Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
70. Aku...?


__ADS_3

Keesokan paginya.


Karena arah jalan menuju tempat kerja searah, pagi itu seperti biasa Andy selalu menjemput Karina.


Mobil Andy perlahan melaju meninggalkan rumah Karina. Sejenak mereka saling diam, raut wajah juga terlihat sangat tidak bersahabat, efek perdebatan di antara masing-masing keluarga tadi malam.


Lelah terus diam seperti ini, Andy memutuskan untuk memulai percakapan.


“Karina,” panggil Andy, pandangan fokus ke jalan.


“Iya,” sahut Karina menoleh ke Andy.


“Papa sedang sakit, jadi pembahasan tentang melamar mu belum aku beritahu,” Andy langsung memberitahu.


“Tidak masalah. Sekarang gimana kondisi Pak Khandar?” tanya Karina masih merahasiakan permintaan Junaidi yang meminta Andy untuk segera melamarnya.


“Alhamdulillah sudah sehat,” sahut Andy.


“Alhamdulillah kalau seperti itu,” lega Karina.


“Aku janji nanti malam akan memberitahu Papa,” janji Andy terlihat serius.


“Kalau Pak Khandar masih tidak enak badan, sebaiknya di tunda dulu,” Karina meraih tangan Andy dan menggenggamnya. “Saya masih bisa sabar menunggu kamu untuk melamar saya kok,” tambah Karina tak ingin membuat Andy cemas.


“Tidak, secepatnya aku akan beritahu Papa. Sebab aku tidak sabar ingin menjadikan kamu sebagai istriku!” tegas Andy.


Karina menunduk malu, bibirnya mengulas senyum tipis.


Laju mobil Andy terhenti di depan teras gedung. Andy segera turun. Namun, saat dirinya hendak membuka pintu mobil Karina, ada tangan wanita memegang bahu Andy dari belakang.


Andy melirik ke belakang, Karina masih di dalam mobil juga ikutan melirik, melihat siapa wanita itu.


Dahi Karina langsung mengernyit, melihat tangan wanita tersebut adalah tangan wanita yang kemarin meminta nomor kepada Andy.


“Siapa ya, wanita ini?” gumam Karina, sorot mata memandang wanita itu dari dalam mobil.


Tak suka tubuhnya di pegang oleh wanita lain, Andy melepaskan tangan wanita itu.


“Siapa kamu?” tanya Andy lupa siapa wanita tersebut.


“Masa kamu lupa, saya orang yang meminta nomor ponsel kamu,” tangannya mengulur. “Perkenalkan nama aku Laras,” lanjut Laras ingin berkenalan.


Bola mata Karina membulat sempurna, dengan cepat ia membuka seatbelt dan keluar dari dalam mobil.


“Masalah ini,” gumam Andy dalam hati.


Karina dan Laras saling pandang, masing-masing sorot mata mereka mengandung banyak pertanyaan ke satu sama lain.

__ADS_1


“Siapa kamu?” tanya Laras dan Karina serentak.


Karina menghela nafas, mencoba menenangkan hati dan pikirannya, dan membiarkan Laras berbicara terlebih dahulu.


“Silahkan,” ucap Karina mempersilahkan Laras bicara lebih dulu.


“Kamu siapanya Andreas?” tanya Laras menyebut Andy adalah Andreas.


Sewaktu Laras meminta nomor telepon Andy. Andy memberikan nomor dan nama Andreas, bukan nama dan nomor miliknya.


“Saya adalah calon istrinya,” sahut Karina memberitahu.


“Calon istri?!”


“Iya,” angguk Karina menahan amarahnya.


“Hem,” sejenak Laras berpikir, kemudian ia mengingat siapa Karina. “Bukannya kamu itu adalah staff baru di sini?” lanjut Laras bertanya.


“Iya, nama saya adalah Karina. Saya bertugas di bagian konsultasi anak,” sahut Karina memberitahu.


“Oh!” angguk Laras.


“Karena kita sesama wanita dan sama-sama bekerja di sini. Saya minta kamu berhenti untuk mendekati calon suami saya,” pinta Karina serius.


Laras mengulas senyum tipis, sejenak ia melirik ke wajah datar Andy, lalu melihat ke wajah serius Karina.


“Maaf ya, andai saya tahu kalau pria ini adalah calon suami kamu, mungkin saya tidak akan mengejar-ngejar dia lagi,” ucap Laras meminta maaf.


“Kalau gitu saya permisi,” pamit Laras meninggalkan Andy dan Karina.


Tidak ingin membuat Karina terus berwajah masam. Andy mengecup kening Karina, lalu merapihkan rambut kusutnya.


“Jangan cemberut lagi, ya?” bujuk Andy.


“Saya tidak cemburu, hanya waspada saja, ” angguk Karina.


“Aku pergi ke kantor. Pulang nanti tunggu aku seperti biasa, ya?”


Karina hanya mengangguk.


Setelah memberikan kecupan sekali lagi ke kening Karina, Andy masuk ke dalam mobil, melajukan mobil tersebut meninggalkan gedung Karina, dan melaju menuju perusahaan miliknya.


20 menit menempuh perjalanan, mobil Andy akhirnya terparkir di parkiran perusahaannya. Namun, ada pemandangan tak menyenangkan di parkiran mobil di perusahaan. Pemandangan itu adalah melihat mobil Andreas terparkir di sana.


“Perasaanku tidak enak sepertinya,” gumam Andy.


Andy turun dari mobil, kedua kakinya melangkah masuk ke Perusahaan. Setiap langkah kaki Andy, terdengar sapaan, “Pagi Bos”.

__ADS_1


Kedua kaki Andy terhenti di depan pintu lift, pintu lift terbuka, Andy masuk ke dalamnya menuju ruangan miliknya berada di lantai 3.


Ting


Pintu lift terbuka. Andy kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Ia pun masuk ke dalam ruangannya, dan benar saja. Di dalam ruangannya sudah terdapat Andreas sedang duduk santai di sofa tamu.


“Akhirnya kau datang juga,” ucap Andreas sambil melipat kembali koran di bacanya tadi.


“Ada apa ini?” tanya Andy berdiri di samping Andreas.


“Aku khilaf. Gimana ini?” celetuk Andreas membuat Andy terkejut dan langsung berpikir ke hal yang tidak-tidak.


“Mampus lah kau, kok tanya aku pula,” sahut Andy sembari mendudukkan dirinya di kursi sofa sebelah Andreas.


“Iiis, kejam kali kau ku rasa. Sahabat kau lagi di timpa masalah ini, loh. Gimana caranya agar aku bisa bertanggung jawab?”


“Tinggal datang aja ke rumahnya, baru kau bilang lah apa kesalahanmu pada kedua orangtuanya,” ucap Andy memberi saran.


“Masalahnya Kak Fitri tidak ingin kedua orang tuanya tahu kalau aku sudah melakukan hal itu,” sahut Andreas.


“Kalau kedua orang tuanya tidak boleh tahu. Kayak mana kau akan mempertanggung jawabkan nya!”


“Itulah masalahnya. Aku pun bingung,” gumam Andreas benar-benar bingung.


“Kau sudah mengambil keperawanan anak gadis orang. Terus Fitri tak ingin kedua orangtuanya tahu kalau kau telah berhubungan intim kepadanya. Meski sudah seperti itu, Fitri tetap tidak ingin meminta pertanggung jawaban darimu. Dan kau pun menjadi bingung saat ini. Gitu masalah yang sebenarnya, kan?” tanya Andy menjelaskan masalah Andreas.


“Yang mesumnya pikiran kau itu. masalahnya sebenarnya bukan itu. Aku belum mengambil keperawanannya. Masalahnya adalah, aku sudah khilaf, tak sengaja menarik gelang tangan ini,” jelas Andreas membuat Andy merubah mimik wajahnya menjadi suram.


Ctak!


Emosi dengan ucapan ambigu Andreas, tangan Andy dengan ringan melayang ke kepala Andreas, menjitak puncak kepalanya begitu kuat sampai-sampau terdengar suara “Tak”.


“Sakit, sakit kali. Bodoh kau ku rasa!” omel Andreas sambil mengelus puncak kepalanya.


“Kau yang bodoh,” Andy menunjuk ke gelang tangan yang putus di genggaman tangan Andreas. “Kalau kau merasa bersalah karena telah memutuskan gelang tangan itu, maka kau harus segera pergi ke toko perhiasan. Suruh mereka membenarkan kaitan yang telah kau putuskan. Setelah benar, baru kau kembali kepada Fitri!” usul Andy.


“Benar juga kau,” Andreas menepuk pelan bahu belakang Andy. “Nggak sia-sia aku memiliki sahabat seperti kau!” lanjut Andreas bangga.


“Kapan kau mau pergi membenarkannya?” tanya Andy penasaran.


“Entahlah, mungkin itu rahasiaku,” sahut Andreas memasukkan gelang tangan yang putus ke dalam sakunya.


“Kalau kau mau pergi pagi ini. aku ikut!”


“APA?!”


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2