Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
16. Gimana Kalau TAMA?


__ADS_3

Junaidi tadinya ingin memberi pelajaran kepada Andy karena telah berani menyebutnya sebagai pria mesum. Harus terjeda karena Tina tertarik melihat wajah polos dan wajah rupawan Andy. Tina memutuskan untuk memaafkan dan mengajak Andy untuk duduk bersamanya.


Di ruang tamu duduk Junaidi berwajah masam karena masih menaruh dendam kepada Andy. Di tambah lagi melihat Tina mengajak Andy berbincang, wajah Junaidi semakin suram. Sedangkan Karina membuatkan teh dan makanan ringan untuk di sajikan.


“Nak, apa benar kamu anak muridnya Karina?” tanya Tina mendekatkan duduknya ke Andy, tak lupa tatapan penuh harap menunggu jawaban dari Andy.


Wajah Andy berubah menjadi gugup dan bingung. Lirikan matanya mengarah ke koridor ruang dapur, berharap Karina segera datang untuk menolongnya terbebas dari ibunya Karina.


Melihat sikap sang istri begitu akrab dengan Andy, Junaidi bertambah cemburu. Berulang kali berdehem, berulang kali juga melakukan batuk kuat agar Tina bisa menjauh dari Andy. Tapi, Tina tidak peka dengan kode sang suami.


Karina datang membawa nampan kecil berisi teh dan makanan ringan. Meletakkan nampan berisi teh dan minuman di atas meja.


Menyadari wajah Andy terlihat tidak nyaman, dan wajah sang Ayah dipenuhi rasa cemburu. Karina memutuskan untuk duduk berhadapan dengan Andy.


“Bu Karina!” panggil Andy dengan gerakan mulut tanpa suara.


Karina tidak menjawab, ia memalingkan pandangannya ke Tina.


“Ekhem, bukannya tadi ibu pergi ke warung untuk membeli kopi buat Ayah?” tegur Karina lembut.


“Oh, iya. Ibu lupa kalau kopinya tadi tidak ada di warung. Jadi ibu membeli kopi sachet saja untuk Ayah kamu,” sahut Tina. Ia pun kembali menatap wajah Andy, dan balik bertanya. “Nak, wajah kamu terlihat seperti orang Pakistan. Apa kamu ada campuran orang sana?” tanya Tina.


“I-iya, almarhum Mama memiliki darah Pakistan,” sahut Andy gugup.


Karina mengernyitkan dahinya. Satu poin tentang kehidupan Andy perlahan terbuka. Tidak melarang sang ibu untuk kembali bertanya, Karina malah membiarkan ibunya terus bertanya agar bisa mengetahui sedikit demi sedikit tentang Andy demi mambantu merubah Andy menjadi anak lebih baik lagi.


“Inalillahi wa’inalillahi rozi'un. Maaf, ibu nggak tahu kalau Mama nak…siapa nama kamu, nak?”


“Andy Pratama, ibu bisa panggil Andy,” sahut Andy memberitahu dan mengusulkan.


“Hem, gimana kalau Tama saja. Sepertinya nama itu lebih cocok untuk kamu. Kalau saya, Tina, panggil ibu Tina atau ibu juga bisa,” ucap Tina menyarankan.


Andy mengangguk patuh.


“Kalau saya boleh bertanya, sudah berapa lama almarhum Mama meninggal dunia?” tambah Tina kembali bertanya.


“Ibu—” tegur Junaidi dan Karina serentak.

__ADS_1


“Ti-tidak apa-apa kok Om, bu Karina. Aku akan menjawab pertanyaan dari ibu. Almarhum Mama meninggal sewaktu aku masih berumur 2 bulan. Papa bilang ibu meninggal karena pendarahan dan bekas operasinya bermasalah sehingga Mama tidak bisa tertolong lagi,” sahut Andy menjelaskan.


Mendengar hal itu membuat Karina semakin yakin untuk menolong Andy menjauh dari dunia malamnya.


“Pasti sedih. Ya, ampun, kenapa air mata ini tiba-tiba ingin keluar, sih!” gumam Tina berusaha menahan air matanya dengan cara menengadahkan kepalanya. Namun, tetap saja tidak bisa. Air mata Tina tetap menetes.


“Sekarang giliran saya bertanya,” cetus Junaidi mengambil alih percakapan karena sang istri masih menangis dalam pelukannya.


“Maaf, maaf Om. Pasti Om akan memarahi aku karena sudah menuduh Om tadi. Sekali lagi aku hanya bisa meminta maaf!” ucap Andy segera meminta maaf sebelum Junaidi mengatakan tujuan pembicaraannya.


Junaidi menarik nafas sejenak, kemudian ia kembali bertanya.


“Baiklah, saya akan memaafkan kamu,” hela Junaidi.


“Benarkah? Om serius tidak akan menuntut aku? A-atau ingin mengadu kepada Papa?” tanya Andy bersemangat.


“Tidak, karena ini bukan hal yang besar,” sahut Junaidi. Lalu ia mengurai pelukannya dari tubuh Tina. “Bapak ke dalam dulu, Bu. Mau sholat Isya,” pamit Junaidi kepada Tina.


“Iya, pak!” sahut Tina.


“Buat kamu, Karina. Suruh Tama pulang sebelum jam 10 malam,” pesan Junaidi lalu beranjak pergi menuju kamarnya.


“Hem, kebetulan sekali aku mau—” ucapan Andy terhenti saat ponselnya berdering nyaring. Sejenak ia menoleh ke ponselnya, lalu menolehkan pandangannya lagi ke Tina dan Karina. “Aku pamit pulang dulu,” lanjut Andy sembari beranjak dari duduknya.


“Hati-hati ya, nak!” sahut Tina.


“Iya, bu,” sahut Andy melangkah pergi.


“Karina, sana antar anak baik itu!” perintah Tina kepada putrinya.


Andy terus melontarkan pertanyaan kasar kepada seseorang dari sebrang sini. Membuat Karin diam sejenak, dan terus mendengarkan.


📲 [“Apalagi sih, Pa? Aku hanya keluar sebentar!”]


📲 [“Kenapa kamu suka sekali keluar saat malam hari? Apa tidak bisa kau tetap bertahan di dalam rumah dalam semenit saja?!”]


📲 [“Sekarang aku tanya ke Papa. Apa Papa tidak bisa berhenti berbuat hal kotor itu di dalam rumah kita? APA TIDAK BISA PAPA ITU MENYEWA ATAU MEMESAN KAMAR HOTEL DI LUAR SANA?! Tidak bisa jawabkan? Jadi, jangan memberi perintah apa pun kepadaku selagi PAPA SENDIRI TIDAK MEMBERI CONTOH BAIK KEPADAKU!”] sahut Andy, kemudian mematikan panggilan telepon dari Khandar.

__ADS_1


Andy masih belum menyadari jika Karina sekarang berada tepat di belakangnya. Andy kembali mengumpat karena kesal kepada Khandar.


“AAAAA! Lebih baik kau enyah dari hidupku!” teriak Andy sembari melempar ponsel miliknya ke tanah, dan hendak menginjak ponselnya. Namun, Karina lebih dulu meletakkannya tangannya di atas layar ponsel Andy sehingga punggung tangan Karina terinjak tumit sepatu Andy.


“Auw!”


“Bu Karina,” gumam Andy sembari mengangkat kakinya.


Karina perlahan berdiri, ia menghembus dan mengusap layar ponsel terkena debu pasir dengan punggung tangannya memerah.


“Kita boleh saja marah kepada orang tua, atau orang lain. Tapi kita tidak boleh meluapkan semua kemarahan itu kepada benda, atau orang yang tidak bersalah,” ucap Karina. Tangannya mengulurkan ponsel kehadapan Andy. “Saya harap ponsel ini masih terus menyala sampai kamu lulus sekolah nantinya, agar saya bisa menghubungi kamu dengan mudah,” tambah Karina dengan suara lembutnya.


“Maaf, aku pamit pulang dulu,” sahut Andy lirih, tangannya mengambil ponsel dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Broom broom!


Andy melajukan sepeda motornya dengan tinggi.


“Saya akan terus bersamamu,” gumam Karina.


“Karina…” panggil Tina mengejutkan Karina.


“I-iya bu,” sahut Karina, ia menyembunyikan punggung tangan kanannya terluka akibat ulah Andy.


“Sini, masuk dulu nak,” ajak Tina lembut.


Karina melangkah mengikuti panggilan Tina. Tina dan Karina duduk di sofa ruang tamu.


“Ibu sudah melihat semuanya tadi,” cetus Tina sambil mengambil punggung tangan kanan Karina masih ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


Tidak ingin Tina salah paham dengan sikap tak sengaja Andy. Karina mulai membuka suara dan berusaha menjelaskan kejadian tadi.


“Bu, ta-tadi sebenarnya Andy tidak sengaja melakukan hal itu. Ka-Karina saja yang ikut campur dengan—”


“Ibu tahu, ibu tahu sayang,” sela Tina, ia mulai menatap wajah bingung Karina. “Apa murid itu yang selalu kamu perjuangkan?” tanya Tina mengejutkan Karina.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2