
Tak puas hanya melihat dari dalam mobil. Haniffah memutuskan untuk melihat dari dekat. Tak lupa memakai kaca mata, dan masker, lalu turun dari dalam mobilnya, mengikuti secara diam-diam sampai masuk ke dalam restaurant.
Melihat Andy duduk di meja paling belakang. Haniffah memilih duduk di meja paling tengah, dimana banyak anak muda nongkrong di sana.
“Siapa ya, wanita itu?” gumam Haniffah bertanya sendiri, lirikan mata dari balik kacamata sesekali memandang ke belakang.
Pelayan datang menghampiri meja Haniffah, menulis pesanan kemudian pergi.
1 jam berlalu, Haniffah masih fokus dengan pekerjaannya menjadi seorang wanita kepo. Dari awal Andy masuk, sampai kini Andy telah pergi keluar dari kafe. Haniffah masih terus mengikuti Andy dengan wajah angkuhnya.
Merasa sukses mengikuti Andy tanpa ketahuan setelah menyamar. Ternyata, Andy mengetahuinya. Saat Haniffah membuka pintu mobil, Andy menghampirinya, memegang bahu Haniffah dari belakang.
“Kau pikir aku tidak tahu!” cetus Andy dingin.
Haniffah menoleh, bibirnya tersenyum kaku.
“Bos,” sapa Haniffah setelah ketahuan.
“Ngapain kau terus mengikuti ku?” tanya Andy sembari mengambil kaca mata hitam Haniffah dari wajah.
Haniffah pun panik, ia mencari-cari alasan untuk bisa menyelamatkan dirinya dari Andy.
“A-anu—”
Wanita dengan pakaian seksi mendekat, berdiri di samping Andy dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya.
“A-anu, apa ya, sayang?” tanya wanita itu kepada Haniffah.
Wanita berpakaian seksi itu ternyata adalah Mamanya Andreas, Mimi.
“Sa-saya hanya penasaran saja, kenapa tadi bos pergi dengan terburu-buru. Ternyata bos sedang bertemu dengan pacarnya,” sahut Haniffah gugup.
Mimi tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar.
“A-ada yang salah?” tanya Haniffah bingung kenapa Mimi tertawa sebegitu kuat dan senang.
“Lucu. Kamu lucu aja!” sahut Mimi dengan sisa tawanya.
“Sudah sangat siang, sebaiknya tante kembali saja. Biar aku yang mengurus sisanya,” cetus Andy tidak ingin melibatkan Mimi.
Haniffah membulatkan kedua bola matanya, menutup bibirnya dan bergumam dalam hati, ‘Ta-tante. Apakah bos muda ini simpanan tante-tante? Gawat! Pantas saja bos tidak suka dengan daun muda.’
“Oh, baiklah sayangku,” Mimi memeluk Andy, memberi cium pipi kanan kiri. “Kalau gitu, tante pergi dulu ya, sa…yang!” tambah Mimi sengaja, lirikan mata puas mengarah pada Haniffah terlihat begitu tercengang.
“Hati-hati ya, tante. Kalau sudah sampai kabari. Jangan buat aku cemas!” ucap Andy semakin membuat Haniffah ingin pingsan.
“Tentu!” Mimi melambai sambil melangkah mendekati mobilnya. “Daaa…pemuda berandalanku! Muuuaaaaach, akh!” tambah Mimi memberikan ciuman terbang di kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Haniffah benar-benar syok sampai-sampai kedua kakinya gemetar.
Andy melirik sekilas ke Haiffah, sudut bibirnya menaik melihat Haniffah terlihat syok sampai lemas.
“Lain kali jangan kepo. Kau bongkar rahasiaku, habislah kau jadi santapanku sampai kau tidak bisa bergerak lagi,” ancam Andy membuat Haniffah benar-benar tak berdaya, sampai terduduk lemah di lataran parkiran.
Broom broom!
Andy memutar sepeda motor miliknya, mendekati seorang wanita berpakaian stelan rapih dan sopan telah berdiri di depan teras kafe. Wanita telah memakai helm bogo naik, melambaikan tangannya ke Haniffah, lalu Andy melajukan kembali sepeda motornya meninggalkan kafe.
“Siapa lagi wanita itu?” gumam Haniffah benar-benar syok sampai tubuhnya menyandar di badan mobil.
...****************...
Wanita memakai pakaian sopan itu adalah Karina. Andy sengaja mentraktir Karina hanya untuk menghibur, karena saat mereka teleponan nada suara Karina terlihat begitu gugup.
Karina tidak menolak permintaan Andy. Setelah pulang interview, dan jarak gedung tempat ia interview tidak jauh dari tempat nongkrong anak muda.
Tapi, setiba Karina di teras kafe. Karina bertemu dengan Mimi kebetulan baru saja sampai. Sebentar menyapa Karina, Mimi memutuskan untuk masuk terlebih dahulu mencari meja buat mereka bertiga.
10 menit Mimi masuk ke dalam. Andy sampai.
Sesampainya di parkiran kafe kekinian, Andy tidak sengaja melihat Haniffah. Karena kesal melihat Haniffah mengikutinya, Andy meminta tolong kepada Mimi dan juga Karina untuk mengerjai Haniffah. Dan ternyata rencana Andy sukses.
...****************...
Haniffah berjalan menuju ruangannya dengan wajah lesu. Langkah kakinya terhenti di depan pintu ruangannya, tangan mendorong daun pintu. Namun, kedua matanya melirik ke pintu ruangan Andy.
“Cari siapa kamu?” tanya Andy dari dalam ruangan Haniffah.
Haniffah terkejut bukan main melihat Andy telah duduk di kursi kerjanya.
“Bo-Bos..”
Haniffah berlari masuk, berdiri di samping meja dengan tubuh sedikit membungkuk.
“Masih penasaran juga?” tanya Andy sembari bangkit dari duduknya, berjalan sedikit mendekati Haniffah, dan berkata. “Kamu harus ingat. Berhentilah untuk penasaran dengan perjalanan hidupku. Jika aku ceritakan, kamu pasti tidak akan percaya.”
Selesai memberi peringatan kecil, Andy melangkah besar meninggalkan ruangan kerja Haniffah.
Haniffah melirik kepergian Andy, kedua tangan di samping tubuhnya mengepal erat.
“Ujung tisu yang sudah basah tidak bisa di buat kering kembali. Meski tisu itu akan melebur terkena setetes air, tisu itu tetap bertahan. Begitu juga dengan aku. Aku tidak akan mudah berhenti mencaritahu dan mengejar kamu, Bos!” gumam Haniffah tak gentar.
Lelah karena satu harian di buat bingung oleh Andy, Haniffah menjatuhkan tubuhnya di kursi. Menghidupkan monitor dan kembali sibuk dengan pekerjaan miliknya.
.
__ADS_1
.
Di dalam ruang kerja Andy.
Andy terlihat fokus memandang layar monitornya, jari-jemari lainnya memainkan pena.
“Sudah 1 bulan aja aku memimpin Perusahaan ini. Karena besok tidak ada pekerjaan, gimana kalau aku menyuruh Haniffah membut kunjungan ke Pabrik dan bagian lab makanan. Kali aja ada sesuatu hal menarik yang akan aku temukan di sana,” gumam Andy berinisiatif. Tangannya menekan tombol pemanggil Haniffah.
Tok tok!
“Masuk!” ucap Andy menyuruh orang tersebut masuk.
“Ada hal apa bos memanggil saya?” tanya Haniffah setelah berdiri di depan meja Andy.
“Aku ingin kau membuat daftar kunjungan besok!” sahut Andy tegas.
“Ba-baik, saya akan segera membuatkan daftar kunjungan untuk bos.”
“Tapi aku mau kunjungan ini tidak diketahui oleh para karyawan. Aku ingin membuat kunjungan mendadak agar aku tahu gimana reaksi para karyawan-karyawan ku,” tambah Andy memberitahu.
“Baik. Saya akan membuatkannya, dan saya juga tidak akan membongkar rahasia ini,” sahut Haniffah.
“Bagus!” angguk Andy.
“Ada lagi perintah yang ingin bos buat?” tanya Haniffah menawarkan.
“Tidak ada. Aku hanya ingin segera pulang karena ada urusan,” sahut Andy sembari beranjak dari duduknya.
“Ta-tapi ini masih jam 3 sore bos, dan pekerjaan—” ucapan Haniffah terhenti karena Andy menggebrak meja kerja miliknya.
Andy perlahan mendekat, menatap lekat wajah Haniffah.
“Kau pula yang mengantur dan mengingatkan aku. Sepele kau samaku? Semua pekerjaanku telah selesai,” ucap Andy menekan nada suaranya.
“Ma-maaf bos. Ma-maafkan saya!” maaf Haniffah berulang kali ketakutan.
“Ck, pergi sana! Cepat kerjakan apa yang aku perintahkan,” tegas Andy.
“Ba-baik bos!"
Andy pun melangkah santai meninggalkan Haniffah masih berdiri di ruangannya.
.
.
bersambung
__ADS_1