Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
30. Sesuai Janji


__ADS_3

Sesuai dengan janji Andy kepada Karina.


Andy telah menunggu cukup lama di depan pintu gerbang salah satu murid les private Karina.


“Kenapa lama sekali, sudah hampir jam 9 ini loh!” gerutu Andy kesal.


Andy terus berdiri di samping sepeda motor miliknya, menatap lurus ke pintu rumah dari balik gerbang terbuka sedikit.


5 menit kemudian, akhirnya Karina keluar dari dalam rumah di antar oleh seorang pria berusia 35 tahun, dan satu orang gadis kecil berusia 10 tahun.


Karina bersama pria dan anak kecil tersebut berdiri di teras rumah, terlihat sedang berbincang hangat dengan bibir dan suara tawa terdengar samar-samar di telinga Andy.


Tubuh Andy langsung menegang, kedua kakinya langsung melangkah cepat masuk ke dalam gerbang untuk menghampiri Karina agar berhenti berbas-basi dengan pria tersebut.


“Bu,” panggil Andy setelah ia berdiri di anak tangga teras rumah.


Karina dan pria tersebut melihat Andy.


“Siapa bu?” tanya pria tersebut kepada Karina.


“Ini adalah anak murid saya di sekolah. Namanya Andy,” sahut Karina menjelaskan.


“Oh! Saya pikir pemuda ini adalah kekasih ibu. Hampir saja—” gumamnya menggantung.


Menyadari jika pria itu menyukai Karina, Andy segera melangkah naik ke atas teras. Mendekati pria tersebut tanpa ada rasa takut ia berbisik di telinga pria itu.


“Hampir, kenapa? Jangan bilang kalau kau itu menyukai bu Karina! Aku peringatkan sama kau, ya. Jauhi bu Karina kalau kau ingin selamat!” bisik Andy mengancam.


Bukannya takut, pria tersebut malah tertawa puas sambil memukul-mukul pelan pundak Andy.


“Sopan santun pemuda zaman sekarang memang kurang. Saya tidak takut dengan ancaman kamu, anak kecil!” cetus pria tersebut dengan sisa tawanya.


Karina mengernyitkan dahinya sembari mendekati Andy.


“Kamu jangan bersikap kasar kepada orang lain, kenapa!” tegur Karina.


Andy tidak menjawab, dengan wajah kesal dan penuh amarah ia menggenggam pergelangan tangan Karina, membawanya pergi meninggalkan rumah pria tersebut. Sedangkan pria tersebut masih tertawa menatap kepergian Karina dan Andy.


“Kamu kenapa sih?” tanya Karina melepas kasar genggaman tangan Andy setelah mereka sampai di samping sepeda motor.


Andy tidak menjawab, ia hanya memasang raut wajah suram sambil menaiki sepeda motor dan memakai helm.


“Andy!” panggil Karina kembali dengan tegas.


Andy tetap tidak menjawab, ia memakaikan helm dengan lembut ke kepala Karina.


Dengan penuh kesabaran dan memaklumi sikap Andy, akhirnya Karina memutuskan untuk mengalah. Diam dan naik ke atas sepeda motor siap jalan.

__ADS_1


Setelah Karina naik, Andy melajukan sepeda motor miliknya sedikit mengebut agar Karina memeluk dirinya.


Takut jatuh, Karina dengan terpaksa memeluk Andy, menatap wajah suram tertutup helm sport dari samping.


‘Kenapa dengan Andy, ya? Apa dia benar-benar menyukaiku. Ya, ampun. Kenapa hal ini harus terjadi dengan kami berdua. Kalau seperti ini jadinya, saya harus berbuat apa,’ batin Karina cemas.


Setelah 30 menit melaju dalam diam. Akhirnya sepeda motor Andy terhenti di salah satu restauran di Citraland.


“Kenapa kita pergi ke sini?” tanya Karina memandang sekeliling tempat.


“Aku hanya ingin duduk berdua dengan ibu. Menikmati suasana romantis di sini,” sahut Andy datar.


“Saya sudah tua, tidak pantas menikmati hal seperti ini,” ucap Karina membuat raut wajah Andy semakin datar dan suram.


“Jangan membahas soal umur. Sekarang, ikut masuk bersamaku,” cetus Andy sembari mengambil tangan Karina dan menggenggamnya.


“Andy, lepaskan tangan saya,” pinta Karina sedikit berbisik.


“Aku tidak akan melepaskannya. Biar semua orang tahu kalau ibu itu adalah milikku!” tolak Andy, kaki kanannya perlahan melangkah diikuti Karina.


Tidak ingin berdebat di tempat umum. Karina membiarkan Andy menggenggam tangannya sambil terus melangkah memasuki restauran tersebut.


Langkah kaki Andy dan Karina terhenti di depan pintu masuk. Mereka di sambut hangat oleh salah satu karyawan.


“Selamat malam, apa sebelumnya sudah memesan tempat?” tanya karyawan tersebut ramah.


“Oh, mari saya antar,” ucap karyawan tersebut melangkah terlebih dulu untuk menunjukkan meja pesanan Andy.


Setelah sampai di meja, karyawan tersebut kembali berkata.


“Untuk pesanannya silahkan tunggu sebentar ya, kami akan segera mengantarkannya,” tambah karyawan tersebut dengan ramah, kemudian melangkah menuju dapur.


Andy menarik kursi, mempersilahkan Karina duduk, kemudian ia duduk saling berhadapan.


Suasana romantis benar-benar sangat mendukung di tempat itu, dengan alunan musik dan suara pancuran air kolam renang menambah kesan romantis.


Pesanan makan dan minuman mereka akhirnya datang. Pelayan meletakkan dengan sopan di atas meja, lalu kembali pergi.


Sejenak mereka duduk dalam diam, masing-masing wajah terlihat begitu gugup dan tegang.


Andy membuang wajahnya ke sisi kiri, menatap kolam renang.


‘Buset! Kenapa aku mendadak gugup seperti ini?’ batin Andy.


Sedangkan dalam hati Karina. ‘Kenapa jantung ini tiba-tiba berdegup kencang. Mana suasananya sangat hening dan benar-benar romantis lagi. Aduh, jadi gugup,’ batin Karina.


Tidak ingin terlarut dalam gugup, Karina segera memecah suasana dengan membahas masalah tadi.

__ADS_1


“Kalau saya boleh tahu, kenapa sikap kamu tadi seperti itu?” tanya Karina kembali.


“Bukannya aku sudah mengatakan jika aku menyukai ibu dan tidak ada orang lain yang boleh menyukai dan mendekati ibu!” sahut Andy tegas dalam sekali tarikan nafas.


“Apa kamu pikir, bapak dari murid saya tadi, menyukai saya?” tanya Karina ingin mengetahui pikiran Andy.


“Tentu saja. Siapa sih, yang tidak menyukai ibu. Terlebih lagi kalau ibu itu cantik dan lembut,” sahut Andy keceplosan di kalimat terakhirnya.


“Maksudnya?” tanya Karina belum mengerti maksud Andy.


“Sudahlah, lupakan saja,” sahut Andy mengakhiri percakapan. Andy membuka plastik penutup makanan dari piring. “Makan dulu, bu. Kali ini aku yang traktir dengan menyisihkan uang jajan sekolahku,” tambah Andy merendahkan nada suaranya karena malu.


“Saya jadi penasaran gimana rasanya menikmati uang dari hasil menyisihkan uang jajan,” cetus Karina sambil membuka plastik makanan dari piring miliknya.


“Tunggu aku 5 bulan lagi, aku akan mentraktir ibu dengan uang hasil kerja kerasku!” ucap Andy tegas.


“Apa kamu lupa, 5 bulan lagi saya tidak ada di tanah air,” ucap Karina mengingatkan.


“Dimana pun ibu berada, aku pasti akan datang untuk mentraktir ibu. Satu lagi, aku juga akan menitipkan sebuh benih di rahim ibu agar ibu tidak memilih lelaki lain,” celetuk Andy di kalimat terakhir tanpa berpikir.


“Uhuk, uhuk!” Karina mendengarnya sampai tersedak-sedak.


Dengan santai, Andy mengulurkan tangan, memberikan gelas berisi minuman kepada Karina.


“Minum dulu bu, biar nggak tersedak!” ucap Andy dengan mulut penuh makanan dan raut wajah santainya.


Karina menerima gelas pemberian Andy dan meminumnya, lalu menatap serius wajah Andy.


“Kenapa kamu berkata seperti itu tadi?” tanya Karina ingin mendengar penjelasan Andy.


“Yang mana bu?” Andy balik bertanya dengan wajah cueknya.


“Tentang yang tadi Andy. Ucapan kamu itu bisa membuat semua orang di sini salah paham,” tegur Karina merendahkan nada suaranya, sorot mata memandang sekeliling pengunjung sedang melihat ke arah mereka berdua.


“Oh, yang tadi? Iya, aku memang serius akan melakukannya nanti,” sahut Andy kembali dengan wajah santainya.


“Andy,” panggil Karina menekan nada suaranya.


“Begini bu, aku tidak suka berbohong. Aku menyukai ibu, sangat-sangat menyukai ibu!” jelas Andy menatap Karina dengan serius.


Karina benar-benar tidak bisa berkutik, ia menelan kasar sisa makanan di dalam mulutnya, sambil membalas tatapan Andy.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2