Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
72. Dewasa


__ADS_3

Mobil Andy telah terparkir di garasi, ia turun, berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Namun, langkah kakinya terhenti di ruang tamu karena Khandar memanggilnya.


“Selesai mandi, segera turun karena Papa akan menunggumu untuk makan malam bersama,” ucap Khandar tiba-tiba.


Andy tidak menjawab, ia hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.


“Kenapa dengan Andy?” gumam Khandar bingung setelah melihat raut wajah suram Andy.


Sesampainya di kamar, Andy berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya. Ia terus memandang pantulan wajahnya terlihat begitu menyedihkan.


“Maafkan aku, Karina. Karena aku yang bodoh dan penakut ini belum bisa memberikan kepastian tentang kapan aku akan melamarmu. Tapi aku janji, aku janji akan segera membahas ini kepada Papa. Tunggu aku, Karina,” gumam Andy menatap pantulan dirinya sendiri.


Selesai berdebat dengan dirinya sendiri, Andy bergegas mandi, dan turun untuk menemani Khandar makan malam.


‘Kenapa dengan raut wajah Andy. Apakah dia ada masalah dengan Karina?’ batin Khandar menatap kedatangan Andy.


“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Khandar cemas.


“Baik,” sahut Andy singkat, kedua tangannya membalik piring, duduk di kursi dan mengambil nasi serta lauk-pauknya.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Khandar berbasa-basi.


“Semuanya aman-aman saja, Pa,” sahut Andy singkat.


Khandar hanya mengangguk karena kehabisan kata-kata.


“Kalau seperti itu mari kita makan dulu,” ucap Khandar mengakhiri percakapan mereka.


Khandar dan Andy menikmati santap makan mereka dengan nikmat. 20 menit kemudian, Andy dan Khandar sudah selesai makan, pring-piring kotor milik mereka juga sudah di bawa ke dapur oleh bibi.


“Pa, aku mau keluar. Cari udara segar,” pamit Andy.


“Pergilah,” sahut Khandar.


Suntuk memikirkan bagaimana cara membicarakan tentang lamaran. Andy memilih untuk keluar, menghabiskan waktunya pergi berkeliling kota.


Masih merasa jenuh. Andy memutuskan menelepon Andreas, menyuruhnya untuk menjumpai dirinya di apartemen miliknya.


...----------------...


1 jam kemudian

__ADS_1


Ding dong ding dong


Andreas berulang kali menekan pintu bel apartemen Andy.


"Dimana nya anak boda*t satu ini?" gumam Andreas. Andreas datang membawa sebotol minuman dan beberapa bungkus kacang sihobuk.


“Berisik kali kau!” omel Andy setelah ia membuka pintu.


“Jangan ngomel aja kau. Kau harus bersyukur karena aku telah datang,” cetus Andreas sembari melangkah masuk melewati Andy.


“Macam perempuan kau ku tengok. Bawak-bawakan makanan segala,” celetuk Andy melihat meja tamu telah dipenuhi makanan dan minuman di bawa oleh Andreas.


“Banyak kali bacot kau. Kalau belum bisa memberikanku makanan dan minuman seperti ini. Lebih bagus diam aja lah kau,” cetus Andreas sembari menggigit pinggiran bungkus kacang sihobuk.


“Apa nih cerita?” tambah Andreas sambil menikmati kacang telah di buka.


Andy mendudukkan dirinya di sofa single, lalu meminum segelas minuman di bawa oleh Andreas.


“Karina,” ucap Andy menggantung.


“Hem, kenapa lagi dengan mantan bu guru cantik itu?” tanya Andreas penasaran.


“Wajar saja kalau Ayahnya mendesak kau seperti itu. Aku pun kalau memiliki anak perawan yang sudah berumur, sudah pasti ku desak laki-laki itu. Apalagi kau sudah sering bawa Bu Karina kemana-mana,” ucap Andreas membenarkan ucapan Junaidi.


“Aku tahu. Tapi yang jadi masalahnya sekarang ini adalah aku bingung harus mengatakan apa ke Papa. Aku takut Papa tidak merestui hubungan kami berdua,” ungkap Andy cemas.


“Belum kau coba bertanya pada Om Khandar, sudah cemas berlebihan seperti ini kau. Daripada kau terus menebak-nebak seperti ini, lebih baik kau pulang dan beritahu Om Khandar mengenai niat bagus mu itu,” usul Andreas.


“Nanti ajalah itu. Aku mau menenangkan diri dulu di sini,” ucap Andy merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


“Terserah kau ajalah. Kalau aku jadi kau, sudah pasti aku akan segera membahasnya kepada Mama. Mungkin karena aku tuh orangnya tidak sabaran kali, ya. Apalagi setelah memikirkan akan hidup berdua, tidur seranjang, mandi bareng, dan…akh! Banyak hal mesum yang sedang aku pikirkan kalau teringat nama Kak Fitri,” gumam Andreas dengan pikiran mesumnya.


“Yee, otak kau kan memang selalu mesum!”


“Namanya aku laki-laki. Kalau nggak laki-laki mana mungkin aku memiliki sifat mesum, mata jelalatan dan lain halnya,” sahut Andreas membela dirinya.


“Ialah, terserah kau aja!”


5 menit saling diam. Andy kembali berkata.


“Karena aku belum bisa mendapatkan sebuah kepastian dari Papa. Tadi sore aku mengatakan pada Karina kalau untuk sementara ini kami tidak saling bertemu, dan berhubungan satu sama lainnya,” tambah Andy curhat.

__ADS_1


“Apa?!” celetuk Andreas terkejut.


“Iya, aku mengatakan hal itu agar Karina bisa lebih tenang, tak memikirkan tentang pertunangan dan pernikahan,” ucap Andy menegaskan.


“Uda gila ku rasa kau!”


“Gila kenapa rupanya aku. Bukannya tujuanku mengatakan hal itu adalah hal yang bagus,” ucap Andy memberitahu.


“Bagus darimana? Dimana-dimana kalau kita ada masalah, apalagi kalau kau benar-benar menyukainya. Sampai titik darah penghabisan, langit terbelah menjadi 1000 bagian sekalipun, seharusnya kau tetap berdiri di samping bu Karina. Memberinya semangat dan menyakinkan jika diri kau itu memang serius mendekatinya. Bukan malah menjauh seperti seorang pengecut!” jelas Andreas panjang lebar.


“Sudah terlanjur, mau gimana lagi,” hela Andy mulai gelisah.


“Akh! Memang paok lah kau ku rasa,” geleng Andreas tak habis pikir.


“Entahlah, suntuk kali ku rasa memikirkan pernikahan ini. Kalau tahu aku menikah sesulit ini, lebih baik ku hamili saja Karina,” gumam Andy, tangannya mengambil sebotol minuman baru dan menenggaknya.


“Anak boda*t. Justru sebelum menikah seperti inilah kau harus mengambil hikmah dari semua perjalanan yang telah kau lalui, gimana caranya mendapatkan bu Karina. Agar suatu saat jika kau memiliki masalah, dan merasa jenuh pada status hubunganmu dengan istrimu, kau tidak langsung bercerai. Kau jadi bisa memikirkan betapa sulitnya saat ingin menikahi Karina,” Andreas menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. “Jangan macam orang-orang, jenuh sikit selingkuh. Bosan dan merasa tak cocok bercerai,” tambah Andreas.


“Tumben dewasa. Dapat susunan kalimat bagus darimana kau itu?” tanya Andy penasaran.


“Ya…ya tentu saja dari pengalaman hidup Mama,” sahut Andreas berbohong. Padahal dirinya mendengar kalimat itu dari bibir Fitri.


“Taunya aku,” gumam Andy sembari mengupas kacang sihobuk.


“Aku beritahu kau, ya. Sebaiknya kamu selesaikan masalah kau ini. jangan terus lari seperti anak kecil,” tegas Andreas.


“Iya!” angguk Andreas terpaksa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di dalam kamar Karina


Karina meratapi kesedihannya atas kalimat Andy. Bulir air matanya terus menetes tak terbendung memikirkan jika dirinya tidak akan bertemu dengan Andy sampai Andy bisa mendapatkan sebuah kepastian.


Ingin marah pada Andy. Tapi apalah daya, Andy berbicara seperti itu karena sang Ayah memaksakan Andy.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2