
Selesai makan, Andreas dan Andy memilih untuk menghabiskan waktu mereka di ruang bermain milik Andy. Tepat di belakang rumahnya terdapat sebuah ruangan berisi alat-alat jem, billiard, ada juga playstation.
Taq taq!
Terdengar suara bola billiard masuk ke dalam lubang.
Sambil menegakkan stik billiard untuk menopang sebelah tangannya Andreas mulai mengajak Andy berbicara.
“Apakah kau sudah tenang?” tanya Andreas sambil mengatur bola ke dalam triangle.
“Sudahlah. Aku sudah mencoba untuk tegar dan tenang sampai kelulusan menjelang nanti,” sahut Andy mulai meletakkan stik ke atas bridge.
“Baguslah. Ini ya, aku kasih tahu samamu. Kalau memang kau benar-benar menyukai bu Karina, kau harus menepati semua janji dan mengabulkan semua keinginan bu Karina, agar saat di sana dia tidak kepikiran kamu terus,” usul Andreas memberitahu.
“Iya, aku tahu. Tapi, rasanya aku ingin menyusulnya ke sana,” ucap Andy sambil melanjutkan permainannya.
“Yang gila ku rasa kau ini. Jangan-jangan. Lebih baik kau itu di sini! 2 bulan lagi loh.”
Andy menyugar poni depannya. “Hah. 1 hari aja ku rasa sudah cukup lama. Apa lagi menunggu 2 bulan lagi menuju kelulusan,” hela Andy.
“Bukan hanya itu. Kau juga harus membuktikan kepada bu Karina jika kau bisa menjadi pria dewasa yang mampu menafkahinya,” tambah Andreas memberitahu.
“Panjang kali penjelasanmu. Macam emak-emak lagi promosi pancinya aja!” protes Andy kesal mendengar saran dari Andreas.
“Jangan protes dulu kau. Bukannya kau ingin membuat bu Karina jatuh hati padamu? Kau harus ingat jika selisih umur kalian itu sangat jauh berbeda. Kau juga harus ingat jika bu Karina itu adalah tipe wanita idaman para kaum adam. Apa kau rela jika suatu hari nanti bu Karina di rebut oleh pria lebih dewasa darimu?” celetuk Andreas menakut-nakuti.
“Ck. Iya lah, aku akan terima saran kau!”
Sehabis berbincang dan bermain selama 1 jam. Andreas memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya, karena sang Mama meneleponnya.
Di saat Andreas pulang. Khandar juga baru saja pulang dari rapat di kantor.
“Ikut Papa ke ruangan!” perintah Khandar sembari melangkah melewati Andy masih berdiri di teras rumah.
Andy mengikuti Khandar, menuju ruang kerja miliknya. Sesampainya Andy di ruang kerja, Khandar langsung mengulurkan tangannya, memberikan map berisi berkas-berkas penting.
“Apa ini, Pa?” tanya Andy setelah mengambil dokumen tersebut.
“2 bulan lagi kamu akan selesai sekolah. Dan itu adalah dokumen berisi tentang Perusahaan kecil untuk kamu kelola setelah tamat nantinya,” sahut Khandar memberitahu.
“Perusahaan bergerak di bidang apa ini, Pa?” tanya Andy sembari membuka lembaran per lembaran dokumen tersebut.
__ADS_1
“Perusahaan bergerak di bidang makanan. Karyawan, koki handal, ahli gizi makanan, dan BPOM makanan sudah Papa rekrut untuk Perusahaan kamu!” jelas Khandar memberitahu dengan serius.
“Aku belum ahli memegang Perusahaan,” ucap Andy meletakkan berkas berisi dokumen di atas meja Khandar.
Khandar menyandarkan tubuhnya dan berkata. “Tidak masalah, Papa juga sudah memilih seorang pendamping untuk membimbing kamu nantinya.”
“Terima kasih, Pa!”
“Oh ya, Papa dengar kamu tadi bolos sekolah. Apakah itu benar?” tanya Khandar menatap tajam wajah bingung Andy.
“Hem!” angguk Andy menundukkan kepalanya.
Braaak!
“Apa alasannya?” tanya Khandar setelah menggebrak meja kerjanya dengan sangat kuat.
“Bu Karina. Bu Karina telah pergi ke Luar Negeri untuk menyambung S2 di sana,” sahut Andy semakin menundukkan kepala dan merendahkan nada suaranya.
“Hanya hal sepele ternyata!” hela Khandar menyeringai.
Mendengar perkataan Khandar, Andy menjadi tidak senang.
“Hal sepele. Hal sepele Papa bilang? Bu Karina adalah segalanya bagiku, Pa. hanya dia. Hanya dia yang bisa memaklumi aku. Menemani dan mengerti semua situasi yang aku alami!” ucap Andy melayangkan protes.
Khandar sengaja mengucapkan hal seperti itu agar dirinya bisa mengetahui tentang perasaan Andy kepada Karina.
Andy berulang kali menarik nafas panjang, dadanya juga terlihat naik turun seakan menahan amarah ingin meledak dari dalam hatinya. Namun, semua amarah dan sikap kasarnya harus berhenti saat kedua telinganya sayup-sayup mendengar suara Karina mengatakan, ‘sopan lah kepada Pak Khandar, karena hanya dia orang tuamu saat ini’.
Tidak ingin lepas kendali. Andy berbalik badan, melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja Khandar dengan dada masih dipenuhi amarah.
“Beasiswa ke Luar Negeri,” gumam Khandar sambil mengangguk.
Blam!
Andy menutup pintu kamar dengan kuat dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
“Papa itu tahunya hanya bisa protes dan memberi keputusan dengan pemikirannya sendiri. Kalau Papa adalah orang tua yang baik mendingan, ini. Papa masih menjadi orang tua yang buruk aja sudah belagu,’ gerutu Andy bergumam.
Di tengah kekesalannya. Andy mendapat panggilan telepon dari nomor asing.
“Siapa ini?” gumam Andy saat melihat nomor asing di di layar ponselnya.
__ADS_1
Tadinya Andy tidak ingin menjawab, sampai panggilan ke-4, barulah Andy menekan tombol hijau.
5 menit dalam diam, akhirnya terdengar suara dari seorang wanita di sebrang sana.
📲 [“Assalamualaikum. Andy, ini saya, bu Karina.”] ucap Karina mengejutkan Andy.
📲 [“Salam. Ada apa meneleponku?”] ketus Andy merebahkan tubuhnya, sorot matanya memandang langit-langit kamar.
📲 [“Maafkan saya. Karena terburu-buru saya sampai lupa menyempatkan diri mengunjungi kamu.”]
📲[“Aku nggak akan memaafkan ibu.”] ketus Andy seperti anak kecil.
📲 [“Hal apa yang harus saya lakukan untuk kamu. Agar kamu bisa memaafkan saya?”]
📲 [“Kabarin aku setiap saat, menit, detik, dan jam. Kalau perlu, aku ingin melakukan video call, agar aku percaya jika ibu tidak memiliki lelaki lain di sana!”] sahut Andy seperti anak kecil.
📲 [“Kalau kamu meminta video call setiap saat. Maka uang bulanan saya akan habis untuk membeli pulsa. Apa kamu tidak kasihan pada saya?”]
📲 [“Nggak! Aku benci ibu.”]
📲 [“Andy.”] panggil Karina lembut, Andy menjawabnya dengan mendengus.
📲 [“2 bulan lagi kamu akan memasuki ujian UAN dan UAS. Saya harap kamu bisa memenuhi semua janjimu kepada saya. Satu hal lagi, kamu harus berjanji untuk tidak melakukan balap liar dan berkelahi di sekolah. Jangan buat saya sedih di sini, ya?”] tambah Karina dengan suara lembut.
📲 [“Iya, aku tidak akan melakukan hal itu.”] sahut Andy dengan wajah bete.
📲 [“Kamu sudah makan?”] tanya Karina ingin membujuk Andy.
📲 [“Sudah tadi siang bersama dengan Andreas.”] sahut Andy sambil mengubah posisi tidurnya menjadi miring.
📲 [“Syukurlah, saya pikir kamu tidak makan.”] lega Karina.
📲 [“Saya mau mandi dulu. Selamat malam.”] lanjut Karina sembari menutup panggilan teleponnya.
Bukannya tenang setelah mendengar suara Karina. Andy tiba-tiba merasa cemas, sampai-sampai terduduk dengan dahi mengernyit.
“Katanya mau pergi mandi. Bu Karina mandi sendiri atau mandi berdua dengan sama seorang pria?” gumam Andy dengan pikiran anehnya. “Akh! Kenapa aku jadi mendadak frustasi seperti ini!” lanjut Andy berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri.
.
.
__ADS_1
bersambung