela Andreas. Ia pun beranjak dari duduknya. “Hari ini Andy telah pulang ke rumahnya, dan melakukan rawat jalan. Semua itu karena Andy tidak ingin membuat ibu kuatir,” tambah Andreas lagi.


“Alhamdulillah,” ucap syukur Karina.


“Bu, apa ibu tahu kalau Andy sangat terobsesi dengan ibu?” tanya Andreas membuat Karina terkejut.


“Kalau terobsesi karena saya sebagai guru BK itu tidak masalah bagi—”


“Andy menyukai ibu!” sela Andreas memberitahu.


Karina tercengang. Kemudian tawa kecil keluar dari bibirnya agar suasana tidak terlihat tegang.


“Aku harap ibu tidak menyakiti hatinya. Aku pamit pulang, besok kalau ibu sempat berkunjunglah ke rumah Om Khandar. Sesekali jenguk Andy agar hatinya senang,” saran Andreas sebelum melangkah pergi.

__ADS_1


“Iya, insya allah saya akan menjenguknya besok,” angguk Karina.


Andreas melangkah mendekati sepeda motor sportnya. Melajukan secara perlahan keluar dari halaman rumah Karina.


Tina terlihat keluar dari dalam rumah, dan duduk di kursi kosong sebelah Karina.


“Ibu sudah menduga dari awal. Anak muda itu pasti memiliki perasaan kepada kamu,” ucap Tina.


“Ibu, i-itu tidak mungkin. Andy itu masih remaja, tentu saja ia memiliki rasa seperti itu kepada setiap lawan jenis yang ia kenal. Paling setelah ia dewasa nanti, perasaannya akan berubah,” tepis Karina cepat.


“Karina, ibu paham persis gimana rasanya ketika tidak ada seorang pun yang peduli dengan kita. Ketika seseorang berusaha mencari rasa nyaman, perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat dengan berbagai cara. Namun, hasilnya sia-sia. Ibu paham betul nak. Di saat semua usaha sia-sia dan memilih untuk tidak peduli kepada sekeliling. Kamu datang, membuatnya nyaman dan memberikan semua yang Tama inginkan. Maka, saat itu pula Tama langsung menaruh semua harapan dan kehidupannya kepadamu. Ibu sangat yakin saat ini Tama pasti tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Karena baginya kamu adalah segalanya. Ibu harap kamu tidak akan menyakiti hatinya, beritahu Tama secara pelan-pelan jika semua yang kamu lakukan semuanya hanya sebagai tugas seorang guru BK,” cetus Tina menasehati Karina sesuai dengan pendapat nya.


“Iya, bu. Karina akan berusaha membuat Andy mengerti tentang semua perbuatan Karina kepadanya. Semoga saja Andy bisa melanjutkan hidupnya tanpa Karina,” gumam Karina memikirkan Andy.


“Amiin. Tapi, kalau ibu pikir-pikir, Tama cocok juga dengan kamu,” celetuk Tina.


“Apaan sih, bu!”


“Ibu serius, Tama lebih cocok dengan kamu. Enak loh, memiliki pasangan lebih muda dari kita. Seperti ibu kamu dengan Ayah kamu. Cobalah sekali-kali, pasti rasanya gimana gitu!” goda Tina.


“Apaan sih, ibu mulai ngelantur,” tepis Karina sedikit malu.


.


.


Di rumah mewah Andy.


Andy terlihat fokus membaca buku pelajaran sekolah, kedua telinganya di pasang headset dengan volume suara di buat sekuat mungkin. Semua itu dilakukan oleh Andy karena di lantai dasar Khandar sedang bermain gila seperti biasa dengan wanita bayarannya.


Sehingga suara rintihan wanita itu menggema di hampir seluruh ruangan.


Selesai sudah membaca buku pelajaran. Andy memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang dengan headset masih melekat di kedua telinganya.


“Anjin*g! Kenapa rintihan menyebalkan dari wanita itu masih terus terdengar di kedua telingaku. Menyebalkan sekali mereka berdua!” umpat Andy langsung mematikan musiknya.


Bosan melihat sikap sang Papa tak pernah berubah. Andy memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya menuju ruangan tempat Khandar bermain gila dengan wanita bayaran.


“Dimana adab Papa?!” tanya Andy telah berdiri di depan ruangan khusus tanpa pintu.

__ADS_1


Suara menggelegar Andy sontak mengejutkan Khandar sehingga menghentikan aktivitasnya sejenak. Khandar mengancing resleting celananya, mendekati Andy.


“Lancang sekali kamu berbicara seperti itu. Ini adalah rumahku, jadi aku bebas melakukan hal apa pun!” bisik Khandar membuat Andy geram.


Andy menarik nafas sejenak, kemudian melirik ke wanita sedang duduk di atas meja tanpa busana bagian bawah. Kemudian Andy menatap ke Khandar.


“Kalau memang Papa memiliki agama, seharusnya Papa mengerti tentang adab. Apa Papa tidak malu dengan bibi dan pembantu lainnya?” tegur Andy kembali.


Plaaakk!!


“Apa kau lupa jika kamar bibi dan pembantu lain itu berada di belakang dan tidak menyatu dengan rumah kita? jadi, apa yang harus Papa malukan kepada mereka. Kamu pilih Papa kepergok oleh wartawan karena sering membawa wanita ke hotel. Apa kamu pilih membiarkan Papa membawa wanita-wanita itu bermain di sini?” tanya Khandar memberi alasan setelah ia menampar pipi Andy.


“Aku harap mendiang Mama tidak menangis dari surga saat melihat mantan suaminya terus melakukan zina dengan bebas seperti ini!” gumam Andy, kemudian melangkah pergi kembali ke kamarnya.


Setelah Andy pergi, wanita tersebut mendekati Khandar, memeluk Khandar dengan tangan terhenti di bagian inti telah menguncup.


“Sepertinya aku akan membuat benda ini bangkit kembali,” ucap wanita tersebut sambil menaik turunkan tangannya.


Khandar menahan tangan wanita bayaran tersebut.


“Pulanglah. Saat ini aku sedang tidak bernafsu untuk melanjutkan permainan kita,” tegas Khandar sembari melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


Khandar mengambil dompet tebal miliknya, memberikan 1 ikat uang kepada wanita tersebut. Namun, wanita itu terlihat tidak terima dengan uang pemberian Khandar.


“Loh, kenapa Om hanya memberiku segini. Katanya Om akan memberikan aku 2 ikat uang merah. Nggak jelas Om ini!” protes wanita itu.


“Kau hanya melayani aku selama 40 menit, dan aku juga tidak merasa puas dengan pelayanan kau. Apa perlu uang itu aku ambil kembali?”


“Ti-tidak, i-ini sudah lebih dari cukup Om. Kapan-kapan jika Om ingin bermain, maka telepon aku lagi!” sahut wanita itu takut-takut.


“Pergilah!” usir Khandar tanpa memberikan jawaban.


Wanita itu berlari terburu-buru sambil memakai pakaian atasannya.


Khandar terus memijat pelipisnya, kemudian ia melirik ke foto wanita tersimpan dalam dompetnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2