Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
22. Kabar Tersembunyi tentang Karina


__ADS_3

Dengan terpaksa Karina merebahkan tubuhnya di samping Andy. Karina tertidur dengan posisi terlentang, sorot matanya memandang lurus ke langit-langit kamar. Sedangkan Andy tidur dengan posisi miring menghadap Karina, sorot mata terus menatap wajah cantik dan mulus Karina.


Deg deg deg


Jantung Andy berdetak sangat kuat. Meski saat ini seluruh tubuhnya berdenyut hebat, tapi kekaguman dan rasa sukanya kepada Karina tidak bisa dihentikan.


“Bukan hanya sekedar indah, tapi ini begitu sangat cantik dan bening,” gumam Andy terlepas begitu saja dari bibirnya.


Mendengar gumam Andy, Karina langsung memutar posisi tidurnya menjadi miring. Nanar kedua mata saling bertemu, dan hal itu sukses membuat Andy gugup.


“Ke-kenapa ibu memutar arah tidurnya?” celetuk Andy sembari menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya sampai ke wajah. Tersisa hanya ujung rambutnya.


“Karena saya ingin menanyakan sesuatu kepada kamu,” sahut Karina tenang.


Andy perlahan menurunkan selimut dari wajahnya sampai ke batas hidung.


“I-ibu mau bertanya apa?” tanya Andy gugup karena nanar kedua mata mereka kembali bertemu.


“Apa pentingnya kamu membuat grup geng motor seperti itu?”


“Sangat penting, karena hanya mereka yang bisa mengerti apa yang aku inginkan. Mereka juga yang mengerti tentang perasaanku. Tidak seperti Papa,” sahut Andy lirih.


“Memang benar. Tapi, apakah kamu tahu jika Pak Khandar sebenarnya juga mengerti perasaan kamu? meski cara penyampaiannya beda dan tidak sesuai dengan yang kamu inginkan,” ucap Karina mencoba membujuk Andy untuk tidak berfikir buruk kepada Khandar.


“Ibu tahu apa sih, tentang Papa. Di dalam pikiran Papa itu hanya uang, uang dan uang. Karena baginya uang adalah titik dari semua penyelesaian,” sahut Andy kembali menutup seluruh wajahnya dengan selimut.


“Mungkin karena Pak Khandar tidak bisa mengekspresikan seluruh pendapatnya.”


“Apa ibu ingin membenarkan semua sifat dan perbuatan Papa? Kalau memang benar, maka jangan katakan apa pun lagi karena aku ingin tidur, besok aku mau sekolah karena besok ada ulangan harian bahasa Indonesia,” cetus Andy mengakhiri percakapan mereka.


“Maaf kalau sudah membuat kamu berpikir seperti itu. Andy, apakah kamu ingin berhenti sejenak dari klub geng motor milik kamu sampai kamu lulus sekolah?” tanya Karina hati-hati.


“Jika ibu ingin menjadi kekasihku, maka aku akan berhenti total,” sahut Andy seperti memberikan syarat.


Sejenak Karina terkejut mendengarnya. Tidak pernah berpikir jika Andy akan mengungkapkan perasaannya langsung ke Karina.


“Kalau untuk menjadi kekasih, mungkin saat ini saya tidak bisa. Tapi, kalau kamu menginginkan saya menjadi seorang guru BK, dan seperti teman setelah di luar lingkungan sekolah, maka saya sangat siap untuk kamu,” tolak Karina secara halus.


“Aku rasa hal itu akan beda rasanya,” gumam Andy semakin pelan. Namun, Karina masih bisa mendengarnya.


“Bedanya?”


“Kalau hanya sekedar sebagai Guru BK dan teman, bisa jadi ibu akan memiliki kekasih hati yang akan membuat jarak antara kita berdua,” jelas Andy dengan suaranya semakin pelan.

__ADS_1


“Tidak, sampai detik ini saya tidak pernah berfikir untuk mencari kekasih,” sahut Karina menjelaskan, dan itu sukses membuat Andy percaya.


“Benarkah? Kalau gitu aku istirahat dulu,” ucap Andy sembari memutar posisi tidurnya, dan spontan mencium dahi Karina.


“HA!”


Karina terkejut bukan main. Kedua matanya seolah tidak bisa berkedip, tangannya terus memegang dahinya.


Di tengah-tengah terkejutnya, Karina mendapatkan sebuah e-mail.


Selesai membaca e-mail tersebut, wajah Karina terlihat senang. Namun, saat ia melirik ke wajah Andy. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi lusuh dan seperti memendam rasa bersalah.


Tidak ingin memikirkan isi dari e-mail tersebut. Karina memutuskan untuk pindah, dan tidur di sofa panjang demi menghentikan terjadinya hal tak terduga saat mereka berdua tidur.


.


.


Keesokan paginya.


Pagi itu di sekolah SMA.


Karena sebelah tangan masih cidera dan di balut perban tebal. Andy pergi sekolah berbarengan dengan Andreas. Sedangkan Karina tadi pagi berpamitan kepada Andy karena hari ini tidak bisa masuk, ada urusan mendadak.


Cemas melihat beberapa bagian tubuh Andy terbalut perban. Begitu sampai di kelas, meja Andy di penuhi murid-murid wanita dari masing-masing kelas.


"Kenapa kamu?"


"Siapa yang tega melakukan hal ini kepada kamu?"


"Gara-gara perban ini, wajah tampan kamu jadi ke tutupan."


"Jadilah pacarku, maka aku akan menjamin keselamatan mu!"


Kemeriahan itulah terjadi saat ini di dalam kelas Andy dan Andreas.


“Aku harap senyuman itu tidak akan pernah luntur lagi dari wajahmu,” gumam Andreas menatap Andy dari depan pintu kelas.


Andreas memilih untuk tidak duduk di kursinya agar bisa membuat murid-murid leluasa mengunjungi Andy.


Bosan karena keramaian di dalam kelas, Andreas memilih untuk berjalan-jalan sejenak di koridor sekolah. Namun, langkah kaki Andreas harus terhenti saat di depan ruang guru. Mendengar nama Karina berulang kali di sebut oleh guru-guru di ruangan itu, Andreas memilih untuk menguping.


“Senang banget deh, akhirnya bu Karina bisa mendapatkan beasiswa S2 ke Luar Negeri.”

__ADS_1


“Pantes saja Karina selalu menolak setiap pria yang menyatakan perasaannya kepadanya. Ternyata Karina diam-diam mengikuti ujian beasiswa ke Luar Negeri.”


“Kasihan Pak Guan, pasti setelah mendengar ini hatinya akan patah.”


“Dengar-dengar hari ini bu Karina sedang mempersiapkan beberapa berkas untuk ia berangkat 4 bulan lagi.”


Tak sanggup mendengar percakapan guru-guru di dalam. Andreas memilih untuk lanjut berjalan meski kedua kakinya terasa lemah. Saat mendengar Karina akan pergi, Andreas langsung mencemaskan Andy.


Bagaimana dengan Andy setelah Karina pergi?


Melihat Andy terlihat begitu bahagia saat bertemu dengan Karina, membuat Andreas tidak tega mengadu tentang kabar ini kepada Andy.


Andreas terus melangkah menuju kelas miliknya dengan wajah tertunduk dan pandanganya kosong. Sesampainya di dalam kelas, Andreas terus menatap wajah ceria Andy tak seperti biasanya.


“Kau darimana saja?” tanya Andy setelah Andreas duduk di kursinya.


“A-aku baru saja cari udara segar di luar,” sahut Andreas kikuk.


“Lain kali saat gadis-gadis menyerbu mejaku, aku minta sama kau untuk mencegahnya. Kau tau, kan saat ini aku datang ke sekolah karena ada ujian harian. Kalau aku sampai kenapa-kenapa dan hasil ujianku jelek, aku jadi tidak bisa pamer kepada bu Karina,” celetuk Andy masih terus mengobrol tanpa menyadari sikap aneh Andreas.


“Bu Karina. Apa kau tahu kemana hari ini bu Karina pergi?” tanya Andreas masih dalam posisi duduk membelakangi Andy.


“Tentu saja aku tahu. Tadi pagi bu Karina berpamitan kepadaku, ia mengatakan ingin pergi ke Medan untuk menemani Ibunya,” sahut Andy santai.


‘Berbohong. Kenapa bu Karina tega membohongi Andy?’ batin Andreas geram.


“Emang kenapa? Hem…aku perhatikan kau sedikit aneh? Apa kau sakit?” tanya Andy menarik-narik lengan seragam sekolah Andreas dari belakang.


Tidak ingin membuat Andy mencemaskan dirinya. Andreas berulang kali menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Kemudian berbalik badan, memasang wajah bodoh dan senyuman palsunya kepada Andy.


“Hahaha! Aneh? Itu menurut kau. Bagaimana mungkin seroang pria setampan aku ini aneh!”


“Tuh, kan. Ada gila-gilanya ku rasa kau,” cetus Andy tetap tidak menyadari sikap Andreas.


“Sebentar lagi bel pelajaran pertama akan di mulai. Gimana kalau kita menulis contekan,” usul Andreas.


“Gila kau, malas ah! Kalau aku ketahuan ngopek, bisa-bisa bu Karina marah padaku. Lebih baik aku mendapatkan hasil yang alami, daripada hasil bagus hasil ngopek. Macam korupsi saja jadinya!” tolak Andy tegas.


“Okeh! Kalau gitu aku saja yang membuat contekan,” celetuk Andreas kembali ke posisi duduknya, dan mulai membuat contekan di atas kertas.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2