Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
61. BISIKAN HANIFFAH


__ADS_3

Fitri, Karina, Andy dan Andreas lanjut mengobrol sampai bakso bakar dan minuman dingin mereka pesan habis di makan. Di tengah-tengah perbincangan mereka berempat, ada sosok wanita berjalan ke arah mereka.


“Bos Andy!” panggil wanita itu berhenti tepat di hadapan Andy.


Karina, Fitri dan Andreas melirik ke Andy lalu ke wanita memakai pakaian mini dress, rambut ikal panjang.


Andy sendiri memalingkan wajahnya seolah jijik melihat wanita tersebut tak lain adalah sekretarisnya, Haniffah.


“Sebaiknya kita pulang saja,” ajak Andy, tangannya memegang pergelangan tangan Karina.


Haniffah melirik ke genggaman tangan Andy, lalu perlahan kedua mata itu naik ke atas, terhenti memandang sosok teduh dan cantiknya wajah Karina.


‘Jadi ini wanita itu,’ batin Haniffah.


Karina, Andy, Andreas dan Fitri sudah beranjak dari duduknya, kedua kaki mereka hendak melangkah pergi. Namun, Haniffah menahan sebelah tangan Andy.


Andy spontan menoleh, menatap tajam pada genggaman tangan Haniffah.


“Lepaskan aku!” tegas Andy.


Karina masih diam, memperhatikan sikap Andy dan Haniffah.


“Siapa?” tanya Fitri berbisik kepada Andreas.


“Sekretaris Andy di kantor,” sahut Andreas ikutan berbisik, sorot mata masih memandang Haniffah dan Andy.


“Saya akan melepaskan gengaman tangan ini, asalkan Bos mau bertanggung jawab,” sahut Haniffah ambigu.


Degser!


Aliran darah Karina naik turun mendengarnya. Pikiran buruk mulai menghantuinya.


Andy melirik ke Karina, lalu menatap sinis ke Haniffah.


“Apa maksud kau?” tanya Andy sedikit membentak.


Karina menyingkap sedikit poni depannya, menunjukkan perban di dahinya.


“Saya ingin bos bertanggung jawab atas semua ini,” tunjuk Haniffah mengejutkan Karina dan Fitri.


Seolah tak peduli dengan ucapan Haniffah. Andy kembali menggenggam tangan Karina, ingin mengajak Karina pergi namun Karina melepaskan genggaman tangan Andy.


Senyum puas pun tercetak di wajah Haniffah.


‘Bagus. Ternyata mantan guru bk ini gampang terpengaruh juga,’ batin Haniffah.


“Kamu kenapa?” tanya Andy bingung.


“Kenapa kamu masih bersikap kasar kepada orang lain. Bahkan wanita yang kamu lukai itu adalah sekretaris kamu sendiri,” sahut Karina kecewa.

__ADS_1


“Penjelasannya panjang. Dan kamu tidak perlu tahu mengapa aku melakukan hal itu kepada wanita bermuka dua ini,” ucap Andy menjelaskan.


“Oh! Jadi saya tidak boleh tahu, ya?”


“Bu-bukan begitu ceritanya. Kamu boleh tahu, tapi—” Andy berusaha menjelaskan kembali ucapannya tadi. Tapi Karina tidak mau mendengarkannya.


“Katakan pada saya. Apa yang terjadi sebenarnya?” sela Karina tegas.


Berulang kali Andy menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu ia menjelaskan secara perlahan kepada Karina.


“Begini, saat aku dan Andreas hendak berbincang. Aku melihat ada sepasang mata mengintip dari balik pintu. Aku kesal, tanganku spontan mengambil asbak rokok dan melemparnya. Tapi, aku sangat yakin lemparanku tidak mengenai kulitnya,” jelas Andy penuh keyakinan.


“Bohong!” tepis Haniffah mengejutkan Andreas dan Andy.


“Maksudnya?” tanya Karina ingin mengetahui.


Haniffah menunjuk Andy sembari berkata, “Bos hendak melecehkan saya!” tangan Haniffah menunjuk ke Andreas. “Karena lelaki tukang paket ini datang ke ruangan bos. Bos Andy spontan mendorong tubuh saya sampai dahi ini membentur sudut meja!” tambah Haniffah berbohong.


“Wah!” geleng Andreas takjub melihat sandiwara Haniffah.


Karina sedikit syok.


‘Wanita rendahan ini,’ batin Andy menatap Haniffah.


Geram dengan Haniffah, dan bingung mau gimana menjelaskan kepada Karina karena ia takut jika Karina pasti tidak mempercayainya. Andy hanya tersenyum, lalu memutar arah berdirinya menghadap Karina.


Karina bingung, ia melirik ke wajah Haniffah terlihat sendu, lalu menatap wajah tenang Andy.


“Saya percaya pada kamu,” sahut Karina membuat Haniffah menggeram.


Andreas dan Fitri menghela nafas lega setelah mendengar jawaban Karina.


Haniffah berdecak kesal. Tak menyerah begitu saja. Haniffah kembali membuat acting di hadapan Karina.


“Kamu, Karina, kan?” tanya Haniffah menatap Karina dari atas sampai bawah.


“Iya, kenapa?” sahut Karina kembali bertanya.


“Oh!” Haniffah mendekatkan bibirnya ke daun teling Karina, dan berbisik, “Aku kasih tahu ke kamu. Lelaki ini adalah seorang pria ABCDZ. Bos Andy sebenarnya ada memiliki hubungan khusus dengan pria itu. Bos Andy berpacaran dengan kamu karena dia ingin menutupi perbuatannya. Berhati-hatilah kamu!”


Puas mengatakan hal buruk tentang Andy dan Andreas kepada Karina. Haniffah melangkah pergi, tak lupa senyuman dan tatapan penuh makna tertuju pada Andy. Sedangkan Karina berdiri seperti patung.


“Apa yang dikatakan wanita itu kepada kamu?” tanya Andy membuyarkan lamunan Karina.


Karina menatap wajah Andy dan Andreas secara bergantian.


“Saya hanya ingin pulang,” sahut Karina tak bersemangat.


“Kami juga kebetulan mau pulang. Kita barengan aja yuk!” cetus Andreas.

__ADS_1


Karina hanya mengangguk.


Karina, Andy, Andreas dan Fitri melangkah bersama menuju parkiran sepeda motor mereka. Sambil menunggu Andy dan Andreas mengambil sepeda motor, Fitri menyempatkan diri untuk bertanya mengenai bisikan Haniffah.


“Bu Karina. Mohon maaf sebelumnya. Kalau saya boleh tahu, wanita itu berbisik apa?” tanya Fitri penasaran.


“Wanita itu mengatakan jika Andy dan Andreas memiliki hubungan spesial,” sahut Karina tanpa menutupi apa pun.


Mendengar hal itu, Fitri spontan tertawa. Andy dan Andreas baru saja sampai langsung bingung di buat Fitri.


“Kamu kenapa tertawa?” tanya Andreas penasaran.


“Wanita yang kamu bilang pernah menjelekkan Andy kepadamu. Ternyata telah menjelekkan kamu dan Andy kepada Karina. Bedanya, sekretaris itu mengatakan jika Andy dan kamu memiliki hubungan spesial,” sahut Fitri menjelaskan dengan sisa tawanya.


Karina menunduk karena malu.


“Benarkah itu?” tanya Andy menatap wajah tunduk Karina.


“Benar,” angguk Karina.


Tak kuasa menahan tawa. Andreas spontan tertawa puas sampai-sampai perutnya sakit.


“Apa ada yang lucu?” tanya Karina menahan malu.


“Iya, ternyata bu Karina adalah wanita yang sangat polos. Mentang-mentang kami bersahabat sejak lama. Banyak orang yang menganggap kami seperti itu,” sahut Andreas dengan sisa tawanya. Andy sendiri mengangguk.


Fitri mendekati Karina, memegang pundak kanan dan berkata, “Saya hanya bisa bilang. Jangan mudah percaya dengan ucapan orang lain.”


“Iya, kenapa saya jadi wanita bimbang seperti ini, ya?” gumam Karina kemudian tertawa kecil. “Maaf ya, Andy!” lanjut Karina meminta maaf kepada Andy.


“Kamu tidak salah, jadi jangan minta maaf,” Andy memukul tempat duduk bagian belakang sepeda motor. “Ayo, naik!” lanjut Andy menyuruh Karina untuk naik dan duduk di bangku belakang.


Karina pun naik. Begitu juga dengan Fitri. Sepeda motor milik Andy dan Andreas perlahan melaju meninggalkan pintu masuk Lapangan Merdeka.


.


.


Di dalam mobil Haniffah.


Sambil melajukan mobil miliknya Haniffah terus tersenyum, puas akan tuduhan ambigu nya tentang Andy dan juga Andreas kepada Karina.


“Aku sangat yakin jika mala mini juga kalian berdua pasti akan putus. Tentang masalah besok pagi saat bertemu dengan Bos Andy di kantor, maka aku akan memberikan sebuah alasan yang tepat. Selamat tinggal Karina, karena aku akan menggantikan kamu!”


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2