Terobsesi Guru Bk

Terobsesi Guru Bk
27. Traktir makan


__ADS_3

1 minggu kemudian.


Broom broom!


Suara gahar sepeda motor Andy dan Andreas memasuki gerbang sekolah. Tangannya terus melambai ke semua murid wanita berdecak kagum dan menyapanya.


“PAGI WANITA-WANITA CANTIK DENGAN POLESAN MACK UP!” teriak Andy di sambut hangat murid-murid berdiri di koridor masing-masing kelas.


“ANDY! I LOVE YOU!”


“KAMI SENANG SEKALI KALAU HARI INI KAMU TELAH SEMBUH!”


“ANDY! MAUKAH KAU JADI PACARKU!”


Teriak para murid untuk Andy.


Andy dan Andreas menghentikan sepeda motor mereka di bawah pohon mangga. Membuka helm dan meletakkannya secara bersamaan di atas tangki minyak.


“Kau dengar sorakan dari wanita-wanita nggak ada otak itu. Bisa-bisanya mereka bersorak seperti tidak tahu diri kepadaku. Berlagak sok peduli dengan kondisiku, padahal waktu aku sakit, mereka cuek dan cuman sekedar basa-basi,” curhat Andy kesal.


“Seribu satu wanita seperti bu Karina. Pasti ujung-ujungnya kau mau bilang seperti itu, yakan?”


“Hehe! Oh ya, apa kau sudah bilang pada anak-anak untuk berhenti sejenak dari geng motor?” tanya Andy mengingat jika dirinya sudah menyuruh Andreas menyampaikan pesannya kepada para anggotanya berhenti sejenak dari aktivitas geng motornya. Apalagi mengingat Dodi masih dalam kondisi trauma paska penculikan waktu itu.


“Sudah dong. Dodi juga menyampaikan terima kasih kepada kau. Tapi, karena kejadian waktu itu. Dodi di pindahkan sekolah ke kota lain. Kedua orang tuanya takut kalau Lin akan mengejarnya dan melakukan hal buruk lagi,” sahut Andreas sekaligus memberitahu.


“Enak kali jadi Dodi. Walaupun hidup sederhana, kedua orang tuanya tetap sayang,” gumam Andy menghela nafas.


Tidak ingin membuat Andy bersedih. Andreas merangkul bahu Andy, dan mengajaknya bergurau sambil melangkah pergi menuju kelas mereka.


Baru saja ingin masuk ke dalam kelas. Andy dan Andreas di hadang oleh Guan. Sorot mata penuh kebencian terpancar jelas di kedua mata Andy saat melihat wajah datar Guan.


“Apa lagi?” tanya Andy datar.


“Kenapa kalian memberitahukan semua kejadian itu kepada bu Karina?” tanya Guan sinis.


Kesal melihat sikap angkuh Guan. Andreas bergerak maju, berdiri berhadapan dengan Guan.


“Makanya, jangan main-main sama kami berdua. Sekali lagi bapak memperlakukan sahabatku seperti itu! Maka—”


Malas berdebat di pagi hari, Andy segera menghentikan ancaman Andreas dengan cara menariknya masuk ke dalam kelas.


“Daaa, Pak Guan. 5 menit lagi kelas akan di mulai. Semoga hari-hari bapak menyenangkan!” cetus Andy sambil melangkah pergi membawa paksa Andreas.


Guan menjadi kesal, ia hanya menghentakkan kedua kakinya di lantai, menatap sinis Andy dan Andreas dari jendela kelas.

__ADS_1


“Awas saja kamu, berandal sekolah!” gumam Guan kesal.


Kring kring!


Jam pelajaran pertama di mulai.


Masuk guru bahasa Indonesia ke dalam kelas Andy dan Andreas. Guru itu adalah salah satu guru menyaksikan Andy di hukum dengan cara keji oleh Guan di ruang guru kemarin.


Guru bahasa Indonesia tersebut terus menatap Andy. Membuat Andy masih menyimpan dendam kepada guru tersebut mengambil pulpen, membuka tutup pulpen tersebut dan menancapkan ujung pulpen ke atas meja berulang kali sehingga membuat guru Bahasa Indonesia tersebut ketakutan dan mengalihkan pandangannya.


Detik, menit dan jam pun berlalu. Bel tanda pelajaran kedua telah usai, berganti dengan jam istirahat. Seperti biasa Andreas selalu pergi sendiri ke kantin, sedangkan Andy masih di dalam kelas, memilih untuk tidur.


Baru 5 menit memejamkan kedua matanya, Andy mendengar seseorang memanggil namanya dari depan pintu kelas. Andy segera mengangkat sedikit wajahnya, menatap lurus ke teman sekelasnya memanggil namanya tadi.


“Ada apa?” tanya Andy dengan suara berat karena mengantuk.


“Di panggil bu Karina,” sahut murid tersebut.


Rasa kantuk teramat berat langsung hilang. Andy spontan berdiri sambil membenarkan pakaian seragam sekolah miliknya.


“Dimana bu Karina?” tanya Andy setelah berdiri di samping murid itu.


“Di ruang BK,” sahut murid itu,


“Terima kasih,” ucap Andy.


Andreas baru saja keluar dari kantin tak sengaja melihat Andy begitu bersemangat menuju ruang BK.


“Padahal aku sudah membelikan minuman dingin untuk penyegar kepalanya. Hem, ya sudahlah! Aku tunggu Andy di dalam kelas saja,” gumam Andreas. Andreas pun melangkah pergi menuju kelas.


.


.


Di ruang BK.


Andy dan Karina duduk di kursi tamu. Di atas meja tersaji begitu banyak makanan ringan, dan ada 2 minuman dingin.


“Kamu sudah makan?” tanya Karina membuka bungkusan siomay.


“A-aku tidak terbiasa makan di sekolah, bu,” sahut Andy.


“Kalau gitu, makanlah bersama dengan saya. Kebetulan hari ini saya gajian, meskipun sedikit tapi saya ingin berbagi kepada kamu,” ucap Karina, mengambil siomay dan mengulurkannya ke Andy.


“Ini buat aku?” tanya Andy menatap mangkuk berisi siomay.

__ADS_1


“Iya, buat kamu. Ayo makan. Keburu bel pelajaran selanjutnya di mulai,” desak Karina lembut.


Di tengah-tengah santap makan mereka, Karina teringat akan ucapan Andreas tempo hari. Karina sudah berjanji untuk mengatakan kepada Andy kalau dia akan segera berangkat ke Luar Negeri melanjutkan studi S2 nya. Namun, saat melihat senyum dan tawa kecil keluar dari bibir Andy. Hati Karina mendadak sakit dan bibirnya terasa keluh untuk berbicara.


Rasanya Karina tidak bisa menarik senyum itu dengan ucapan perpisahannya kepada Andy. Dengan terpaksa Karina mengurungkan niatnya, membiarkan Andy terus tersenyum, menikmati makanan pemberiannya.


Menyadari Karina tidak makan, dan hanya menatapnya. Andy meletakkan mangkuk siomay ke atas meja. Meminum sedikit minuman dingin, lalu bertanya kepada Karina.


“Ibu kenapa terus menatapku seperti itu?” tanya Andy penasaran.


“Sa-saya hanya senang saja melihat kamu sudah berubah,” sahut Karina sedikit berbohong.


“Aku juga senang melihat ibu bisa tersenyum kepadaku.”


“Apakah kamu sudah mempersiapkan diri untuk berperang dengan ujian yang sebentar lagi akan datang?” tanya Karina mengalihkan pembicaraan.


“Tentu saja sudah. Bahkan Papa sudah mencari guru les private untuk mengajarkan aku soal-soal ujian,” sahut Andy.


“Baguslah, saya senang mendengar hal itu,” ucap Karina lega.


“Bu, aku janji setelah tamat sekolah semua makanan yang pernah ibu traktir akan aku bayar 10 kali lipat nantinya,” janji Andy serius.


“Saya akan menunggu hal itu,” sahut Karina sambil menyeruput minuman dinginnya.


Sedang asik melihat bibir ranum Karina dan tenggorokan naik turun karena menelan air. Tiba-tiba pintu ruangan BK di ketuk.


Tok tok tok


“Maaf, apakah saya menganggu, bu?” tanya seorang pria, yaitu Guan.


“Tidak, kebetulan kami sudah selesai,” sahut Karina sambil memasukkan sisa bungkusan makanan ke dalam plastik.


“Begini—” Guan sengaja menggantung ucapannya, sorot matanya mengarah ke Andy.


Sedangkan Andy, mempertahankan posisi duduknya dengan cara menikmati beberapa sisa makanan.


“Begini, kenapa ya, Pak?” tanya Karina penasaran.


“Oh, ti-tidak jadi. Se-sebaiknya saya permisi dulu,” pamit Guan sengaja, agar Karina mengusir Andy dan menyuruh Guan untuk melanjutkan ucapannya.


Tapi sayang, semua harapan Guan sia-sia karena saat ini sura tawa Karina terdengar sampai keluar ruangan.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2