
Sehabis meluapkan semua kekesalan, kesedihan dan rasa cemburu dengan menenggak minuman beralkohol. Andy tertidur pulas tanpa menyadari jika jam telah menunjukkan pukul 23:45 tengah malam.
Andreas cukup sabar menunggu Andy tertidur di atas lantai dengan posisi meringkuk, memeluk salah satu kaki meja. Mengingat jika besok pagi ada rapat penting di Perusahaan miliknya, Andreas terpaksa membangunkan Andy.
“Bangun, bangun, wouy!” ucap Andreas membangunkan Andy masih dengan cara sopan.
Bukannya bangun, Andy malah mengeluarkan suara dengkuran dari mulutnya.
Habis sudah batas kesabaran Andreas, ia berjongkok, dan berbisik. “Bu Karina datang!”
Andy spontan bangun dengan kepala masih terasa pusing, kedua mata masih terpejam, dan tubuhnya terus bergoyang karena menahan rasa kantuk dan harus segera sadar.
“Dimana Karina?” tanya Andy, sebelah kelopak mata masih tertutup, dan sebelahnya lagi terbuka sedikit.
“Di rumahnya!” ketus Andreas, tangannya memukul sebelah punggung Andy. “Karena kau sudah sadarkan diri. Aku pamit pulang, besok ada rapat di Perusahaan Ku, dan aku tak ingin terlambat karena itu adalah proyek bernilai ratusan triliun,” lanjut Andreas berpamitan.
“Pergilah, biarkan aku sendiri di sini!” sahut Andy, ia pun kembali tertidur. Namun, letak tidurnya berpindah ke atas meja. Membuat Andreas harus cepat menyingkirkan semua benda kaca dari atas meja dan membiarkan Andy tertidur di sana.
“Dasar,” gumam Andreas menggeleng.
Setelah menyelimuti Andy, Andreas pergi meninggalkan apartemen milik Andy.
.
.
Keesokan paginya.
Pukul 10:00 pagi. Dering ponsel begitu kuat tergeletak di atas meja membuat Andy harus terbangun. Kepalanya masih terasa pusing, efek terlalu berlebihan meminum minuman beralkohol.
“Heboh kali. Siapa sih, orang yang sibuk dari tadi meneleponku!” gerutu Andy, mengambil ponsel dan melihat nama pemanggil.
Begitu melihat nama pemanggil adalah Khandar, Andy segera mengangkat telepon tersebut.
📲 [“Lagi dimana kamu saat ini?”] tanya Khandar tanpa mengucap salam.
📲 [“Ada apa sih, Pa?”] Andy balik bertanya. Ia turun dari meja dan melangkah menuju ruang dapur dengan kepala masih, lalu menenggak 1 botol minuman air mineral.
📲 [“Papa tanya, kemana saja kamu? Kenapa kamu membatalkan proyek bernilai cukup tinggi? Katakan kepada Papa!”] desak Khandar dari sebrang sana.
📲 [“Lagian aku memang tidak tertarik untuk bertemu dengan pemilik Perusahaan pesawat itu.”]
__ADS_1
📲 [“Kenapa? Apa semua ini gara-gara mantan guru BK kamu, Karina yang sudah kembali ke tanah air?”] tanya Khandar tepat sasaran.
📲 [“Hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan bu Karina. Intinya, aku tidak tertarik untuk melakukan kontrak kerja sama dengan mereka!”] tepis Andy tegas.
📲 [“Sekarang kamu lagi dimana. Kenapa sampai jam 10 belum datang ke kantor?”] tanya Khandar kembali.
📲 [“Ini aku lagi bersiap. Papa tenang saja kenapa.”] Andy memindahkan ponsel miliknya ke depan mulutnya. [“Aku tutup teleponnya.] pamit Andy langsung mematikan panggilan telepon dari Khandar.
Merasa risih karena tubuhnya terasa lengket, Andy memutuskan untuk pergi mandi dan bersiap untuk pergi ke Perusahaan miliknya.
.
.
Di ruang kerja milik Andy.
Haniffah berdiri di depan meja kerja Andy, menundukkan sedikit kepalanya karena Khandar terus menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Kenapa semalam kamu tidak ikut pergi rapat bersama Andy?” tanya Khandar penasaran.
“Bo-bos Andy mengatakan tidak terbiasa pergi berduaan bersama dengan seorang wanita,” sahut Haniffah mengingat ucapan Andy dengan nada marah kemarin siang.
“Kalau gitu pergilah. Nanti setelah Andy datang bilang kepada Ob untuk menyiapkan teh herbal untuk Andy,” perintah Khandar.
Setelah seorang diri di dalam ruangan. Khandar mengelus pelan dagu kasar ditumbuhi bulu halusnya.
“Karina. Apakah benar Andy telah jatuh hati dengan guru sepolos dan sebaik wanita itu,” gumam Khandar, sudut bibir bagian kirinya menaik.
1 jam berlalu.
Sepeda motor sport milik Andy telah terparkir di parkiran khusus sepeda motor di Perusahaan miliknya.
Memakai baju kaos oblong di dalam, baju kemeja di luar, serta memakai celana jeans, kalung besi. Andy melangkah masuk dengan santai tanpa menghiraukan tatapan dari para karyawannya.
Gaya berpakaian Andy menjadi bahan perbincangan para karyawan di sana.
Bukannya menghujat Andy. Semua karyawan malah terkagum-kagum melihat gaya Andy. Terlebih lagi wajah tampan nan dingin tersebut menambah nilai plus di mata kaum hawa.
Melihat Andy melewati ruang kerja Haniffah. Haniffah buru-buru menyuruh Ob untuk membuatkan the herbal dan sedikit makanan ringan untuk Andy.
10 menit kemudian. Setelah mengetuk pintu ruangan Andy, Haniffah membawa nampan berisi gelas teh herbal dan minuman, meletakkannya di atas meja kerja Andy.
__ADS_1
“Silahkan diminum, Bos,” ucap Haniffah mempersilahkan Andy untuk minum.
Andy melirik gelas berisi teh herbal, kemudian melirik sinis ke Haniffah.
“Siapa yang menyuruh kamu membawa ini semua ke dalam ruanganku?” tanya Andy datar.
“Tadi Pak Khandar datang, dan memberi pesan setelah Bos datang segera membuatkan teh dan makanan,” sahut Haniffah.
“Tapi bukan kamu yang membuatkannya, kan? Melainkan Ob,” celetuk Andy, ia pun mulai menyibukkan dirinya di depan monitornya.
“Maafkan saya, saya kira bos tidak akan suka jika ob membawakan minuman ini ke dalam ruangan. Jadi, saya—” penjelasan Haniffah harus terhenti saat Andy mengangkat tangan kanannya setinggi pundaknya.
“Pergilah dari ruanganku, kerjakan apa yang harus kau kerjakan sekarang!” tegas Andy menyuruh Haniffah keluar dari ruangannya.
Haniffah tidak berani berkomentar apa pun, kedua kakinya melangkah mundur, dan pergi dengan wajah kecewa.
Setelah kepergian Haniffah. Andy bukannya meminum minuman telah di bawakan oleh Haniffah, ia malah membawa gelas tersebut menuju toilet, dan membuang minuman tersebut ke dalam kloset. Lalu ia kembali dan duduk di kursi kerjanya.
“Suka heran aku sama wanita yang sok akrab dan baik seperti itu. Mau cari perhatian aja berlagak sok paling ok. Najis kali aku lihat wanita seperti itu,” kesal Andy.
Selesai mengumpat dalam kekesalannya. Andy menyibukkan dirinya kembali. Waktu terus berlalu, jarum jam panjang telah menunjukkan pukul 12:15 siang. Mendapat panggilan telepon dari Andreas untuk mengajaknya makan siang bersama karena jarak tempat Andreas saat ini beristirahat tidak terlalu jauh dari Perusahaan milik Andy.
Tanpa penolakan Andy pun bergegas menuju lokasi tempat Andreas telah menunggunya. Tak sampai 30 menit, sepeda motor milik Andy telah terparkir di salah satu tempat nongkrong ala anak muda.
Begitu sampai di meja tempat Andreas menunggu. Andy mengernyitkan dahinya, menatap seorang wanita memakai hijab telah duduk di sampingnya.
“Si-siapa ini?” tanya Andy bingung.
“Masa kamu tidak mengenal kakak ini?” Andreas balik bertanya dengan wajah berbinar.
Andy menarik Andreas untuk sedikit menjauh dari meja mereka, dan mulai bertanya.
“Kali ini aku benar-benar terkejut. Dapat darimana kau wanita berhijab, sedikit dewasa dan lumayan cantik seperti itu?” tanya Andy sedikit berbisik.
“Apa kau yakin tidak mengenal wanita itu?” Andreas balik bertanya.
“Iiiss, bacot kali kau! Katakan aja siapa wanita itu?”
Bukannya menjawab, Andreas malah terus bertanya, membuat Andy marah dan memilih untuk duduk di kursinya, sambil terus menatap penuh selidik ke wajah wanita berhijab sedang tertunduk.
.
__ADS_1
.
Bersambung